Beratnya Rindu Dilan dan Ungkapan Pengorbanan 14 Abad Silam

“Rindu itu berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja”.

Itulah kutipan dari dialog tentang kerinduan antara Dilan dengan Milea dalam film Dilan 1990 yang sedang ramai diperbincangkan warganet.

Dialog beratnya kerinduan itu kini sangat populer dan viral di dunia maya. Bahkan, berbagai meme lucu tentang kata ‘rindu’ dan ‘berat’ bermunculan.

Dialog tersebut merupakan pengungkapan pengorbanan Dilan kepada Milea, kekasihnya. Dilan dengan rela hati meminta agar dia saja yang merasakan rindu, karena menurutnya rindu itu sangat berat dan dia tidak mau kekasihnya itu turut merasakan beratnya.

Pidi Baiq, penulis novel Dilan itu sendiri juga mengatakan, beratnya rindu yang dialami Dilan yang terjadi pada 1990 silam itu, karena memang dirasa sangat berat. Bagaimana tidak, karena saat itu belum ada smartphone seperti sekarang yang tinggal ketik dan kirim, mudah.

“Dipikir-pikir, rindu zaman dulu itu, kalau sudah jam 10 malam sudah gak bisa apa-apa. Soalnya gak ada HP, mau nelepon takut ayahnya angkat, mau datang ke rumahnya takut diusir. Mungkin itu kenapa dirasa berat,” jawab penggagas band _The Panasdalam Band_ tersebut, seperti yang dilansir dari okezone.com.

Kerinduan dalam film yang kini telah ditonton sebanyak 4 juta penonton itu adalah tentang pengungkapan kerinduan seorang remaja kepada kekasihnya, bisa dibilang hanyalah ungkapan gombal sang kekasih.

Tetapi tahukah kamu bahwa pengungkapan pengorbanan seperti itu sudah pernah diungkapkan sejak 14 abad silam? Kepada kita semua, umat Islam.

Pengungkapan pengorbanan yang lebih dahsyat dan fenomenal. Pengungkapan pengorbanan yang bukan ungkapan gombal. Pengungkapan pengorbanan dari kekasih sejati yang merindui umatnya meski belum mengenalnya, pengungkapan pengorbanan yang didasari iman, didasari kecintaan seorang manusia agung yang diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak kita, umat manusia. Dialah Rasulullah SAW.

Tahukah atau ingatkah kamu kisah ketika Rasul sedang menghadapi sakaratul maut, apa yang diungkapkannya?

“Ya Allah, dahsyat nian sakaratal maut ini, *biarlah aku menanggung sakaratul maut ini, jangan (beratkan sakaratul maut) pada umatku*,” pinta Rasulullah.

Setelah berwasiat “Ummatii, ummatii, ummatiii!” beliaupun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Muhammad namanya, seorang manusia yang belum pernah melihat dan berjumpa dengan kita. Bahkan, ia hidup 1400 tahun sebelum kita ada. Namun, ia ingin sekali agar sakitnya sakaratul maut, cukup dia yang merasakan, cukup dia yang menanggungnya, itulah keinginannya. Itulah ungkapan pengorbanan, bahkan terhadap orang yang belum pernah ia jumpai.

Cukup sudah kita menjadi bagian dalam hingar bingar ungkapan kerinduan Dilan. Ungkapan gombal anak remaja yang semestinya tidak pernah ada dalam kamus kehidupan remaja Islam.

Kini saatnya untuk kita yang terpilih sebagai umat yang dicintai, dan dikhawatirkan oleh Baginda Rasulullah SAW, mengisi kehidupan dengan yang telah disunnahkannya. Sebagai bukti bahwa kita pun mencintainya, kita pun merinduinya. Semoga Allah kelak pertemukan kita dengannya. Aamiin..

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” [At-Taubah: 128].

[abdulrohim – Jakarta, 9 Feb 2018]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *