Ketika Masalah Datang Dari Semua Sisi

Alkisah seekor rusa betina sedang hamil tua.
Ketika mendekati detik-detik kelahirannya, rusa ini pergi ke suatu tempat yang jauh di sisi hutan yang berdekatan dengan sungai.

Tiba-tiba sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !

Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.

Ketika rusa ini menoleh ke kiri, tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya.

Saat menoleh ke kanan, ia pun terkejut melihat seekor singa lapar yang siap menerkamnya.

Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :

1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat ke sungai.

Bahaya mengancam dari berbagai penjuru dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.

Lalu apa yang harus ia lakukan?
Bersedih dan merintih?

Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari sementara kondisinya begitu lemah?
Atau menyerah pada keadaan?

Rusa pun pasrah. Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.

Lalu apa yang terjadi?

Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu. Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar. Singa malang itu mati seketika.

Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut.

Rusa pun melahirkan dengan selamat !

Pelajaran penting dari kisah ini adalah :
Mungkin kau pernah mengalami kondisi seperti rusa ini…

Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.

Masalah di tempat bekerja, masalah di dalam rumah, masalah di jalan, masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.

Seakan kau tidak bisa lagi berbuat apa-apa..

Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa. Biarkan semuanya berjalan apa adanya.

Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Lalu tinggalkan sisanya, karena disana ada Tuhan yang mengatur jalan kehidupanmu..

Sungguh ia lebih menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu pada anaknya.

Jangan sampai engkau kehilangan harapan dan keimananmu !

Dia lah yang akan menyelesaikan semua masalahmu dan menyembuhkan luka-lukamu.

ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Dia (Allah) mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS.Yunus:3)

Ingatlah selalu :

Jangan berkata, “Tuhan, aku memiliki masalah yang besar…”

Tapi katakan, “Hei masalah, aku memiliki Tuhan Yang Maha Besar !

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.”* (QS.Yusuf:21)

Semoga bermanfaat

Ummat Yang Rindukan Persatuan

Peristiwa 212 tahun 2016 lalu, mungkin hanya ‘sekadar’ pemantik. Hingga dua tahun berselang, Monas dan sekelilingnya masih dipadati oleh Ummat Muslim Indonesia pada tanggal 2 di bulan ke-12.

Bagi mereka yang sedari awal tidak 1 signal, berasumsi dengan berbagai dugaan.

Baik di tahun 2016 sampai 2018 saya belum pernah absen, dan Alhamdulillah dapat merangsek masuk ke ring 1 alias dekat dengan panggung. Jadi ketika berada disana tidak banyak tahu keadaan diluar yang ternyata peserta meluber keluar Monas.

Untuk tahun ini, saya datang agak kesiangan dan jadilah dapat merasakan bagaimana tertahan di stasiun Gondangdia selama setengah jam dengan ribuan orang yang bersholawat, meredam panik dan chaos. Tidak ada saling dorong, sikut, semua tertib bahkan saling menasihati, “Awas didepan tangga, lihat kebawah, persiapkan kartu KMT nya agar cepat”

Pun ketika memasuki area, para peserta tiada henti bersholawat dan sesekali diiringi Takbir.

Sepanjang perjalanan, saya berpikir betapa besar kecintaan mereka terhadap Islam. Peluh – penat terhalang semangat. Ya, Ummat Muslim Indonesia merindukan persatuan!

Anda tidak hanya akan meihat massa FPI, PKS maupun HTI. Tapi disana akan menemukan, beberapa pria gondrong bercat emas, para jawara yang mengkoleksi batu akik hampir diseluruh jemarinya. Atau malah anda akan bertemu ibu-ibu yang biasanya memberi sen ke kanan tapi belok ke kiri.

Berbagai rupa, penampilan dan karakter. Apatah lagi motif dan sikap mereka ketika berada di lapangan.

Yang meneriakan Prabowo, ada. Yang menyerukan ganti presiden juga ada. Tapi apakah lantas dapat dijadikan headline news bertajuk, “Reuni 212 adalah Ajang Politik Capres Tertentu” dengan tambahan, “Bermodal 20 miliar peserta dibayar perkepala 100rb”.

Terlalu kecil rasanya…

Ghiroh ummat tidak akan mampu dibayar seharga rupiah. Bahkan anda akan terkejut jika mengetahui peserta yang berasal dari Sumbar, alih-alih kecewa karena dilarang menyewa bus untuk keberangkatan ke Monas, mereka men-carter 3 pesawat!

Segenap dana, tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan itu hanya bertujuan agar dicatatnya mereka dalam jama’ah kebaikan.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi satu percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang berusia sekitar 6-7 tahunan yang berjalan tepat didepan saya. Ketika menuju area bersama ribuan orang yang berjalan bersama, “Bun masih jauh nggak? Aku capek” tanya si adik berjilbab imut. Bundanya menjawab, “Sebentar lagi kok… Sabar ya, nggak apa-apa di sini capek, tapi nanti di Surga nggak”

,

Jadikan Anak Lelaki Kita Sebagai Lelaki Sejati

Ayah Bunda mari rehat sejenak. Lihat anak-anak lelaki kita. Apakah mereka tumbuh di jalur lelaki yang sesungguhnya? Ataukah kita tak peduli, atau entah kurang peka dengan perkembangan karakter mereka sebagai lelaki. Sudah merasa aman? Merasa tenang? Atau kita tak peduli sama sekali?

Saya ingin mengingatkan banyak remaja dan pemuda (lelaki) di negeri ini yang ternyata tidak tumbuh dan menjadi pria sejati. Ada sebagian dari mereka yang hanya punya separuh jiwa lelaki. Ya, hanya separuh. Itu terlihat dari jiwa mereka yang miskin dari tanggung jawab dan seperti tak mau punya kaki sendiri. Uang jajan tinggal minta dan tinggal habiskan, kalau habis tinggal minta lagi. Jangankan mengurus tanggung jawab tentang orang lain, urusan diri sendiri pun minta orang lain yang bertanggung jawab. Kamar, pakaian, sepatu, tas, uang jajan, tinggal serahkan pada orang lain. Ada orang tua, ada pembantu, ada supir, ada yang lain-lain.

Saya kenal beberapa pemuda yang kuliah bertahun-tahun tak kunjung selesai, karena tak pernah merasa bertanggung jawab tentang kuliah. Bagi mereka menjadi anak SD atau mahasiswa sama saja; bermain. Dan orang tuanya pun membiarkan itu berlalu begitu saja.

Remaja lelaki yang hanya punya separuh jiwa, lelaki ini tak punya visi tentang masa depan, tak punya misi tentang hidup kecuali “ME & MYSELF”. Sekolah dan kuliah pun hanya untuk periuk nasi mereka saja. Punya karir bagus, uang banyak, dan istri cantik. Titik.

Jangan bandingkan mereka dengan Pangeran Diponegoro yang membuang kesempatan bertahta di Kerajaan Mataram, karena tak sudi jadi keset kompeni, dan melihat rakyat Jawa dan umat Muslim dikoyak-koyak kaum imperialis. Lalu memilih hidup dari hutan ke hutan, tinggal di Gua Selarong, dan memilih jalan hidup sebagai lelaki yang punya harga diri. Pada remaja dan pemuda yang hanya punya separuh jiwa lelaki ini, pengorbanan hidup untuk orang lain, apalagi untuk agama dan Tuhan mereka (Allah SWT). Impian terlalu mewah. Jangankan untuk menggapainya, untuk bermimpi pun mereka tak mau melakukannya.

Tapi ada sebagian lagi yang patut dikasihani justru hilang semua kelelakiannya. Mereka menjadi transgender, bencong, atau malah gay. Mereka ada di panggung dunia hiburan, panggung politik, bisnis, tapi hidup melawan kodrat lelaki. Ini kelompok lelaki yang paling sakit di dunia.

Tapi mari lihat diri kita Ayah Bunda, anak lelaki kita sakit dan menderita justru sebagian besar disebabkan oleh pola asuh dan pola didik di rumahnya. Ayah dan ibu-nyalah yang membuat anak-anak lelaki hilang kelelakiannya, baik separuh atau seluruhnya. Karena sebagaimana anak perempuan, tak ada anak lelaki yang dikodratkan lahir dengan pribadi yang cacat. Bapak dan ibunya yang membuat cacat kepribadiannya.

Dimulai dari para ayah yang jarang hadir dalam kehidupan anak lelaki selain untuk memarahi dan memukul, atau berdehem. Para ayah macam ini – dan jumlahnya masih amat banyak – merasa misi mereka sebagai ayah adalah memberikan fasilitas hidup pada anak lelaki, tapi bukan mengarahkan hidupnya.

Padahal dari ayah seharusnya anak lelaki belajar tentang kepemimpinan yang mengayomi (ri’ayah) pada keluarga, cara bersikap sebagai seorang lelaki, cara memperlakukan anak lelaki, dan bagaimana bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Tapi ayah itu banyak memberikan ruang hampa, selain uang dan barang yang menyenangkan sesaat.

Akhirnya pengasuhan anak-anak lelaki kita justru jatuh ke tangan perempuan. Mulai dari ibunya, guru-guru TK-nya, SD, SMP dan SMA, dominan perempuan. Padahal perempuan bukanlah lelaki dan lelaki bukanlah perempuan, fisik maupun jiwanya.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ
“…dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (TQS. Ali Imran: 36)

Meskipun mungkin tahu, tapi perempuan tak sepenuhnya paham bagaimana cara seharusnya lelaki berburu dan bertahan dari serangan musuh. Bagaimana dapat survive di alam liar. Karena jiwa perempuan adalah jiwa seorang ibu dan istri yang berbeda dengan kaum lelaki. Hormon testosteron lelaki itu 10-20 kali dari yang ada pada perempuan. Tapi dari pola asuh itu akhirnya banyak anak lelaki kita tidak tumbuh layaknya lelaki. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan separuh jiwa kelelakiannya.

Lelaki kadang perlu dihardik sebagaimana perlu dipuji. Kadang perlu dipukul sebagaimana perlu ditepuk bahunya. Lelaki harus lebih sering ditantang baru kemudian ditenangkan. Mereka perlu jatuh dan berdarah, dan bukan duduk menenun kain, atau menonton drama percintaan. Mereka perlu diyakinkan bahwa kegagalan itu harus diterima sebagaimana menerima keberhasilan. Menangisi kehidupan bagi lelaki itu perlu, tapi tak boleh melampaui kuota perempuan.

Tapi bagaimana anak lelaki kita akan punya jiwa lelaki sesungguhnya kalau ayah bundanya tak pernah menggambarkan seperti apa lelaki itu seharusnya. Ayah yang tak pernah hadir, dan kalau hadir pun hanya bisa memarahi dan memukul ketimbang menggambarkan visi dan misi hidup lelaki. Sedangkan ibunya merawatnya dengan dunia keperempuanan.

Maka, Ayah Bunda, jangan hanya duduk dan berdoa, tapi mulailah belajar mempersiapkan anak lelaki kita menjadi lelaki sejati. Belajarlah kepada Rasulullah SAW yang berhasil mencetak Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib, dll. Mencetak lelaki-lelaki sejati pengukir sejarah, pengharum pentas kehidupan di panggung dunia dan akhirat.

Oleh: Ustadz Iwan Januar

#SelamatkanKeluarga
#SaveTheFamily

Rumah Ukhuwah Ini Jangan Kau Rapuhkan

Sahabat mulia,
Di hari berlipat barakah ini, in syaa Allah dengan tulus kusampaikan terima kasihku kepada seekor binatang, laba-laba. “Syukran ayyatuha-l-‘ankabut”.

Ya, laba-laba!
Bersebab pelajaran penting darinya untuk memberi warna dan makna bagi kehidupanku, sahabat-sahabat mulia, dan kita semua.

Laba-laba atau disebut juga labah-labah, menurut para ahli adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Ia juga dikategori kan sebagai hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Sahabat kehidupan ini mampu menghasilkan benang sutera (yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat) dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya.

Jangan pernah tanya kekuatan benang dan jaring rumah Laba-laba ini. HarunYahya mengatakan, benang yang digunakan Laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. Benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh ribu kilogram per meter persegi. Jika seutas tali berdiameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat seratus lima puluh mobil.

Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuatan jaket anti peluru. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas, tapi lebih kuat dari baja, dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia.

Masalahnya, mengapa Al-Qur’an menyebut rumah Laba-laba sebagai “rumah terlemah”?.

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut/29:41)

Sahabat mulia,
Coba perhatikan seksama ! Allah melekatkan sifat “lemah” atau “rapuh” pada “rumah” Laba-laba, bukan pada benang sutera teramat kuat yang menjadi bahan dasar konstruksinya.
Ayat terbaca di atas memvisualisasi rapuh dan lemahnya dimensi spiritual, moral ataupun rekatan sosial pada “rumah Laba-laba” : para penghuninya, bukan bahan dasar konstruksi dan bangunannya!

Sebuah rumah yang hanya ditempati oleh sekumpulan bangkai yang saling memangsa dalam hidupnya! Seekor Laba-laba betina membunuh “pasangannya” dan mencampakkannya ke luar rumah, setelah ia berhasil melahirkan keturunannya. Pun pula di kemudian hari, anak-anak Laba-laba tersebut membunuh induk betinanya, lalu mencampak kannya seperti yang pertama! Subhanallaah !

Sebuah rumah yang kehilangan fungsi spiritual dan sosialnya. Tak ada pelukan hangat bagi anak-anak dari ibunya. Tak pula seorang ayah yang melindungi anak-anaknya. Apatah lagi seorang ibu yang “berhati ibu”. Tak pula kehangatan persaudaraan dalam suka.

“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri

Gairah Baru

Eko Novianto

Keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah itu telah terpampang di depan mata. Tapi seperti tak ada tempat untuk berduka. Yang terjadi adalah sebaliknya, tokoh-tokoh Arab bahkan menyaksikannya dengan kegairahan baru. Mereka sibuk merancang masa depan baru untuk kemerdekaan Arab.

Trenyuh.
Kebersamaan selama empat abad dalam kekhilafahan Turki Utsmani itu di ambang perpisahan. Sebuah perpisahan yang dirayakan dengan gairah-gairah baru di tanah Arab.

Para ulama, sebenarnya, telah melakukan roadshow untuk menghalangi hasrat para penguasa tanah Arab dan meminta mereka tak merobohkan kekhilafahan. Sekian kerusakan kekhilafahan memang sulit dibantah. Tapi para ulama tak berpikir untuk merobohkan kekhilafahan itu. Bagaimana pun, memperbaiki kekhilafahan itu lebih layak untuk dipikirkan dari pada mengikuti hasrat untuk merobohkannya.

Dan firasat itu benar adanya. Terbukti, sampai saat ini umat Islam tak pernah lagi memiliki rumah bersama. Justru sebaliknya. Keadaan semakin sulit. Persatuan semakin absurt. Perpecahan menjadi kebiasaan. Bahkan kebanggaan.

Kalau pun kita tak bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan, setidaknya kita bisa melihat apa yang telah terjadi. Termasuk apa yang telah pernah terjadi ketika perpisahan dan perpecahan itu telah pernah dirayakan dengan gairah baru.

Seperti dulu telah pernah dilakukan, memang selalu harus ada upaya menjaga persatuan, meski itu harus dilakukan di tengah sorak sorai dan kegaduhan.

Jakarta, 13 Oktober 2018

Tenggelam Dalam Kesombongan

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri seorang ulama besar melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku. ”

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak”.

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam Kebanggaan dan Kesombongan”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak saat itu, Hasan al-Basri semakin merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Walau sehebat apapun diri kita jangan pernah berkata “Aku lebih baik dari pada kalian” (Imam Al Ghazali).

Makhluk Paling Hina

Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar .Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.

Sebelum kang Santri pulang, Kyai memberinya sebuah ujian padanya

Pak Kyai kemudian berkata pada Kang santri.

“Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu,” ujar sang Kyai.

“Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini aku bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya,” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seorang ataupun makhluk itu kehadapannya.
Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, karena menganggap begitu mudah ujian itu.
Hari itu juga, si Santri berjalan menyusuri jalanan, di tengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang, dalam hatinya dia berkata,

“pasti dia orang yang lebih buruk dariku, setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Dalam perjalanan pulang Si santri kembali berpikir,

” kayaknya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dari aku , sekarang dia mabuk-mabukan tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa khusnul Khotimah, sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku, Allah justru menghendaki Suúl Khotimah, bagaimana? “berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dari aku,” ujarnya bimbang.

Kang Santri kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan, ” teriak santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Pesantren, Namun ditengah jalan , tiba-tiba dia kembali berpikir
“anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dari aku?” Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka.

Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Hari semakin sore , Kang Santri masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Pesantren dan menemui sang Kyai.

“Bagaimana Anakku, apakah kamu sudah menemukannya?”tanya sang Kyai.

“Sudah, Kyai,” jawabnya seraya tertunduk. “Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,” ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang Murid, kyai tersenyum lega,
”alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,” ujar Kyai terharu.

Kemudian Kyai berkata “Selama kita hidup di Dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakan_Nya

Rasulullah SAW bersabda:
Tidak akan masuk kedalam surga orang yang di hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi.
(HR.Muslim no 91 )

Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah Subhana Ta’alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan.

Dan semoga di sisa umur yang Allah berikan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak Amal shaleh dan bukan hanya di sibukan dengan urusan duniawi belaka dan semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Aamiin Ya Rabbal Alamiin

MENEPI, BUKAN PERGI

By. Satria Hadi Lubis

Kekecewaan Abu Dzhar Al Ghifari ra atas gaya hidup Khalifah Utsman ra yg berbeda dengan dua khalifah sebelumnya membuat beliau menyingkir dan menyendiri ke Rabadzah sampai akhir hayatnya. Beliau memilih menjadi “oposisi” pemerintahan Utsman bin Affan ra tanpa pernah berniat mengangkat senjata atau keluar dari jama’ah kaum muslimin. Bahkan suatu ketika ia pernah berkata, “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”

Hal yang sama dilakukan Khalid bin Walid ra, ketika diberhentikan Khalifah Umar dari jabatan panglima perang. Khalid tentu kecewa atas keputusan Umar ra, namun kekecewaan tersebut tidak membuat beliau membelot dan melawan Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra. Padahal kalau ia mau, ia bisa memobilisir para prajurit yang masih setia kepadanya untuk melawan pemerintahan Umar ra.

Khalid si pedang Allah tetap ikut berperang sampai akhir hayatnya walau hanya sebagai prajurit biasa. Suatu ketika ia ditanya mengapa tetap berperang walau sudah diberhentikan sebagai panglima perang, beliau menjawab dgn tegas, “Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Allah!”.

Lain halnya dengan kisah Wahsyi yang pernah membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Wahsyi akhirnya masuk Islam dan meminta maaf kepada Nabi saw atas perbuatannya yang pernah membunuh Hamzah ra. Nabi memaafkan Wahsyi, namun beliau berkata, “Jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini karena setiap melihatmu terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu saat itu”

Wahsyi merasa kecewa di dalam hatinya, namun ia tidak membelot dan melawan Nabi. Wahsyi sadar akan kedudukannya, ridha menerima ketentuan itu. Dia memperbaiki dirinya dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah.

Sebagai penebus atas dosa-dosanya beliau bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah yaitu Muhammad saw. Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.

Begitulah sikap para sahabat jika mereka kecewa terhadap jama’ah kaum muslimin, menepi tapi tidak pergi dari jama’ah. Mereka tetap mengakui kepemimpinan jamaah, tetap taat dan ikhlas beramal untuk jamaah, walau sadar tidak memiliki peran yang signifikan lagi dalam jama’ah.

Sikap semacam inilah yang perlu ditiru aktivis dakwah jika mereka kecewa dengan kepemimpinan jama’ah. Jika tausiyah sudah diberikan, namun qiyadah tetap pada kebijakannya, maka menepi sajalah dan jangan pergi (keluar). Tetaplah bekerja dalam dakwah. Tidak usah membentuk gerakan baru. Selain menguras sumber daya dan waktu, toh rezim kepemimpinan jama’ah juga bisa berubah. Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Yang tadinya memimpin sekarang tidak lagi memimpin, begitu pun sebaliknya yang tadinya tidak memimpin sekarang menjadi pemimpin.

Pergi dari jama’ah bukan solusi, malah menimbulkan masalah baru dan mengusik pertanyaan baru : Begitu rapuhkah kita dengan janji kebersamaan yang selama ini telah membesarkan kita?

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)” (Surat Al-Ahzab, Ayat 23).

SANG HAKIM DAN BANGKAI ANJING

Alkisah, seorang lelaki menguburkan bangkai anjing di pemakaman muslim. Masyarakatpun marah tak terkira. dibawalah lelaki itu ke hadapan hakim.

“Apa yang kau perbuat ini? Melanggar aturan dan marwah kaum muslimin!” Kata sang hakim marah

“Mohon maaf yang mulia, saya menguburkan bangkai anjing ini karena ini wasiyat dari si anjing..” kata lelaki itu sambil menunduk

“Apa kau bilang? Kau ini sudah berlaku kurang ajar, masih juga berbohong!” , Sang hakim makin naik pitam.

“Sebentar yang mulia,” kata lelaki itu menyela “anjing itu masih punya wasiyat yang kedua, yakni supaya saya menyerahkan uang seribu dirham ini kepada yang mulia”

Sambil itu ia keluarkan gepokan uang dari bajunya. Saat itulah muka hakim berubah. Imannya goyah. Hatinya membuncah

Akhirnya diterimanya uang itu, dan dibebaskanlah lelaki itu dari hukuman. Masyarakat pun marah.

“Bagaimana ini yang mulia, bisa bisanya lelaki itu dibebaskan?”, Tanya masyarakat dengan nada marah

“Sebentar dulu,” kata hakim,”Setelah kulihat lihat, aku ada firasat anjing ini keturunan anjing ashabul kahfi…”

Yah, begitulah, atas nama dunia, semua putusan dan ketegasan bisa dibengkokkan. Dan begitulah, fitnah itu bertebaran setiap saat di hadapan kita. Jangan pernah merasa aman dari fitnah, sebagaimana kata ulama
الانسان معرض للفتنة…
“Manusia sangat rentan dengan fitnah”