Cinta yang Mendewasa

“Pas awal-awal nikah sering nangis mbak. Gak nyangka rupanya kayak gini rasanya pernikahan.” Ujar kakak sepupuku. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Dari curhatan orang-orang kepadaku, setiap wanita biasanya shock di awal pernikahan. Hanya beberapa hari saja bak surga. Setelahnya, kalau tak kuat mental dan iman, rumah tangga bisa jadi neraka menyala2. Kenapa bisa?

Begitulah memang pada kenyataannya.

Kenyataannya, cinta itu bukan sesuatu yang selalu indah, selalu berbunga2. Karena bagai taman, saat musim semi ia memang berbunga. Namun ada kalanya musim gugur, daun2 berjatuhan. Apalagi di musim panas, kering dan gersang.

Kenyataannya, cinta itu tidak stagnan, ia amatlah labil. Selabil hati yang selalu berfluktuasi. Maka hari ini kita bisa tersenyum bersama kekasih namun esok bisa jadi kita saling tak enak hati. Membisu dalam sekam.

Memang begitulah fitrah cinta. Maka cinta harus disikapi dengan kedewasaan dan kelapangan. Kedua kekasih harus saling memperbaiki diri. Bergantian mengalah dan mengemukakan pendapat. Ada saatnya diam dan ada saatnya bicara. Ada saatnya meneteskan air mata sendiri ataupun berdua.

Ketika cinta dua kekasih mendewasa, maka hubungan dua kekasih akan gapai bahagia. Apalagi saat kedua kekasih rajin curhat pada-Nya, menggantungkan cinta pada Sang Maha Pencipta cinta itu sendiri, maka berkah akan menaungi keduanya hingga ke surga. Ah, begitulah cara cinta bekerja.

Namun cinta yang mendewasa hanya ada dalam pernikahan. Pernikahan akan menyediakan segala perniknya untuk mendewasakan cinta. Maka jangan heran akan kita temui rasa kesal, marah dan benci seperti rasa sayang kita pada sang kekasih. Namun itu tak lantas membuat kita berpisah darinya karena ada banyak kenangan berharga juga bersamanya. Tak hanya kenangan bahagia, namun juga kenangan duka. Begitulah cinta yang mendewasa, cinta dalam pernikahan, cinta yang paling pantas menghantarkan kita ke surga. Karena dalam pernikahan sudah kita lalui berbagai uji dan coba hingga 1/2 agama kita ada bersamanya. Ah cinta…

Aku ingat sekali kata2 bijaksana dr.Zakir Naik saat ditanya tentang cinta, “Cintailah orang yang kau nikahi, bukan menikahi orang yang kau cintai.”

Ah, sungguh cinta yang mendewasa…

Eka Diyah Ardiyati

Ayahku Hebat…

|| Kontributor: Mekel Roseta ||

Barangkali setiap laki-laki di dunia ini selalu mendambakan dirinya menjadi seorang ayah yang hebat.

Menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Misalnya saja, saat anaknya takut gelap, lampu padam, ayah hadir untuk menenangkan hatinya. Saat ia takut untuk keluar rumah, bersama ayah semua rasanya aman tentram.

Ayah saya mungkin tidak hebat seperti super hero. Kalau ayah hebat adalah ayah yang tidak pernah membentak anaknya, maka ayah saya bukan seperti itu.

Ayah saya termasuk ayah yang galak. Suara yang keras sudah menjadi santapan setiap hari. Kadang hal-hal sepele dihadiahi oleh gertakan. Misalnya saja karena salah meletakkan handuk, tidak rapi, langsung saja gertakan muncul.

EIts, tapi tak cuma bentakan, tapi juga pukulan. Ya, sewaktu kecil ayah langganan banget memukul saya. Tiap kali ia emosi, tangannya selalu lincah menyasar pantat saya.

Tapi saya juga tahu bahwa ayah adalah orang yang sayang pada anak-anaknya. Dan rela melakukan hal apa saja untuk anaknya, bahkan kadang hal yang tidak rasional sekalipun. Dan itu pernah dilakukan ayah.

Dulu saat saya masih SD, saya sempat terjatuh karena bermain bola. Tidak ada cedera serius sebenarnya, hanya saja saat saya berjalan apabila dilihat dari belakang maka akan terlihat sedikit pincang.

Awalnya tidak ada yang tahu, dan saya pun tidak merasa kesakitan. Biasa saja. Hingga suatu hari saat saya berjalan ke kamar mandi, ayah melihat saya berjalan dengan agak pincang.

“Loh, sikilmu ngopo?” tanyanya.

“Rapopo kie, Pak,” jawab saya.

“Kok mlakune pincang ngono. Waduh, ndelok kene..”

Di lihatnya kaki saya. Ia usap-usap, diperhatikannya seperti dokter ahli. Setelah tak diketahui ada yang aneh, ia membiarkan saya masuk ke kamar mandi.

Ternyata ayah menganggap serius soal “cedera” saya itu.

Selang beberapa hari kemudian ia mengajak saya ke dokter untuk di rontgen apabila ada yang retak. Hasilnya? Nihil. Ya, karena memang kaki saya tidak retak. Dokter pun mengatakan tak ada yang salah, dan ia juga tak bisa menjawab kenapa jalan saya agak pincang.

Ayah saya tak menyerah. Dibawanya saya ke tukang pijat. Ke ahli akupuntur. Ke banyak macam pengobatan tradisional. Namun hasilnya tetap sama saja.

Melihat hasil yang tidak memuaskan itu, saya ingat ayah menangis malam-malam. Ia sesenggukan sambil mengelus-elus kaki kanan saya. Membuat saya terbangun namun saya tak ingin menganggunya. Saya teruskan pura-pura tidur hingga benar-benar tertidur.

Usaha terakhir ayah untuk menyembuhkan saya adalah usaha yang tidak rasional. Malam-malam saya diajaknya ke lapangan. Disuruhnya saya menunjukkan lokasi jatuh. Lalu ia keluarkan kembang mawar tujuh rupa dan menyan.

Ia nyalakan api dan membakar menyan sambil komat kamit.

Mungkin ia minta agar jin penunggu lapangan tidak mengganggu. Tidak membuat saya sakit. Mungkin dikiranya saya kualat. Dalam kultur masyarakat Jawa hal-hal semacam ini wajar dilakukan. Ayah saya memang tidak berpendidikan tinggi, pun tidak berilmu agama yang mumpuni, maka ia meyakini bahwa yang ia lakukan itu sah-sah saja. Semata demi kesembuhan anaknya.

Kini setelah puluhan tahun kemudian, saya baru sadar bahwa kaki saya sebenarnya normal-normal saja. “Pincangnya” saya disebabkan karena perbedaan beberapa senti panjang kaki. Dan itu masih wajar, yah seperti beda tinggi antara jari manis dan telunjuk. Saya masih bisa main bola. Bahkan saya membayangkan jadi seperti Hiro Ito yang kakinya juga panjang dikit sebelah.

Itulah salah satu tanda betapa besarnya kasih sayang ayah.

Tentu setiap ayah punya cerita masing-masing. Yang menjadi tanda betapa seberapa pun kurangnya kita menjadi ayah yang hebat -menurut pengertian umum dan para ahli- tapi tetap ada satu dua kisah yang menunjukkan bahwa kita adalah ayah hebat.

Kalau kita belum bisa menjadi ayah seperti yang diajarkan dalam buku-buku parenting, janganlah putus asa. Janganlah rendah diri.

Terus belajar saja.

Sembari menyaksikan betapa ajaib dan cepatnya anak-anak kita tumbuh dewasa.

“Cinta seorang Ayah kadang memang tak terlihat, tapi kita dapat merasakannya…”

Urusan Jodoh, Mintalah Selalu Do’a Mereka

|| Kotributor: Khansa Sayyidatina ||

Doa orangtua ibarat tak ada yang membatasi… insya Allah, akan sampai kepada sang Pengabul doa, Allah swt sebagaimana hadits di bawah ini.

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani.

Oleh karena hal tersebut, sebagai orangtua juga tak boleh sembarangan mengucapkan doa untuk anak-anaknya.

Saya belajar itu semua dari Ibu. Ibu yang telah menghidupi tiga anaknya setelah hampir 13 tahun lalu ditinggal Bapak. Ibu sering mengingatkan saya untuk berdoa baik-baik bagi suami dan anak saya. Terkadang, tanpa sadar di tengah emosi yang tak tertahan dengan mudah kita mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Kemudian, ibu mengingatkan dengan lemah lembut, tak baik mengucapkan sesuatu buruk saat emosi, terutama untuk anak dan suami, beristighfarlah….

Dalam hal jodoh, selain kita juga berusaha dan berdoa janganlah pernah lupa meminta restu dan doa dari orangtua. Sebenarnya, tanpa diminta, orangtua pasti akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Akan tetapi, tak ada salahnya kita pun melibatkan orangtua dalam pencarian jodoh ini. Ungkapkan keinginan kita, kriteria seperti apa, dan visi misi ke depannya. Bertukar pikiran dengan orangtua soal jodoh akan menjadi diskusi menarik. Mungkin akan ada perbedaan pendapat, tapi justru saat itulah kita ungkapkan apa yang ingin kita lakukan.

Soal taaruf, perkenalan menuju pernikahan dan lain-lain mungkin merupakan hal yang awam bagi sebagian orangtua kita yang memahami pernikahan diawali dengan pacaran ataupun intensitas pertemuan yang cukup sering.

Oleh karena itu, pelan-pelan kita menjelaskan aturan yang ada dalam Islam dalam proses menuju jenjang pernikahan, selain tentunya kita juga memohon doa agar orangtua kita bisa memahami dengan baik.

Insya Allah, hati dan pikiran orangtua kita pun akan terbuka dan turut membantu mencarikan jodoh yang kita inginkan. Kalaupun belum bisa, insya Allah, ia senantiasa mendoakan kita.

Segala sesuatunya berproses hingga ketika tiba saatnya nanti kita mengajukan seseorang yang baru kita kenal dari sebuah biodata, orangtua kita tak lagi kaget.

Hal itulah yang saya lakukan selama penantian tujuh tahun berikhtiar. Bolak-balik biodata, sosok laki-laki datang langsung berkenalan untuk menuju pernikahan. Beberapa kali juga Ibu saya memberi pendapat.

Ibu juga tak pernah lelah menghibur ketika saya dirundung kekecewaan. Saya sadari ia begitu tulus dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia pun selalu saya jelaskan panjang lebar tentang sebuah proses menuju pernikahan walau itu tak umum di keluarga kecil maupun keluarga besar kami. Karena dengan segala jalan yang ditempuh, dari lubuk hati, saya sangat menginginkan proses pernikahan yang syari.

Hingga suatu hari, saya sodorkan sebuah foto, sosok laki-laki yang kemudian hadir ke rumah untuk taaruf dan khitbah. Laki-laki yang dengan serius ingin menikahi saya. Laki-laki yang langsung mendapatkan restu dari Ibu saya. Laki-laki yang secara paras lumayan menarik.

Terdengar sedikit obrolan ibu dan abang saya ketika sosok itu pamit, “Ibu doain apa jodohnya Khansa?”

“Laki-laki yang baik agamanya, bertanggung jawab plus ganteng”

Saya tertawa mendengarnya. Kriteria ganteng tak pernah saya masukkan dalam biodata saya, delalahnya ibu dengan polos meminta kepada-Nya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya.

Alhamdulillah, laki-laki itu telah menjadi suami saya setelah proses yang sedemikian lancar dan mudah. Dengan dukungan kedua belah pihak, persiapan kurang dari sebulan telah mempertemukan kami di pelaminan hingga saat ini menuju tahun ke-5 pernikahan kami. Moga kelak kami bisa menjadi partner dunia-akhirat bersama anak-anak kami, berguna bagi umat dan bangsa.

Dia insya Allah banyak membimbing saya dalam ilmu agama, menyayangi kami, bertanggung jawab dan Bonus ganteng, hehe

So, jangan pernah ragukan doa orangtuamu.

Mintalah dengan tulus… doanya tak dibatasi tabir karena ridha-Nya pun bergantung juga dengan ridha orangtua.

Salam,

Forgiven Not Forgotten: Tak Cukup Berucap ‘Saya Minta Maaf’

Kemarin pagi saya sedang menemani anak saya, Hibban, yang hari itu bangun kesiangan dan segan untuk berangkat ke TK-nya. Kami menonton televisi di ruang tengah, dengan saluran favoritnya yaitu Disney Junior. Saat itu sedang diputar kartun Daniel Tiger’s Neighborhood. Diceritakan, Daniel dan Pangeran Rabu sedang bermain membuat kue pie dari pasir basah. Oleh karena ingin membuat kue pie yang indah, mereka menggunakan mahkota milik Pangeran Selasa yang saat itu sedang tergeletak. Ide ini ternyata fatal, karena mahkota tersebut menjadi sangat kotor. Saat Pangeran Selasa datang, dia tampak tak suka. Ada dialog yang sangat menarik setelah itu, yang kurang lebih begini:

Daniel, “Kami minta maaf atas kecerobohan kami.”
Pangeran Rabu (PR), “Iya, saya juga minta maaf.”
Pangeran Selasa (PS), “Oke saya maafkan.”
PR, “Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita main bersama membuat pie?”
PS, “Tidak, aku tidak mau.”
Daniel, “Kenapa?”
PS, “Aku masih marah”
PR, “Karena mahkotamu sekarang kotor? Kalau begitu, apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

Adegan selanjutnya adalah mereka bernyanyi lagu sederhana, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”
PS, “Emm,..bagaimana kalau kalian bersihkan mahkotaku?”
Daniel dan PR segera membersihkan mahkota tersebut, dan setelah itu baru mereka bermain bersama.

Pesan sederhana di film kartun itu sangat menggelitik dan menyindir saya sendiri. Karena, kadang kita yang sudah dewasa pun lupa untuk melakukan sesuatu bagi orang yang sudah kita cederai setelah kita minta maaf. Seolah dengan sudah dimaafkan, berarti beres sudah. Tak melihat lagi bahwa dia yang sudah memaafkan pun sedang bersusah payah mengikhlaskan hatinya, dan dia perlu dibantu untuk itu. Terlebih karena jelas-jelas kitalah yang telah membuat luka hatinya. Ternyata, setelah minta maaf tak berarti beres, tetapi perlu dilanjutkan dengan, “Apa yang dapat kulakukan untukmu?”

Sehingga, jangan sampai meskipun seseorang sudah memaafkan, tapi sebetulnya masih ada ganjalan dan sulit melupakan. Sampai fenomena ini menjadi lagu yang diciptakan oleh salah satu grup musik ternama, the corrs, dengan lagunya forgiven not forgotten. Tentu kita tidak ingin begitu. Baik sebagai orang yang melakukan kesalahan, maupun sebagai orang yang dicederai.

Saya teringat pada salah satu episose sejarah, tentang luka hati yang dirasakan Rasulullah saat perang Uhud, dimana salah satu paman kesayangannya yang begitu gigih membela beliau sebelumnya, Hamzah, syahid terbunuh. Hamzah dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang dijanjikan akan merdeka oleh tuannya, jika mampu membunuh Hamzah. Perjalanan takdir lalu membawa Wahsyi ke dalam pelukan Islam. Sebagai seorang muslim, tentu dia rindu sekali ingin bertemu Rasulullah. Namun, syahidnya pamanda Hamzah bagi Rasul telah menoreh luka sangat dalam, apalagi dengan dilihatnya Wahsyi, si pembunuh. Sehingga saat Wahsyi ingin mendekati beliau, Rasul berkata, “‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajah dan dirimu dari penglihatanku?”

Bukan berarti Rasul tak memaafkan Wahsyi. Tapi luka itu begitu dalam. Wahsyi mengingatkannya tentang Hamzah yang terbunuh, dan jasadnya yang dirusak serta diambil jantungnya oleh Hindun. Hingga secara spontan usai perang Uhud Rasul pernah berucap akan membalas dengan cara yang sama terhadap 30 orang kafir Quraisy  Tetapi lalu Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut. Sungguh luka itu begtu dalam, hingga melihat Wahsyi sekilas pun bertahun kemudian, luka itu menguak kembali, perih.

Di sisi lain, andai kita menjadi seorang Wahsyi, alangkah sedihnya. Keislamannya tak mampu membuatnya untuk bisa berdekat-dekat dengan Rasul yang dicintainya. Ia tentu sangat sedih, tapi ia juga memahami luka yang dirasakan Rasul. Ia hanya mampu memandang Rasul dari kejauhan, sama sekali tak berani mendekat, hingga Rasul wafat. Hingga pada saat kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar, muncullah beberapa nabi palsu, antara lain Musailamah. Wahsyi termasuk diantara salah satu sahabat yang dikirim Abu bakar untuk menumpas Musailamah dan gerombolannya. Dia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menebus kesalahannya yang sangat fatal di masa lalu: membunuh Hamzah. Dengan tombak yang sama untuk membunuh Hamzah dulu, dia gunakan tombak itu untuk membunuh Musailamah. Paling tidak, apa yang telah dilakukannya itu mampu membebaskan rasa tersiksanya sendiri, oleh kesalahannya yang begitu fatal sehingga tak bisa berdekat-dekat dengan Rasulullah.

Dari Wahsyi, kita juga belajar, bahwa seseorang tak cukup untuk hanya mengatakan minta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi perlu melakukan sesuatu. Meski Wahsyi menemukan momen itu agak terlambat, justru setelah Rasul wafat. Tapi, tentu semua kisah ini mengandung hikmah. Paling tidak, supaya kita juga berhati-hati, jangan sampai membuat orang lain terpaksa memaafkan, padahal di hatinya masih ada luka yang dalam. Lebih jauh lagi, tentu sebisa mungkin tidak menciderai hati orang lain, meski pun ini sangat sulit.

Jadi, marilah kita camkan bersama, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”

PS:
Ohya, tambahan info. Film kartun Daniel ini diputar tiap hari di saluran Disney Junior tiap jam 07.30. Tapi bagi yang tidak memiliki TV kabel, jangan berkecil hati, kita bisa melihat  nilai-nilai (values) yang bisa diambil dari tiap episode disini, namun sayang sementara ini untuk video streamingnya baru bisa diputar closed user di amrik. Sedang nilai-nilai khusus dari episode saying im sorry bisa dilihat disini.

Muktia Farida

7 Januari 2015

Pacaran Lewat Surat Nikah

“Jujur saat ku pertama melihatmu, aku tertarik, terpesona, tertegun

Kulihat pandangan pertama, betapa indah dirimu dan cantik rupamu

Semua perasaan di hati ini terjadi karena begitu indahnya kau di mataku” (Anonim)

Pernah tidak kita menulis serangkaian kata seperti di atas? Pasti ada yang menjawab pernah, dan ada tidak pernah. Namun, tulisan semacam tersebut tak jarang kita temukan dalam proses surat-menyurat antara remaja saat ini. Kata-kata itu telah menjadi sebuah candu yang tengah membuat para remaja teroverdosis. Alhasil, banyak sekali para pelaku penulisan surat merah jambu itu tertikung dalam utopia cinta.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, esensinya telah tumbuh dalam hati tentang apa yang namanya cinta. Hanya saja, yang mesti diluruskan adalah masalah ruang pengeskpresian. Sejatinya, cinta tumbuh dan berkembang sebagai salah satu sajian Tuhan kepada manusia, agar manusia tidak egois memikirkan dirinya sendiri. Namun, cinta diciptakan sebagai bentuk kepedulian seseorang terhadap siapapun.

Sehingga yang perlu dimengerti oleh kita adalah cinta tidak boleh menjadi opium dalam kehidupan. Banyak remaja yang bunuh diri karena cinta. Ada pula yang depresi karena cinta. Bunyi-bunyi cinta terlalu keras dimaknai oleh mereka, sehingga cinta merenggut kepolosan para remaja.

Sedihnya, ada orang tua yang merelakan anaknya terbuai dengan cinta semalam, para pendidik yang hanya memperhatikan gaya belajar tanpa memperhatikan gaya hidup anak didiknya, para pemimpin yang sanggup melihat generasi remajanya terjun bebas dalam pesta cinta, sehingga apalah daya tangan tak sampai, bangsa ini dalam pusaran fitnah.

Sesungguhnya agama telah hadir untuk menjadi solusi dari sebuah maha dahsyatnya petaka cinta ini. Agama telah memberikan jalan kehalalan dalam meniti jalan cinta. Bahkan agama telah menjadikan penitian semaian cinta itu termasuk dalam ibadah. Untuk itu, siapapun dalam melakukannya sesuai dengan anjuran agama, maka bukan saja faedah cinta yang mereka dapatkan, juga didapatkan pula respon kebaikan dari Tuhan. Sebab, agama dan cinta ada untuk menjaga keharmonisan ciptaan Tuhan.

Ada sebuah artikel yang diterbitkan tribunsalam.blogspot.co.id, sedikit menciutkan para pembaca jika tidak merasainya dengan bijak, sebut saja judulnya: “nikahilah aku dahulu, urusan rumah dan harta kita cari bersama”. Tentunya kalimat ini bagi sebagian orang mengandung provokatif, melodrama, ataupun sejenisnya. Namun, itulah stigma tentang cinta sejati. Bahwa cinta adalah pewarisan yang bersifat suci dari Tuhan. Tuhan akan menjaga bahtera maupun segala isinya: “…Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur:32)” Sekali lagi ini bukan soal isi surat yang meyakinkan. Namun, bagaimana surat tersebut terdaftar sebagai surat yang sah dan dapat dipertahankan keasliannya di mata masyarakat, hukum dan Tuhan tentunya. Maka istikharahlah dalam menemukan cinta sejatimu, semoga berkah hidupmu:

Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman di malam sunyi penuh do’a

Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata

Dipenantian luapan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

(Istikharah Cinta_ Sigma)

Dilema Istri dan Dilema Ibu

|| Kontributor: Inara Khimar ||

Sudah menjadi kewajiban seorang wanita ketika menikah ia harus taat pada suami. Di mana pun suami tinggal istri pun turut serta disamping suami. Kesetian akan teruji saat ketika suami istri tidak tinggal dalam satu atap. Apalagi bagi para istri anggota kepolisian yang sering dipindah tugaskan ke seluruh penjuru daerah di Indonesia.

Mungkin jika posisi saat ini belum memiliki buah hati diajak pindah kemanapun nurut, lalu bagaimana ketika sang buah hati itu hadir?

Disinilah dilema seorang wanita yang menjadi istri dan ibu. Mungkin saat usia anak masih 0-3 tahun masih bisa diajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain di mana suami dipindah tugaskan. Namun bagaimana jika anak ini sudah berada diusia sekolah?

Pada usia sekolah ini, anak mulai belajar bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Saat usia ini pula tempat tinggal tetap sangat dibutuhkan anak. Sebab bila anak-anak usia sekolah mulai di ajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain pasti akan menggangu pertumbuhan anak. Bukan pertumbuhan kecil menjadi besar melainkan lebih pada psikis anak. Apa yang akan terjadi jika dalam rentan waktu enam bulan sekali seorang anak diajak berpindah tempat? Interaksi sosial anak akan berkurang, anak akan cenderung  menjadi anak yang introvet atau tertutup. Kenapa?  Karena jika seorang anak dalam kurun waktu yang pendek diajak untuk berpindah tempat maka yang terjadi adalah anak akan belajar beradaptasi lagi dengan lingkungan baru, teman baru, suasana baru, lalu ketika anak sudah mulai nyaman dengan lingkungan dia harus kembali mengikuti kedua orang tuanya berpindah tempat tinggal dan di sinilah anak akan beradaptasi kembali dengan suasana baru, lingkungan baru, serta teman baru lagi.

Dan di sini lah dilema seorang wanita yang bersuami dan beranak muncul, praduga negatif pun turut serta berlarian di pikiran. Satu sisi ingin menjalankan tugas sebagai istri yang setia mendampingi suami satu sisi lagi ingin menjadi seorang ibu yang meberikan perhatian penuh untuk sang anak.

“Aise”

Depok, 6:23/100916

Kado Nikah Pengemban Dakwah

@pkshol

“Hangat di Rumah, Bersemangat di Medan Dakwah”

Menikah adalah menghimpun berkah, berkebun cinta di taman surga. Dan Allah yang telah mempertemukan kita di sini, di jalan dakwah ini, untuk membasuh lelah dengan mahabbah menjadi lillah.

Wahai isteriku kau penuh pesona
Gigimu putih pipimu memerah
Setiap hari kau semakin prima
Kau bidadari penghuni surga

Seperti lagu kebunku, begitu pula menikah, berkebun cinta di taman surga. “Isterimu adalah sawah ladang bagimu, maka datangilah sesukamu.” Begitulah cara santun Allah yang maha indah menyanjung kehidupan pernikahan. Untuk menghasilkan buah-buah hati qurrata a’yun yang ranum maka saatnya kita menghadirkan kehangatan di rumah dengan pasangan cinta kita dan bersemangat di medan dakwah dengan iringan kalimat dan do’a.

Kita membangun rumah asmara (as-sakinah mawaddah wa rahmah) dengan fondasi taqwa, berlantai iman, bertiangkan shalat, berdinding mahabbah, berjendela ma’rifah, berventilasi ukhuwah, berpintu mujahadah, berbilik tarbiyah, beratapkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan berdipan kesabaran, berkasur syukur, berlemari sedekah, bermeja qona’ah, berkursi ketaatan, bersofa tawadhu’ sehingga keluarga merasakan warna warni Islam dalam setiap sudut.
Kado nikah nikah hadir untuk melezati rasa baru dalam hidupmu. Ada sumur untuk menimba sikap dan sifat jujur. Ada keran untuk mengalirkan rasa simpati dan ringan berbagi. Ada dinding untuk menghijabi aib dan menyimpan masalah penting dan menyandarkan diri saat genting. Ada pilar untuk belajar sabar, sadar dan berlatih tegar. Ada  ruang yang luas untuk menerapkan ketulusan yang riang. Bilik untuk mendidik perilaku menarik. Teras untuk menikmati rasa ikhlas yang kadang tak berbalas.

Dengan menu baru, juice mangga tanda cinta, kita nikmati kehangatan pernikahan suami yang dirindu dan isteri yang mesra menjadi pasangan romantis. Ber-217-an. Kehangatan yang menggerakkan, kenikmatan yang halal, kenangan yang membuncahkan kesetiaan menjadi  penggugah yang lemah, penyemangat yang lambat, pengingat yang tersesat, penunjuk yang terpuruk, penjelas  yang was-was, penegas yang malas, penggerak yang terserak, dan penawar lelah bagi para pengemban dakwah.
Kemudian dari ranjang para pejuang kita melahirkan spirit melejit di medan perang untuk menyambut seruan keimanan merengkuh keberkahan yang melipatgandakan pahala dengan aktifitas ibadah berjamaah. Tarbiyah sebagai afiliasi. Dakwah sebagai partisipasi. Harokah sebagai kontribusi.

Saudaraku, kita ini dipertemukan oleh Allah, dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Di dalamnya kita mengubah lelah menjadi lillah. Bersama kita melangkah billah.

“Apakah pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah.

Saya cinta kamu dan kamu pun cinta saya, tapi kita pun cinta Allah?”

Kapankah Waktunya Memilih Jodoh?

Cahyadi Takariawan

Ada pertanyaan yang diajukan beberapa orang mahasiswa semester akhir, saat mereka berkunjung ke Jogja Family Center beberapa waktu lalu.

“Kapan sebaiknya seorang pemuda lajang mulai memilih calon pendamping hidupnya?”

Ini pertanyaan yang sangat bagus. Saya merasa perlu menjawab dengan cermat dan detail, agar bisa memberikan gambaran yang utuh tentang proses pemilihan calon jodoh. Mahasiswa ini masih proses menyelesaikan kuliah, dan berencana menikah setelah wisuda. Maka ada hal yang menggelitik hatinya, apakah menikah dimulai dari mencari calon? Dan kapan proses mencari calon itu bisa dimulai?

Mencari jodoh adalah aktivitas yang terkait erat dan langsung dengan proses pernikahan. Oleh karena itu, aktivitas ini semestinya dilakukan pada saat :

1. Anda yakin sudah memiliki kesiapan yang memadai untuk menikah

Mencari dan memilih jodoh itu adalah bagian proses menuju pernikahan, maka harus diawali dengan penyiapan diri terlebih dahulu. Sangat banyak bekal yang harus disiapkan dengan matang, agar dalam menghadapi realitas kehidupan berumah tangga tidak terjadi kekagetan dan keterkejutan. Menyiapkan diri hingga benar-benar merasakan kesiapan yang memadai untuk menikah, setelah itu baru berproses mencari dan memilih calon pendmping hidup.

Jangan dibalik prosesnya. Mencari-cari dulu, setelah dapat baru menyiapkan diri. Pada dasarnya, proses menyiapkan diri itu memerlukan waktu yang lebih panjang. Sedangkan mencari dan memilih jodoh, bukanlah aktivitas yang rumit dan berbelit-belit. Maka siapkan diri sebaik-baiknya, secara mental, spiritual, konsepsional, material serta amal. Tentu tidak harus siap hingga seratus persen, namun jangan sampai tidak memiliki kesiapan sama sekali.

2. Anda sudah memiiki rencana untuk menikah

Menikah memerlukan perencanaan. Maka anda harus menghitung dengan cermat kapankah anda akan melaksanakan pernikahan. Jika anda belum meiliki gambaran dan perencanaan sama sekali untuk menikah, sesungguhnya belum layak untuk berproses mencari dan memilih calon pendamping hidup. Yang anda perlukan adalah membuat planning kehidupan, kapan anda akan melaksanakan pernikahan. Jawab duu pertanyaan ini : kapan anda akan menikah? Tahun berapa, bulan apa? Itulah perencanaan.

Jika anda melakukan aktivitas mencari calon pasangan tanpa didahului oleh perencanaan pernkahan, jadinya hanya memenuhi hasrat syahwat dan kesenangan sesaat. Anda melakukan interaksi yang tidak bertanggung jawab. Untuk apa berinteraksi secara intens dengan pasangan jenis, jika ternyata tidak ada rencana menikah sama sekali. Untuk apa menjalin pertemanan yang bercorak khusus dengan seseorang yang sangat spesial bagi anda, jika ternyata tidak ada dalam konteks perencanaan menikah. Artinya hubungan itu hanya untuk melampiaskan syahwat semata-mata, ini yang banyak menjermuskan manusia ke dalam kubangan dosa.

3. Dalam rentang waktu yang pantas

Setelah anda memiliki perencanaan, bukan berarti langsung mencari calon. Lihat dulu jadwal yang anda rencanakan itu. Jika sekarang tahun 2016, ternyata rencana pernikahan anda ada di tahun 2026, maka itu rentang waktu yang terlalu panjang jika anda mulai mencari calon dari sekarang. Apa yang akan anda lakukan sepanjang 10 tahun menunggu waktu menikah? Tentu hanya memperbanyak peluang maksiat. Anda tidak akan bisa menjaga kesucian diri, anda tidak akan mampu membentengi kehormatan, jika rentang waktunya terlalu panjang.

Satu tahun menjelang tiba waktu yang anda recanakan untuk menikah, barulah pantas untuk memulai langkah untuk mencari calon. Dalam banyak peristiwa, ternyata proses mencari calon hingga sampai akad nikah hanya memerlukan waktu dalam hitungan hari, pekan atau bukan. Tidak sampai menghabiskan waktu satu tahun. Jangan berlama-lama dalam proses pengenalan atau pencarian calon, karena tindakan berlama-lama ini hanya akan membuka peluang perbuatan pelanggaran. Melanggar aturan agama, melanggar adat dan menjatuhkan martabat kemanusiaan.

4. Tidak dalam kondisi mabuk cinta

Sudah sering saya sampaikan, bahwa suasana jatuh cinta atau mabuk cinta itu membutakan mata dan hati. Orang yang tengah jatuh cinta sudah tidak bisa diberi nasihat lagi. Ini berbahaya, karena mengambil keputusan yang sangat penting dan berdampak panjang namun kurang pertimbangan. Suasana orang yang dimabuk cinta itu tidak lagi merdeka. Jiwanya, hatinya, pikirannya, dunianya, sudah tersandera oleh orang yang dicintainya.

Jatuh cinta itu memabukkan, dan menghilangkan kecerdasan. Pada titik seperti itu, apapun nasihat yang diberikan orang lain sudah tidak mempan dan tidak bisa didengar lagi. Seorang wanita yang tengah tergila-gila dengan lelaki idamannya, ketika dinasihati oleh seorang teman dekat tentang kelakuan negatif si lelaki tersebut, cenderung dibantah dan dinegasikan.

“Hati-hati loh… Cowokmu itu PHP, penebar harapan palsu. Sudah banyak cewek tertipu oleh janji manisnya”, demikian isi nasihat itu.

“Kamu tidak tahu apapun tentang dia. Aku yang paling mengerti tentangnya. Dia tidak seperti yang kalian pikirkan itu”, itulah jawaban si keras kepala.

Wanita ini tidak lagi merdeka, karena dirinya telah terinveksi oleh lelaki yang dicintainya. Ketika memutuskan menikah dalam situasi yang terbelenggu, maka membuat sempitnya pertimbangan dan rasionalitas. Buka diri, buka hati, buka mata, buka telinga, agar pengambilan keputusan menikah benar-benar terjadi dengan sepenuh kesadaran, sepenuh pertanggungjawaban. Tidak dalam kondisi buta mata, buta hati, karena telah terjebak virus jatuh cinta yang membuat segala sesuatu menjadi indah mempesona.

5. Dalam situasi jiwa yang merdeka

Hendaknya anda mencari calon pasangan hidup dalam suasana jiwa yang merdeka. Tidak dalam tekanan paksaan tertentu, tidak dalam suasana emosional tertentu yang tengah menghimpit anda. Saat seseorang dalam himpitan permasalahan yang berat, ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Semua erhatiannya terfokus kepada masalah yang tengah dihadapinya. Dalam situasi seperti itu, pengambilan keputusan memilih jodoh bisa dipengaruhi oleh emosi sesaat. Kelak hal ini bisa disesali, saat sudah berada dalam suasana yang merdeka dan terbebas dari masalah yang menghimpit.

Maka semestinya anda mencari calon pendamping hidup dalam suasana jiwa yang nyaman dan damai. Tidak tergesa-gesa, tidak dalam tekanan at.au ancaman. Anda mencari dan memilih mobil saja tidak boleh tergesa-gesa, harus cermat dalam menentukan pilihan. Apalagi mencari dan memilih calon suami atau istri, tentu harus lebih cermat lagi.

Demikianlah lima panduan, kapan saatnya anda mulai berproses mencari calon pasangan hidup. Ingat, keputusan anda tentang pendamping hidup akan berdampak sangat panjang dalam kehidupan, dunia hingga akhirat. Maka berhati-hatilah, dan cermatlah. Semoga mendapatkan jodoh yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat anda. Aamiin.

Cari Jodoh? Pilih yang Ori

Cahyadi Takariawan

Seorang anak kecil disuruh bapaknya membeli korek api. Bukan korek api gas, namun korek api yang dengan batang kayu dalam satu kotak kecil.

“Belikan Bapak korek api ya Nak. Ingat, beli yang bagus”, kata Bapak.

Berangkatlah si anak ke warung membeli korek. Lalu ia mencoba satu per satu batang korek api itu. Setelah sampai di rumah ia berikan korek api kepada sang Bapak.

“Ini Pak korek apinya. Sudah aku coba bagus semuanya”, kata sang anak dengan bangga.

“Lho, tapi mana isi korek apinya? Ini kan cuma wadahnya saja…” tanya Bapak.

“Isinya habis Pak. Kan Bapak yang menyuruh untuk membeli yang bagus. Jadi harus aku coba dulu untuk memastikan apakah korek apinya bagus atau tidak. Setelah aku coba, semuanya bagus….”

Untuk memastikan bahwa korek api yang akan dibeli bagus, tentu tidak perlu mencoba satu per satu. Karena sudah bisa dilihat dari penampilannya. Apakah tampak kuat, rapi, keras, meyakinkan, ini semua bisa diketahui dari pengenalan dan pengamatan. Demikian pula merek, sudah bisa menjadi jaminan kualitas produk tanpa harus mencoba terlebih dahulu. Tentu menjadi absurd saat harus mencoba satu per satu korek api agar mengetahui kualitas apakah bagus atau tidak.

Anda langsung membei baju di mal tanpa harus mencobanya terlebih dahulu selama satu bulan atau satu tahun untuk mengetahui apakah  baju itu pas, bagus, dan berkualitas. Nyatanya anda datang ke mal, melihat baju, mengamati, meneliti, kemudian transaksi. Anda cukup meneliti celana Jeans yang akan anda beli, melihat ukuran, mengamati warna, model dan setelah itu langsung membawa ke kasir untuk transaksi. Kalaupun mencoba di ruang pas, itu karena ada kebolehan untuk melakukannya. Bukan illegal atau melanggar aturan. Di beberapa toko ada larangan bagi pembeli untuk mencoba pakaian yang akan dibeli.

Terlalu polos dan bodoh jika dengan alasan ingin mengetahui kecocokan, lalu mencoba-coba semuanya. Tidak demikian perilaku orang cerdas.

Pilih Yang Ori, Jangan “Kw”

Saat membeli asesoris untuk smartphone atau gadget, anda mengetahui bahwa yang ori lebih mahal, lebih bagus dan lebih berkualitas daripada yang “kw”.  Barang ori itu terjaga, terjamin kualitasnya, masih ada segelnya. Barang “kw” memiliki kualitas di bawah yang ori, maka harganya juga lebih murah, garansinya bahkan kadang tidak ada.  Tidak ada yang memberikan jaminan atas kondisi dan kualitasnya.

Jika anda mencari calon pasangan hidup, pastikan anda memilih yang ori. Yang belum terbuka segelnya, yang belum pernah digunakan untuk coba-coba banyak orang. Jika sudah tidak bersegel, artinya sudah tidak ori lagi. Ada wanita yang sudah dijamah banyak lelaki, ada lelaki yang sudah dijamah banyak wanita. Mereka melampiaskan kesenangan syahwat, tanpa berpikir penyakit dan kerusakan moral yang muncul akibat kebebasan pergaulan. Demi kesenangan sesaat, demi melepas kegalauan, demi identitas global, mereka merayakan itu semua dengan ekspresi kebebasan tanpa aturan, tanpa batasan.

Mereka berganti-ganti pasangan, tanpa ada perasaan jijik dan muak. Bersenang-senang saja tanpa ada pertanggungjawaban. Yang dicari hanyalah sensasi syahwat, yang dilampiaskan dengan berbagai ekspresi. Seperti piala bergilir, seperti barang pajangan yang boleh dibawa oleh siapapun. Lelaki dan wanita semacam ini sudah kehilangan harga diri. Tubuhnya drelakan untuk pemuas birahi, dengan dalih saling menikmati dan sama-sama senang, tanpa paksaan. Apa lagi yang masih tersisa dari orang-orang seperti ini?

Sebagian yang lain lagi senang berganti-ganti pacar dengan alasan menemukan yang cocok. Ketika pacaran dua tahun lalu tidak cocok, putus pacar dan cari pacar lagi. Baru setahun pacaran merasa tidak cocok, putus lagi. Dapat pacar baru dan mulai pacaran sampai empat tahun ternyata tidak cocok lagi. Begitu seterusnya orang yang ganti-ganti pacar karena merasa tidak ada yang cocok. Jadilah perilaku ini sebagai tabiat dan karakter, karena berlangsung dalam waktu yang lama. Mudah kecewa, mudah tergoda, tidak setia, dan ini bisa menjadi karakter hingga saat berumah tangga. Sudah punya suami atau istri, merasa bosan, lalu pengen cari yang baru lagi.

Rusaklah rumah tangga kalau suasana mereka seperti ini. Tidak ada kesetiaan, tidak ada kesabaran, tidak ada ketenangan. Selalu pengen mencoba-coba dan tidak percaya kepada pasangan, karena menggunakan tolok ukur dirinya sendiri. Orang yang banyak ganti pacar, mudah mencurigai pasangannya kelak ketika sudah berkeluarga. Ia menganggap pasangannya tidak setia, padahal dirinya juga tidak setia. Inilah pasangan “kw”, tidak ori. Tidak menjaga diri, tidak menjaga kehormatan dan kesucian hati.

Ibarat membeli mobil, beda antara mobil baru dengan mobil bekas. Beda pula antara mobil bekas pribadi dengan bekas taksi. Mobil baru masih ori, ada segel dan garansi. Mobil bekas pribadi masih terjaga dan terawat rapi. Namun mobil bekas taksi, sudah sangat lelah dan tidak ada rekam perawatannya. Sudah terlalu banyak dipakai berjalan dengan ganti-ganti sopir dan penumpang, tanpa perawatan yang memadai.

Carilah calon pasangan hidup yang ori, yang menjaga kehormatan, yang menjaga kesucian hati, yang tidak mengobral diri. Mereka itulah calon pasangan yang bisa diajak membangun rumah tangga  dan menurunkan generasi. Mereka inilah yang memiliki kejelasan visi dan misi. Menikah dan berumah tangga tidak hanya untuk kesenangan duniawi, namun memiliki dimensi ukhrawi. Maka jangan memilih calon pasangan yang tidak mau mentaati aturan Ilahi.

Kembali Ke Titik Nol

Bagaimana jika sudah terlanjur tidak ori? Kembalilah ke titik nol. Lakukan taubat nasuha, membersihkan kekotoran, membersihkan dosa, mensucikan noda. Perbarui taubat anda setiap hari, agar jiwa anda terbebaskan dari pengaruh keburukan di masa lalu. Terus menerus mendekat kepada Allah, memohon ampunan, merasa menyesal, berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah dikubur dalam taubat.

Para lelaki dan wanita yang selama ini terjerat pergaulan bebas, hendaknya segera mengakhiri dan memperbaiki diri. Bangsa ini memerlukan orang-orang yang memiliki karakter dan jati diri. Jangan rusak  masa depan kalian dengan perbuatan yang keji. Jaga masa depan bangsa dan negara dengan berbenah diri.  Kebaikan kalian semua adalah kebaikan masa depan negeri ini. Kerusakan kalian semua adalah kehancuran masa depan negeri. Kembalilah kepada tuntunan Ilahi, bersihkan diri, kuatkan motivasi.

Jika anda sudah bertaubat dari keburukan masa lalu, atau anda menemukan calon pasangan yang telah bertaubat dari kejelekan masa lalu, maka kondisi orang yang bertaubat itu kembali ori. Sepanjang taubatnya benar, maka ia terbebas dari kesalahan dan keburukan masa lalu. Inilah yang saya maksud kembali ke titik nol. Kembali hidup dalam kebenaran, dalam kebaikan. Menjauhi kerusakan, menjauhi kebobrokan.

Anda bisa memulai hidup baru dalam keluarga bersama pasangan tercinta. Anda berdua selalu memperbarui taubat setiap hari, saling menguatkan dalam kebaikan, saling menjaga, saling melindungi, saling setia. Meniti hidup bersama pasangan tercinta dalam ikatan pernikahan suci. Mereguk kebahagiaan hakiki hingga ke surga-Nya nanti.

Beginilah Dahulu Ibu Mengasuhku..

Di tanganku, tergenggam foto ukuran kartu pos. Pinggirnya sudah berjamur. Namun gambarnya masih tampak jelas. Di foto itu ada aku, ibuku, dan satu orang anak tetangga yang dulu sering main kerumahku.

Aku tak bisa mengingat foto itu tahun berapa. Yang kutahu, bahwa di foto itu wajahku masih terlihat duduk di sekolah dasar.

Kami duduk di sebuah bangku yang cukup luas. Sebenarnya itu ranjang, yang ditaruh di luar rumah.

Ibu ada di belakangku. Aku nampang di depan. Sambil memegang mainan. Ibu sedang membuat kerajinan yang akan ia jual kembali ke esokan harinya. Anak satunya duduk di sepeda roda tiga sambil mendongak ke atas. Melihat kamera.

Aku sendiri hanya melihat kebawah. Tidak senyum. Rasanya waktu itu, aku memang tak begitu suka di foto.

Menurutku ibu adalah wanita luar biasa. Dan mungkin setiap ibu adalah wanita yang luar biasa. Hal luar biasa yang ibu lakukan padaku misalnya saja, yang sederhana, adalah menyiapkan susu sebelum aku berangkat sekolah.

Saban pagi, semenjak aku duduk di bangku TK selalu saja tersaji susu hangat di meja makan yang akan ku minum sebelum berangkat sekolah. Dan ibu tak memandang bahwa aku sudah dewasa atau masih anak-anak, susu itu selalu ada walaupun aku sudah duduk di perguruang tinggi. Mungkin bagi seorang ibu, segede apa pun anaknya akan tetap menjadi anak-anak dimata ibunya.

Kalau saja bisa dihitung, misalnya aku sekolah TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah, ehm, 5 tahun. Maka totalnya ada 18 tahun. (Duh, lama juga ya sekolah di Indonesia ini… 😀

Selama 18 tahun lebih ibuku selalu membuatkan aku susu coklat.

Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan ibuku untuk membekali anaknya ini menempuh pendidikan. Agar jadi anak pintar. Cerdas dan bisa membanggakan. Bukankah setiap orang tua ingin anaknya begitu bukan? Cerdas.

Itu yang bisa dilakukan ibuku, karena ia tak bisa mendampingiku belajar. Ya, karena ibuku hanya sekolah sampai kelas 2 SD saja. Maka ibuku termasuk dari sekiar 47ribu (data tahun 2014) orang yang masih buta huruf yang ada di Jogja.

Aku ingat, saban malam setiap ada PR dari sekolah, ibuku hanya bisa melihat. Saat aku bertanya padanya, ia selalu menggeleng. Tidak tahu. Aku yang mesti mencari-cari jawabannya sendiri. Kadang bisa bertanya pada ayah, tapi jarang ku lakukan.

Yang sangat ku sesali saat ini adalah bahwa dulu aku selalu merasa malu bila ibu mengambil raportku. Bukan karena aku malu mendapat ranking jelek, tidak. Jelas bukan itu. Tapi aku malu bila ibu mesti diminta untuk membaca dan menandatangai raportku. Aku malu bila guruku tahu bahwa ibuku hanya sekadar tanda tangan saja tak bisa.

Padahal seharusnya aku malah bangga pada ibu. Ibu yang buta huruf, bisa membesarkan anak yang nilainya yah, saat sekolah dasar sih biasanya juara kelas.

Begitulah salah satu fragmen hidupku tentang bagaimana ibu dulu mengasuhku. Mungkin pengasuhan yang ibuku lakukan tidak sesuai dengan teori-teori parenting masa kini.

Harusnya ibu mendampingi anak belajar, tapi itu tidak dilakukan ibuku.

Baiknya ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur, tapi itu tidak dilakukan ibuku. Baiknya ibu mendampingi anak bermain, tapi ibuku malah sibuk bekerja. Tapi ibuku tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang dalam membesarkanku.

Ibuku mungkin kurang pintar, tapi ia punya lebih cinta.

Saat ini tentu kondisinya berbeda. Sebagai orang tua yang lahir pada jaman lebih baik, tentu kita akan menerapkan pola asuh yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tua dahulu. Ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan untuk mengasuh anak dengan lebih baik.

Ada tantangan yang lebih besar di masa mendatang. Ada masalah-masalah yang lebih kompleks untuk menyiapkan anak-anak kita. Ada persoalan yang dulu tidak ada, misalnya saja gadget, dan kita harus mengahadapinya kini.

Maka menjadi orang tua saat ini, tentu berbeda dengan menjadi orang tua masa lalu.

Itulah kenapa orang tua adalah orang yang tidak pernah selesai belajar. Seperti yang dikatakan oleh Fauzil Adhim, pakar parenting, bahwa Parenting is a journey. Mengasuh mendidik anak merupakan perjalanan tiada henti, perjalanan yang meminta kesediaan untuk terus belajar dan berbenah.