Entries by Eko Novianto

Miniatur

Eko Novianto Orang besar berpikir besar. Orang kecil, membesarkan hal kecilnya. Orang besar bekerja untuk hal penting. Orang kecil, mementingkan hal kecil. Orang besar bekerja untuk orang lain. Orang kecil, bangga jika orang lain bekerja untuk dirinya. Orang besar terus ada untuk masa-masa setelahnya. Orang kecil, merasa besar di masanya saja. Orang besar menggiring zaman. […]

Tak Sepenuhnya Membaca

Eko Novianto (أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ) [Surat Al-Mu’minun 68] via @QuranAndroid Mereka yang mengingkari, akan selalu berpaling dan ingkar atas dakwah. Padahal sejarah risalah telah menetapkan bahwa rasul-rasul datang berturut-turut kepada kaumnya masing-masing. Tetapi, mereka yang mengingkari selalu akan mengingkari karena kebencian mereka terhadap kebenaran dan karena hawa nafsu […]

Respek

Eko Novianto Masih anak-anak, kehausan kelelahan, tampak miskin, tapi dia sanggup memikirkan lingkungannya. Tangan kecilnya berkali-kali kembali memegangi ujung karungnya. Menjaga agar karungnya tetap rapat ke pahanya. Sambil mengenggam erat gelas es cincaunya. Dan menarik lagi ujung karungnya, terutama jika dia sadari ada orang yang berlalulalang di depannya. Terlihat sekali, dia tak ingin karungnya itu […]

Menjadi Kupu-kupu atau Batu Bata?

Eko Novianto Jika perbaikan dan penjagaan kualitas kehidupan manusia dimulai dari membangun kualitas pribadi, lalu membangun keluarga berkualitas, terus berlanjut sampai menjadi sosok yang berkontribusi untuk dunia, maka keinginan untuk selalu berbalik adalah masalah dari rangkaian perjalanan kehidupan itu. Kepintaran seseorang hanya akan menjadi masalah jika kepintarannya itu hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Kekayaan seseorang […]

Gairah Baru

Eko Novianto Keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah itu telah terpampang di depan mata. Tapi seperti tak ada tempat untuk berduka. Yang terjadi adalah sebaliknya, tokoh-tokoh Arab bahkan menyaksikannya dengan kegairahan baru. Mereka sibuk merancang masa depan baru untuk kemerdekaan Arab. Trenyuh. Kebersamaan selama empat abad dalam kekhilafahan Turki Utsmani itu di ambang perpisahan. Sebuah perpisahan yang dirayakan […]

(Agak) Bijaklah Ketika Bersosmed

Tiba-tiba, hanya dalam hitungan beberapa menit saja, masuklah beberapa info yang sama persis dari beberapa orang. Pesan penting itu ditutup dengan ajakan untuk tak berisik di medsos. Pesan itu memang sebuah pesan yang sangat penting bagi kami yang ada di grup itu. Tapi penutupnya agak ironis. Pesan untuk bijak di medsos yang dipraktikkan secara agak […]

Tak Keras Lagi Dentingnya

Aku mengajarkan pada anak-anak dan mican agar banyak berdoa bagi alam di sekitarnya. Hewan. Tumbuhan. Batu. Jalanan. Gedung. Angin. Dan semuanya. Memintakan kebaikan baginya. Dan meminta mereka hanya menjadi kebaikan bagi diri kami. ‘Can, kalau melintas Cirebon, menengoklah ke arah Kuningan. Lalu berdoalah agar semua menjadi kebaikan bagi nak lanang…’, begitu. Misalnya. Juga lainnya. Permintaan […]

Menurun

Zaman terus mengiba. Berkubang masalah lama. Penyakit-penyakit lama. Bertambah rupa saja. Kalau dulu para raja. Kini rakyat jelata. Berlomba-lomba bak raja-raja. Dengan alpa dan jumawa. Dulu menumpuk harta. Benda dan wanita. Sekarang sekadar jempol dan suka. Tak lebih dari sekadar kata. Dulu, para raja menggelar tahta. Memamerkan luasnya tanah kuasa. Kini rakyat jelata juga. Berbangga […]

Miskin [Catatan Ramadhan]

Sistem sosial kita memang sedang sangat miskin. Ringkih. Lemah. Segenap perhatian kita hanya atau – minimal – lebih banyak untuk materi. Sedikit sekali kita memberikan perhatian pada aspek lain. Miskin sekali kehidupan ini. Maka ketika datang Ramadhan, kemudian semua-semua ditumpahkan padanya. Mendekat padaNya iya, membangun kebajikan sosial iya, membayar zakat iya, membangun kehangatan keluarga iya, […]

Marah [Catatan Ramadhan]

Marah itu tak pernah benar menurut Allah, menurut orang lain, bahkan, ketika telah tersadar, marah itu pun tak bagus bagi pemarah. Marah tak pernah bagus, bagi siapa pun. Marah-marah, maki-maki, sumpah serapah, dan semacamnya itu hal yang banyak merusak puasa. Marah itu mengosongkan makna puasa. Berlapar dan berhaus diri tetapi nyaris tanpa pendidikan diri. Seperti […]