Kepemimpinan Umar

Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiallah ’Anhu apabila ingin membuat peraturan baru bagi masyarakat, sehari sebelumnya mengumpulkan keluarganya dulu di rumah dan menjelaskan peraturan baru tersebut.

“Aku melarang masyarakat bla..bla..bla… masyarakat akan melihat kepada kalian seperti Elang melihat daging, kalau kalian melanggar mereka akan melanggar, kalau kalian patuh mereka akan patuh. Dan apabila aku menemukan kalian melanggar peraturan, demi Allah aku akan melipat-gandakan hukuman atas kalian, karena kalian keluargaku. Siapa yang suka silahkan ikuti, yang tidak juga silahkan langgar”.

Keluarga Amirul Mukminin Umar bin Khattab adalah masyarakat yang paling “tersiksa” selama beliau menjabat sebagai Khalifah, mereka tidak punya keistimewaan sama sekali, padahal anggota “Royal Family”, keluarga istana, dan mereka sama sekali tidak mendapat “cipratan berkah” karena ayah mereka Khalifah, dan apabila ada insentif atau subsidi Negara untuk masyarakat, merekalah yang paling terakhir menerimanya.

Bayangkan, ayahmu Presiden yang memiliki wilayah luasnya dari Teluk sampai ke perbatasan Turki dan Irak di Utara, sampai ke perbatasan Libya di barat, dan Iran di timur, tapi kamu tidak mendapat jabatan apapun, tidak mendapat keistimewaan apapun…Something banget gitu.

Umar bin Khattab itu benar-benar menerapkan friman Allah dalam surat At Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Wajar kalau cucunya kelak Umar ll atau Umar bin Abdul Aziz melakukan hal yang sama. Ketika Pangeran Umar ll dilantik menjadi Gubernur Madinah, langkah pertama yang dilakukan Umar adalah menyurati sepupunya di Madinah, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab,

“Tolong tulis kisah hidup dan bagaimana Umar bin Khattab memimpin, supaya aku bisa menirunya”.

Salim menjawab,” Akan ku tulis. Kalau kamu bisa berbuat seperti Umar pada rakyatmu, maka kamu lebih baik dari Umar bin Khattab”.

Suatu ketika pada malam Hari Raya Amirul Mukminin Umar ll masuk ke rumahnya, anak-anaknya diam tidak menyambut ayah mereka seperti biasa. Umar melirik ke istrinya seakan bertanya “Ada apa?”, istrinya mengatakan “ Mereka ngambek, besok Hari Raya tapi sampai saat ini mereka belum mendapat baju baru”.

Ayah itu mendekati anaknya dan memeluk mereka, “Benar kalian marah karena tidak ada baju baru untuk besok? Ayah bisa pergi ke Baitul Mal dan mengambil uang untuk membelikan kalian apapun yang kalian mau, lebih dari baju baru. Tapi, apakah kalian mau besok di Akhirat ayah kalian masuk Neraka?”. Kata Umar, mendengar itu anak-anaknya menangis.

“Tidak ayah, kami tidak butuh baju baru! Kami mau ayah saja”. Mereka menangis dan memeluk ayahnya. “Besok kami pakai baju baru tahun lalu saja, kami hanya mau ayah!”.

Saat mengatakan itu, Umar bin Abdul Aziz itu adalah Presiden yang memiliki wilayah yang luasnya meliputi Saudi Arabia, Mesir, Suriah, Irak, Jordan, Lebanon, dan Iran hari ini! Bahkan lebih!

Rahimallah Umarain….:)

By Saief Alemdar

Miskin [Catatan Ramadhan]

Sistem sosial kita memang sedang sangat miskin. Ringkih. Lemah. Segenap perhatian kita hanya atau – minimal – lebih banyak untuk materi. Sedikit sekali kita memberikan perhatian pada aspek lain. Miskin sekali kehidupan ini.

Maka ketika datang Ramadhan, kemudian semua-semua ditumpahkan padanya. Mendekat padaNya iya, membangun kebajikan sosial iya, membayar zakat iya, membangun kehangatan keluarga iya, memperbaiki relasi sosial iya, dan semua-semuanya iya. Miskin sekali kehidupan kita.

Bagaimana penjelasan tentang pembayaran zakat yang melimpah di Ramadhan? Padahal ia terkait haul dan jatuh tempo yang tidak selalu Ramadhan. Misalnya. Miskin sekali kehidupan kita.

Maka jadilah Ramadhan kita adalah Ramadhan yang berat. Ramadhan yang menanggung beban berat. Ramadhan yang repot. Ramadhan yang belibet. Ramadhan yang tak fokus. Bahkan Ramadhan yang (terancam) gagal. Bukan cuma itu, Ramadhan kita adalah Ramadhan yang disiapkan untuk gagal. Ia tak lebih dari satu masa untuk berbuat berbagai macam kebaikan, yang nanti akan ditinggalkan setelah masa itu berlalu. Ramadhan yang penuh agenda. Miskin sekali kualitas kehidupan kita.

Setiap sarana memiliki tujuan. Mabit memiliki tujuan. Halaqah memiliki tujuan. Rihlah pun juga. Mukhayyam tak terkecuali. Lainnya juga. Mereka pun punya masa. Ada masanya masing-masing. Lalu, sekarang bayangkan jika Mabit itu sekaligus Rihlah, mukhayyam, bahkan arisan. Berat sekali beban yang ada. Memang miskin sekali kehidupan kita.

Cobalah lebih fokus pada isu besar Ramadhan. Istirahatkan sedikit kegaduhan agenda lainnya sementara waktu. Lalu bertekad melakukan lagi semua kebaikan-kebaikan lain itu di luar Ramadhan secara dawam dan lebih baik.

Nanti, kalau Allah ijinkan kita menemui Ramadhan tahun depan, kita agak mengistirahatkan beragam agenda itu dan fokus pada agenda khas Ramadhan lagi. Lalu mendawamkan lagi aktivitas lainnya dengan kualitas yang lebih baik lagi. Begitu seterusnya.

Mari mencoba. Ini telah separuh jalan. Pasti sulit. Itu karena kita memiliki kualitas kehidupan yang miskin lalu berharap bisa terperbaiki dengan menumpahkan semua-semuanya pada Ramadhan saja.

Bantul, 13 Ramadhan 1439/29 Mei 2018

Tanda Sukses Ramadhan

Ramadhan bak jamuan istimewa yang diperuntukkan Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya tanpa pandang bulu, baik bagi mereka para pecinta kebaikan, atau bagi mereka para pecinta maksiat.

Para pecinta kebaikan menyambut jamuan Ramadhan untuk berlomba meraih kecintaan Allah Ta’ala.

Sementara para pecinta maksiat sudah selayaknya menjadikannya sebagai perhentian terakhir dari petualangan dosa selama ini, sekaligus momentum balik untuk bergabung bersama kafilah pecinta kebaikan.

“…‘Wahai para pencari kebaikan, sambutlah! Wahai para pencari kejahatan, berhentilah. Maka Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu berlangsung pada setiap malam Ramadhan.” [Hadits Hasan, at-Tirmidzi: 682]

Bagi mereka yang gagal mendulang kemuliaan dari jamuan tersebut, sungguh tak ada kalimat yang bisa menggambarkan betapa meruginya mereka.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِـهِ إلاَّ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ .

“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan haus.” [Hadits Shahih, Ahmad: II/441 dan 373]

Setidaknya ada beberapa indikasi pasca Ramadhan yang bisa Anda jadikan parameter ukur dalam masalah ini.

(1) Menjadi Orang yang Ikhlas

Puasa Ramadhan menggembleng kita dalam mengikhlaskan niat, dimana puasa Ramadhan hanya dilakukan untuk Allah Ta’ala semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ, قَالَ اللهُ تَعَلَى: إلاَّ الصِّيَامُ فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أَجْزِيْ بِـهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ

“Setiap amal anak Adam akan dibalas berlipat ganda. Satu kebaikan akan dibalas 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Puasa ini untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya (dengan pahala tanpa batas). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya demi diri-Ku….” [Shahih Muslim: 1151]

(2) Semakin Bisa menjaga lisan.

وَإذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإنْ سَبَّهُ أحَدٌ أوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

“…Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah melakukan rafats (seperti berbicara porno atau keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang hendak mencaci atau menyerangnya, hendaklah ia (bersabar dan) berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa…” [Shahih Bukhari:IV/88]

(3) Semakin Jauh dari Maksiat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ السْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةُ فَالْيَتَزَوَّجْ فَإنَّهُ أغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأحْسَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“… maka hendaklah ia berpuasa karena puasa bisa menjadi perisai baginya (dari kemaksiatan).” [Shahih Bukhari: IV/106 dan Shahih Muslim: 1400 dari sahabat Ibnu Mas’ud]

(4) Cinta pada al-Qur-an

Orang-orang yang sukses di bulan Ramadhan akan bertambah rajin membaca al-Qur-an.

(5) Menjadi Dermawan

Hikmah puasa memberikan kita kesempatan untuk merasakan penderitaan kaum dhuafa’ dan fakir miskin.

(6) Loyalitas (Wala’) Sesama Muslim Semakin Kokoh

Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama. Terutama sesama muslim.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”[Ahmad: IV/114-116, shahih menurut at-Tirmidzi: 804]

Ramadhan benar-benar menjadi momentum bagi kita untuk merekonstruksi makna al-Wala’ yang sempat runtuh dan terkubur. Dengan demikian, rasa cinta dan persaudaraan Islam pun akan bersemi. Orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan, senantiasa menjaga bangunan al-Wala’ tetap kokoh menjulang, baik di luar Ramadhan sekalipun.

(7) Do’a yang Terkabul

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, punya satu kesempatan do’a yang tidak akan ditolak pada saat ia berbuka.” [Hadits Shahih, Ibnu Majah: I/557]

Jika do’a yang Anda panjatkan saat Ramadhan menjadi kenyataan, maka ucapkanlah kalimat syukur, kemudian Anda boleh berharap dengan yakin, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

(8) Semakin Mendalami Ilmu Agama

Dan Allah jika menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya yang terpilih, Dia terlebih dahulu akan mempersiapkan hamba-Nya tersebut untuk memahami ilmu agama, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [Shahih Bukhari: 71 dan Shahih Muslim: 1037]

Neraka, Surga, Allah, dan Kita

Seseram apapun bayangan kita tentang neraka, ia jauh lebih seram dari apa yang kita bayangkan. Seindah apapun bayangan kita tentang surga, ia pun jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan.

Dan… sebesar apapun Kebesaran Tuhan atau Allah Aza wa jalla yang mampu kita bayangkan, Dia pasti dan pasti, tak berhingga, bahkan tak bisa disebut Kebesaran-Nya dari yang mampu kita bayangkan.

Jika kita mendekat kepada-Nya sejengkal, Dia mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepada-Nya sehasta, Dia mendekat kepada kita sedepa. Jika kita datang kepada-Nya dengan berjalan (biasa), maka Allah Aza wajalla akan mendatangi kita dengan berjalan cepat.

Jika kita mengingat-Nya saat bersendirian, Dia akan mengingat kita dalam diri-Nya. Jika kita mengingat-Nya di suatu kumpulan, Dia akan mengingat kita di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).

(Dari mutiara QS. Al Baqarah:152: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”

Kusairi Muhammad

“Lari!!! Jangan hanya diam menunggu waktu yang begitu cepat berlalu.”

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan. Sebelas bulan penantian, Allah perkenankan diri kita menemui bulan penuh rahmat dan ampunan. Madrasah Ramadhan menghampiri. Satu bulan Allah hadirkan waktu terbaik. Saatnya kita berlari. Saya rasa, bukan saatnya lagi memanjakan diri dalam balutan kemalasan. Di Madrasah inilah kita melatih untuk menempa diri. Seberapa kuat kita menjalankan ibadah yang mungkin di bulan lain terasa begitu berat.

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
(HR. Ahmad)

Sudah membuat perencanaan?
Saya rasa setiap kita sudah begitu matang mempersiapkan segala perencanaan agar maksimal di bulan Ramadhan. Keberkahan yang telah Allah siapkan di bulan ini menjadi pemicu terbesar. Pelbagai keinginan untuk menjadi yang terbaik kita ikhtiarkan. Apatah lagi, begitu besar dukungan lingkungan sekitar membersamai kita dalam berlomba mengejar ibadah terbaik.

Akankah kita istiqomah?
Tantangan terbesarnya, istiqomah. Ia seperti saat kita sedang menaiki eskalator turun. Berat, sulit, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Disinilah peran do’a bermain. Selama Ramadhan, selain di uji dalam meraih ibadah terbaik. Allah suguhkan waktu-waktu mustajab dalam berdo’a. Di sepertiga malam, saat sahur, saat beribadah, saat berbuka, dan bukan tidak mungkin saat kita membantu orang lain lah ijabah do’a begitu cepat hadir.

Semoga Allah perkenankan kita ikhtiar semaksimal usaha kita, sebesar-besar kemampuan kita. Fattaqullaha Mastatho’tum

Selamat Berperilaku Layaknya Orang Bertaqwa

“Pernahkah engkau melintasi jalan yang penuh duri?” Ubay bin Ka’ab r.a. bertanya balik kepada Umar bin Khattab r.a. yang memintanya menjelaskan makna taqwa. Begitulah sahabat Rasulullah saw. Meski Umar dikenal sebagai orang yang sangat ketat dalam bersikap, dan menjadi teladan umat manusia dalam sikap taqwa, namun tetap ia tak sungkan mencari definisi atas karakter yang sudah ia jiwai itu kepada orang lain. Karena sikap tawadhu’nya.

“Pernah,” jawab Umar. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ubay lagi. “Aku berjalan dengan hati-hati,” kata Umar. “Nah itu lah taqwa,” pungkas Ubay.

Dan seperti itu lah kita mengarungi hari di bulan Ramadhan, dengan penuh kehati-hatian. Karena inginkan amal puasa yang utuh, tanpa terkikis oleh maksiat yang sadar atau tidak kita lakukan. Karena kalau tidak, maka keadaannya seperti hadits Rasulullah saw:

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR Ibnu Majah)

Orang yang bertaqwa, baik ia sedang puasa atau tidak, selalu menjaga aktifitasnya. Selalu terngiang pertanyaan, “Apakah Allah ridho bila aku melakukan ini?” Tak sembarangan ia berbuat sesuatu, selalu dipindainya apakah Allah akan murka atau tidak.

Ia tahu, betapa cemburunya Azza wa Jalla terhadap hamba yang berbuat maksiat. “Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang” (Muttafaq alaih)

Dan apabila seorang muttaqin terjerumus juga pada kesalahan, ia akan buru-buru memohon ampun kepada Allah swt. (QS Ali Imran: 135)

Selama Ramadhan kita akan berperilaku selayaknya orang muttaqin. Yang menjaga diri jangan sampai berbuat salah. Bila khilaf, segera beristighfar. Bedanya, bila orang bertaqwa melakukan itu setiap saat walau pun ia tidak sedang berpuasa, kita – atau mungkin saya aja ya… yang lain tidak – berhati-hati menjaga sikap karena tidak ingin pahala puasa berkurang.

Ya semoga saja kebiasaan dadakan itu menjadi karakter permanen, sehingga mencapai hasil yang diinginkan Allah swt ketika mewajibkan umat muslim ibadah puasa di bulan Ramadhan: “… agar kalian bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin

Islam agama yang mengedepankan nilai – nilai kebaikan, baik yang berkaitan dengan sisi pribadi maupun orang lain.

Dalam Islam hak dan kewajiban seorang hamba itu diatur dalam Al Qur’an maupun hadits, agar tidak ada kedzoliman yang dilakukan seseorang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Oleh karena itu cukup dikatakan dosa besar jika seseorang membunuh dirinya sendiri, apalagi kalau sampai melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain.

Kita akan lebih mengagumi lagi betapa Islam itu adalah agama rahmatan lil ‘alamiin, yaitu saat dimana Rasulullah SAW memberikan nasehat kepada para sahabat ketika akan berjihad.

Para sahabat dilarang membunuh anak -anak , para wanita , orang yang sudah tua dan orang – orang yang berada di tempat – tempat peribadatan mereka. Bukan hanya manusia, pohonpun termasuk yang dilarang Rasulullah SAW untuk dirusak.

Artinya jangankan dalam kondisi sedang aman, dalam kondisi berperangpun Islam tetap mengedepankan nilai – nilai kebaikan dalam hidup untuk senantiasa memberikan toleransi sekalipun kepada yang berbeda.

Kaidah Islam mengatur bahwa yang berhak menghakimi manusia adalah Allah SWT. Sementara kewajiban seorang hamba adalah berdakwah menyampaikan kebenaran dengan mengingatkan apabila manusia lupa, memberitahu apabila tidak tahu dan meluruskan apabila salah.

Jadi salah besar kalau mengatas namakan teroris itu identik dengan Islam, karena Islam tidak mengajarkan perbuatan dzolim apalagi hingga menghilangkan nyawa orang.

Islam agama yang cinta damai, mengajarkan untuk bertoleransi dan memenuhi hak – hak orang lain sekalipun berbeda keyakinan.

Andai saja setiap manusia mau membuka hati dan pikirannya untuk mengkaji Islam lebih dalam, niscaya yang tadinya ragu menjadi yakin, yang tadinya benci menjadi cinta, yang tadinya menolak menjadi menerima.

Semoga Allah SWT memberi kesempatan kepada kita semua untuk mau menerima kebenaran, karena sesungguhnya hanya hati yang di dalamnya ada penyakitlah yang sulit menerima kebenaran.

Cikarang 13052018

,

Mampu Atau Tidak Mampu Itu Ada Ujiannya

Ujian terberat pada kemampuan kita adalah kesombongan, sedang pada ketidakmampuan adalah kemalasan.

Benarkah?

Kalau ingin mendeteksi sifat sombong, mungkin bisa dicoba dengan mendata keunggulan kapasitas kita. Lalu pikirkan. Pasti ada setitik kebanggaan diri dari potensi semisal pandai menulis, jago orasi, terampil berkreasi, cakap berbahasa asing, pintar meneliti, piawai memimpin atau sekedar juara berpenampilan menarik.

Setitik bangga memang masih wajar. Bahkan perlu ditumbuhkan secara positif agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi hati-hati, dari setitik itu juga dapat menjadi celah keburukan jiwa yang dibenci Allah bila berkembang membentuk kesombongan. Orang yang hatinya diliputi rasa sombong kelak akan menderita kerugian besar berupa hangusnya amal atau dibinasakannya semua hal yang membanggakannya dalam sekejap mata. Tak sampai di situ, kehidupan orang sombong di akhirat kan berakhir pada kenestapaan abadi sebagaimana sabda Rasul saw berikut :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)

Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Bahkan seorang pendakwah dapat tergelincir ke neraka jika ceroboh berucap sesuatu yang mengisyaratkan kesombongan layaknya kisah dalam hadits berikut :

“Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Sampai suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka!
(HR Imam Ahmad)

Wal ‘iyyadzubillaah…

***

Sementara deteksi terhadap kemalasan barangkali bisa dicoba dengan cara meneliti berbagai aspek kelemahan kita. Lalu renungkan. Adakah terbesit keengganan dalam membenahi tiap kekurangan diri seperti sulit konsentrasi, lambat menghitung, tidak terampil, kurang rapi, cenderung pasif, selalu terbelakang dalam berinisiatif, dsb?

Sebersit memang kadang lumrah atas nama pemakluman terhadap kekurangan yang ada di setiap manusia. Namun waspadai jika perasaan ini terus dibiarkan apalagi sampai dipelihara. Sebab bukan mustahil, ia akan bertambah kuat, membesar serta mengakar di jiwa membentuk karakter pemalas.

Bila kondisinya semakin akut, seorang pemalas biasanya akan mudah menyalahkan takdir Allah.

“Ah emang sudah dari sananya saya punya kekurangan ini itu. Gak bisa berubah lagi.”

“Yang bikin kondisi fisik saya begini, kan Allah. Jadi ya sudahlah terima aja ketidakmampuan saya…”

Akhirnya kemalasan yang mengendap berpotensi membuat aqidah jadi keropos. Pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit.

Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang berhasil meraih prestasi luar biasa meski dalam kondisi tak sempurna baik secara jiwa maupun raga. Disebabkan kegigihan dan ketekunan akhirnya mereka sukses melampaui ketidakberdayaaan diri.
Itulah buah manis jika kemalasan telah sekuat tenaga kita perangi dan tundukkan.

Begitulah kemampuan dan ketidakmampuan mutlak menghiasi pribadi kita sebagai insan tak sempurna. Di antara keduanya Allah ta’ala tidak hanya menyelipkan ujian tapi juga kesempatan untuk mengintrospeksi diri agar tak terjatuh pada kerugian akhirat saat menyikapinya.

Maka amat pantas jika kita meminta perlindungan pada Allah terus menerus agar jiwa tak sampai menyandang predikat sombong dan malas akibat kegagalan ujian kita.

اللهم إنا نعوذ بك من الكبر والعجب والريا والسمعة

Ya Allah kami berlindung dari sifat-sifat tercela; sombong, membanggakan diri, riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

Karawaci,12052015

#catatanrefleksi

Ahlan Wa Sahlan Ramadhan

Oleh; Ratih

Ramadhan tinggal menghitung hari. Tamu agung akan segera datang. Mari kita menyambutnya dengan riang gembira. Karena pintu ampunan, rahmat dan pembebasan api neraka akan kita dapatkan.

Ramadhan bulan penuh keistimewaan, sehingga banyak ummat Islam menantikannya.

Ramadhan bulan istimewa karena di bulan Ramadhan ada amalan puasa di mana Allah SWT langsung yang mengganjarnya. Puasa melatih kita keikhlasan dalam ketaatan , melatih kita kejujuran dalam kesendirian, mendidik kita akan kepedulian.

Ramadhan bulan istimewa, karena malamnya ada ibadah tarawih yang tidak ada di bulan selain bulan Ramadhan. Oleh karena itu usahakan jangan pernah kita meninggalkannya, walaupun tarawih merupakan amalan sunnah.

Ramadhan bulan istimewa, karena Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Jadikanlah lisan kita disibukkan dengan membacanya dengan niatan kita ingin mengkhatamkannya. Yakinlah ketika kita menanamkan tekad untuk mengkhatamkan Al Qur’an maka insya allah Allah akan memudahkan kita untuk mencapainya.

Ramadhan bulan istimewa, karena di malam sepuluh hari terakhir di malam ganjil Ramadhan ada suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadr. Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yang mana keberkahan dan Rahmat Allah banyak tercurah di malam itu . Maka isilah malam itu dengan banyak ibadah dengan sholat, tilawah dan istighfar. Sehingga nilai – nilai ketaqwaan akan menghiasi sepanjang langkah kehidupan kita.

Ramadhan bulan istimewa, karena setiap amal dilipat gandakan pahala. Banyaklah bersedekah dan memberi takjil karena amalan itu bisa membahagiakan orang lain. Amalan yang membawa kebahagiaan orang, akan mendapatkan nilai ganda. Selain kita memberi dapat pahala, memberi kebahagiaan kepada orang juga mendapatkan pahala.

Semoga Allah SWT menyampaikan kita di bulan Ramadhan dan kita diberi kemudahan untuk beramal saleh dengan optimal . Anggaplah seolah ini adalah Ramadhan terakhir kita, sehingga kita tidak menyia – nyiakan setiap harinya.

Cikarang 11052018

Ukhuwah Prokeristik

Oleh: Muhammad Syukri
@doktersyukrisyayma

Kapan hari lalu saya terima aduan dari seorang kawan. Dia bilang, adik-adiknya di lembaga dakwah kampus sedang berkonflik. Konflik antara pimpinan dengan bawahan. Pimpinan merasa anggotanya tak mau kerja, anggota merasa pimpinannya cuma nyuruh-nyuruh saja. Pimpinan menthung, bawahan mutung. Lama-lama mereka penthung-penthungan.

Saya ajak mereka bicara. Saya lihat pola interaksi di lembaganya. Ternyata seperti ini: ada instruksi dari pimpinan terkait proker yang harus diselesaikan, lalu bawahan mengerjakan. Kalau ada kesalahan, ditegurlah yang bersangkutan. Yg ditegur tak terima, yang menegur merasa tak dihargai. Jadilah mereka berputar-putar dengan masalah tegur-menegur itu.

Seakan-akan mereka ini sedang mengasah kejelian dalam mencari kambing paling hitam yang ada di tengah-tengah mereka. Seolah-olah mereka lebih suka beradu cepat menemukan si pembuat onar dibanding beradu cepat menemukan jalan keluar.

Jadi ekspresi mereka sepanjang hari adalah ekspresi kerja prokeristik. Ekspresi-ekspresi kerja dengan berbagai target dan tuntutan. Ekspresi-ekspresi kerja benar-salah. Bukan ekspresi iman. Bukan ekspresi ukhuwah.

Akhirnya konflik yang ada tak pernah berhasil terkonversi menjadi konflik yang produktif.

Padahal solusinya sederhana: ganti ekspresi.

Berhentilah berbicara proker. Sejenak saja. Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Dan kita berukhuwah bukan karena ada proker. Kita berukhuwah sejak pertama kali kita tahu ada saudara seiman di sisi kita.

Ukhuwah itu tentang rasa. Rasa yang muncul dari pertemuan antar ekspresi.
Maka ukhuwah tak bisa berhenti di level teori. Dia harus keluar dalam bentuk sebuah ekspresi. Ekspresi yang muncul tersebab sebuah aksi..

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat..” (H.R. Muslim)

_Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.._ (H.R. Muslim)

_Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.._ (H.R. Tirmizi dan Abu Dzar).

_Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari._ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selama kita berkarir di lembaga, berapa orang yg sudah kita lapangkan urusannya? Berapa banyak yg sudah kita hutangi dan kita lunaskan utang-utangnya? Berapa orang yang telah kita tutupi aib-aibnya? Berapa orang yang kita kenyangkan perutnya? Berapa banyak orang yang pernah kita belikan pulsa? Berapa banyak yang kita jenguk saat sakitnya? Siapa saja yang menerima senyum kita hari ini? Berapa orang yang telah kita sapa sepanjang hari ini?

Itulah ekspresi ukhuwah yang diajarkan baginda Nabi. Ekspresi yang harusnya telah akrab kita geluti tanpa harus menunggu proker2 itu memaksa kita belajar lagi tentang arkanul ukhuwah. Ekspresi yang harusnya kita dahulukan sebelum teriakan-teriakan “Kok MMT nya blm jadi? Kok pembicaranya belum dihubungi? Kok hijabnya belum ditata? Kok konsumsinya cuma segini?”

Ekspresi yang akhirnya membuat kita tersadar, bahwa pilar paling penting dari ukhuwah adalah semangat untuk memberi, bukan permintaan untuk dilayani.

Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Maka saat beban itu terasa sangat berat untuk dipikul, sangat rumit untuk dipecahkan, periksa kembali ukhuwah kita. Jangan-jangan kita memikul beban itu saat ukhuwah kita baru sampai di level ta’aruf. Atau mungkin kita sama sekali belum ber-ukhuwah?

Wallau’alam.