(Agak) Bijaklah Ketika Bersosmed

Tiba-tiba, hanya dalam hitungan beberapa menit saja, masuklah beberapa info yang sama persis dari beberapa orang. Pesan penting itu ditutup dengan ajakan untuk tak berisik di medsos. Pesan itu memang sebuah pesan yang sangat penting bagi kami yang ada di grup itu. Tapi penutupnya agak ironis. Pesan untuk bijak di medsos yang dipraktikkan secara agak bijak.

Memang sulit untuk benar-benar bijak di medsos. Kecuali itu sekadar tampak bijak. Atau merasa bijak. Atau kadang-kadang tampak bijak, bergantung situasi. Atau yang semacam dengan itu.

Bijak menurut kamus adalah: selalu menggunakan akal budi, pandai, mahir, pandai bercakap-cakap, atau petah lidah. Secara mudah, bijak adalah sikap untuk selalu berpikir sebelum bertindak. Sikap bijak selalu erat berhubungan dengan perhitungan dan kehati-hatian dalam bersikap. Adil. Obyektif. Dalam bijak, selalu ada pikir sebelum ekspresi atau respons.

Dunia medsos berkebalikan. Dunia medsos menuntut kecepatan. Semakin pertama, semakin bagus. Di media sosial, sesuatu yang semakin ramai dan gaduh adalah hal yang semakin bagus. Semakin menjadi perhatian, semakin bagus.

Medsos nyaris tak menyediakan ruang berpikir yang memadai. Di medsos tak bisa sangat bijak. Sulit. Nyaris mustahil.

Maka, rasanya, cukuplah untuk agak bijak saja dulu.

Dalam praktiknya, seseorang akan berdiam ketika suatu konten tak menguntungkan golongannya. Tapi, segera berisik ketika ada konten yang tak menguntungkan lawan. Dalam praktiknya, jika jagad maya sedang dipenuhi kalimat-kalimat yang tak sesuai dengan kemauannya, dia diam. Tapi lalu boleh membabibuta jika angin berbalik dan jagad maya dipenuhi kalimat-kalimat yang memuaskan nafsunya.

Maka yang terjadi adalah pergiliran sikap bijak saja. Kala yang di sana bijak, yang di sini gaduh. Kalau sini bijak, sana gaduh. Ketika pendukung anu gaduh, pembencinya diam. Juga sebaliknya. Lalu merasa sama-sama bijak.

Sudahlah. Cukuplah agak bijak saja dulu. Tak perlu merasa sangat bijak. Supaya nafsu kita terpuasi. Karena jika kita benar-benar bijak di medsos, kita kurang eksis di dunia maya. Apakah kita sudah kuat menanggung beban tak eksis itu?

Cukuplah agak bijak saja dulu, kerena bijak itu tak mengijinkan ketergesaan. Cukupkan dengan agak bijak karena bijak yang sejati tak memerlukan kegaduhan. Sudahlah, cukupkanlah dengan agak bijak saja dulu, karena bijak yang sesungguhnya akan membuat kita tak bermedsos.

Sudah ya? Jangan merasa bijak selama batas pikir kita masih soal dunia. Jangan merasa bijak kalau kecenderungan kita soal kubu-kubuan. Tak perlu merasa sangat bijak jika bijak dan tidaknya kita sekadar soal periuk dan dapur kita.

Tak perlu muluk-muluk dulu di era ini. Agak bijaklah dulu dalam bermedsos. Rasanya itu sudah bagus. Setidaknya bagus untuk mencegah tumbuhnya perasaan sudah benar, padahal ruang berpikir kita masih saja sebatas soal dunia, benda, dan raga semata.

Allah, bantu kami agar kami sanggup untuk selalu berdzikir, bersyukur, dan baik dalam beribadah kepadamu.
Aamiin.

Jakarta, 7 Oktober 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *