Canda Tawa Dalam Dakwah

Oleh: Eko Jun

@ Dialog Angkringan

Samidi : Tadz, sebenarnya dakwah sambil melempar canda tawa boleh apa tidak sih?

Mukidi : Dalam derajat tertentu, melempar canda tawa kepada jama’ah ya boleh saja. Maksudnya untuk menyegarkan suasana. Yang perlu diperhatikan adalah durasi dan substansi dalam canda itu.

Samidi : Maksudnya gimana tadz?

Mukidi : Pertama, canda tawa sebenarnya hanya selingan, bukan menu utama. Dibutuhkan, tapi kadarnya sedikit saja. Kalau kadarnya terlalu banyak, niscaya panggung dakwah akan berubah jadi panggung lawak. Nah, disini kadang terjadi kesalahan, yakni menu selingan malah dijadikan sebagai menu utama. Bisa karena penceramahnya yang punya pembawaan begitu, bisa pula karena jama’ah yang menghendaki demikian. Tahu sendiri, kadang masyarakat punya request khusus pas mencari penceramah, misalnya nyari pembicara yang lucu. Betul kan?

Samidi : He..9x. Betul juga tadz. Trus kalau yang substansi, gimana penjelasannya tadz?

Mukidi : Nah, kedua pada persoalan substansi. Mau bercanda seperti apapun, yang penting harus berisi kebenaran. Rasulullah itu kadang juga bercanda dengan para shahabatnya, tapi beliau tidak membungkus canda tawanya dalam perkara yang salah dan bohong. Sedangkan jaman sekarang, banyak orang mengarang cerita – cerita bohong untuk membuat orang lain ketawa. Kadang untuk memancing tawa malah harus dengan ungkapan kasar dan makian. Kalau pola seperti ini sampai masuk ke panggung dakwah, alamat dakwah bakal runtuh pamornya.

Samidi : Kalau menurut pandangan ustadz sendiri, bagaimana situasi canda tawa dalam dunia dakwah, khususnya di Indonesia?

Mukidi : Kita sebenarnya bisa membedakan model dan pola ceramah yang mengundang canda tawa para jama’ah. Model pertama, canda cerdas. Mubaligh melemparkan melempar statemen cerdas dengan gaya khas, yang memancing senyum dan tawa jama’ah. Ni gayanya agak berkelas. Diantara contohnya adalah Almarhum KH Zaenudin, MZ, Ustadz Abdul Shomad, Lc dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini dilakukan oleh Trio Bagito yang candaannya suka menyentil masalah politik, hukum, ekonomi dll.

Model kedua, canda lucu. Mubaligh menirukan ucapan – ucapan tertentu atau memperagakan gaya tertentu sehingga para jama’ah jadi tersenyum dan tertawa. Sebenarnya, mereka sengaja melakukan itu agar suasana interaktif lebih terasa. Diantara contohnya adalah KH Anwar Zahid, KH Duri Ashari, Ust Maulana dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini biasa dilakukan oleh Srimulat. Candaan model begini bisa menurunkan marwah dari mubaligh bersangkutan, kecuali jika diimbangi dengan bobot ceramah yang tinggi dan berkelas.

Model ketiga, canda kelewatan. Mubaligh menyampaikan statemen khas yang secara zhahir menyalahi tuntunan dan cenderung bernada kontroversial, tapi maksud sebenarnya adalah untuk bercanda. Diantara contohnya adalah KH Said Aqil Sirajd. Beliau menyampaikan : semakin panjang jenggotnya maka semakin goblok, Gus Dur sampai sekarang belum ditanya oleh malaikat Munkar Nakir dll. Bagi warga nahdliyin, mereka tahu ungkapan ini bagian dari canda semata. Namun bagi komunitas diluar nahdliyin, jelas berpotensi menyebabkan salah paham dan salah tafsir. Karena itu, candaan model begini sebaiknya dihindari.

Samidi : Ustadz setuju tidak jika nanti ada penertiban kepada para ustadz yang senang bercanda saat ceramah?

Mukidi : Secara pribadi, kami sebenarnya kurang sepakat. Pertama, kita akan runyam dalam proses pendefinisian bentuk dan model canda yang dilakukan oleh mubaligh. Kedua, kita juga akan bingung siapa dan bagaimana proses penertiban dan penindakannya.

Samidi : Trus, harusnya bagaimana tadz?

Mukidi : Paling bagus, ada komisi pengawas (semacam komisi yudisial, komisi kepolisian, komisi ombudsmen dll) yang bertugas memonitor situasi terkini dilapangan. Nanti lembaga bisa dibentuk oleh MUI ataupun ormas dakwah yang menaungi muballigh tersebut. Hal lain, kita bisa kuatkan dalam proses pengkaderan (daurah) dai dan muballigh. Jadi mereka sudah ditatar secara baik tentang bagaimana bentuk dan cara dakwah yang baik dan efektif, tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Cara lain, dengan memperingatkan jama’ahnya, agar jangan ngundang dia ceramah lagi. Kan beres. He..9x.

Samidi : Jadi ustadz tetap setuju adanya canda tawa dipanggung dakwah ya? Bukannya dakwah semestinya serius karena tengah memberikan ilmu dan peringatan tadz?

Mukidi : Dunia dakwah itu warna warni, rame rasanya. Ada orang yang senangnya diberi sesuatu yang serius. Biasanya, mereka adalah para santri yang niatannya memang thalabul ‘ilm. Ada juga orang yang senangnya sama yang lucu – lucu. Biasanya, mereka adalah golongan masyarakat awam. Beda orang, beda pula pendekatannya. Kalau dai bertipe serius berceramah didepan masyarakat awam, ndak akan masuk. Sebaliknya, kalau dai yang senang bercanda berceramah dihadapan kaum terdidik dan terpelajar, ndak masuk juga. Jadi semua ada porsinya, semua ada pangsa pasarnya sendiri – sendiri. Adapun tentang ilmu, bisa diberikan dengan cara berat dan serius, bisapula dengan gaya ringan dan menghibur.

Samidi : Oh gitu ya. Sukron atas pencerahannya tadz.

Mukidi : Yap, sama – sama. Nanti kalau ada kegiatan daurah muballigh, antum ikutan ya.

Samidi : Siap tadz.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *