Antara Orang Cerdas Dan Orang Telat Cerdas

Bermimpi sukses itu kerjaan setiap orang, dan kagum kepada orang sukses itu adalah perilaku setiap orang. Namun sadarkah anda bahwa hanya berbekalkan rasa kagum dan mimpi menjadi sukses tidak cukup untuk menjadi orang sukses?

Orang yang puas dengan rasa kagum kepada orang sukses, apalagi beranggapan bahwa rasa kagumnya yang hanya dibubuhi dengan doa sudah cukup untuk menjadikannya turut sukses, sejatinya adalah orang yang telat cerdas.

Orang cerdas selalu sadar bahwa setiap kesuksesan biasanya mengandung empat unsur utama:

1. mimpi menjadi orang sukses yang belanjut menjadi tekad kuat.

2. Usaha keras yang diiringi dengan pengorbanan.

3. Doa yang dilandasi oleh keyakinan dan iman.

4. Taufiq dan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Dengan keempat hal inilah orang sukses menggapai suksesnya.

Karena itu, akan lebih bijak bila setiap kali Anda melihat orang sukses Anda mempelajari langkahnya, melihat pengorbanannya bukan hanya menggeleng-gelengkan kepala anda dengan keras karena tak kuasa menahan rasa kagum .

Karena itu bila anda ingin sukses seperti mereka, maka jangan puas dengan kekaguman dan terus hanyut dalam geleng geleng kepala kekaguman. Namun segera bulatkan tekad, langkahkan kaki, lakukan pengorbanan dan teguhkan iman anda. Insya Allah anda segera menyusul menjadi orang sukses.

Contoh nyata, bila anda melihat orang mengendari mobil mewah, maka jangan hanya kagum dengan kemewahan mobilnya, karena hanya kagum anda tidak akan pernah bisa memilikinya. Namun pikirkanlah, berapa harganya dan bagaimana ia dapat memiliki uang sebanyak itu sehingga bisa membelinya.

Anda melihat lelaki memiliki istri cantik, jangan hanya kagum kepada kecantikan istri lelaki itu, namun pikirkan dengan apa wanita secantik itu terpikat kepada lelaki itu dan bagaimana lelaki itu berhasil memiliki hal tersebut, dan dengan apa lelaki itu mengikat wanita itu sehingga setia kepadanya?

Selamat mencoba, semoga sukses.

Dr. M. Arifin Badri

Perpecahan di Depan Mata, Hanya Kita Yang Mampu Menghentikannya

Oleh : Aa Dym

Kita yang mengaku dirinya manusia
Bukan jin, bukan syaitan bukan malaikat
Kita yang mengaku hamba Allah SWT
Kita yang mengaku kaum beriman
Kita yang mengaku dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusanNya

Kita yang mengaku berketuhanan Yang Maha Esa
Kita yang mengaku berkemanusiaan yang adil dan beradab
Kita yang berpersatuan Indonesia
Kita yang mengaku berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Kita yang mengaku berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kita yang telah bersumpah dihadapan Allah SWT dan rakyat Indonesia
Kita yang telah bersumpah bahwa kami adalah putra dan putri Indonesia
Kita yang telah mengakui keberagaman selain keberagamaan
Kita yang telah mengakui kebhinekaan selain keaneka ragaman suku bangsa, bahasa, kebudayaan dan juga agama
Kita yang telah mengakui bahwa hukum adalah harus di atas segala-galanya

Kita yang telah mengaku bahwa NKRI harga mati
Kita yang telah mengaku bahwa Agama adalah sesuatu yang utama alias harga mati juga
Kita yang mengaku bahwa ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah insaniyah atau basyariyah

Pantaskah kita menodai atau merusak itu semuanya?

Kira-kira butuh sejarah apalagi untuk memperkokoh pilar-pilar itu?

Pantaskah kita saling membenci satu dengan yang lainnya?

Hanya karena perbedaan pilihan politik, ormas atau komunitas

Pantaskah kita saling membully, berpecah belah dan saling perang kata-kata atau ucapan, panggilan dan hinaan?

Padahal kita sudah melewati momentum sejarah #AksiBelaIslam 1, 2 dan 3 ada tagar saat 411 maupun 212.

Lalu angka berapa lagi yang akan kita gunakan untuk menyatukan generasi penerus kita ke depan? Hanya satu angka yaitu AHAD atau WAHID atau TAUHID

Hanya satu kalimat untuk menyatukan kita yakni kalimat tauhid setelah itu kita akan berada pada bingkai besar apakah kita kaum beriman, kaum yang ingkar atau kaum yang memutuskan atau merusak segala perjanjian kita baik perjanjian dengan Allah dan Rosul-Nya, atau perjanjian, ikrar atau sumpah diantara kita yang salah satunya adalah SUMPAH PEMUDA.

Bekasi, 27 Oktober 2018

Kesombongan yang Menghancurkan

Kalau ala-ala film televisi kekinian mungkin judulnya akan sepanjang ini: Azab Penjual Obat Kuat Yang Sempat Kaya Tapi Sombong, Yang Terjatuh Dan Tak Bisa Bangkit Lagi Sampai Tak Kuat Lagi Menghadapi Kenyataan

Malin adalah pemuda desa yang bercita-cita menjadi saudagar kaya. Sejak kecil, dia hidup ditengah himpitan ekonomi. Orangtuanya tak mampu mewujudkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari dia bertemu seorang kakek yang bijak dan menceritakan mimpi-mimpinya pada sang kakek tersebut.

“Anak muda, kamu tahu negeri ini belum kuat?” Tanya kakek bijak.

“Negeri ini masih lemah, buktinya banyak penjual obat kuat yang bisa kamu temui di pinggir jalan?”

“Saya punya sedikit ilmu yang bisa kamu ambil untuk mewujudkan mimpi-mimpimu anak muda”

Singkat cerita si kakek bijak dan Malin berpisah. Malin merasa semakin percaya diri karena sudah punya bekal dan ilmu.

Malin pun pulang ke desanya dan langsung mengaplikasikan ilmu dari si kakek tadi. Malin yang biasa bangun siang dan malas-malasan, kali ini harus bangun lebih pagi untuk membuka tokonya.

Tokonya bukan ruko di gedung-gedung perkotaan, hanya teras rumahnya yang dilengkapi etalase. Hari pertama, penjualannya cukup lumayan. Dilanjutkan hari kedua dan seterusnya, omzet semakin meningkat.

Malin merasa puas akan hasilnya. Dengan kerja keras dan ilmu yang didapat, tak menyangka dia sudah jadi saudagar kaya.

Datanglah seorang teman, mengajaknya pergi ke masjid untuk beribadah dan mengikuti sebuah kajian. Karena kesibukan dan hal lain, Malin tak bisa mengikuti kesempatan itu.

Hari ke hari, kesibukan Malin semakin meningkat seiring omzet dari penjualan obat kuat yang terus melesat. Sampai-sampai tak punya waktu untuk beribadah. Berbeda dengan Malin yang dulu, sekalipun pemalas, dirinya masih sempat untuk beribadah.

Di tengah kesuksesannya sekarang, dia berkata pada dirinya “Apa yang sudah aku dapatkan saat ini, adalah hasil dari kerja keras dan kepandaianku (ilmu yang didapat)”.

Barang branded yang dulu hanya bisa dilihatnya di online shop, kini bisa diborongnya. Dompet yang dulu setipis ATM, kini sudah setebal make up para biduan, lengkap dengan kartu kredit, debit, dan lainnya.

Hampir 9 bulan hidup penuh dengan kemewahan dia rasakan. Dan di bulan 10 menjadi bulan ujian baginya. Supplier yang biasa memasok produknya harus berurusan dengan pihak berwajib karena produknya belum memenuhi standar dan izin. Alhasil produk kosong, penjualan pun kopong. Dan Malin kembali ke zaman susahnya kembali.

Barangkali kita pernah berada di posisi Malin tadi. Merasa kesuksesan yang didapat adalah hasil kerja keras dan kepandaian kita. Padahal setiap kesuksesan yang didapat adalah semata karena ada pertolongan dariNYA.

Sebagaimana orangtua yang tanpa pamrih menolong anaknya disetiap situasi. Atau ketika kita sedang mendapat kesusahan, kita pasti akan meminta tolong kepada teman kita. Tanpa kasih sayang dan kedekatan dengan mereka, rasanya mereka enggan menolong.

Karena kita selaku manusia itu sangat lemah, maka ketika kita ingin mendapatkan pertolongan dariNYA, dekatkan diri kita padaNYA.

Ali RA, pernah berkata:
“Kasihan sekali manusia itu. Ia tak mengetahui kapan ajal tiba. Tubuhnya adalah penyakit. Segala perbuatannya selalu dicatat. Kutu kecil pun bisa menyakitinya. Ia bisa mati hanya dengan tersedak. Dan baunya busuk hanya karena keringat”.

Sesungguhnya kita itu lemah. Dan Allah mengecam pada orang-orang yang memiliki rasa sombong.

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah” (QS. An-Nisa: 28).

Ketidaksadaran yang sering kita rasakan adalah sadar kita ini lemah tapi seringkali salah bersandar pada yang tak seharusnya.

Lahaula wala quwwata illa billah

fazarfirmansyah.com

Kekuatan Seorang Wanita

“Ketika Allah menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
“Mengapa begitu lama Engkau menciptakan wanita, Ya Allah ???”

Allah menjawab:

“Sudahkah engkau melihat dengan teliti setiap apa yang telah Aku ciptakan untuk wanita?”
Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan kerisauan, dan semua itu hanya dengan dua tangan”.

Malaikat menjawab dengan takjub,
“Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!”

Allah menjawab,”Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan boleh bekerja 18 jam sehari”.

Malaikat mendekati dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
“Ya Allah, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”

Allah menjawab,”Itu tidak seperti apa yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa???”, tanya malaikat.
Allah melanjutkan,
“Air mata adalah salah satu cara dia menunjukkan kegembiraan, kerisauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona lelaki,ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki oleh wanita.

Wanita dapat mengatasi beban lebih baik daripada lelaki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri,
Dia mampu tersenyum ketika hatinya menjerit kesedihan,mampu menyanyi ketika menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa ketika ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya,
Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan,
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang,
Dia gembira dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia,
Dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran.
Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,
Tapi dia mampu mengatasinya.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

Allah S.W.T berfirman:
“Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.

Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia,
namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.”

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya. ”

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah,
dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”

“Aku memberinya kekuatan untuk menyokong suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.”

“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya,
tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.”

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan.”
“Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk tubuh yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.

Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada.”

“CINTANYA TANPA SYARAT”.

Allahuakbar… specially dedicated kepada semua wanita di sana dan di sini. Istimewanya seorang Ummi,mak,mama,ibu…. dan beruntungnya dijadikan sebagai seorang wanita.

Tak Sepenuhnya Membaca

Eko Novianto

(أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ)
[Surat Al-Mu’minun 68]
via @QuranAndroid

Mereka yang mengingkari, akan selalu berpaling dan ingkar atas dakwah. Padahal sejarah risalah telah menetapkan bahwa rasul-rasul datang berturut-turut kepada kaumnya masing-masing. Tetapi, mereka yang mengingkari selalu akan mengingkari karena kebencian mereka terhadap kebenaran dan karena hawa nafsu yang telah mengakar dan telah terlanjur mereka bangga-banggakan.

Benarlah Allah dengan firmanNya itu. Tidakkah mereka menghayati? Bukankah telah datang informasi istimewa? Mengapa berlalu begitu saja?

Itulah. Selalu saja berulang. Tak sepenuhnya terbaca.

Dilantunkan, iya. Bahkan dengan suara yang merdu. Dieja-eja dengan posisi lisan yang benar dan seharusnya, iya. Dibunyikan dengan memenuhi hak dan sifat-sifat hurufnya, memang iya. Diucap berulang-ulang, iya. Dihafal luar kepala, memang benar adanya. Tetapi tak sepenuhnya dibaca. Tak dimengerti maknanya, tak dihayati gunanya, dan tak didalami artinya. Cenderung berlalu begitu saja. Tak mengikis keangkuhan dan menciptakan rasa tenang dengan interaksi yang minimal sekali itu. Lalu merasa aman dan berbangga dengan yang minimal itu. Tak pernah terbaca sepenuhnya.

Tak heran jika kemudian, seperti air hujan yang terserap bumi tak berbekas. Sebatas tenggorokan saja. Berbangga dengan suara, nada, dan irama. Tapi miskin makna. Firman-firman itu menjadi bacaan-bacaan suci dengan pahala-pahala yang ditumpuk-tumpuk di dalam benak, tetapi lemah dalam penghayatan. Tak terbaca sepenuhnya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

Respek

Eko Novianto

Masih anak-anak, kehausan kelelahan, tampak miskin, tapi dia sanggup memikirkan lingkungannya.

Tangan kecilnya berkali-kali kembali memegangi ujung karungnya. Menjaga agar karungnya tetap rapat ke pahanya. Sambil mengenggam erat gelas es cincaunya. Dan menarik lagi ujung karungnya, terutama jika dia sadari ada orang yang berlalulalang di depannya. Terlihat sekali, dia tak ingin karungnya itu mengganggu lalu lalang jamaah sholat jumat Masjid Cut Meutia.

Siang itu, rasa haus menyergapnya. Setelah mengisi penuh karungnya dengan koran-koran bekas sajadah jamaah, dia ingin tenggorokannya dimanja es cincau. Duduk di sebelahku, mengurai uang kertas kumal, menghitung-hitungnya, lalu memutuskan memesan segelas pada si abang es cincau.

Masih muda, bahkan belia, tak berpunya, terlihat papa, dan tampak nyaris tersisih dari hiruk pikuk dunia, tetapi dia tak ingin karungnya menghalangi lalu lalang pengunjung pasar kaget yang sedang sibuk menimpali teriakan dan rayuan para pedagang.

Salut.

Sebuah oase di tengah keangkuhan Jakarta. Keangkuhan yang rajin dipertontonkannya. Diperlombakannya. Dijejalkannya rapat-rapat ke dalam jiwa. Sampai tercipta utopia dan menafikan kemuliaan budi. Padahal ada. Dan kadang ditunjukkan oleh seseorang yang tampak diremehkannya dan nyaris disisihkannya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

Mensiasati Masalah Hidup

Hidup di dunia ini pasti banyak masalah. Masalah itu adalah bagian dari karunia Allah, bukan bagian dari musibah. Masalah menjadi musibah jikalau kita salah menyikapinya.

Seperti ujian di sekolah, ujian tersebut adalah karunia karena ujian menjadi kesempatan untuk bisa naik kelas.

Salah satu kesalahan yang dilakukan banyak orang ketika menghadapi masalah adalah sibuk mengandalkan sesuatu selain Allah.

Mungkin sibuk hanya mengandalkan pikiran sendiri, pengalaman sendiri, tenaga sendiri, atau mengandalkan pertolongan orang lain.

Bukan tidak boleh semua itu, tapi jika semua itu ditempuh tanpa mendapat bimbingan dan izin Allah maka semuanya tidak akan berarti apa-apa.

Masalah sebesar apapun jika Allah menolong, maka akan menjadi sangat ringan dan mudah.

Sedangkan urusan remeh sekalipun, jika Allah tidak menolong, maka akan menjadi terasa sangat berat dan sulit.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan sehingga kita bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi setiap masalah hidup.

Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan pertolongan kepada kita. Aaamiin.

Syaiful Ramadhan

Seberapa Greget Dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, apakah pernah menantang seorang jawara gulat tak terkalahkan, dan kamu berhasil menang sampai dua atau tiga kali? Padahal kamu tak terbiasa bergulat sebelumnya.

Rasulullah saw pernah begitu. Mengalahkan Rukanah yang punya rekor tak terkalahkan di Mekkah. Dari sekian banyak pertandingan, baru ketika melawan Rasulullah saw badan Rukanah terbanting hingga perutnya menyentuh tanah.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah memecahkan sebuah batu besar sendirian yang orang-orang tidak ada yang sanggup memecahkan batu itu.

Rasulullah saw pernah begitu. Ketika sedang persiapan menghadapi perang Khandak, para sahabat membuat parit yang mengitari kota Madinah. Di tengah pekerjaan, ada batu besar yang sulit dipecahkan. Telah dicoba oleh para sahabat, namun batu itu sebegitu kokohnya. Hingga akhirnya para sahabat mengadu kepada Rasulullah saw. Dan beliau memecahkan batu itu sendirian.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah merengsek ke hadapan ketika pasukan yang lain mundur dalam peperangan?

Rasulullah saw pernah begitu dalam perang Hunain. Pasukan muslim terdesak, tergempur oleh panah-panah suku Hawazin yang handal. Mereka mundur menghindari hujanan anak panah. Tetapi Rasulullah mantap melangkah maju. “Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib,” teriak Rasulullah yang memotivasi umat muslim yang mentalnya jatuh.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah kamu memaafkan suatu kaum yang sudah melempari kamu dengan batu, mencaci kamu, mengatakan kamu orang gila? Ketika ada kesempatan untuk membalas perbuatan mereka, kamu abaikan.

Rasulullah saw pernah begitu ketika dakwah ke Thaif. Tak hanya menolak dakwah, bahkan penduduk Thaif pun melempari Rasulullah saw dengan batu dan mencaci beliau. Lalu malaikat menghampiri Rasulullah yang sedang dalam keadaan terluka, menawarkan untuk menimpakan sebuah gunung kepada penduduk Thaif. Rasulullah menolak. Masih berharap keimanan penduduk Thaif, setidaknya anak cucu mereka.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah berbuat baik kepada orang yang sudah berbuat jahat kepadamu?

Rasulullah saw pernah begitu. Ketika seorang Arab Badwi tiba-tiba menarik selendang beliau dengan kuat hingga menyebabkan guratan luka di leher seraya berkata “Hai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu!”. Rasulullah menoleh kepadanya dan tertawa lalu memberikan apa yang orang Badwi itu inginkan.

Seberapa greget dirimu?

Ah… rekor-rekor kegregetan yang kau ciptakan, tak kan bisa menyaingi keagungan kehidupan Rasulullah saw. Hal-hal luar biasa yang kita pamerkan dalam challenge “seberapa gregetnya kamu” yang sedang ramai, tak kan bisa menandingi keberanian Rasulullah saw, kekuatan beliau, serta akhlaknya yang pemaaf, santun, pemurah, dsb.

Pada hal-hal yang luar biasa yang terjadi dalam hidup beliau saw, terdapat keteladanan yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Karena itu, mari jadikan sunnah Rasulullah saw menghiasi hidup kita daripada disibukkan menjadi yang tergreget di zaman ini.

Seberapa greget dirimu?

Eits.. jangan lupa sholawat. Allahumma sholi ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Elooo, yang Perlu Istighfar

Kita tidak mungkin menyelesaikan semua masalah, karena manusia tidak dirancang oleh Sang Pencipta untuk menyelesaikan masalahnya sendirian. Butuh berteman, berjamaah, bermasyarakat dan terutama butuh pertolongan Allah SWT.

Dalam tahapan dan ujian masalah itu Allah akan meng-ayak dan memilah mana ksatria, mana pendurhaka. Mana Pandawa mana Kurawa. Mana muhajirin dan anshor mana teman2nya ibnu salul dan keponakannya ariel sharon.

Tugas kita memastikan diri kita, tidak menjadi bagian dari masalah. Mencegah orang lain, sedapat mungkin agar tidak ikut menjadi masalah.

Sueeer, kita butuh hidayah dan pertolongan Allah dalam setiap langkah hidup kita. Karena faktanya banyak orang hebat tapi kalah dan bangkrut amalnya, orang cerdas tapi berbuat bodoh kuadrat, orang alim keblinger dengan ilmunya.

Penyebabnya sederhana tapi fundamental. Terlalu pede dengan kemampuannya, lupa minta petunjuk dan pertolongan Allah dalam menyelesaikan masalahnya.

Apalagi bila pede dicampuri dengan sifat jumawa, meremehkan saudaranya. Lengkaplah sudah atribut sombong bin kibir dalam dirinya.

Orang seperti ini, hampir sia-sia kita ingetin taubat dan istighfar. Karena dia akan balik menyerang kita dengan ungkapan kebangsaannya, “enak aja. Eloo yang istighfar….”

Hiiiihh, ngerrrriiii.

#AyoLebihBaik

Menilai Orang Lain


By. Satria hadi lubis

Suatu ketika khalifah Umar ra pernah menghukum seorang pencuri, beliau berdoa: “Ya Allah…kami menghukum dia dari apa yang tampak saja, sedang hatinya urusan-Mu ya Allah”

Amirul mukminin berkata begitu karena sadar bahwa menilai hati orang lain sangatlah sulit. Yang bisa dinilai dari orang lain adalah perbuatannya.

Apakah kita boleh menilai perbuatan orang lain? Dan apakah menilai perbuatan orang lain bisa menggambarkan tingkat keimanan dan kemunafikan orang tsb? Jawabannya, bisa! Sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat” (HR. Al- Bukhari).

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan sholat” (HR. Muslim).

Bahkan di dalam al Qur’an banyak sekali ciri-ciri perbuatan orang beriman, kafir atau munafik sebagai patokan kita untuk menilai orang lain. Salah satunya tentang ciri orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (Surat Al-Anfal, Ayat 2).

Jadi, setiap kita sesungguhnya bisa menilai perbuatan orang lain. Yang dari perbuatan tsb bisa menggambarkan tingkat keimanan, kemunafikan dan kekafiran orang lain.

Masalahnya tinggal apakah penilaian kita benar atau tidak? Di sinilah letak perdebatannya. Disinilah letak ruang diskusi untuk menilai mana yg lebih mendekati kebenaran.

Dalam Islam, ukuran kebenaran adalah mana yg paling sesuai dalil naqli (al Qur’an dan Hadits). Lalu setelah itu mana yg sesuai hukum positif yg tidak bertentangan dgn dalil naqli. Baru terakhir, mana yg paling sesuai dengan logika yang sehat.

Silakan berbeda pendapat dalam menilai sesuatu. Tapi jangan kita mengatakan “siapa antum yang berhak menilai”. Ini perkataan khas orang sekuler yang terpengaruh ideologi relativisme. Sebuah ideologi yg menganggap semua nilai itu relatif, sehingga tidak ada yg benar atau salah. Dari relativisme inilah muncul ideologi yg sekarang menguasai dunia, ideologi liberalisme.

Ada yg berkata, “jangan soklah menilai orang lain karena kebenaran hakiki hanya milik Allah” atau “urus aja diri loe. Elu aja belum bener, udah berani menilai orang lain” atau “emang surga hanya milik kamu!” atau perkataan semisalnya, yg membuat orang menjadi tidak percaya diri untuk menilai orang lain, sehingga berkembanglah budaya induvidualistik yg tidak peduli dgn kelakuan menyimpang orang lain. Tidak berani menegur tetangganya yg kumpul kebo, temannya yg gay, bapaknya yg korupsi, dll. Lalu kerusakan merajalela seperti yg kita lihat sekarang ini. Jangan heran jika turun bencana di tengah-tengah kita, seperti firman-Nya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Surat Ar-Rum, Ayat 41).

Tugas kita sebagai muslim adalah berani menilai perbuatan orang lain (disamping terus memperbaiki diri). Allah murka kepada manusia yg telah diberikan mata, pendengaran dan hati, tapi tidak digunakan untuk menilai mana yg benar dan salah. “Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai” (Qs. 7 ayat 179).

Tugas kita mendekati kebenaran hakiki milik Allah dgn cara terus menilai dan belajar dari kesalahan. Repot kalau kita tidak boleh menilai. Nanti kita galau dan bingung terus terhadap perilaku di sekitar kita. Itulah yg sebenarnya dimaui musuh-musuh Islam agar umat Islam meninggalkan budaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab mereka tahu amar ma’ruf nahi mungkar akan membuat umat Islam kembali kepada kejayaannya. “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Qs. 3 ayat 110).

Ketahuilah…netralitas itu sesungguhnya tidak ada. Sebab orang yg netral sebenarnya berpihak juga. Minimal berpihak pada ideologi bingungisme (nihilisme).

Dalam Islam, hanya ada dua pilihan nilai : hak dan batil. Apalagi untuk hal-hal yang prinsip dan fundamental. “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs. 2 ayat 42).

Di akhirat saja hanya ada surga dan neraka. Surga untuk kelompok hak dan neraka untuk kelompok batil. Tidak ada tempat untuk orang yg netral dan tidak berani menilai.

Jangan terpengaruh dengan lagu galau, seperti “engkau milik orang lain, tapi jangan salahkan rasa cinta ini”. Atau film yang ujungnya-ujungnya galau, karena endingnya tokoh yang benar jadi jahat dan tokoh yg jahat jadi baik, sehingga kita empati dengan orang jahat.

Jadi jangan terpengaruh dgn ideologi relativisme yg membuat seseorang tdk berani menilai perbuatan orang lain. Jika kita beda pendapat dalam menilai orang lain itu wajar. Silakan terus belajar dan terus diskusi mana yg paling benar. Lalu berani mengakui kesalahan jika kita salah dan berani memperjuangkan kebenaran jika kita benar.

Wallahu’alam.