Antara Laksamana Cheng Ho, Ustadz Felix Siauw dan Bangil

|| Kontributor: Enjang Anwar Sanusi ||

Banyak yang bahas soal pengusiran Ustadz Felix Siauw saat mengisi pengajian di Bangil Pasuruan oleh Banser NU. Buat saya pribadi, hal ini mengingatkan pengalaman saat berkunjung ke Bangil bulan Maret 2017 lalu.

Kunjungan ke Bangil Pasuruan itu buat saya sangat berkesan, tiga hari disana banyak pengalaman menarik.

Pas turun di Bandara Juanda, saya dan istri dijemput travel dari Bangil. Nah, sopir travelnya itu santri pesantren. Dia datang ke bandara dengan kostum sarungan.

Di perjalanan menuju Bangil, kami ngobrol banyak hal. Dia cerita sudah mondok di pesantren dari masih SD. “Nih seumur anak sampean, saya udah mondok”.

Di perjalanan pula, dia banyak cerita soal rencana kunjungan Habib Rizieq Shihab ke Bangil.

“Habib Rizieq mau ke Bangil lho mas,” kata dia.

Saya memilih diam sejenak. Sempat menduga-duga dulu, beliau termasuk yang suka atau nggak suka dengan jalan yang ditempuh Habib Rizieq.

“Tapi kalau pesantren saya sih, gak boleh keluar santrinya pas Habib nanti datang,”

Tuh kan..

“Gak boleh datang mas. Santri-santri gak boleh keluar. Soalnya kalau ada yang keluar nanti ada yang gak sampai ke lokasi. Nanti mereka ada yang belok ke warnet, ada yang belok ke bioskop. Biasanya nanti kyai di pesantren minta habib datang langsung ke pesantren, gak sekarang. Bisa bulan depan atau kapan-kapan, tapi biasanya datang.”

Ouw. Salah kuduga 😀

Pas udah sampai di lokasi, di kampung itu.. banyak tanda-tanda keturunan Arab. Jarak antar mushola atau masjid pun berdekatan. Pertama kali sampai, saya sholat di mushola NU. Terlihat dari ornamen mushola seperti bintang sembilan dan tradisi setelah sholat selesai. Di waktu sholat berikutnya, saya memilih mushola yang tepat berada di belakang rumah tempat menginap. Banyak wajah-wajah Arab di mushola itu. Dari kedua mushola ini, banyak perbedaan tentunya, namun saya mendapatkan hal yang sama. Nyaman, bersih dan keramahtamahan mereka pada tamu.

Hari berikutnya saat jalan-jalan ke Taman Safari Jatim, saya banyak ngobrol dengan sopir travel lagi. Ternyata mas sopir travel itu paham betul dengan materi ormas Islam, golongan, manhaj, fikrah dan sejenisnya.

“Di Bangil sih hidup semua mas. Disini ada NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, semuanya ada. Syiah juga ada disini. Punya pesantren besar. Nanti saya tunjukin di jalan ya pesantrennya. Salafi ada, HTI saya juga tahu, suka nganterin mahasiswa dari Malang. Partai politik Islam juga, disini PKB banyak, PKS juga punya basis kuat,” kata Mas Sopir.

Saya bertanya, itu gak suka ada yang berantem mas? Itu Syiah gimana kalau bikin acara?

“Ya, udah biasa sih disini beda-beda sama tetangga. Kalau syiah sih kalau ada acara sudah banyak yang jagain dulu,” katanya.

Ia juga sempat menjelaskan soal rencana kedatangan Habib Rizieq. “Itu Habib sempat gak boleh datang. Spanduk-spanduknya diturunin. Eh tapi kyai-kyai senior turun tangan minta acara Habib gak boleh diganggu”.

Pulang dari Taman Wisata itu, saya diajak ke Replika Masjid Cheng Ho di Pandaan (kalau gak lupa nama daerahnya).

Masjid serba merah itu dibuat oleh Bupati Pasuruan untuk mengenang jasa dakwah Islam Laksamana Cheng Ho, seorang panglima perang pasukan Tionghoa yang pernah singgah di Surabaya dan menyebarkan Islam. Saya sholat ashar disitu..

Ustadz Felix Siauw..
Laksmana Cheng Ho..
Bangil..
Tionghoa..
Muslim..

Kok banyak kesamaannya ya?
Tapi?

Semoga di kesempatan selanjutnya, ada ruang dialog, ada ngobrol-ngobrol sambil minum kopi. Di selasar masjid itu. Antara Ustadz Felix Siauw dan Banser NU tentunya.

Semoga!

Bekasi, 5 November 2017

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *