Hubungan Kakak-Adik

Hubungan persaudaraan yang sebenarnya adalah ketika saudaramu sudah sama-sama berumah tangga…..

Akankah hubungan itu masih sama ketika masa kecil dahulu…ketika bertengkar kemudian bermain bersama lagi…..

Ketika ada yg mengganggumu…kemudian kau panggil kakakmu….lalu dengan badannya yang lebih besar dia membelamu Karena kau adalah adiknya….

Atau ketika kau membela adikmu yg memang bersalah…..demi sebuah kata karena dia adikku.

Ketika makanan yang dihidangkan ibumu….dibagi bersama saudaramu.Satu makan tempe maka semua tempe….tak ada yg dipilih kasih…satu makan telor maka dibagilah telornya jika hanya satu butir.

Atau ketika bpkmu pergi kondangan dan membawa….satu tempat makanan….pasti berebut makanan kesukaan….tapi ujung-ujungnya….makan bersama dalam satu wadah.

Ah…..betapa akan sangat dirindukan hal-hal seperti itu.

Akankah moment kebersamaan itu masih ada ketika kalian sdh berumah tangga???.

Ketika satu menjadi kaya yang lain hanya biasa saja…..
ketika satu menjadi orang terhormat sementara yang lain hanya jd rakyat biasa….atau ketika yang satu telah menjadi sangatlah alim….tapi yang lain masih mencari jati diri….belum dibukakan hidayah….

Maka selayaknya….saudara tetaplah saudara….dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama…maka darah saudaramu juga sama denganmu…sudah sepatutnya saling mengingatkan….saling membantu… saling bergandengan tangan……karena sesungguhnya saudaramu jauh di lubuk hatinya akan juga mendoakan mu…..

Ketika kau menjadi kaya…saudaramu tdk akan meminta hartamu tapi dg bangga dia akan berkata..pada semua orang “lihatlah…saudaraku sudah jadi orang kaya”……

Yang jadi ujian adl ketika saudaramu terpuruk….akankah kalian meninggalkan atau melambaikan tanganmu utk merengkuhnya???

Coba tanya hatimu sendiri….Karena saudara bkn hanya perkara harta, bkn pula masalah yang bermartabat atau tidak

bukan pula masalah siapa yg dekat pada Sang Pencipta atau tidak….. tapi ini masalah hati

Ingatlah….belum tentu saudaramu yang terpuruk akan selamanya terpuruk…..tak pasti juga dia yang sekarang jadi orang brutal esok juga akan tetap sama….

Dan belum tentu yang sekarang kaya akan selamanya kaya…yang sekarang alim akan tetap alim..

Karena hanya Tuhanlah yang tahu.

Jagalah saudaramu selagi ada….dalam keadaan apapun…Karena kelak dia juga akan menjagamu….walau pun hanya lewat doa.

#tetepbersaudara

Jawaban Atas Setiap Protes

Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Mungkin kita akan protes kepada Tuhan, “Wahai Sang Khaliq, kenapa Engkau berikan kepadaku anak yang pemalu, padahal teman-temannya begitu berani dan percaya diri?”

Bisa jadi Tuhan akan menjawab, “Wahai hamba-Ku, di balik rasa malu ada harga diri tinggi, yang membuatnya tidak suka akan ejekan dan cibiran orang. Tugasmu sebagai orangtua adalah memberinya sedikit keberanian dan percaya diri agar anakmu bisa jadi pemberani yang bermartabat. Bukan pemberani yang membabi buta, yang hanya menimbulkan keresahan dan ketakutan pada orang lain. Pemberani yang bermartabat akan selalu menjadi penakut nomor satu bila harus melakukan hal-hal yang melanggar perintah-Ku.”

Di saat lain mungkin kita akan protes, “Wahai Tuhan, kenapa Engkau berikan kepadaku anak yang bebal, padahal teman-temannya begitu pandai dan cerdas?”

Bisa jadi begini jawaban Tuhan, “Hamba-Ku, ketahuilah hanya orangtua bebal yang menganggap anaknya bebal. Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Bila kekurangan anakmu engkau bandingkan dengan kelebihan anak lain, tentu saja yang tampak hanya kebebalannya. Tapi carilah kelebihan yang telah Kuberikan padanya, maka engkau pun akan bersyukur. Ketahuilah, bentuk kecerdasan tidak hanya satu. Aku telah menciptakan sangat banyak kecerdasan-kecerdasan hidup. Apakah engkau mengira tak ada satupun bentuk-bentuk kecerdasan itu yang aku tanamkan dalam diri anakmu?”

Pasti akan ada juga orangtua yang protes, “Tuhan, kenapa kau berikan anak padaku yang tidak setampan dan secantik anak-anak yang kau berikan pada orang lain?”

Tuhan setidaknya akan menjawab, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya bagi mahluk setiap kesempurnaan pasti diikuti oleh kekurangan. Sebaliknya, setiap kekurangan pun pasti ditutupi oleh kelebihan-kelebihan. Bersyukurlah engkau bahwa kekurangan anakmu adalah di rupanya. Suatu kekurangan yang tidak perlu susah payah lagi engkau perbaiki karena memang begitulah adanya. Berarti berkurang satu beban padamu untuk membantu anak menutupi kekurangannya. Sementara kekurangan-kekurangan yang lain akan Aku minta pertanggungjawabanmu: apakah engkau telah membantu anakmu mengatasi kekurangan-kekurangannya itu.”

Di tempat lain banyak juga orangtua yang melakukan protes, “Wahai Sang Maha Pencipta, mengapa tidak Engkau berikan padaku harta yang banyak agar aku bisa memasukkan anakku ke sekolah-sekolah yang bagus sehingga terjaminlah masa depannya?”

Ada kemungkinan begini kira-kira jawaban Tuhan, “Hai Hambaku, rezeki tiap mahluk tidaklah sama. Namun yang terpenting, rezeki tidaklah harus berupa harta. Rezeki dari-Ku bisa berbentuk kesehatan, kecerdasan dan keshalihan seorang anak. Syukurilah itu, sebab kesehatan, kecerdasan dan keshalihan seorang anak tidak bisa dibeli meskipun engkau memiliki harta sepenuh bumi dan langit. Bila engkau merasa hartamu kurang, janganlah melancarkan protes, tetapi berdoalah pada-Ku dan tunjukkan pada-Ku bahwa engkau memang layak diberi sedikit harta dengan kerja kerasmu. Setelah itu ingatlah, masa depan anakmu bukan milikmu. Masa depan anakmu telah Aku tentukan dalam sebentuk takdir. Bila anakmu mematuhi-Ku masa depan anakmu akan menapaki takdir yang kuridhoi. Begitupun sebaliknya. Masa depan anakmu memang bukan milikmu tetapi usahamu sebagai orangtua yang mendidik sangat menentukan seberapa banyak kebaikan dan kemudahan yang akan Kuberikan pada anakmu.”

Orangtua-orangtua pengeluh akan sering melakukan protes pada Tuhan, “Mengapa Engkau jadikan anakku begini, mengapa Engkau jadikan anakku begitu, ya Tuhan?”

Maka kira-kira jawaban Tuhan akan selalu balik bertanya, “Kaca mata apakah yang engkau pakai, hamba-Ku? Bila engkau mengasuh anakmu dengan selalu berprasangka baik pada-Ku, maka engkau layak berharap besar bahwa usahamu sebagai orangtua tidak sia-sia. Bahwa kelak anak-anakmu akan mendatangkan pahala dan kehormatan besar padamu. Namun bila engkau mengasuh anakmu dengan selalu berburuk sangka pada-Ku, maka engkau akan selalu meratap. Tak mungkin ada anak hebat yang dihasilkan dari orangtua peratap.”

Salam Smart Parents!

Sakinah Mawadah Warahmah: Proses Terbentuknya Cinta dalam Pernikahan

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Begitu bunyi pantun lama. Mengisahkan tentang terbentuknya cinta di dalam hati anak manusia.

Dalam dongeng atau pun roman picisan yang berakhir happy ending, biasanya akhir cerita akan mengisahkan sepasang manusia yang saling mencintai akan menikah dan hidup selamanya. Seolah cinta menjadi penjamin sepasang manusia mampu bertahan dalam ikatan perkawinan.

Padahal membangun rumah tangga tak sesederhana itu: ekspresikan cinta, lalu bahagia selamanya. Gambaran itu terlalu manis dan bisa menipu pemuda/pemudi yang hendak menjalin pernikahan.

Dalam Al-Qur’an, pernikahan tidak digambarkan sebagai muara dari cinta yang tumbuh di hati dua anak muda. Tetapi justru pernikahan membentuk cinta dari dua anak manusia yang bersatu. Pernikahanlah yang menyebabkan cinta!

Tahapan terbentuknya cinta sebagai buah dari perkawinan digambarkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 21. Ayat ini cukup populer karena sering disertakan dalam undangan pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS: Ar-Ruum:21)

Dari ayat ini, muncul kata-kata terkenal: sakinah, mawaddah, warohmah.

Sakinah atau Rasa Tenteram

“Litaskunu” kata Allah swt. Agar kamu menjadi tenang atau tenteram atau nyaman dengan adanya pasangan hidup. Sakinah.

Pernikahan menghapus predikat “jomblo galau”. Dengan pernikahan, tak ada lagi kegelisahan saat nafsu datang. Ada tempat untuk melampiaskan dengan nyaman tanpa rasa takut operasi satpol PP ataupun penyakit menular.

Sebagai teman, pasangan hidup membuat tenang dengan tempat menumpahkan perasaan suka dan duka juga sebagai kawan berjuang mencapai kemapanan bersama.

Inilah pernikahan yang diharapkan oleh Al-Qur’an. Bukan pernikahan yang selalu diliputi kecemburuan, kecurigaan, dan tuntutan alih-alih mau menerima apa adanya.

Mawaddah wa Rohmah, atau Cinta dan Harapan

Lalu Allah swt melanjutkan dengan kata-kata “wa ja’ala baynakum mawaddah wa rohmah”, “dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Mawaddah wa rohmah, cinta dan kasih sayang, merupakan buah dari rasa nyaman kepada pasangan.

Allah memilih kata mawaddah, bukan mahabbah. Ada yang mengartikan karena mawaddah adalah cinta yang terus menerus tanpa mengharap balasan. Sedang mahabbah adalah cinta yang berharap balas.

Tentu makna ini berarti cinta yang tulus. Ada kisah mengharukan tentang suami yang rela merawat istri yang lumpuh. Atau istri yang tetap setia menemani suami yang bisnisnya sedang terpuruk. Itu adalah mawaddah. Dan sangat pas untuk konteks pernikahan.

Atau ada juga yang mengartikan mahabbah berarti cinta yang meluap-luap dan bergejolak. Sedangkan mawaddah berarti cinta yang lebih dewasa.

Arti yang lebih ringkas, mawaddah bermakna cinta dan harapan.

Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Ekspresi menyantuni, merawat, dan memelihara, dsb.

Jadi, jalan terbentuknya cinta dan kasih sayang harus didahului dengan perasaan tenteram terhadap pasangan. Orientasi awal pernikahan adalah bagaimana menyelaraskan perilaku sehingga lahir kesepahaman dan kenyamanan. Tidak harus memeriahkannya dengan bulan madu yang romantis yang berorientasi kesenangan belaka.

Di awal pernikahan, terkuaknya sifat buruk pasangan justru bermanfaat sebagai informasi tentangnya yang akan kita sikapi – baik bersabar maupun mencoba membantunya berubah. Dan terlihatnya kebaikan pasangan adalah hal yang harus selalu dikenang untuk disyukuri dan menjadi pengokoh rasa nyaman kepadanya.

Zico Alviandri

Cinta yang Mendewasa

“Pas awal-awal nikah sering nangis mbak. Gak nyangka rupanya kayak gini rasanya pernikahan.” Ujar kakak sepupuku. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Dari curhatan orang-orang kepadaku, setiap wanita biasanya shock di awal pernikahan. Hanya beberapa hari saja bak surga. Setelahnya, kalau tak kuat mental dan iman, rumah tangga bisa jadi neraka menyala2. Kenapa bisa?

Begitulah memang pada kenyataannya.

Kenyataannya, cinta itu bukan sesuatu yang selalu indah, selalu berbunga2. Karena bagai taman, saat musim semi ia memang berbunga. Namun ada kalanya musim gugur, daun2 berjatuhan. Apalagi di musim panas, kering dan gersang.

Kenyataannya, cinta itu tidak stagnan, ia amatlah labil. Selabil hati yang selalu berfluktuasi. Maka hari ini kita bisa tersenyum bersama kekasih namun esok bisa jadi kita saling tak enak hati. Membisu dalam sekam.

Memang begitulah fitrah cinta. Maka cinta harus disikapi dengan kedewasaan dan kelapangan. Kedua kekasih harus saling memperbaiki diri. Bergantian mengalah dan mengemukakan pendapat. Ada saatnya diam dan ada saatnya bicara. Ada saatnya meneteskan air mata sendiri ataupun berdua.

Ketika cinta dua kekasih mendewasa, maka hubungan dua kekasih akan gapai bahagia. Apalagi saat kedua kekasih rajin curhat pada-Nya, menggantungkan cinta pada Sang Maha Pencipta cinta itu sendiri, maka berkah akan menaungi keduanya hingga ke surga. Ah, begitulah cara cinta bekerja.

Namun cinta yang mendewasa hanya ada dalam pernikahan. Pernikahan akan menyediakan segala perniknya untuk mendewasakan cinta. Maka jangan heran akan kita temui rasa kesal, marah dan benci seperti rasa sayang kita pada sang kekasih. Namun itu tak lantas membuat kita berpisah darinya karena ada banyak kenangan berharga juga bersamanya. Tak hanya kenangan bahagia, namun juga kenangan duka. Begitulah cinta yang mendewasa, cinta dalam pernikahan, cinta yang paling pantas menghantarkan kita ke surga. Karena dalam pernikahan sudah kita lalui berbagai uji dan coba hingga 1/2 agama kita ada bersamanya. Ah cinta…

Aku ingat sekali kata2 bijaksana dr.Zakir Naik saat ditanya tentang cinta, “Cintailah orang yang kau nikahi, bukan menikahi orang yang kau cintai.”

Ah, sungguh cinta yang mendewasa…

Eka Diyah Ardiyati

Ayahku Hebat…

|| Kontributor: Mekel Roseta ||

Barangkali setiap laki-laki di dunia ini selalu mendambakan dirinya menjadi seorang ayah yang hebat.

Menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Misalnya saja, saat anaknya takut gelap, lampu padam, ayah hadir untuk menenangkan hatinya. Saat ia takut untuk keluar rumah, bersama ayah semua rasanya aman tentram.

Ayah saya mungkin tidak hebat seperti super hero. Kalau ayah hebat adalah ayah yang tidak pernah membentak anaknya, maka ayah saya bukan seperti itu.

Ayah saya termasuk ayah yang galak. Suara yang keras sudah menjadi santapan setiap hari. Kadang hal-hal sepele dihadiahi oleh gertakan. Misalnya saja karena salah meletakkan handuk, tidak rapi, langsung saja gertakan muncul.

EIts, tapi tak cuma bentakan, tapi juga pukulan. Ya, sewaktu kecil ayah langganan banget memukul saya. Tiap kali ia emosi, tangannya selalu lincah menyasar pantat saya.

Tapi saya juga tahu bahwa ayah adalah orang yang sayang pada anak-anaknya. Dan rela melakukan hal apa saja untuk anaknya, bahkan kadang hal yang tidak rasional sekalipun. Dan itu pernah dilakukan ayah.

Dulu saat saya masih SD, saya sempat terjatuh karena bermain bola. Tidak ada cedera serius sebenarnya, hanya saja saat saya berjalan apabila dilihat dari belakang maka akan terlihat sedikit pincang.

Awalnya tidak ada yang tahu, dan saya pun tidak merasa kesakitan. Biasa saja. Hingga suatu hari saat saya berjalan ke kamar mandi, ayah melihat saya berjalan dengan agak pincang.

“Loh, sikilmu ngopo?” tanyanya.

“Rapopo kie, Pak,” jawab saya.

“Kok mlakune pincang ngono. Waduh, ndelok kene..”

Di lihatnya kaki saya. Ia usap-usap, diperhatikannya seperti dokter ahli. Setelah tak diketahui ada yang aneh, ia membiarkan saya masuk ke kamar mandi.

Ternyata ayah menganggap serius soal “cedera” saya itu.

Selang beberapa hari kemudian ia mengajak saya ke dokter untuk di rontgen apabila ada yang retak. Hasilnya? Nihil. Ya, karena memang kaki saya tidak retak. Dokter pun mengatakan tak ada yang salah, dan ia juga tak bisa menjawab kenapa jalan saya agak pincang.

Ayah saya tak menyerah. Dibawanya saya ke tukang pijat. Ke ahli akupuntur. Ke banyak macam pengobatan tradisional. Namun hasilnya tetap sama saja.

Melihat hasil yang tidak memuaskan itu, saya ingat ayah menangis malam-malam. Ia sesenggukan sambil mengelus-elus kaki kanan saya. Membuat saya terbangun namun saya tak ingin menganggunya. Saya teruskan pura-pura tidur hingga benar-benar tertidur.

Usaha terakhir ayah untuk menyembuhkan saya adalah usaha yang tidak rasional. Malam-malam saya diajaknya ke lapangan. Disuruhnya saya menunjukkan lokasi jatuh. Lalu ia keluarkan kembang mawar tujuh rupa dan menyan.

Ia nyalakan api dan membakar menyan sambil komat kamit.

Mungkin ia minta agar jin penunggu lapangan tidak mengganggu. Tidak membuat saya sakit. Mungkin dikiranya saya kualat. Dalam kultur masyarakat Jawa hal-hal semacam ini wajar dilakukan. Ayah saya memang tidak berpendidikan tinggi, pun tidak berilmu agama yang mumpuni, maka ia meyakini bahwa yang ia lakukan itu sah-sah saja. Semata demi kesembuhan anaknya.

Kini setelah puluhan tahun kemudian, saya baru sadar bahwa kaki saya sebenarnya normal-normal saja. “Pincangnya” saya disebabkan karena perbedaan beberapa senti panjang kaki. Dan itu masih wajar, yah seperti beda tinggi antara jari manis dan telunjuk. Saya masih bisa main bola. Bahkan saya membayangkan jadi seperti Hiro Ito yang kakinya juga panjang dikit sebelah.

Itulah salah satu tanda betapa besarnya kasih sayang ayah.

Tentu setiap ayah punya cerita masing-masing. Yang menjadi tanda betapa seberapa pun kurangnya kita menjadi ayah yang hebat -menurut pengertian umum dan para ahli- tapi tetap ada satu dua kisah yang menunjukkan bahwa kita adalah ayah hebat.

Kalau kita belum bisa menjadi ayah seperti yang diajarkan dalam buku-buku parenting, janganlah putus asa. Janganlah rendah diri.

Terus belajar saja.

Sembari menyaksikan betapa ajaib dan cepatnya anak-anak kita tumbuh dewasa.

“Cinta seorang Ayah kadang memang tak terlihat, tapi kita dapat merasakannya…”

Urusan Jodoh, Mintalah Selalu Do’a Mereka

|| Kotributor: Khansa Sayyidatina ||

Doa orangtua ibarat tak ada yang membatasi… insya Allah, akan sampai kepada sang Pengabul doa, Allah swt sebagaimana hadits di bawah ini.

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani.

Oleh karena hal tersebut, sebagai orangtua juga tak boleh sembarangan mengucapkan doa untuk anak-anaknya.

Saya belajar itu semua dari Ibu. Ibu yang telah menghidupi tiga anaknya setelah hampir 13 tahun lalu ditinggal Bapak. Ibu sering mengingatkan saya untuk berdoa baik-baik bagi suami dan anak saya. Terkadang, tanpa sadar di tengah emosi yang tak tertahan dengan mudah kita mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Kemudian, ibu mengingatkan dengan lemah lembut, tak baik mengucapkan sesuatu buruk saat emosi, terutama untuk anak dan suami, beristighfarlah….

Dalam hal jodoh, selain kita juga berusaha dan berdoa janganlah pernah lupa meminta restu dan doa dari orangtua. Sebenarnya, tanpa diminta, orangtua pasti akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Akan tetapi, tak ada salahnya kita pun melibatkan orangtua dalam pencarian jodoh ini. Ungkapkan keinginan kita, kriteria seperti apa, dan visi misi ke depannya. Bertukar pikiran dengan orangtua soal jodoh akan menjadi diskusi menarik. Mungkin akan ada perbedaan pendapat, tapi justru saat itulah kita ungkapkan apa yang ingin kita lakukan.

Soal taaruf, perkenalan menuju pernikahan dan lain-lain mungkin merupakan hal yang awam bagi sebagian orangtua kita yang memahami pernikahan diawali dengan pacaran ataupun intensitas pertemuan yang cukup sering.

Oleh karena itu, pelan-pelan kita menjelaskan aturan yang ada dalam Islam dalam proses menuju jenjang pernikahan, selain tentunya kita juga memohon doa agar orangtua kita bisa memahami dengan baik.

Insya Allah, hati dan pikiran orangtua kita pun akan terbuka dan turut membantu mencarikan jodoh yang kita inginkan. Kalaupun belum bisa, insya Allah, ia senantiasa mendoakan kita.

Segala sesuatunya berproses hingga ketika tiba saatnya nanti kita mengajukan seseorang yang baru kita kenal dari sebuah biodata, orangtua kita tak lagi kaget.

Hal itulah yang saya lakukan selama penantian tujuh tahun berikhtiar. Bolak-balik biodata, sosok laki-laki datang langsung berkenalan untuk menuju pernikahan. Beberapa kali juga Ibu saya memberi pendapat.

Ibu juga tak pernah lelah menghibur ketika saya dirundung kekecewaan. Saya sadari ia begitu tulus dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia pun selalu saya jelaskan panjang lebar tentang sebuah proses menuju pernikahan walau itu tak umum di keluarga kecil maupun keluarga besar kami. Karena dengan segala jalan yang ditempuh, dari lubuk hati, saya sangat menginginkan proses pernikahan yang syari.

Hingga suatu hari, saya sodorkan sebuah foto, sosok laki-laki yang kemudian hadir ke rumah untuk taaruf dan khitbah. Laki-laki yang dengan serius ingin menikahi saya. Laki-laki yang langsung mendapatkan restu dari Ibu saya. Laki-laki yang secara paras lumayan menarik.

Terdengar sedikit obrolan ibu dan abang saya ketika sosok itu pamit, “Ibu doain apa jodohnya Khansa?”

“Laki-laki yang baik agamanya, bertanggung jawab plus ganteng”

Saya tertawa mendengarnya. Kriteria ganteng tak pernah saya masukkan dalam biodata saya, delalahnya ibu dengan polos meminta kepada-Nya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya.

Alhamdulillah, laki-laki itu telah menjadi suami saya setelah proses yang sedemikian lancar dan mudah. Dengan dukungan kedua belah pihak, persiapan kurang dari sebulan telah mempertemukan kami di pelaminan hingga saat ini menuju tahun ke-5 pernikahan kami. Moga kelak kami bisa menjadi partner dunia-akhirat bersama anak-anak kami, berguna bagi umat dan bangsa.

Dia insya Allah banyak membimbing saya dalam ilmu agama, menyayangi kami, bertanggung jawab dan Bonus ganteng, hehe

So, jangan pernah ragukan doa orangtuamu.

Mintalah dengan tulus… doanya tak dibatasi tabir karena ridha-Nya pun bergantung juga dengan ridha orangtua.

Salam,

Forgiven Not Forgotten: Tak Cukup Berucap ‘Saya Minta Maaf’

Kemarin pagi saya sedang menemani anak saya, Hibban, yang hari itu bangun kesiangan dan segan untuk berangkat ke TK-nya. Kami menonton televisi di ruang tengah, dengan saluran favoritnya yaitu Disney Junior. Saat itu sedang diputar kartun Daniel Tiger’s Neighborhood. Diceritakan, Daniel dan Pangeran Rabu sedang bermain membuat kue pie dari pasir basah. Oleh karena ingin membuat kue pie yang indah, mereka menggunakan mahkota milik Pangeran Selasa yang saat itu sedang tergeletak. Ide ini ternyata fatal, karena mahkota tersebut menjadi sangat kotor. Saat Pangeran Selasa datang, dia tampak tak suka. Ada dialog yang sangat menarik setelah itu, yang kurang lebih begini:

Daniel, “Kami minta maaf atas kecerobohan kami.”
Pangeran Rabu (PR), “Iya, saya juga minta maaf.”
Pangeran Selasa (PS), “Oke saya maafkan.”
PR, “Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita main bersama membuat pie?”
PS, “Tidak, aku tidak mau.”
Daniel, “Kenapa?”
PS, “Aku masih marah”
PR, “Karena mahkotamu sekarang kotor? Kalau begitu, apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

Adegan selanjutnya adalah mereka bernyanyi lagu sederhana, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”
PS, “Emm,..bagaimana kalau kalian bersihkan mahkotaku?”
Daniel dan PR segera membersihkan mahkota tersebut, dan setelah itu baru mereka bermain bersama.

Pesan sederhana di film kartun itu sangat menggelitik dan menyindir saya sendiri. Karena, kadang kita yang sudah dewasa pun lupa untuk melakukan sesuatu bagi orang yang sudah kita cederai setelah kita minta maaf. Seolah dengan sudah dimaafkan, berarti beres sudah. Tak melihat lagi bahwa dia yang sudah memaafkan pun sedang bersusah payah mengikhlaskan hatinya, dan dia perlu dibantu untuk itu. Terlebih karena jelas-jelas kitalah yang telah membuat luka hatinya. Ternyata, setelah minta maaf tak berarti beres, tetapi perlu dilanjutkan dengan, “Apa yang dapat kulakukan untukmu?”

Sehingga, jangan sampai meskipun seseorang sudah memaafkan, tapi sebetulnya masih ada ganjalan dan sulit melupakan. Sampai fenomena ini menjadi lagu yang diciptakan oleh salah satu grup musik ternama, the corrs, dengan lagunya forgiven not forgotten. Tentu kita tidak ingin begitu. Baik sebagai orang yang melakukan kesalahan, maupun sebagai orang yang dicederai.

Saya teringat pada salah satu episose sejarah, tentang luka hati yang dirasakan Rasulullah saat perang Uhud, dimana salah satu paman kesayangannya yang begitu gigih membela beliau sebelumnya, Hamzah, syahid terbunuh. Hamzah dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang dijanjikan akan merdeka oleh tuannya, jika mampu membunuh Hamzah. Perjalanan takdir lalu membawa Wahsyi ke dalam pelukan Islam. Sebagai seorang muslim, tentu dia rindu sekali ingin bertemu Rasulullah. Namun, syahidnya pamanda Hamzah bagi Rasul telah menoreh luka sangat dalam, apalagi dengan dilihatnya Wahsyi, si pembunuh. Sehingga saat Wahsyi ingin mendekati beliau, Rasul berkata, “‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajah dan dirimu dari penglihatanku?”

Bukan berarti Rasul tak memaafkan Wahsyi. Tapi luka itu begitu dalam. Wahsyi mengingatkannya tentang Hamzah yang terbunuh, dan jasadnya yang dirusak serta diambil jantungnya oleh Hindun. Hingga secara spontan usai perang Uhud Rasul pernah berucap akan membalas dengan cara yang sama terhadap 30 orang kafir Quraisy  Tetapi lalu Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut. Sungguh luka itu begtu dalam, hingga melihat Wahsyi sekilas pun bertahun kemudian, luka itu menguak kembali, perih.

Di sisi lain, andai kita menjadi seorang Wahsyi, alangkah sedihnya. Keislamannya tak mampu membuatnya untuk bisa berdekat-dekat dengan Rasul yang dicintainya. Ia tentu sangat sedih, tapi ia juga memahami luka yang dirasakan Rasul. Ia hanya mampu memandang Rasul dari kejauhan, sama sekali tak berani mendekat, hingga Rasul wafat. Hingga pada saat kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar, muncullah beberapa nabi palsu, antara lain Musailamah. Wahsyi termasuk diantara salah satu sahabat yang dikirim Abu bakar untuk menumpas Musailamah dan gerombolannya. Dia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menebus kesalahannya yang sangat fatal di masa lalu: membunuh Hamzah. Dengan tombak yang sama untuk membunuh Hamzah dulu, dia gunakan tombak itu untuk membunuh Musailamah. Paling tidak, apa yang telah dilakukannya itu mampu membebaskan rasa tersiksanya sendiri, oleh kesalahannya yang begitu fatal sehingga tak bisa berdekat-dekat dengan Rasulullah.

Dari Wahsyi, kita juga belajar, bahwa seseorang tak cukup untuk hanya mengatakan minta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi perlu melakukan sesuatu. Meski Wahsyi menemukan momen itu agak terlambat, justru setelah Rasul wafat. Tapi, tentu semua kisah ini mengandung hikmah. Paling tidak, supaya kita juga berhati-hati, jangan sampai membuat orang lain terpaksa memaafkan, padahal di hatinya masih ada luka yang dalam. Lebih jauh lagi, tentu sebisa mungkin tidak menciderai hati orang lain, meski pun ini sangat sulit.

Jadi, marilah kita camkan bersama, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”

PS:
Ohya, tambahan info. Film kartun Daniel ini diputar tiap hari di saluran Disney Junior tiap jam 07.30. Tapi bagi yang tidak memiliki TV kabel, jangan berkecil hati, kita bisa melihat  nilai-nilai (values) yang bisa diambil dari tiap episode disini, namun sayang sementara ini untuk video streamingnya baru bisa diputar closed user di amrik. Sedang nilai-nilai khusus dari episode saying im sorry bisa dilihat disini.

Muktia Farida

7 Januari 2015

Pacaran Lewat Surat Nikah

“Jujur saat ku pertama melihatmu, aku tertarik, terpesona, tertegun

Kulihat pandangan pertama, betapa indah dirimu dan cantik rupamu

Semua perasaan di hati ini terjadi karena begitu indahnya kau di mataku” (Anonim)

Pernah tidak kita menulis serangkaian kata seperti di atas? Pasti ada yang menjawab pernah, dan ada tidak pernah. Namun, tulisan semacam tersebut tak jarang kita temukan dalam proses surat-menyurat antara remaja saat ini. Kata-kata itu telah menjadi sebuah candu yang tengah membuat para remaja teroverdosis. Alhasil, banyak sekali para pelaku penulisan surat merah jambu itu tertikung dalam utopia cinta.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, esensinya telah tumbuh dalam hati tentang apa yang namanya cinta. Hanya saja, yang mesti diluruskan adalah masalah ruang pengeskpresian. Sejatinya, cinta tumbuh dan berkembang sebagai salah satu sajian Tuhan kepada manusia, agar manusia tidak egois memikirkan dirinya sendiri. Namun, cinta diciptakan sebagai bentuk kepedulian seseorang terhadap siapapun.

Sehingga yang perlu dimengerti oleh kita adalah cinta tidak boleh menjadi opium dalam kehidupan. Banyak remaja yang bunuh diri karena cinta. Ada pula yang depresi karena cinta. Bunyi-bunyi cinta terlalu keras dimaknai oleh mereka, sehingga cinta merenggut kepolosan para remaja.

Sedihnya, ada orang tua yang merelakan anaknya terbuai dengan cinta semalam, para pendidik yang hanya memperhatikan gaya belajar tanpa memperhatikan gaya hidup anak didiknya, para pemimpin yang sanggup melihat generasi remajanya terjun bebas dalam pesta cinta, sehingga apalah daya tangan tak sampai, bangsa ini dalam pusaran fitnah.

Sesungguhnya agama telah hadir untuk menjadi solusi dari sebuah maha dahsyatnya petaka cinta ini. Agama telah memberikan jalan kehalalan dalam meniti jalan cinta. Bahkan agama telah menjadikan penitian semaian cinta itu termasuk dalam ibadah. Untuk itu, siapapun dalam melakukannya sesuai dengan anjuran agama, maka bukan saja faedah cinta yang mereka dapatkan, juga didapatkan pula respon kebaikan dari Tuhan. Sebab, agama dan cinta ada untuk menjaga keharmonisan ciptaan Tuhan.

Ada sebuah artikel yang diterbitkan tribunsalam.blogspot.co.id, sedikit menciutkan para pembaca jika tidak merasainya dengan bijak, sebut saja judulnya: “nikahilah aku dahulu, urusan rumah dan harta kita cari bersama”. Tentunya kalimat ini bagi sebagian orang mengandung provokatif, melodrama, ataupun sejenisnya. Namun, itulah stigma tentang cinta sejati. Bahwa cinta adalah pewarisan yang bersifat suci dari Tuhan. Tuhan akan menjaga bahtera maupun segala isinya: “…Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur:32)” Sekali lagi ini bukan soal isi surat yang meyakinkan. Namun, bagaimana surat tersebut terdaftar sebagai surat yang sah dan dapat dipertahankan keasliannya di mata masyarakat, hukum dan Tuhan tentunya. Maka istikharahlah dalam menemukan cinta sejatimu, semoga berkah hidupmu:

Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman di malam sunyi penuh do’a

Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata

Dipenantian luapan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

(Istikharah Cinta_ Sigma)

Dilema Istri dan Dilema Ibu

|| Kontributor: Inara Khimar ||

Sudah menjadi kewajiban seorang wanita ketika menikah ia harus taat pada suami. Di mana pun suami tinggal istri pun turut serta disamping suami. Kesetian akan teruji saat ketika suami istri tidak tinggal dalam satu atap. Apalagi bagi para istri anggota kepolisian yang sering dipindah tugaskan ke seluruh penjuru daerah di Indonesia.

Mungkin jika posisi saat ini belum memiliki buah hati diajak pindah kemanapun nurut, lalu bagaimana ketika sang buah hati itu hadir?

Disinilah dilema seorang wanita yang menjadi istri dan ibu. Mungkin saat usia anak masih 0-3 tahun masih bisa diajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain di mana suami dipindah tugaskan. Namun bagaimana jika anak ini sudah berada diusia sekolah?

Pada usia sekolah ini, anak mulai belajar bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Saat usia ini pula tempat tinggal tetap sangat dibutuhkan anak. Sebab bila anak-anak usia sekolah mulai di ajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain pasti akan menggangu pertumbuhan anak. Bukan pertumbuhan kecil menjadi besar melainkan lebih pada psikis anak. Apa yang akan terjadi jika dalam rentan waktu enam bulan sekali seorang anak diajak berpindah tempat? Interaksi sosial anak akan berkurang, anak akan cenderung  menjadi anak yang introvet atau tertutup. Kenapa?  Karena jika seorang anak dalam kurun waktu yang pendek diajak untuk berpindah tempat maka yang terjadi adalah anak akan belajar beradaptasi lagi dengan lingkungan baru, teman baru, suasana baru, lalu ketika anak sudah mulai nyaman dengan lingkungan dia harus kembali mengikuti kedua orang tuanya berpindah tempat tinggal dan di sinilah anak akan beradaptasi kembali dengan suasana baru, lingkungan baru, serta teman baru lagi.

Dan di sini lah dilema seorang wanita yang bersuami dan beranak muncul, praduga negatif pun turut serta berlarian di pikiran. Satu sisi ingin menjalankan tugas sebagai istri yang setia mendampingi suami satu sisi lagi ingin menjadi seorang ibu yang meberikan perhatian penuh untuk sang anak.

“Aise”

Depok, 6:23/100916

Kado Nikah Pengemban Dakwah

@pkshol

“Hangat di Rumah, Bersemangat di Medan Dakwah”

Menikah adalah menghimpun berkah, berkebun cinta di taman surga. Dan Allah yang telah mempertemukan kita di sini, di jalan dakwah ini, untuk membasuh lelah dengan mahabbah menjadi lillah.

Wahai isteriku kau penuh pesona
Gigimu putih pipimu memerah
Setiap hari kau semakin prima
Kau bidadari penghuni surga

Seperti lagu kebunku, begitu pula menikah, berkebun cinta di taman surga. “Isterimu adalah sawah ladang bagimu, maka datangilah sesukamu.” Begitulah cara santun Allah yang maha indah menyanjung kehidupan pernikahan. Untuk menghasilkan buah-buah hati qurrata a’yun yang ranum maka saatnya kita menghadirkan kehangatan di rumah dengan pasangan cinta kita dan bersemangat di medan dakwah dengan iringan kalimat dan do’a.

Kita membangun rumah asmara (as-sakinah mawaddah wa rahmah) dengan fondasi taqwa, berlantai iman, bertiangkan shalat, berdinding mahabbah, berjendela ma’rifah, berventilasi ukhuwah, berpintu mujahadah, berbilik tarbiyah, beratapkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan berdipan kesabaran, berkasur syukur, berlemari sedekah, bermeja qona’ah, berkursi ketaatan, bersofa tawadhu’ sehingga keluarga merasakan warna warni Islam dalam setiap sudut.
Kado nikah nikah hadir untuk melezati rasa baru dalam hidupmu. Ada sumur untuk menimba sikap dan sifat jujur. Ada keran untuk mengalirkan rasa simpati dan ringan berbagi. Ada dinding untuk menghijabi aib dan menyimpan masalah penting dan menyandarkan diri saat genting. Ada pilar untuk belajar sabar, sadar dan berlatih tegar. Ada  ruang yang luas untuk menerapkan ketulusan yang riang. Bilik untuk mendidik perilaku menarik. Teras untuk menikmati rasa ikhlas yang kadang tak berbalas.

Dengan menu baru, juice mangga tanda cinta, kita nikmati kehangatan pernikahan suami yang dirindu dan isteri yang mesra menjadi pasangan romantis. Ber-217-an. Kehangatan yang menggerakkan, kenikmatan yang halal, kenangan yang membuncahkan kesetiaan menjadi  penggugah yang lemah, penyemangat yang lambat, pengingat yang tersesat, penunjuk yang terpuruk, penjelas  yang was-was, penegas yang malas, penggerak yang terserak, dan penawar lelah bagi para pengemban dakwah.
Kemudian dari ranjang para pejuang kita melahirkan spirit melejit di medan perang untuk menyambut seruan keimanan merengkuh keberkahan yang melipatgandakan pahala dengan aktifitas ibadah berjamaah. Tarbiyah sebagai afiliasi. Dakwah sebagai partisipasi. Harokah sebagai kontribusi.

Saudaraku, kita ini dipertemukan oleh Allah, dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Di dalamnya kita mengubah lelah menjadi lillah. Bersama kita melangkah billah.

“Apakah pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah.

Saya cinta kamu dan kamu pun cinta saya, tapi kita pun cinta Allah?”