Sentuhan Fisik

Kebersamaan. Juga kepedulian. Melebur menjadi sebuah entitas baru. Penyubur kala cinta bersemi dan penguat saat badai menerpa. Mendegradasi keakuan, mengikis keegoan dan menumbuhkan jiwa yang gersang.

Kebersamaan adalah syarat. Syarat meniti kehidupan. Juga melewati ketidakpastian. Kebersamaan adalah harmoni. Harmoni yang mengelaborasi cinta dan membuahkan kerja. Juga merupakan representasi cinta. Sedangkan kebersamaan tanpa sentuhan fisik adalah penderitaan. Penderitaan yang memerihkan jiwa.

Seorang wanita bisa tahan saat kesulitan melanda. Walaupun tak dibenarkan membiarkan berlama-lama dalam kesulitan. Tapi seorang wanita tidak akan kuat bila biduk rumah tangganya hambar. Minim kepedulian atau keengganan menebar romantisme.

Pertemuan dua anak manusia adalah fitrah. Menguatkan juga menyeimbangkan. Tapi apa akibatnya jika dua insan yang telah bersatu itu terpisahkan?

Kegoncangan. Sebagaimana yang dialami oleh wanita yang ditinggal perang suaminya.

Berbulan-bulan. Hinggapan kerinduan itu menyergap. Syair-syair pengobat rindu dilantunkan sebagai penghibur rasa. Rintihan jiwa seolah menguatkan cabikan dirinya. Umar bin Khatab sedang melewati rumahnya, mendengar rintihannya. Umar gelisah mendengar bait-bait yang terlantun. Rasa bersalahnya membuat kegelisannya semakin membuncah. Ditanyalah pada anaknya tentang lamanya seorang wanita berpisah dengan suami. “ Wahai putriku, berapa lama seorang wanita tahan berpisah dengan suaminya?” tuturnya.

“Bisa sebulan, dua bulan atau tiga bulan. Setelah empat bulan ia tidak akan mampu lagi bersabar” ujarnya. Jawaban itu membuat sisi-sisi kemanusiaan itu hadir. Umar lalu membuat kebijakan mengenai batas lamanya seorang prajurit pergi perang.

Kebersamaan adalah sentuhan dan sentuhan itu menghidupkan. Juga menghangatkan. Lihatlah kisah Laila dan Qais. Kisah cinta yang menyiksa karena tembok egoisme. Apakah cinta bisa berkembang tanpa sentuhan fisik?

Qais contohnya. Ia akhirnya gila dengan kenyataan tidak bisa memiliki cinta fisiknya Laela. Juga dengan Laela yang mengalami penderitaan berkepanjangan. Lalu bagaimana dengan ungkapan cinta tak harus memiliki? Jika manusia diciptakan berpasangan, bukankah sentuhan fisik adalah ruh dari kebersamaan?

*Dhiyya Uddin*

Haruskah Aku Berpaling?

Mencintai dengan seutuhnya cinta adalah milik Allah, tak ada yang bisa mencintai seperti Ia mencintai hamba-hamba Nya. Ah jika membahas kesetiaan tentulah Allah yang akan menjadi pemenang karena Allah lah yang selalu senantias menunggu hamba Nya untuk kembali pada jalan Nya.

Ada satu cinta lagi, cinta yang bila mencintainya maka akan bertambah rasa cinta dalam nyata. Terjal memamg jalan untuk terbersama menumbuhkan cinta, namun mulia bila tetap bersama dalam cinta bersamanya. Tersebab jatuh cinta itu mudah namun bertahan dan berjuang bersama dengannya sampai akhir itulah yang susah.

Haruskah aku berpaling? Melepas semua yang sudah terbangun dan mendarah daging?

Mencela bahagia yang pernah terbangun?
Mencaci empati yang sudah di hati?

Jika berpaling itu indah, maka sudah tentu akhir cerita bahagia yang akan terlantun berdawaikan cinta bersama dalam keberpalingan.

Jika berpaling itu mudah, toh tentu rasa setia itu akan terobohkan!

Namun tidak demikian indahnya berpaling, menyayat hati siapa saja, mengundang tanya pada setiap jiwa

Pantaskah yang berpaling diberi setia?
Bukankah suatu keberpalingan akan dibalas dengan keberpalingan yang amat menghujam raga hingga muncul derita?

Berpaling dalam barisan cinta tak akan membawa siapa saja bahagia.

Haruskah berpaling jika setia akan menjadi cerita bahagia?

Aise

Marah [Catatan Ramadhan]

Marah itu tak pernah benar menurut Allah, menurut orang lain, bahkan, ketika telah tersadar, marah itu pun tak bagus bagi pemarah. Marah tak pernah bagus, bagi siapa pun.

Marah-marah, maki-maki, sumpah serapah, dan semacamnya itu hal yang banyak merusak puasa. Marah itu mengosongkan makna puasa. Berlapar dan berhaus diri tetapi nyaris tanpa pendidikan diri. Seperti secangkir kopi hangat paling enak sedunia yang tertetes arsenik atau sianida.

Tak banyak kesempatan untuk bisa meluruskan bab ini. Menyela orang yang sedang marah, lebih sering memasukkan diri ke dalam situasi tak nyaman. Melerai orang sedang marah-marahan, malah mengakurkan mereka dan membuat mereka marah bersama pada kita. Yang sedikit itu, di antaranya ketika dalam pengajian. Atau ketika membaca nasehat tentang hal buruk itu.

Dan saya menggunakan kesempatan yang tak banyak itu sekarang ini.

Karena sesungguhnya, marah-marah dan sumpah serapah itu tak pernah bagus untuk semua.

Pengajian menjelang Buka Bersama di Musholla Al Fatah, Deresan, Bantul, 11 Ramadhan 1439/26 Mei 2018

Tentang Sedikit Harapan Itu [Catatan Ramadhan]

“Beh.. tolong diginiin ya..”, kata Mican sambil mencontohkan gerakan mengaduk-aduk kecil masakan berkuah di atas panas api sedang itu. “Supaya nggak rusak..”, katanya seperti memahami dan mengantisipasi ketidakfahamanku. Aku membatin, mungkin supaya santan di masakan ini nggak pecah atau semacam itu. Seperti yang pernah aku dengar-dengar itu.

Aku melakukan perintahnya itu. Tetapi, belum lama, sudah ada perintah baru. “Sudah, be.. Sekarang ngupas telur..”, katanya. Aku pun menjalankan perintahnya. Belum lama, datang perintah baru. “Diginiin, beh..”, katanya mencontohkan membuat sayatan-sayatan pada telur-telur rebus itu. Aku tak menjawab, hanya menjalankan arahan itu. “Trus dicemplungke ya, beh..”, katanya kemudian. Aku pun manut. “Sekarang diaduk lagi kek tadi..”, katanya. Aku pun mengaduk lagi. “Supaya tidak rusak khan, Can..”, kataku dalam hati saja.

Di balik punggungku, dia beraktivitas yang lain, entah apa itu.

Lalu aku memanfaatkan kekosongan perintah itu dengan bertanya padanya.

“Mican tau cara masak ini piye, Can? Khan kamu nggak disiapkan untuk masak, punya anak, dan lainnya. Kamu khan nggak benar-benar belajar untuk ini semua?”.

“Trus apa nggak kaget, Can? Khan begitu banyak hal baru, bertubi-tubi datangnya, dan seperti tanpa henti…”, tanyaku sambil terus mengaduk. Mengaduk masakannya.

“Belum lagi, ternyata kamu menikahi laki-laki yang cuma begini ini. Laki-laki yang sangat biasa, mendatangkan banyak masalah baru, menyeretmu dalam dinamikanya..”, kataku sambil terus mengaduk. Mungkin mulai mengaduk hatinya juga.

Dan hari ini, aku sholat di sebuah masjid tempat aku menerima nikahnya. Hari ini, aku duduk di bagian shaf laki-laki itu lagi. Waktu itu, kata adikku, Mican menangis setelah ijab kabul itu dinilai sah. Dua puluh lima tahun yang lalu.

Waktu itu, kami hanya punya sedikit harapan, sedikit cita-cita, dan banyak ketidaktahuan. Dan hari ini, kenangan dan kesadaran itu mengaduk hati kami.

Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Eko Novianto
Sleman, 12 Ramadhan 1439/28 Mei 2018

Gajah dan Anjing Hamil

Seekor gajah dan seekor anjing hamil pada saat yang sama. Tiga bulan kemudian anjing melahirkan enam anak anjing. Lalu, enam bulan kemudian anjing itu hamil lagi, dan sembilan bulan berikutnya anjing itu melahirkan selusin anak anjing yang lain. Demikian seterusnya.

Pada bulan kedelapan belas, anjing itu mendekati gajah sambil bertanya, “Apakah kau yakin bahwa kau sedang hamil? Kita hamil pada tanggal yang sama, saya telah melahirkan tiga kali untuk lusinan anak anjing dan sekarang mereka tumbuh menjadi anjing besar. Tetapi kau masih saja hamil. Apa yang sedang terjadi?”

Gajah itu menjawab, “Ada sesuatu yang saya ingin kau mengerti. Apa yang saya bawa bukan anjing tetapi gajah. Saya hanya melahirkan satu bayi gajah dalam dua tahun. Ketika bayi saya menyentuh tanah, bumi akan merasakannya. Ketika bayi saya melintasi jalan, manusia berhenti dan melihat dengan kekaguman, apa yang saya bawa menarik perhatian. Jadi, apa yang saya bawa dalam perut ini perkasa dan besar.”

Jangan kehilangan iman ketika kita melihat orang lain menerima jawaban atas doa-doa mereka. Jangan merasa iri atas kesaksian orang lain. Jika kita belum menerima berkat kita sendiri, jangan merasa putus asa. Berkatalah pada diri sendiri, “Waktu saya akan tiba, dan ketika menyentuh permukaan bumi, orang akan berdecak kagum.”

,

Mampu Atau Tidak Mampu Itu Ada Ujiannya

Ujian terberat pada kemampuan kita adalah kesombongan, sedang pada ketidakmampuan adalah kemalasan.

Benarkah?

Kalau ingin mendeteksi sifat sombong, mungkin bisa dicoba dengan mendata keunggulan kapasitas kita. Lalu pikirkan. Pasti ada setitik kebanggaan diri dari potensi semisal pandai menulis, jago orasi, terampil berkreasi, cakap berbahasa asing, pintar meneliti, piawai memimpin atau sekedar juara berpenampilan menarik.

Setitik bangga memang masih wajar. Bahkan perlu ditumbuhkan secara positif agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi hati-hati, dari setitik itu juga dapat menjadi celah keburukan jiwa yang dibenci Allah bila berkembang membentuk kesombongan. Orang yang hatinya diliputi rasa sombong kelak akan menderita kerugian besar berupa hangusnya amal atau dibinasakannya semua hal yang membanggakannya dalam sekejap mata. Tak sampai di situ, kehidupan orang sombong di akhirat kan berakhir pada kenestapaan abadi sebagaimana sabda Rasul saw berikut :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)

Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Bahkan seorang pendakwah dapat tergelincir ke neraka jika ceroboh berucap sesuatu yang mengisyaratkan kesombongan layaknya kisah dalam hadits berikut :

“Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Sampai suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka!
(HR Imam Ahmad)

Wal ‘iyyadzubillaah…

***

Sementara deteksi terhadap kemalasan barangkali bisa dicoba dengan cara meneliti berbagai aspek kelemahan kita. Lalu renungkan. Adakah terbesit keengganan dalam membenahi tiap kekurangan diri seperti sulit konsentrasi, lambat menghitung, tidak terampil, kurang rapi, cenderung pasif, selalu terbelakang dalam berinisiatif, dsb?

Sebersit memang kadang lumrah atas nama pemakluman terhadap kekurangan yang ada di setiap manusia. Namun waspadai jika perasaan ini terus dibiarkan apalagi sampai dipelihara. Sebab bukan mustahil, ia akan bertambah kuat, membesar serta mengakar di jiwa membentuk karakter pemalas.

Bila kondisinya semakin akut, seorang pemalas biasanya akan mudah menyalahkan takdir Allah.

“Ah emang sudah dari sananya saya punya kekurangan ini itu. Gak bisa berubah lagi.”

“Yang bikin kondisi fisik saya begini, kan Allah. Jadi ya sudahlah terima aja ketidakmampuan saya…”

Akhirnya kemalasan yang mengendap berpotensi membuat aqidah jadi keropos. Pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit.

Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang berhasil meraih prestasi luar biasa meski dalam kondisi tak sempurna baik secara jiwa maupun raga. Disebabkan kegigihan dan ketekunan akhirnya mereka sukses melampaui ketidakberdayaaan diri.
Itulah buah manis jika kemalasan telah sekuat tenaga kita perangi dan tundukkan.

Begitulah kemampuan dan ketidakmampuan mutlak menghiasi pribadi kita sebagai insan tak sempurna. Di antara keduanya Allah ta’ala tidak hanya menyelipkan ujian tapi juga kesempatan untuk mengintrospeksi diri agar tak terjatuh pada kerugian akhirat saat menyikapinya.

Maka amat pantas jika kita meminta perlindungan pada Allah terus menerus agar jiwa tak sampai menyandang predikat sombong dan malas akibat kegagalan ujian kita.

اللهم إنا نعوذ بك من الكبر والعجب والريا والسمعة

Ya Allah kami berlindung dari sifat-sifat tercela; sombong, membanggakan diri, riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

Karawaci,12052015

#catatanrefleksi

Refleksi Penghafal (Bagian 2)

Oleh : syahdan Arief

Lupa atau melupakan?
Kalau kita lupa ya gimana lagi ya?… Hehe
Lebih jauh dalam hal ini penjelasan terkait lupa adalah termasuk rahmat Allah dan kebaikan-Nya kepada para hambaNya.
bagaimana tidak? Jika seseorang lupa hafalannya, dia tentu akan menghafal kembali (muraja’ah). Jika dia murajaah bacaannya, dia akan mendapatkan hasil yang lebih utama daripada kalau dia dulu telah membaca Al-Quran, menghafalnya, dan tidak lupa. Karena jika Anda membaca, hafal dan tidak lupa sedikit pun, Anda tidak akan membaca Al-Quran walaupun pada saat Anda butuh. Namun selama Anda mengetahui bahwa Anda akan lupa, tentu Anda akan muraja’ah berkali-kali, demikian seterusnya.
Begitulah.

Secara hukum dia tidak berdosa karena lupa merupakan thobi’i (melekat sifat di setiap diri umat manusia) akan tetapi disyariatkan bagi seorang muslim untuk selalu menjaga dan memelihara hafalan Al-Quran agar tidak hilang dari ingatannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -,

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِيْ عَقْلِهَا

“Jagalah Al-Quran. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Al-Quran itu lebih mudah lepas daripada seekor unta yang lepas dari talinya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5033 dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, bab (22), dan diriwayatkan Muslim, no. 791 dalam kitab Shalat orang yang bepergian dan qashar, bab (23) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari z.)

So.. yang paling penting dari yang terpenting adalah mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Quran kemudian mengamalkannya. Karena barangsiapa yang mengamalkan Al-Quran, maka Al-Quran tersebut akan menjadi hujjah baginya (akan membelanya di hadapan Allah l). Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan Al-Quran, maka Al-Quran tersebut akan menjadi bumerang dia. Hal ini berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -.

وَ الٌُقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Dan Al-Quran itu bisa menjadi hujjah bagimu (membelamu) dan bisa menjadi hujjah atas kamu (mengancammu).” (Riwayat Muslim dari hadits Al-Harits Al-Asy’ari yang panjang.

Nah..
Kalo melupakan ini yang ngeri.. bisa jadi nanti pasti bakal dilupakan oleh sang pemilik Kalam.
Seperti kisah Dr. Thaha Husein yang dikenal sebagai Bapak Sastra Arab di Mesir. Ia sudah hafal Al-Quran sejak kecil, namun akhirnya ia tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu Allah SWT, nauzubillah mindzaalik..
Sampai merembet pada hal Aqidah dan begitu mahal Hidayah..
Subhanallah, maha suci Allah Ta’aala atas segala kebaikan dan kebenaran.

Sebelum ditutup refleksi ke 2 ini…
Yuk bisa kita simak kisah di bawah ini dengan baik, mungkin pernah terjadi pada kehidupan kita…

Seorang dosen Masyayikh.. mendengar curhatan mahasiswa tingkat akhir dan banyak yang mengadukan masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.

Lupa yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu tidak berdosa dan tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat manusia.
Dan lupa jenis kedua adalah termasuk dosa.
Dan bahaya sekali sehingga bakalan banyak ancaman serius bagi penghafal Alquran dg tipe seperti ini.

To be continued..

Jakarta, 20 April 2018

Refleksi Penghafal (bagian 1)

Oleh : syahdan Arief

Pagi ini kuberselancar maya dengan ID “penghafal” muncul banyak berita memuliakan, dapat beasiswa, dapat umroh dan haji gratis serta seabreg penghargaan lainnya yang membuktikan bahwa seorang “penghafal” sesuai dengan firman-Nya dan sabda Rasulullah Saw untuk mendapatkan kedudukan termulia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Namun ada yang Allah Ta’aala langsung undang ke surgaNya, sebuah berita terupdate dari Afghanistan perayaan dari kelulusan wisuda Alquran yang diikuti sebanyak 150 wisudawan meninggal dunia karena serangan bom yang begitu tak berperikemanusiaan.

Memang mereka lebih pantas langsung utk tinggal dalam keridhaan di sisiNya daripada hidup di dunia yang penuh dengan kehinaan.

Lantas seperti apa “penghafal” yang dimaksud?
— penghafal yang menjadikan Alquran sebagai pedoman dan role mode kehidupan sehari-hari —

Sakitkah mendengarnya ketika ada istilah mantan “penghafal” ?
—Alquran saja tak bisa dijaga dan ditinggalkan begitu saja apalagi kamuh.. heheu. Tragis! —

Tak elak yuk kita simak pertanyaan jiwa di bawah ini yang kudapat dari salah satu chat teramai groupku dengan beberapa perubahan…
yang seolah hati dan pikiran ini dibawa untuk adem berpikir dan hangat dalam mengambil tindakan.. yuk sob!
Bagaimana kabar hafalanmu, umma? Masihkah dalam shalatmu kau baca surah pendek juz 30?
Walau kita semua faham betul keutamaan surah-surah itu.
Tapi, apakah kualitas hafalanmu tidak kau banggakan di hadapan Rabbmu?

Bagaimana kabar hafalanmu, sis? Ingatkah bagaimana perjuanganmu mendapatkan hafalan itu? Lantas, kenapa perjuanganmu dalam
muraja’ah (mengulang2 hafalan) tidak lebih besar?
Hafalan al-Qur’an itu lebih mudah hilang daripada seekor unta yang tidak diikat oleh tuannya.
Bukankah kau tahu hadits tersebut?

Bagaimana kabar hafalanmu, brother? Berapa juz yang bisa kau baca lancar tanpa harus melihat dulu sebelumnya?
Seberapa siapkah kau menjadi imam shalat tanpa ada persiapan surah apa yang akan dibaca?

Menghafal al-Qur’an tak lantas berhenti setelah kita menyelesaikan setoran akhir.
Bukankah impianmu adalah menjadi ahlul-Qur’an? Menjadi Ahlullah?
Maka, muraja’ah adalah pekerjaan seumur hidupmu.

Bagaimana kabar hafalanmu, sis? Seberapa intens interaksimu dengan al-Qur’an sekarang? Apakah tilawahmu bertambah? Atau malah berkurang? Apakah hari-harimu kau sibukkan dengan urusan dunia? Lantas bagaimana dengan muraja’ahmu?
Berapa halaman, berapa surah, berapa juz yang kau dapatkan per hari?

Bagaimana kabar hafalanmu, Saudaraku?
Bukankah kita ingin al-Qur’an menjadi penolong atau syafaat?
Tapi, jika usaha kita untuk muraja’ah hanya seadanya,
bagaimana jika al-Qur’an menuntut hafalan kita yang hilang?
Allah tidak akan bertanya kenapa kau lupa lagi lupa lagi.
Tapi yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya adalah
Bagaimana usahamu dalam me-muraja’ah hafalan?

Saudaraku, kita semua hafal betul bahwa seorang teman yang mengingatkan pada kebaikan bisa memberikan kita syafaat kelak di akhirat. Semoga dengan ini, jika kelak tidak kau dapatkan aku bersamamu di surga, carilah aku.
Bukan berarti aku yang berbicara lebih baik, kita sama-sama sedang memperbaiki diri menjadi insan yang diridhoi-Nya.

Sudahkah tergerak akan ini semua? Masih adakah semangat yang menggelora dalam jiwa utk Istiqomah dalam berbicara dan bertindak?

Jakarta, 19 April 2018

Dunia hanya Sementara

Kehidupan dunia hanyalah tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan akhirat, dengan berbagai macam ibadah dan dzikir yang mendatangkan manfaat besar untuk kehidupan akhirat kelak.

Pertemanan dan persahabatan sungguh tidak bernilai dan hanya sia sia, jika tidak mengarah kepada keikhlasan dan tawakal karena Allah, orientasi kesenangan dunia, kepuasan pertemanan akan punah dengan keperluan dan kepentingan syahwat belaka.

Apakah kamu suka duduk tertawa dengan budak harta ?
Merasa benar dan baik, karena usaha yang sudah diwujudkan untuk kepentingan nya dan populeritasnya ?

Betapa keren nya sahabat Nabi saw dengan jalinan emosi nya, usaha semata karena Allah dan Rasulullah.

Beramal semata kecintaannya terhadap Allah dan Rasulullah.

Persaudaraan fokus semata mencari keridhoan Allah dan Rasulullah.

Kehidupan dunia ibarat musafir yang akan kembali ditanya tuan Nya.

Kepastian kembali akan menghampiri seorang musafir.
Betapapun waktu perjalanan yang ditempuhnya tetap ia akan ditanya tuannya.

Maka tidak lah mungkin seorang sahabat Abu Darda Menolak lamaran putrinya dengan putra Mahkota, Yazid bin Muawiyah kalau ia anggap kesenangan kehidupan dunia adalah hakiki kesenangan juga tanda keberhasilan usahanya.

Sebaliknya Abu Darda dengan keras menolak lamaran Muawiyah, karena kemewahan dan tingginya jabatan Yazid sama sekali tidak membuatnya tergoda !

Abu Darda nikahkan putrinya dengan seorang pemuda muslim yang sangat miskin tetapi saleh.
Abu Darda lebih banyak menampilkan keutamaan dan keindahan dari kehidupan akhirat, dan menjahui bahayanya tipuan dunia dan kemewahannya.

Betapapun mewah nya status kepemilikan dunia yang kamu ada, sama sekali tidak mempengaruhi kecondongan diri seorang Abu Darda terhadap tipuan kesenangan dunianya.

Bagaimana mungkin seorang yg mukmin’ mengabaikan semua renungan tersebut ?

Ingatlah betapapun seorang baik akan ditinggalkan oleh sahabatnya, manakala ia tidak mengerti arti pentingnya persahabatan serta nilainya.
Terlebih fokus terhadap ambisi dirinya dan kesenangan dirinya.

Ka’ab bin Malik meninggalkan sahabat nya.
Mararah bin Rabi’ juga sama meninggalkan sahabatnya.
Hilal bin Umayyah juga demikian !”

Maka dengan sikap mereka seperti itu apa kata Nabi Saw, beliau mengatakan dan mengulang kalimat itu sampe 3x dengan mengatakan :
“Biarlah”,
“Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah swt tentu, akan mengembalikannya kepada kita, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kita dari bahayanya.” !!!

Perhatikan juga bagaimana yang disampaikan wanita perkasa, Asma Binti Abu Bakar, ketika Abu Naufal bercerita, Hajjaj bertanya :
kepada Asma :

Bagaimana menurutmu dengan apa yang telah aku lakukan terhadap musuh Allah?

Asma menjawab: Saya melihat kamu telah menghancurkan kehidupan dunianya dan dia telah menghancurkan kehidupan akhiratmu.

Sahabat, …
Surga itu nikmat, akan semakin bertambah nikmat ketika di surga nanti, dikumpulkan dengan orang-orang yang semasa di dunia bertemu dan bersahabat lalu kemudian kita disucikan, dan saling mengunjungi dan menyapa didalam Surga.

Tidak ada rasa capek, letih, juga bosan. Kehidupan di surga tidak ada akhirnya.

Mereka (Pasangan) adalah orang-orang yang kekal. Kekalnya sama-sama kekal, tidak ada perpisahan.

Di surga nanti juga tidak ada rasa cemburu dan dendam. Maka nikmat sekali, ketika kita hidup dengan sama-sama ikhlas.

Saatnya membalas Budi, Bung! Ghouta tidak Sendiri

“Semoga kelak Indonesia menjadi negeri yang tak melupakan sejarah, berjuang membebaskan bangsa lain yang masih terjajah. Saya yakin mereka tidak akan lupa saat mereka merdeka nanti. Pastilah mereka akan mengingat kebaikan kita ini membebaskan tanah Arab yang masih dalam pendudukan bangsa lain.” ucap Abdurrahman Azzam Pasya meyakinkan Mahmud Fahmi Nokrasyi selaku perdana menteri Mesir kala itu.

Abdurrahman Azzam Pasha, sekjen liga Arab itu berkeyakinan teguh jika suatu hari nanti Indonesia akan memainkan perannya dalam pembebasan negeri-negeri terjajah. Negeri nun jauh di sana, yang mungkin masih berpeluh dalam kesendirian, tergerus waktu, namanya bahkan bisa menghilang dari peta dunia dan berganti dengan nama lain.

Sebuah kado indah dari Azzam melalui liga Arab mendatangi negara-negara Islam dan memboyong dukungan Mesir, Suriah, hingga Palestina untuk kemerdekaan Indonesia.

Tak berhenti di situ, Azzam pun juga mengirim utusan dari Liga Arab untuk datang langsung ke Indonesia dengan membawa segenggam pesan yang berbunyi “Negeri ini tidak sendiri,Bung!”

Betapa indah kado dari bangsa Arab Indonesia.

Suriah menjerit, Ghouta terjajah oleh rezim AL Assad. Bangsa Islam terluka. Ratusan ribu nyawa melayang, anak tak berdosa menjadi korban, warga tak berdaya kehilangan sanak saudara

Sejarah seakan berulang. Akankah negeri ini mengingat kala satu persatu uluran tangan lembut itu mengakui kemerdekaan Indonesia?

Inilah saatnya, inilah waktunya Indonesia memberikan kado terindah untuk Ghouta dan mengirim utusan dengan segenggam pesan “Ghouta tidak sendirian, Akhi! sebagaimana dulu bangsa Arab memberikan kado terindah untuk Indonesia.

Aise