“Lari!!! Jangan hanya diam menunggu waktu yang begitu cepat berlalu.”

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan. Sebelas bulan penantian, Allah perkenankan diri kita menemui bulan penuh rahmat dan ampunan. Madrasah Ramadhan menghampiri. Satu bulan Allah hadirkan waktu terbaik. Saatnya kita berlari. Saya rasa, bukan saatnya lagi memanjakan diri dalam balutan kemalasan. Di Madrasah inilah kita melatih untuk menempa diri. Seberapa kuat kita menjalankan ibadah yang mungkin di bulan lain terasa begitu berat.

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
(HR. Ahmad)

Sudah membuat perencanaan?
Saya rasa setiap kita sudah begitu matang mempersiapkan segala perencanaan agar maksimal di bulan Ramadhan. Keberkahan yang telah Allah siapkan di bulan ini menjadi pemicu terbesar. Pelbagai keinginan untuk menjadi yang terbaik kita ikhtiarkan. Apatah lagi, begitu besar dukungan lingkungan sekitar membersamai kita dalam berlomba mengejar ibadah terbaik.

Akankah kita istiqomah?
Tantangan terbesarnya, istiqomah. Ia seperti saat kita sedang menaiki eskalator turun. Berat, sulit, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Disinilah peran do’a bermain. Selama Ramadhan, selain di uji dalam meraih ibadah terbaik. Allah suguhkan waktu-waktu mustajab dalam berdo’a. Di sepertiga malam, saat sahur, saat beribadah, saat berbuka, dan bukan tidak mungkin saat kita membantu orang lain lah ijabah do’a begitu cepat hadir.

Semoga Allah perkenankan kita ikhtiar semaksimal usaha kita, sebesar-besar kemampuan kita. Fattaqullaha Mastatho’tum

Selamat Berperilaku Layaknya Orang Bertaqwa

“Pernahkah engkau melintasi jalan yang penuh duri?” Ubay bin Ka’ab r.a. bertanya balik kepada Umar bin Khattab r.a. yang memintanya menjelaskan makna taqwa. Begitulah sahabat Rasulullah saw. Meski Umar dikenal sebagai orang yang sangat ketat dalam bersikap, dan menjadi teladan umat manusia dalam sikap taqwa, namun tetap ia tak sungkan mencari definisi atas karakter yang sudah ia jiwai itu kepada orang lain. Karena sikap tawadhu’nya.

“Pernah,” jawab Umar. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ubay lagi. “Aku berjalan dengan hati-hati,” kata Umar. “Nah itu lah taqwa,” pungkas Ubay.

Dan seperti itu lah kita mengarungi hari di bulan Ramadhan, dengan penuh kehati-hatian. Karena inginkan amal puasa yang utuh, tanpa terkikis oleh maksiat yang sadar atau tidak kita lakukan. Karena kalau tidak, maka keadaannya seperti hadits Rasulullah saw:

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR Ibnu Majah)

Orang yang bertaqwa, baik ia sedang puasa atau tidak, selalu menjaga aktifitasnya. Selalu terngiang pertanyaan, “Apakah Allah ridho bila aku melakukan ini?” Tak sembarangan ia berbuat sesuatu, selalu dipindainya apakah Allah akan murka atau tidak.

Ia tahu, betapa cemburunya Azza wa Jalla terhadap hamba yang berbuat maksiat. “Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang” (Muttafaq alaih)

Dan apabila seorang muttaqin terjerumus juga pada kesalahan, ia akan buru-buru memohon ampun kepada Allah swt. (QS Ali Imran: 135)

Selama Ramadhan kita akan berperilaku selayaknya orang muttaqin. Yang menjaga diri jangan sampai berbuat salah. Bila khilaf, segera beristighfar. Bedanya, bila orang bertaqwa melakukan itu setiap saat walau pun ia tidak sedang berpuasa, kita – atau mungkin saya aja ya… yang lain tidak – berhati-hati menjaga sikap karena tidak ingin pahala puasa berkurang.

Ya semoga saja kebiasaan dadakan itu menjadi karakter permanen, sehingga mencapai hasil yang diinginkan Allah swt ketika mewajibkan umat muslim ibadah puasa di bulan Ramadhan: “… agar kalian bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin

Islam agama yang mengedepankan nilai – nilai kebaikan, baik yang berkaitan dengan sisi pribadi maupun orang lain.

Dalam Islam hak dan kewajiban seorang hamba itu diatur dalam Al Qur’an maupun hadits, agar tidak ada kedzoliman yang dilakukan seseorang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Oleh karena itu cukup dikatakan dosa besar jika seseorang membunuh dirinya sendiri, apalagi kalau sampai melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain.

Kita akan lebih mengagumi lagi betapa Islam itu adalah agama rahmatan lil ‘alamiin, yaitu saat dimana Rasulullah SAW memberikan nasehat kepada para sahabat ketika akan berjihad.

Para sahabat dilarang membunuh anak -anak , para wanita , orang yang sudah tua dan orang – orang yang berada di tempat – tempat peribadatan mereka. Bukan hanya manusia, pohonpun termasuk yang dilarang Rasulullah SAW untuk dirusak.

Artinya jangankan dalam kondisi sedang aman, dalam kondisi berperangpun Islam tetap mengedepankan nilai – nilai kebaikan dalam hidup untuk senantiasa memberikan toleransi sekalipun kepada yang berbeda.

Kaidah Islam mengatur bahwa yang berhak menghakimi manusia adalah Allah SWT. Sementara kewajiban seorang hamba adalah berdakwah menyampaikan kebenaran dengan mengingatkan apabila manusia lupa, memberitahu apabila tidak tahu dan meluruskan apabila salah.

Jadi salah besar kalau mengatas namakan teroris itu identik dengan Islam, karena Islam tidak mengajarkan perbuatan dzolim apalagi hingga menghilangkan nyawa orang.

Islam agama yang cinta damai, mengajarkan untuk bertoleransi dan memenuhi hak – hak orang lain sekalipun berbeda keyakinan.

Andai saja setiap manusia mau membuka hati dan pikirannya untuk mengkaji Islam lebih dalam, niscaya yang tadinya ragu menjadi yakin, yang tadinya benci menjadi cinta, yang tadinya menolak menjadi menerima.

Semoga Allah SWT memberi kesempatan kepada kita semua untuk mau menerima kebenaran, karena sesungguhnya hanya hati yang di dalamnya ada penyakitlah yang sulit menerima kebenaran.

Cikarang 13052018

,

Mampu Atau Tidak Mampu Itu Ada Ujiannya

Ujian terberat pada kemampuan kita adalah kesombongan, sedang pada ketidakmampuan adalah kemalasan.

Benarkah?

Kalau ingin mendeteksi sifat sombong, mungkin bisa dicoba dengan mendata keunggulan kapasitas kita. Lalu pikirkan. Pasti ada setitik kebanggaan diri dari potensi semisal pandai menulis, jago orasi, terampil berkreasi, cakap berbahasa asing, pintar meneliti, piawai memimpin atau sekedar juara berpenampilan menarik.

Setitik bangga memang masih wajar. Bahkan perlu ditumbuhkan secara positif agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi hati-hati, dari setitik itu juga dapat menjadi celah keburukan jiwa yang dibenci Allah bila berkembang membentuk kesombongan. Orang yang hatinya diliputi rasa sombong kelak akan menderita kerugian besar berupa hangusnya amal atau dibinasakannya semua hal yang membanggakannya dalam sekejap mata. Tak sampai di situ, kehidupan orang sombong di akhirat kan berakhir pada kenestapaan abadi sebagaimana sabda Rasul saw berikut :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)

Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Bahkan seorang pendakwah dapat tergelincir ke neraka jika ceroboh berucap sesuatu yang mengisyaratkan kesombongan layaknya kisah dalam hadits berikut :

“Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Sampai suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka!
(HR Imam Ahmad)

Wal ‘iyyadzubillaah…

***

Sementara deteksi terhadap kemalasan barangkali bisa dicoba dengan cara meneliti berbagai aspek kelemahan kita. Lalu renungkan. Adakah terbesit keengganan dalam membenahi tiap kekurangan diri seperti sulit konsentrasi, lambat menghitung, tidak terampil, kurang rapi, cenderung pasif, selalu terbelakang dalam berinisiatif, dsb?

Sebersit memang kadang lumrah atas nama pemakluman terhadap kekurangan yang ada di setiap manusia. Namun waspadai jika perasaan ini terus dibiarkan apalagi sampai dipelihara. Sebab bukan mustahil, ia akan bertambah kuat, membesar serta mengakar di jiwa membentuk karakter pemalas.

Bila kondisinya semakin akut, seorang pemalas biasanya akan mudah menyalahkan takdir Allah.

“Ah emang sudah dari sananya saya punya kekurangan ini itu. Gak bisa berubah lagi.”

“Yang bikin kondisi fisik saya begini, kan Allah. Jadi ya sudahlah terima aja ketidakmampuan saya…”

Akhirnya kemalasan yang mengendap berpotensi membuat aqidah jadi keropos. Pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit.

Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang berhasil meraih prestasi luar biasa meski dalam kondisi tak sempurna baik secara jiwa maupun raga. Disebabkan kegigihan dan ketekunan akhirnya mereka sukses melampaui ketidakberdayaaan diri.
Itulah buah manis jika kemalasan telah sekuat tenaga kita perangi dan tundukkan.

Begitulah kemampuan dan ketidakmampuan mutlak menghiasi pribadi kita sebagai insan tak sempurna. Di antara keduanya Allah ta’ala tidak hanya menyelipkan ujian tapi juga kesempatan untuk mengintrospeksi diri agar tak terjatuh pada kerugian akhirat saat menyikapinya.

Maka amat pantas jika kita meminta perlindungan pada Allah terus menerus agar jiwa tak sampai menyandang predikat sombong dan malas akibat kegagalan ujian kita.

اللهم إنا نعوذ بك من الكبر والعجب والريا والسمعة

Ya Allah kami berlindung dari sifat-sifat tercela; sombong, membanggakan diri, riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

Karawaci,12052015

#catatanrefleksi

Ahlan Wa Sahlan Ramadhan

Oleh; Ratih

Ramadhan tinggal menghitung hari. Tamu agung akan segera datang. Mari kita menyambutnya dengan riang gembira. Karena pintu ampunan, rahmat dan pembebasan api neraka akan kita dapatkan.

Ramadhan bulan penuh keistimewaan, sehingga banyak ummat Islam menantikannya.

Ramadhan bulan istimewa karena di bulan Ramadhan ada amalan puasa di mana Allah SWT langsung yang mengganjarnya. Puasa melatih kita keikhlasan dalam ketaatan , melatih kita kejujuran dalam kesendirian, mendidik kita akan kepedulian.

Ramadhan bulan istimewa, karena malamnya ada ibadah tarawih yang tidak ada di bulan selain bulan Ramadhan. Oleh karena itu usahakan jangan pernah kita meninggalkannya, walaupun tarawih merupakan amalan sunnah.

Ramadhan bulan istimewa, karena Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Jadikanlah lisan kita disibukkan dengan membacanya dengan niatan kita ingin mengkhatamkannya. Yakinlah ketika kita menanamkan tekad untuk mengkhatamkan Al Qur’an maka insya allah Allah akan memudahkan kita untuk mencapainya.

Ramadhan bulan istimewa, karena di malam sepuluh hari terakhir di malam ganjil Ramadhan ada suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadr. Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yang mana keberkahan dan Rahmat Allah banyak tercurah di malam itu . Maka isilah malam itu dengan banyak ibadah dengan sholat, tilawah dan istighfar. Sehingga nilai – nilai ketaqwaan akan menghiasi sepanjang langkah kehidupan kita.

Ramadhan bulan istimewa, karena setiap amal dilipat gandakan pahala. Banyaklah bersedekah dan memberi takjil karena amalan itu bisa membahagiakan orang lain. Amalan yang membawa kebahagiaan orang, akan mendapatkan nilai ganda. Selain kita memberi dapat pahala, memberi kebahagiaan kepada orang juga mendapatkan pahala.

Semoga Allah SWT menyampaikan kita di bulan Ramadhan dan kita diberi kemudahan untuk beramal saleh dengan optimal . Anggaplah seolah ini adalah Ramadhan terakhir kita, sehingga kita tidak menyia – nyiakan setiap harinya.

Cikarang 11052018

Ukhuwah Prokeristik

Oleh: Muhammad Syukri
@doktersyukrisyayma

Kapan hari lalu saya terima aduan dari seorang kawan. Dia bilang, adik-adiknya di lembaga dakwah kampus sedang berkonflik. Konflik antara pimpinan dengan bawahan. Pimpinan merasa anggotanya tak mau kerja, anggota merasa pimpinannya cuma nyuruh-nyuruh saja. Pimpinan menthung, bawahan mutung. Lama-lama mereka penthung-penthungan.

Saya ajak mereka bicara. Saya lihat pola interaksi di lembaganya. Ternyata seperti ini: ada instruksi dari pimpinan terkait proker yang harus diselesaikan, lalu bawahan mengerjakan. Kalau ada kesalahan, ditegurlah yang bersangkutan. Yg ditegur tak terima, yang menegur merasa tak dihargai. Jadilah mereka berputar-putar dengan masalah tegur-menegur itu.

Seakan-akan mereka ini sedang mengasah kejelian dalam mencari kambing paling hitam yang ada di tengah-tengah mereka. Seolah-olah mereka lebih suka beradu cepat menemukan si pembuat onar dibanding beradu cepat menemukan jalan keluar.

Jadi ekspresi mereka sepanjang hari adalah ekspresi kerja prokeristik. Ekspresi-ekspresi kerja dengan berbagai target dan tuntutan. Ekspresi-ekspresi kerja benar-salah. Bukan ekspresi iman. Bukan ekspresi ukhuwah.

Akhirnya konflik yang ada tak pernah berhasil terkonversi menjadi konflik yang produktif.

Padahal solusinya sederhana: ganti ekspresi.

Berhentilah berbicara proker. Sejenak saja. Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Dan kita berukhuwah bukan karena ada proker. Kita berukhuwah sejak pertama kali kita tahu ada saudara seiman di sisi kita.

Ukhuwah itu tentang rasa. Rasa yang muncul dari pertemuan antar ekspresi.
Maka ukhuwah tak bisa berhenti di level teori. Dia harus keluar dalam bentuk sebuah ekspresi. Ekspresi yang muncul tersebab sebuah aksi..

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat..” (H.R. Muslim)

_Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.._ (H.R. Muslim)

_Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.._ (H.R. Tirmizi dan Abu Dzar).

_Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari._ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selama kita berkarir di lembaga, berapa orang yg sudah kita lapangkan urusannya? Berapa banyak yg sudah kita hutangi dan kita lunaskan utang-utangnya? Berapa orang yang telah kita tutupi aib-aibnya? Berapa orang yang kita kenyangkan perutnya? Berapa banyak orang yang pernah kita belikan pulsa? Berapa banyak yang kita jenguk saat sakitnya? Siapa saja yang menerima senyum kita hari ini? Berapa orang yang telah kita sapa sepanjang hari ini?

Itulah ekspresi ukhuwah yang diajarkan baginda Nabi. Ekspresi yang harusnya telah akrab kita geluti tanpa harus menunggu proker2 itu memaksa kita belajar lagi tentang arkanul ukhuwah. Ekspresi yang harusnya kita dahulukan sebelum teriakan-teriakan “Kok MMT nya blm jadi? Kok pembicaranya belum dihubungi? Kok hijabnya belum ditata? Kok konsumsinya cuma segini?”

Ekspresi yang akhirnya membuat kita tersadar, bahwa pilar paling penting dari ukhuwah adalah semangat untuk memberi, bukan permintaan untuk dilayani.

Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Maka saat beban itu terasa sangat berat untuk dipikul, sangat rumit untuk dipecahkan, periksa kembali ukhuwah kita. Jangan-jangan kita memikul beban itu saat ukhuwah kita baru sampai di level ta’aruf. Atau mungkin kita sama sekali belum ber-ukhuwah?

Wallau’alam.

Mengharap Ridho Allah

Jika kita ridho dengan ketentuan Allah, maka ruh kita akan lebih mudah melepaskan diri dari jasad, karena kita sudah ridho. Sebaliknya, jika kita tidak ridho, maka malaikat maut akan dengan paksa melepaskan ruh itu.

Sakit yang diderita itu jadikanlah sebagai wujud rasa sabar kita, ridho kita akan ketentuan yang Allah berikan pada kita, dan dijadikan sebagai ihtisaaban, ladang pahala amal kita.

Kelak di surga nanti, orang2 mukmin akan merasa iri kepada orang2 yang ketika di dunia diberikan cobaan dan musibah yang berat, karena derajatnya nanti berbeda. Bahkan, kalau boleh mengulang hidup, mereka minta dihidupkan di dunia lagi dan diberikan cobaan dan musibah yang kelak akan dirasakan hasil manisnya di surga, hal mana tidak dirasakan oleh penghuni surga yang lain yang lebih diberikan kemudahan dan kenikmatan hidup.

Setelah kita ridho dengan cobaan hidup itu, pertama kita merasakan lebih ringan dalam menjalaninya. Kedua, kita mendapatkan kenaikan derajat, bisa diistilahkan naik kelas setelah dapat melalui ujian tersebut.

Pelajaran kedua adalah, kematian itu bisa datang sewaktu2 tanpa pemberitahuan atau pertanyaan, mengenai apakah kita sudah siap atau belum. Karena itulah, sebagainmanusia yang cerdas, kita perlu senantiasa ingat jati diri kita siapa.

Siapa saya? Untuk apa saya hidup? Setelah hidup, ada apa lagi sesudahnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus ada di pikiran kita, dan menjadi bahan renungan kita, karena seriap hari ada saja diberitakan orang-orang yang mati.

Orang-orang yang tadinya ada di sekitar kita–kakek-nenek,orang tua, paman, bibi–peerahan-lahan mulai menghilang dari kehidupan. Dan pada gilirannya kelak kita pun akan mengalami seperti mereka yang telah tiada.

Apa yang kita dapat dari pelajaran orang yang mati?

Hendaklah kita menjadi orang yang cerdas, yang mempersiapkan kehidupan kita agar berakhir dengan kehidupan yang baik–husnul khotimah. Bagaimana itu dapat dicapai?

Tetaplah berfokus pada tujuan, tidak mudah terpesona dengan keindahan dunia. Dan cukuplah dunia diletakkan di tangan kita, tidak di hati kita.

Perbanyaklah berkawan dengan orang-orang shalih, yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah, mengajak kita berbuat baik, mencegah kita dari keterpurukan karena hendak melakukan hal-hal yang akan membuat kita makin binasa.

Apakah standar teman-teman yang shalih itu? Yaitu teman yang ketika kita melihatnya, kita ingat kepada Allah.

Teman seperti itulah yang akan mendorong kita mendapatkan akhir yang husnul khotimah…..akhir yang baik. Kelak di surga nanti, ketika kita bergaul dengan teman yang shalih– dan dia tak mendapatkan kita di surga, maka dialah yang akan memohon kepada Allah SWT agar mengajak kita masuk bersamanya ke surga.

Sarah Amalia

Orang Baik Banyak Teman, Penyeru Kebaikan Banyak Musuh

 

Untaian Hikmah nan Indah

ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟

Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?

الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang Baik, melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan Penyeru Kebaikan (Mushlih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain..

الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang Baik, dicintai manusia..
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..

🗯 لماذا !!!؟؟؟؟
Koq gitu…?!?!

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .

Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wasallam sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika Alloh ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..

🗯 ما السبب ؟
لأن المصلح يصطدم بصخرة
أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .

Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..

ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..

( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك )

Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..

قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين ،

Berkata ahli ilmu:
Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Alloh daripada ribuan orang baik…

لأن المصلح يحمي الله به أمة ،والصالح يكتفي بحماية نفسه .

Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Alloh jaga umat ini..
Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri…

فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

( وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ).

“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan..”

ولم يقل صالحون …

Alloh tidak berfirman;
“…Orang Baik (Sholih)”

كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.

Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN, jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK saja…

بارك الله لنا ولكم جميعا

 

MDC

Bangkrut di Akhirat

Akan datang pada hari kiamat, satu kaum yang membawa kebaikan sebesar Gunung Uhud, maka Alloh jadikan ia bulu-bulu beterbangan.” Para sahabat bertanya, “Apakah mereka itu Muslim, ya Rosululloh?” sebab sepaham mereka kekafiranlah yang menjadikan amal sia-sia. Jawab Nabi mengejutkan, “Mereka Muslim. Mereka sholat sebagaimana kalian sholat, mereka puasa sebagaimana kalian puasa, dan bahkan mereka menegakkan sholat malam. Akan tetapi, jika bersunyi bersama apa yang dilarang Alloh, mereka melanggarnya.” (HR. Ath-Thabrani dan dishahihkan Al-Albani)

Apa saja yang membuat pahala amal kebaikan terhapus lalu kita menjadi bangkrut di akhirat? Mu’adz ibn Jabal r.a. mengurai delapan hal untuk kita.

1. Sebab bangkrut akhirat pertama ialah ghibah; membicarakan fakta ketakbaikan seseorang saat tak hadirnya, yang dia tak suka jika disebut. Ghibah membuat bangkrut sebab kelak penggibah akan diambil pahala kebaikannya untuk membayar rasa sakitdan segala dampak gunjingannya. Andai pahala penggibah telah habis, sementara banyak korban gunjingan belum terbayar; dosa korban akan ditambahkan padanya.

Ada sebuah kisah tentang dua wanita ahli puasa yang nyaris sekarat oleh beratnya Ramadhan. Orang-orang mengajukan permohonan agar kedua perempuan tersebut diizinkan untuk membatalkan puasa. Nabi menolak, beliau justru memerintahkan keduanya untuk muntah di sebuah mangkuk. Isinya sisa cernaan busuk; cairan bercampur darah dan anyir nanah.

Nabi bersabda, “Lihatlah dua saudari kalian ini, mereka berpuasa, menahan diri dari apa yang dihalalkan, tapi membatalkannya dengan memakan bangkai saudara. Demi Alloh muntah yang keluar ini, kalah jauh menjijikannya disbanding apa yang mereka telan.” (HR. Abu Dawud)

2⃣Penyebab bangkrut kedua; sombong. Sebab kesombongan seberat biji zarah saja telah mengharamkan ahlinya dari hak masuk surga. Sombong; enggan taat, menolak kebenaran, dan meremehkan insan lain. Ia menyebabkan bangkrut seperti Iblis yang terlaknat abadi.

3⃣Penyebab bangkrut ketiga; riya’, mengarahkan niat amal shalih sekedar pada pandangan kagum, cerita masyhur, dan pujian manusia di dunia. Sungguh mengiriskan, hadis tentang tiga orang pertama yang dipanggil di hadapan Alloh kelak; seorang Qari’, Muhsin, dan Syahid.

Pada Qari’, ditunjukkan nikmat Alloh padanya hingga ia memahami Al-Qur’an dan Fikih dengan dahsyat lalu menjadi alim nan masyhur. “Betul ya Robbi, lalu aku berdakwah semata karena-Mu,” ujarnya. Alloh berfirman, “Dusta kamu! Kamu hanya ingin digelari ALIM!” Pada si kaya nan dermawan, Alloh tampakkan betapa banyak karunia-Nya. “Betul ya Robbi, lalu aku tunaikan hartaku di jalan-Mu!” Alloh berfirman, “Dusta kamu! Kamu hanya ingin digelari DERMAWAN!” Pada mujahid yang syahid ditampakkan nikmat-Nya. “Betul Robbi, aku berjihad meninggikan kalimat-Mu!” Kata Alloh, “Dusta! Dusta! Kamu hanya ingin digelari PAHLAWAN!”

“Semua puja-puji manusia yang kalian harap dalam hati telah dilunaskan di dunia. Kau alim, kau dermawan, dan kau pahlawan. Tak ada bagian dari balasan akhirat-Ku, untuk kalian, ambillah tempat kalian di neraka.” (HR.Bukhari)

Untuk kita catat, telah berkata Fudhail ibn Iyyadh, “Beramal karena ingin dilihat berarti syirik. Tak jadi beramal karena khawatir dilihat itu riya’.”

4⃣Sebab bangkrut keempat; ujub, rasa kagum pada diri sendiri atas kebaikan jiwa dan keshalihan amalnya. Sebab ujub adalah ketertipuan. Bahaya ujub; membuat merasa cukup berkebaikan, terbuta dari aib-aib diri, dan merasa tak berdosa (padahal rasa ini termasuk dosa berat). Sampai-sampai disebutkan para ahli hikmah: “Kalau sama-sama terbayang, maka dosa lebih baik daripada amal ibadah. Dosa yang melahirkan sesal lebih baik daripada ibadah yang melahirkan bangga. Lihatlah bahwa Adam berdosa, lalu bertaubat, kemudian diampuni. Sementara Iblis beribadah, lalu berbangga diri, kemudian dilaknati.”

5⃣Sebab bangkrut akhirat kelima adalah meniatkan ibadah hanya untuk dunia hingga tak tersisa pahala di akhirat. Sebagaimana dalam firman-Nya:

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka diantara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. Al-Baqarah: 200)

Dalam hadis tentang niat disebutkan: “Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya hanya sekadar pada apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) Bangkrut sebab niat duniawi ini sangat disayangkan. Al-Ghazali mencatat beberapa contoh: shalat agar bugar; puasa agar pencernaan sehat; sedekah agar mendapat lebih banyak; dan lain sebagainya.

Semua ibadah kepada Alloh memiliki fadhilah dan hikmah, tapi jangan sampai keduanya –apalagi yang duniawi- dijadikan niat. Ini juga yang jadi kekhawatiran Umar saat harta Persia dibawa ke Madinah. “Celakalah jika balasan kebaikan kita disegerakan!” Pelajaran dari kisah tiga orang yang terjebak dalam gua lalu berdoa dengan tawasul pada amal shalihnya (disarikan dari hadis Al-Bukhari dan Muslim) adalah bahwa mereka menggunakan amalnya untuk lepas dari masalah SETELAH ikhlas mereka ukirkan, bukan diniatkan dari awal. Dan mereka pun TERPAKSA melakukan sebab segala ikhtiar telah buntu; dan bukan dengan suka ria meniatkan untuk dunia.

6⃣Sebab bangkrut keenam adalah hasad (rasa dengki). Sebagaimana hadis; hasad memakan pahala amal kebaikan seperti api memakan kayu. Orang berpenyakit dengki kehilangan banyak kesempatan berkebaikan, sebab susah melihatorang senang; senang melihat orang susah. Siang dan malam, pendengki memikirkan orang hingga tak sempat membekali diri sendiri. Hasad adalah dosa yang paling menyiksa.

Bahkan andaipun ber-KEBAIKAN, pendengki selalu meniatkannya untuk membangun keunggulan saingannya; mengalahkan yang didengki. Dengki dan dendam itu, kata Ali ibn Husain, seperti menenggak racun ke mulut sendiri lalu berharap orang lain yang akan mati.

7⃣Sebab ketujuh bangkrut akhirat ialah qath’urrahim; memutus silaturahim dalam kekeluargaan, kekerabatan, persaudaraan, persahabatan. Dalam sebuah hadis disebutkan; “Memutus silaturahim termasuk dosa yang disegerakan azabnya di dunia, di samping bangkrut ahlinya kelak di akhirat. Memutus silaturahim dengan sikap diam, perkataan, dan perbuatan dibenci Nabi; dilarang duduk di majelis beliau.” (HR.Bukhari)

Sebab mengandung nama Alloh –Ar-Rahiim– memutuskannya merupakan kezaliman kepada manusia sekaligus kezaliman kepada Alloh. Dalam firman-Nya disebutkan: Dan bertakwalah pada Alloh yangdengan nama-Nya kamu saling meminta dan menyambung silaturahim. (QS. Al-Ma’idah: 1)

8⃣Sebab kedelapan bangkrut di akhirat adalah kezaliman. Sungguh ia merupakan kegelapan berat di hari pengadilan. Sebab tiap orang yang dizalimi, baik jiwa, harta, maupun kehormatannya berkah mengajukan tuntutan dan balasan kepada yang menzalimi. Semakin banyak yang dizalimi, semakin ruwet dan panjang urusan. Yang paling berpeluang hadapi banyak gugatan adalah pemimpin.

Suatu saat di Masjidil Haram berkatalah Khalifah Sulaiman ibn Abdul Malik, “Amboi alangkah banyaknya jamaah haji!” Maka menyahutlah Umar ibn Abdul Aziz, “Semuanya akan menjadi musuh yang menggugatmu di hadapan Alloh wahai Amirul Mukminin!”

Umar ibn Abdul Aziz juga pernah bermimpi melihat Al-Hajjaj ibn Yusuf dibunuh oleh Alloh sebanyak pembunuhan yang dilakukannya di dunia, yang jumlahnya hampir 200.000 orang. Inilah gelapnya kezaliman. Untuk menjadi pengingat; yang bercita menjadi Presiden Indonesia juga harus menyadari, ada 250juta orang yang siap menjadi pendakwanya kelak di akhirat.

Demikian delapan hal penyebab bangkrut di akhirat yang disebutkan Mu’adz ibn Jabal. Dalam lafaz Muslim disebutkan Mu’adz bertanya kepada Nabi. “Faman najaa yaa Rosululloh Maka siapa orangnya yang bisa selamat dari hal-hal itu ya Nabi?” Tanya Mu’adz. Jawab Nabi, “Akhlis lidiinika, fayakfiika‘amalul qalil. Bermurnilah pada agamamu, maka cukup bagimu amal yang sedikit.”

Ditulis ulang dari buku Menyimak Kicau, Merajut Makna, Salim A. Fillah

Oleh:
http://rqstis.blogspot

Kabar Sendu Berkepanjangan itu Kini Melanda Ghouta, Suriah

Malam ini begitu sendu. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh kabar terbaru saudara muslim kita di Ghouta, Suriah. Tersayat hati ini, mendapati mimpi buruk yang dulu menimpa Allepo kini terjadi pada Ghouta.

Tak habis pikir, mengapa bisa ada pribadi sejahat Bashar Al Assad. Pemimpin yang lebih mementingkan kekuasaannya di banding keselamatan rakyatnya. Padahal warga sipil yang terluka dan terbunuh akibat penyerangan brutal ini, adalah rakyat yang akan meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin di akhirat kelak.

Belum menyadari betapa mengerikannya rezim suriah ini? Bukalah mata dan hati nurani kalian. Penyerangan militer Suriah yang telah banyak menewaskan masyarakat sipil ini, telah terjadi sejak tahun 2011. Tanpa kita sadari, kejahatan kemanusiaan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yang lamanya menyamai lebih dari satu periode kepresidenan di Indonesia.

Awal mula penyerangan oleh rezim Assad,

Semua penyerangan ini diklaim sebagai usaha rezim Assad untuk melumpuhkan kelompok oposisi yang masih menguasai beberapa kota di Suriah. Ghouta Timur merupakan enklave terakhir dekat ibu kota yang masih dikuasai pejuang oposisi. Maka dari itu penyerangan ke Ghouta dianggap rencana penting untuk menghentikan penembakan ke ibu kota Damaskus oleh kelompok pejuang oposisi.

Warga sipil tak bisa keluar dari wilayah konflik,

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat 272.500 orang di Ghouta membutuhkan bantuan kemanusiaan, meski diperkirakan masih ada 400 ribu orang masih terperangkap di wilayah tersebut.

Mereka yang masih berada di Ghouta bukannya tak mau pergi dari wilayah konflik ini. Masyarakat sipil di sana sangat ingin pergi, namun hampir mustahil untuk melakukannya. Pemerintah Suriah belakangan telah menyebarkan selebaran yang menyerukan agar warga sipil segera meninggalkan Ghouta Timur. Tapi pada kenyataannya, rezim Assad melarang mereka untuk meninggalkan wilayah itu, walaupun untuk alasan evakuasi korban luka berat.

Gencarnya penyerangan ke Ghouta,

Sepekan terakhir ini,merupakan yang paling intens yang dilancarkan militer Suriah ke wilayah Ghouta. Tercatat 600 orang terbunuh selama satu pekan terakhir dalam penyerangan tersebut. Akibat suasana yang makin mencekam ini, ratusan orang dikabarkan melarikan diri dari pengeboman di Beit Sawa, di selatan Douma dan ujung timur Ghouta Timur.

PBB tak mampu berbuat banyak,
Lucunya, selama ini pihak berwenang yakni PBB tak bisa berkutik menghadapi kekejian rezim Assad. Perizinan menjadi hal yang dipersulit oleh Militer Suriah bahkan termasuk ijin untuk memasok bantuan kemanusiaan. Meskipun bantuan berjumlah 40 truk sudah di siapkan untuk Ghouta Timur, intensnya penyerangan oleh Militer Suriah tidak memungkinkan bantuan dari PBB memasuki wilayah tersebut.

Sampai kapankah keegoisan Assad ini akan berlangsung? Haruskah menunggu habisnya warga sipil di Ghouta?

Ya Allah kami hanya bisa berdoa sekuat tenaga dan menyiapkan infaq terbaik untuk mereka di sana.

Ya Aziz, Ya Malik, Ya ‘Adzhim.. Perkenankanlah keselamatan untuk saudara kami di Ghouta. Sesungguhnya tiada daya upaya kecuali dari Engkau Ya Rabbana.

Fatimah