Rumah Ukhuwah Ini Jangan Kau Rapuhkan

Sahabat mulia,
Di hari berlipat barakah ini, in syaa Allah dengan tulus kusampaikan terima kasihku kepada seekor binatang, laba-laba. “Syukran ayyatuha-l-‘ankabut”.

Ya, laba-laba!
Bersebab pelajaran penting darinya untuk memberi warna dan makna bagi kehidupanku, sahabat-sahabat mulia, dan kita semua.

Laba-laba atau disebut juga labah-labah, menurut para ahli adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Ia juga dikategori kan sebagai hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Sahabat kehidupan ini mampu menghasilkan benang sutera (yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat) dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya.

Jangan pernah tanya kekuatan benang dan jaring rumah Laba-laba ini. HarunYahya mengatakan, benang yang digunakan Laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. Benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh ribu kilogram per meter persegi. Jika seutas tali berdiameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat seratus lima puluh mobil.

Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuatan jaket anti peluru. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas, tapi lebih kuat dari baja, dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia.

Masalahnya, mengapa Al-Qur’an menyebut rumah Laba-laba sebagai “rumah terlemah”?.

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut/29:41)

Sahabat mulia,
Coba perhatikan seksama ! Allah melekatkan sifat “lemah” atau “rapuh” pada “rumah” Laba-laba, bukan pada benang sutera teramat kuat yang menjadi bahan dasar konstruksinya.
Ayat terbaca di atas memvisualisasi rapuh dan lemahnya dimensi spiritual, moral ataupun rekatan sosial pada “rumah Laba-laba” : para penghuninya, bukan bahan dasar konstruksi dan bangunannya!

Sebuah rumah yang hanya ditempati oleh sekumpulan bangkai yang saling memangsa dalam hidupnya! Seekor Laba-laba betina membunuh “pasangannya” dan mencampakkannya ke luar rumah, setelah ia berhasil melahirkan keturunannya. Pun pula di kemudian hari, anak-anak Laba-laba tersebut membunuh induk betinanya, lalu mencampak kannya seperti yang pertama! Subhanallaah !

Sebuah rumah yang kehilangan fungsi spiritual dan sosialnya. Tak ada pelukan hangat bagi anak-anak dari ibunya. Tak pula seorang ayah yang melindungi anak-anaknya. Apatah lagi seorang ibu yang “berhati ibu”. Tak pula kehangatan persaudaraan dalam suka.

“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri

Gairah Baru

Eko Novianto

Keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah itu telah terpampang di depan mata. Tapi seperti tak ada tempat untuk berduka. Yang terjadi adalah sebaliknya, tokoh-tokoh Arab bahkan menyaksikannya dengan kegairahan baru. Mereka sibuk merancang masa depan baru untuk kemerdekaan Arab.

Trenyuh.
Kebersamaan selama empat abad dalam kekhilafahan Turki Utsmani itu di ambang perpisahan. Sebuah perpisahan yang dirayakan dengan gairah-gairah baru di tanah Arab.

Para ulama, sebenarnya, telah melakukan roadshow untuk menghalangi hasrat para penguasa tanah Arab dan meminta mereka tak merobohkan kekhilafahan. Sekian kerusakan kekhilafahan memang sulit dibantah. Tapi para ulama tak berpikir untuk merobohkan kekhilafahan itu. Bagaimana pun, memperbaiki kekhilafahan itu lebih layak untuk dipikirkan dari pada mengikuti hasrat untuk merobohkannya.

Dan firasat itu benar adanya. Terbukti, sampai saat ini umat Islam tak pernah lagi memiliki rumah bersama. Justru sebaliknya. Keadaan semakin sulit. Persatuan semakin absurt. Perpecahan menjadi kebiasaan. Bahkan kebanggaan.

Kalau pun kita tak bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan, setidaknya kita bisa melihat apa yang telah terjadi. Termasuk apa yang telah pernah terjadi ketika perpisahan dan perpecahan itu telah pernah dirayakan dengan gairah baru.

Seperti dulu telah pernah dilakukan, memang selalu harus ada upaya menjaga persatuan, meski itu harus dilakukan di tengah sorak sorai dan kegaduhan.

Jakarta, 13 Oktober 2018

Tenggelam Dalam Kesombongan

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri seorang ulama besar melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku. ”

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak”.

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam Kebanggaan dan Kesombongan”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak saat itu, Hasan al-Basri semakin merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Walau sehebat apapun diri kita jangan pernah berkata “Aku lebih baik dari pada kalian” (Imam Al Ghazali).

Makhluk Paling Hina

Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar .Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.

Sebelum kang Santri pulang, Kyai memberinya sebuah ujian padanya

Pak Kyai kemudian berkata pada Kang santri.

“Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu,” ujar sang Kyai.

“Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini aku bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya,” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seorang ataupun makhluk itu kehadapannya.
Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, karena menganggap begitu mudah ujian itu.
Hari itu juga, si Santri berjalan menyusuri jalanan, di tengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang, dalam hatinya dia berkata,

“pasti dia orang yang lebih buruk dariku, setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Dalam perjalanan pulang Si santri kembali berpikir,

” kayaknya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dari aku , sekarang dia mabuk-mabukan tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa khusnul Khotimah, sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku, Allah justru menghendaki Suúl Khotimah, bagaimana? “berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dari aku,” ujarnya bimbang.

Kang Santri kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan, ” teriak santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Pesantren, Namun ditengah jalan , tiba-tiba dia kembali berpikir
“anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dari aku?” Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka.

Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Hari semakin sore , Kang Santri masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Pesantren dan menemui sang Kyai.

“Bagaimana Anakku, apakah kamu sudah menemukannya?”tanya sang Kyai.

“Sudah, Kyai,” jawabnya seraya tertunduk. “Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,” ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang Murid, kyai tersenyum lega,
”alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,” ujar Kyai terharu.

Kemudian Kyai berkata “Selama kita hidup di Dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakan_Nya

Rasulullah SAW bersabda:
Tidak akan masuk kedalam surga orang yang di hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi.
(HR.Muslim no 91 )

Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah Subhana Ta’alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan.

Dan semoga di sisa umur yang Allah berikan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak Amal shaleh dan bukan hanya di sibukan dengan urusan duniawi belaka dan semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Aamiin Ya Rabbal Alamiin

MENEPI, BUKAN PERGI

By. Satria Hadi Lubis

Kekecewaan Abu Dzhar Al Ghifari ra atas gaya hidup Khalifah Utsman ra yg berbeda dengan dua khalifah sebelumnya membuat beliau menyingkir dan menyendiri ke Rabadzah sampai akhir hayatnya. Beliau memilih menjadi “oposisi” pemerintahan Utsman bin Affan ra tanpa pernah berniat mengangkat senjata atau keluar dari jama’ah kaum muslimin. Bahkan suatu ketika ia pernah berkata, “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”

Hal yang sama dilakukan Khalid bin Walid ra, ketika diberhentikan Khalifah Umar dari jabatan panglima perang. Khalid tentu kecewa atas keputusan Umar ra, namun kekecewaan tersebut tidak membuat beliau membelot dan melawan Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra. Padahal kalau ia mau, ia bisa memobilisir para prajurit yang masih setia kepadanya untuk melawan pemerintahan Umar ra.

Khalid si pedang Allah tetap ikut berperang sampai akhir hayatnya walau hanya sebagai prajurit biasa. Suatu ketika ia ditanya mengapa tetap berperang walau sudah diberhentikan sebagai panglima perang, beliau menjawab dgn tegas, “Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Allah!”.

Lain halnya dengan kisah Wahsyi yang pernah membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Wahsyi akhirnya masuk Islam dan meminta maaf kepada Nabi saw atas perbuatannya yang pernah membunuh Hamzah ra. Nabi memaafkan Wahsyi, namun beliau berkata, “Jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini karena setiap melihatmu terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu saat itu”

Wahsyi merasa kecewa di dalam hatinya, namun ia tidak membelot dan melawan Nabi. Wahsyi sadar akan kedudukannya, ridha menerima ketentuan itu. Dia memperbaiki dirinya dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah.

Sebagai penebus atas dosa-dosanya beliau bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah yaitu Muhammad saw. Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.

Begitulah sikap para sahabat jika mereka kecewa terhadap jama’ah kaum muslimin, menepi tapi tidak pergi dari jama’ah. Mereka tetap mengakui kepemimpinan jamaah, tetap taat dan ikhlas beramal untuk jamaah, walau sadar tidak memiliki peran yang signifikan lagi dalam jama’ah.

Sikap semacam inilah yang perlu ditiru aktivis dakwah jika mereka kecewa dengan kepemimpinan jama’ah. Jika tausiyah sudah diberikan, namun qiyadah tetap pada kebijakannya, maka menepi sajalah dan jangan pergi (keluar). Tetaplah bekerja dalam dakwah. Tidak usah membentuk gerakan baru. Selain menguras sumber daya dan waktu, toh rezim kepemimpinan jama’ah juga bisa berubah. Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Yang tadinya memimpin sekarang tidak lagi memimpin, begitu pun sebaliknya yang tadinya tidak memimpin sekarang menjadi pemimpin.

Pergi dari jama’ah bukan solusi, malah menimbulkan masalah baru dan mengusik pertanyaan baru : Begitu rapuhkah kita dengan janji kebersamaan yang selama ini telah membesarkan kita?

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)” (Surat Al-Ahzab, Ayat 23).

SANG HAKIM DAN BANGKAI ANJING

Alkisah, seorang lelaki menguburkan bangkai anjing di pemakaman muslim. Masyarakatpun marah tak terkira. dibawalah lelaki itu ke hadapan hakim.

“Apa yang kau perbuat ini? Melanggar aturan dan marwah kaum muslimin!” Kata sang hakim marah

“Mohon maaf yang mulia, saya menguburkan bangkai anjing ini karena ini wasiyat dari si anjing..” kata lelaki itu sambil menunduk

“Apa kau bilang? Kau ini sudah berlaku kurang ajar, masih juga berbohong!” , Sang hakim makin naik pitam.

“Sebentar yang mulia,” kata lelaki itu menyela “anjing itu masih punya wasiyat yang kedua, yakni supaya saya menyerahkan uang seribu dirham ini kepada yang mulia”

Sambil itu ia keluarkan gepokan uang dari bajunya. Saat itulah muka hakim berubah. Imannya goyah. Hatinya membuncah

Akhirnya diterimanya uang itu, dan dibebaskanlah lelaki itu dari hukuman. Masyarakat pun marah.

“Bagaimana ini yang mulia, bisa bisanya lelaki itu dibebaskan?”, Tanya masyarakat dengan nada marah

“Sebentar dulu,” kata hakim,”Setelah kulihat lihat, aku ada firasat anjing ini keturunan anjing ashabul kahfi…”

Yah, begitulah, atas nama dunia, semua putusan dan ketegasan bisa dibengkokkan. Dan begitulah, fitnah itu bertebaran setiap saat di hadapan kita. Jangan pernah merasa aman dari fitnah, sebagaimana kata ulama
الانسان معرض للفتنة…
“Manusia sangat rentan dengan fitnah”

“Konsep Rezeki”

Suatu ketika saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya, “Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rezeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rezekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.”

Sang guru pun menjawab, “Pada dasarnya rezeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja.

Kenapa rezeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rezeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.

Wadah rezeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rezeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.

Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.

PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.

LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.

Setelah tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa mengapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rezekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.

Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.”

Semoga bermanfaat.

Menjadi Kupu-kupu atau Batu Bata?

Teks: Eko Novianto
Editor: Riza Almanfaluthi

Jika perbaikan dan penjagaan kualitas kehidupan manusia dimulai dari membangun kualitas pribadi, lalu membangun keluarga berkualitas, terus berlanjut sampai menjadi sosok yang berkontribusi untuk dunia, maka keinginan untuk selalu berbalik adalah masalah dari rangkaian perjalanan kehidupan itu.

Kepintaran seseorang hanya akan menjadi masalah jika kepintarannya itu hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Kekayaan seseorang hanya akan menjadi masalah jika hanya digunakan untuk membusungkan dada. Pun jabatan, panggilan-panggilan dan gelar, serta keindahan anak dan istri. Semua itu hanya akan menjadi masalah jika kembali digunakan untuk menjadi angkuh, membanggakan diri sendiri, atau mengangkat dagu karena sombong.

Keinginan untuk kembali memuaskan diri itulah pula yang sejatinya menghambat upaya perbaikan kualitas kemanusiaan. Perjalanan menjadi tak mudah melaju. Perjalanan menjadi tak mudah menanjak ke kualitas yang lebih baik. Perjalanan menjadi mandek. Perjalanan menjadi mundur. Dan – bahkan – kerap terhenti.

Itulah nyanyian sepanjang zaman. Seseorang menanjak seperti segera akan bersinar, tetapi lalu melemah dan memilih kembali ke titik awalnya. Atau seseorang melaju seperti akan bersinar, tetapi lalu melambat dan memilih untuk berhenti atau mundur. Sepanjang dunia berputar, kisah semacam ini adalah kisah yang tersedia dalam setiap putaran zaman.

Memang pasti tak mudah untuk memiliki determinasi. Memang pasti tak mudah untuk memiliki persistensi. Atau istikamah. Atau disebut apa. Memang pasti tak mudah.

Di antara yang harus dimiliki adalah visi. Saya tak berbicara tentang visi kemanusiaan. Saya sedang ingin kita merenungkan visi yang khas di antara kita masing-masing.
Manusia adalah makhluk yang khas. Unik. Tak pernah ada dua manusia yang identik sama. Kalaupun memiliki ciri fisik yang sama, dia memiliki lekuk jiwa yang berbeda. Kalaupun dua manusia memiliki tabiat dan kecenderungan yang sama, pasti ada hal lain yang membedakan keduanya. Manusia adalah makhluk yang khas. Tuhan menyebutnya sebagai Khalqan Akhar. Penciptaan yang (sama sekali) berbeda.
Manusia adalah makhluk yang khas.

Kekhasan itu bukan cuma menuntunnya pada perbedaan personal semata. Kekhasan itu juga menuntun manusia pada penugasan atau peran sosial yang khas dalam kehidupan.
Tak ada seorang pun yang tak memiliki peran atau pos yang penting dan khas dalam kehidupan ini. Maka, menjadi penting bagi setiap anak Adam untuk menemukan dan menentukan peran khas, spesial, unik, dan penting itu.

Sambil melakukan peran dan posisi khasnya itu, manusia tak bisa menghindari rute umum yang dilalui oleh kebanyakan. Belajar, bekerja, mencari nafkah, mengejar jabatan, menikah, membesarkan anak keturunan, dan lainnya. Setiap dan semua manusia akan menjalani jalan umum itu.

Di jalan umum itulah kerap manusia tak bisa menghindari kompetisi. Ada dorongan untuk bisa lebih cepat, keren, mentereng, dan semua proses kompetisi menuju kesempurnaan itu. Kompetisi itu baik, namun jika semuanya berorientasi publik dan dalam perspektif ‘jalanan umum’, manusia berpotensi tergerus arus dan kehilangan peran dan tugas khasnya. Seperti produk massal, manusia tak lagi memiliki identitas diri yang kuat. Kecuali makhluk yang sedang berlomba untuk lebih cepat dan lebih banyak.

Padahal setiap manusia memiliki ‘Bab Pendahuluan’ dan Mukadimah yang khas. Bagaimanapun, tak bisa menyeragamkan. Ingat, manusia diciptakan dengan penciptaan yang baru dan unik. Maka, adalah hal penting bagi setiap insan untuk memahami dirinya dan memahami kekhasan dirinya dalam kerumunan.

Setiap manusia harus memiliki definisi personal soal tugas dan perannya. Setiap manusia harus mampu mengukur diri. Lalu menempatkan diri dalam posisi dan peran khasnya itu. Tanpa gundah karena kompetisi. Tanpa resah karena kompetisi. Dan tak berkeluh kesah karena kompetisi-kompetisi fana itu. Setiap insan harus memiliki pendefinisian yang khas secara kokoh dalam dirinya. Ini hal penting, karena setiap manusia memiliki ukuran dan kapasitas. Tak bisa menerima beban di luar kapasitasnya dan merugi ketika menjalani peran di bawah kapasitasnya.

Memang tak bagus jika di bawah kapasitasnya, tapi bukan hal yang membanggakan jika sebaliknya. Dan di tengah iklim kompetisi ‘jalanan umum’ itu, manusia kini kerap digegas, kerap dipacu, lalu kehilangan pendefinisian dirinya. Lalu melakukan apologi dan pembenaran-pembenaran di tengah kebingungan dan kehilangan pendifinisian dirinya itu. Dan jika itu yang terjadi, manusia kerap melakukan perjalanan ke belakang. Seperti menanjak, tetapi melorot menurunkan kualitas dirinya. Seperti melaju, tetapi—sejatinya—mundur dan menurunkan kualitas dirinya sendiri.

Memang keren jika bisa menjadi Kupu-kupu. Dalam sesaat melakukan metamorfosis lalu menjelma menjadi makhluk cantik yang mengundang kekaguman. Tetapi mungkin perlu juga disisipkan dalam benak untuk menjadi batu bata yang meski tak memukau, namun menjadi tempat berpijak bagi proses kehidupan yang selanjutnya.

Jika setiap kita mampu melakukan ini semua, kualitas kehidupan manusia akan melaju ke depan. Ke atas. Dan memberikan lebih banyak jaminan bagi keberlangsungan proses penjagaan dan perbaikan kualitas kehidupan itu.

Hanya perlu sedikit ketenangan, kesinambungan berpikir, kelaziman berzikir dan merenung, dan sedikit kebiasaan untuk mengembangkan sikap respek. Itu saja. Lalu tawakal.[]

Catatan: Dimuat di Intax edisi 5/2018.

Kepemimpinan Umar

Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiallah ’Anhu apabila ingin membuat peraturan baru bagi masyarakat, sehari sebelumnya mengumpulkan keluarganya dulu di rumah dan menjelaskan peraturan baru tersebut.

“Aku melarang masyarakat bla..bla..bla… masyarakat akan melihat kepada kalian seperti Elang melihat daging, kalau kalian melanggar mereka akan melanggar, kalau kalian patuh mereka akan patuh. Dan apabila aku menemukan kalian melanggar peraturan, demi Allah aku akan melipat-gandakan hukuman atas kalian, karena kalian keluargaku. Siapa yang suka silahkan ikuti, yang tidak juga silahkan langgar”.

Keluarga Amirul Mukminin Umar bin Khattab adalah masyarakat yang paling “tersiksa” selama beliau menjabat sebagai Khalifah, mereka tidak punya keistimewaan sama sekali, padahal anggota “Royal Family”, keluarga istana, dan mereka sama sekali tidak mendapat “cipratan berkah” karena ayah mereka Khalifah, dan apabila ada insentif atau subsidi Negara untuk masyarakat, merekalah yang paling terakhir menerimanya.

Bayangkan, ayahmu Presiden yang memiliki wilayah luasnya dari Teluk sampai ke perbatasan Turki dan Irak di Utara, sampai ke perbatasan Libya di barat, dan Iran di timur, tapi kamu tidak mendapat jabatan apapun, tidak mendapat keistimewaan apapun…Something banget gitu.

Umar bin Khattab itu benar-benar menerapkan friman Allah dalam surat At Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Wajar kalau cucunya kelak Umar ll atau Umar bin Abdul Aziz melakukan hal yang sama. Ketika Pangeran Umar ll dilantik menjadi Gubernur Madinah, langkah pertama yang dilakukan Umar adalah menyurati sepupunya di Madinah, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab,

“Tolong tulis kisah hidup dan bagaimana Umar bin Khattab memimpin, supaya aku bisa menirunya”.

Salim menjawab,” Akan ku tulis. Kalau kamu bisa berbuat seperti Umar pada rakyatmu, maka kamu lebih baik dari Umar bin Khattab”.

Suatu ketika pada malam Hari Raya Amirul Mukminin Umar ll masuk ke rumahnya, anak-anaknya diam tidak menyambut ayah mereka seperti biasa. Umar melirik ke istrinya seakan bertanya “Ada apa?”, istrinya mengatakan “ Mereka ngambek, besok Hari Raya tapi sampai saat ini mereka belum mendapat baju baru”.

Ayah itu mendekati anaknya dan memeluk mereka, “Benar kalian marah karena tidak ada baju baru untuk besok? Ayah bisa pergi ke Baitul Mal dan mengambil uang untuk membelikan kalian apapun yang kalian mau, lebih dari baju baru. Tapi, apakah kalian mau besok di Akhirat ayah kalian masuk Neraka?”. Kata Umar, mendengar itu anak-anaknya menangis.

“Tidak ayah, kami tidak butuh baju baru! Kami mau ayah saja”. Mereka menangis dan memeluk ayahnya. “Besok kami pakai baju baru tahun lalu saja, kami hanya mau ayah!”.

Saat mengatakan itu, Umar bin Abdul Aziz itu adalah Presiden yang memiliki wilayah yang luasnya meliputi Saudi Arabia, Mesir, Suriah, Irak, Jordan, Lebanon, dan Iran hari ini! Bahkan lebih!

Rahimallah Umarain….:)

By Saief Alemdar