Kerupuk, Tunanetra dan Pejuang Keluarga

Tadi pagi sewaktu mengantar anak ke sekolah, aku melihat seorang nenek tua tunanetra pedagang kerupuk. Tangan kirinya menarik gerobak sedangkan tangan kanannya memegang tongkat mencari jalan aman.

Mendadak dada berdegup kencang. Air mata hampir menetes. Tapi segera kubatalkan dengan mengajak anakku untuk melihat apa yang aku lihat. Sebetulnya aku ingin memotret nenek pejuang itu, tapi sayang, di kantongku tidak ada Si Android.

Jika dia mau, nenek tua tunanetra itu pasti punya banyak alasan untuk tidak berjualan kerupuk. Alasan tua, tunanetra dan beresiko di perjalanan sudah cukup kuat untuk membuatnya wajar tidak berjualan (lagi). Mungkin beliau sudah saatnya beristirahat di rumah dan menikmati masa tuanya. Pekerjaan itu bisa digantikan oleh anak-anaknya.

Sebagai laki-laki, sebagai kepala keluarga, saya tertunduk malu. Malu kalah gigih dengan nenek tua itu. Ini juga kode keras buat para lelaki yang masih memperbanyak alasan untuk enggan berjuang demi keluarga.

Dalam perjalanan menjemput pulang sekolah, aku clingak-clinguk barangkali bisa menemukan nenek pejuang itu. Alhamdulillah, aku menemukannya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berhenti dan membeli kerupuk. Harganya 16.000. Sialnya aku bawa uang seratus ribuan. Aku khawatir nenek tua itu akan kesulitan dengan pengembalian.

Astaghfirullah…
Aku salah. Dia dengan mudah memilih uang untuk kembalian sambil mengkonfirmasi ke aku, ini uang lima puluh ribuan, sepuluh ribuan dan seterusnya.

Buat para suami, para lelaki, para PEJUANG KELUARGA, belajarlah pada nenek tunanetra penjual kerupuk ini. Biar tua tapi tidak bermental kerupuk. Ayo semangati semua keluarga untuk menjadi KELUARGA PEJUANG.

Budi Purwanto

Anak dan Ayahnya

Putranya tidak suka tinggal di rumah, karena ayahnya selalu ‘ngomel’, “Nak, kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan kipas angin.”

“Matikan TV. Jangan biarkan menyala di ruangan di mana tidak ada siapa-siapa menontonnya..”

“Simpan pena di tempatnya, itu jatuh ke bawah meja ”

Putranya tidak suka ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini. Tapi dia harus mentoleransi hal-hal ini sejak kecil, ketika dia bersama keluarganya di rumah yang sama.

Datanglah hari ini, dimana dia mendapat undangan untuk wawancara kerja. Dia membatin dalam hatinya, “Begitu saya mendapatkan pekerjaan itu, saya akan meninggalkan kota ini. Tidak akan ada lagi omelan dari ayah saya…” Begitulah pikirannya.

Ketika dia hendak pergi untuk wawancara, sang ayah menyarankan, “Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan kepadamu tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, sebutkan itu dengan percaya diri.” Ayahnya memberi uang yg lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan untuk menghadiri wawancara.

Putranya tiba di pusat wawancara. Dia memperhatikan bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, hal itu bisa membuat orang masuk melalui pintu menjadi tertabrak. Dia meletakkan gerendel kembali dengan benar, menutup pintu dan memasuki kantor.

Di kedua sisi jalan dia bisa melihat tanaman bunga yang indah. Air mengalir di pipa selang dan tidak terlihat seseorang di mana pun. Airnya meluap di jalan setapak. Dia mengangkat selang dan meletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melangkah lebih jauh.

Tidak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada pemberitahuan yang mengatakan bahwa wawancara berada di lantai pertama. Dia perlahan menaiki tangga.

Cahaya yang dinyalakan tadi malam masih menyala pukul 10 pagi. Dia ingat peringatan ayahnya, “Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu” Dan dia masih bisa mendengarnya sekarang. Dia merasa sedikit jengkel oleh pikiran itu, namun dia mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia bisa melihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Dia melihat banyaknya pelamar, hatinya bertanya-tanya apakah dia punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Dia pun memasuki aula dengan sedikit gentar dan menginjak tikar yg bertuliskan “Selamat Datang” yang ditempatkan di dekat pintu.
Diperhatikannya bahwa tikar itu terbalik.. spontan saja dia meluruskan matras, walaupun dengan sedikit kesal.

Dia melihat bahwa dalam beberapa baris di depan ada banyak orang yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong, tetapi sejumlah penggemar berlari di atas deretan kursi itu. Dia mendengar kipas angin, Dia mematikan kipas yang tidak diperlukan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

Dia melihat banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Jadi tidak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Ketika tiba gilirannya, Dia pergi dan berdiri di hadapan pewawancara dengan sedikit gemetar dan pesimis.

Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya, mereka langsung berkata, “Kapan Anda bisa mulai bekerja?”

Dia terkejut dan berpikir, “apakah ini pertanyaan jebakan, atau sebuah sinyal bahwa saya telah diterima untuk pekerjaan itu?”
Dia bingung.

“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya sang bos.
Kemudian melanjutkan kata2nya. Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Karena dengan mengajukan hanya beberapa pertanyaan, kami tidak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan attitude para kandidat.

“Kami mengamati setiap orang melalui CCTV
untuk mengamati apa saja yg dilakukannya: ketika melihat gerendel di pintu, pipa selang yg mengalir air, keset selamat datang, kipas atau lampu yang tidak berguna…”

“Anda adalah satu-satunya yang melakukan itu. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda”

Hatinya terharu, dia ingat ayahnya..
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ayahnya. Sekarang menyadari bahwa omelan dan disiplin yg ditanamkan ayahnya yang telah membuat dia diterima pada pekerjaan yg diinginkannya. Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna..

Ayah, ma’afkan anakmu, demikian bisiknya..

Dia memutuskan akan meminta maaf kepada ayahnya, dia akan membawa ayahnya melihat tempat kerjanya. Dia pulang ke rumah dengan bahagia..

Apapun yang ayah katakan kpd kita, hanyalah untuk kebaikan kita. Semua bertujuan untuk memberi kita masa depan yang cerah

Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah dan berharga, jika tidak menahan rasa sakit dari pahat yang memotongnya.

Agar kita menjadi pribadi yang indah, maka kita perlu menerima dan mematuhi peringatan. Memahat kebiasaan baik dari perilaku buruk yg muncul dari diri kita sendiri…

Ibu mengangkat anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..

Tetapi ayah mengangkat anak itu ke pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.

Ayah dan ibu adalah pahlawan dan guru kehidupan. Petunjuk dan kasih sayangnya mendampingi kita sepanjang kehidupan..

Perlakukanlah mereka dengan baik..
Hal ini akan menjadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi berikutnya, sebagai estafet

Tetaplah Menjadi Romantis

Bersikap romantis kala masih menjadi pengantin baru, itu wajar saja. Justru tidak wajar jika di awal-awal pernikahan tak tampak laku romantis.

Dan kalau setelah pernikahan mulai menginjak usia yang tak muda masih bersikap romantis, itu baru jempolan. Karena seperti sudah lumrah terjadi di masyarakat, semakin lama usia pernikahan semakin dingin hubungan suami istri.

Banyak anekdot yang mengisahkan hubungan suami istri yang sudah dimakan usia. Misalnya humor nama kontak istri di handphone suami. Baru menikah, tertulis “My Lovely Wife”. Setahun menikah, “My Wife”. Lima tahun menikah, “Home”. Sepuluh tahun menikah, “Kantor Pusat”. Lima belas tahun menikah, “Provost”. Dua puluh tahun menikah, “Mabes Polri”. Dua puluh lima tahun, “Wrong Number”. Tiga puluh tahun, “Wong Edan”. Dan tiga puluh lima tahun, “Mak Lampir”.

Semakin beranjak usia seseorang biasanya makin tidak lagi memperhatikan bentuk badan. Lalu bisa dibayangkan dinginnya sebuah rumah tangga yang telah berumur, di mana pasangan sudah tidak mampu bersikap romantis, ditambah pula bentuk badan masing-masing sudah tidak memikat pasangannya.

Sebuah contoh mengagumkan datang dari pribadi Rasulullah saw. Sikap romantisnya yang konsisten terekam dalam hadits riwayat Abu Daud yang diceritakan oleh Aisyah rha.

Suatu ketika Rasulullah saw, Aisyah rha. dan para sahabat bersama dalam sebuah perjalanan. Dalam satu kesempatan Rasulullah memberi aba-aba kepada para sahabat, “Majulah kalian.” Rasulullah meminta para sahabat untuk meninggalkan ia dan Aisyah berdua.

Setelah keadaan memungkinkan, Rasulullah berkata kepada Aisyah yang saat itu masih langsing dan belia – di kala itu usia pernikahan mereka masih begitu muda, “Ayo, kita berlomba lari,” ajak Rasulullah.

Aisyah menyanggupi. Ujarnya, “Akupun berlomba bersama beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau”.

Kemudian waktu pun bergulir. Tahun demi tahun, pernikahan Rasulullah dan Aisyah tetap hangat walau tubuh Aisyah makin gemuk.

Suatu saat mereka kembali mengadakan perjalanan bersama para sahabat. Rasulullah meminta kepada para sahabat, “Majulah kalian”. Kemudian Rasulullah menantang kembali Aisyah untuk berlomba lari. Aisyah berujar, “Aku berusaha mendahului beliau namun beliau dapat mengalahkanku”.

Mendapatkan kemenangan, beliau saw pun tertawa seraya berkata: “Ini sebagai balasan lomba yang lalu.”

Rasulullah saw mencontohkan sikap hangat kepada istrinya, baik saat baru menikah atau sudah lama menikah. Ajakan lomba lari kepada istrinya adalah contoh pemanfaatan waktu yang berkualitas untuk berdua-duaan. Dan itu Rasulullah lakukan baik saat Aisyah badannya masih lentur atau sudah tidak sefleksibel dulu.

Kisah ini menjadi cermin buat suami dan istri, untuk tetap menjaga sikap romantisnya layaknya awal-awal menikah. Tak ada salahnya untuk mengulangi kenangan yang manis bersama pasangan, mengunjungi tempat yang pernah dikunjungi, makan malam di tempat yang dulu pernah menjadi langganan, atau melakukan kembali kejutan-kejutan romantis yang dulu pernah dilakukan.

Tetaplah menjadi romantis seperti dulu!

Zico Alviandri

Hubungan Kakak-Adik

Hubungan persaudaraan yang sebenarnya adalah ketika saudaramu sudah sama-sama berumah tangga…..

Akankah hubungan itu masih sama ketika masa kecil dahulu…ketika bertengkar kemudian bermain bersama lagi…..

Ketika ada yg mengganggumu…kemudian kau panggil kakakmu….lalu dengan badannya yang lebih besar dia membelamu Karena kau adalah adiknya….

Atau ketika kau membela adikmu yg memang bersalah…..demi sebuah kata karena dia adikku.

Ketika makanan yang dihidangkan ibumu….dibagi bersama saudaramu.Satu makan tempe maka semua tempe….tak ada yg dipilih kasih…satu makan telor maka dibagilah telornya jika hanya satu butir.

Atau ketika bpkmu pergi kondangan dan membawa….satu tempat makanan….pasti berebut makanan kesukaan….tapi ujung-ujungnya….makan bersama dalam satu wadah.

Ah…..betapa akan sangat dirindukan hal-hal seperti itu.

Akankah moment kebersamaan itu masih ada ketika kalian sdh berumah tangga???.

Ketika satu menjadi kaya yang lain hanya biasa saja…..
ketika satu menjadi orang terhormat sementara yang lain hanya jd rakyat biasa….atau ketika yang satu telah menjadi sangatlah alim….tapi yang lain masih mencari jati diri….belum dibukakan hidayah….

Maka selayaknya….saudara tetaplah saudara….dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama…maka darah saudaramu juga sama denganmu…sudah sepatutnya saling mengingatkan….saling membantu… saling bergandengan tangan……karena sesungguhnya saudaramu jauh di lubuk hatinya akan juga mendoakan mu…..

Ketika kau menjadi kaya…saudaramu tdk akan meminta hartamu tapi dg bangga dia akan berkata..pada semua orang “lihatlah…saudaraku sudah jadi orang kaya”……

Yang jadi ujian adl ketika saudaramu terpuruk….akankah kalian meninggalkan atau melambaikan tanganmu utk merengkuhnya???

Coba tanya hatimu sendiri….Karena saudara bkn hanya perkara harta, bkn pula masalah yang bermartabat atau tidak

bukan pula masalah siapa yg dekat pada Sang Pencipta atau tidak….. tapi ini masalah hati

Ingatlah….belum tentu saudaramu yang terpuruk akan selamanya terpuruk…..tak pasti juga dia yang sekarang jadi orang brutal esok juga akan tetap sama….

Dan belum tentu yang sekarang kaya akan selamanya kaya…yang sekarang alim akan tetap alim..

Karena hanya Tuhanlah yang tahu.

Jagalah saudaramu selagi ada….dalam keadaan apapun…Karena kelak dia juga akan menjagamu….walau pun hanya lewat doa.

#tetepbersaudara

Jawaban Atas Setiap Protes

Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Mungkin kita akan protes kepada Tuhan, “Wahai Sang Khaliq, kenapa Engkau berikan kepadaku anak yang pemalu, padahal teman-temannya begitu berani dan percaya diri?”

Bisa jadi Tuhan akan menjawab, “Wahai hamba-Ku, di balik rasa malu ada harga diri tinggi, yang membuatnya tidak suka akan ejekan dan cibiran orang. Tugasmu sebagai orangtua adalah memberinya sedikit keberanian dan percaya diri agar anakmu bisa jadi pemberani yang bermartabat. Bukan pemberani yang membabi buta, yang hanya menimbulkan keresahan dan ketakutan pada orang lain. Pemberani yang bermartabat akan selalu menjadi penakut nomor satu bila harus melakukan hal-hal yang melanggar perintah-Ku.”

Di saat lain mungkin kita akan protes, “Wahai Tuhan, kenapa Engkau berikan kepadaku anak yang bebal, padahal teman-temannya begitu pandai dan cerdas?”

Bisa jadi begini jawaban Tuhan, “Hamba-Ku, ketahuilah hanya orangtua bebal yang menganggap anaknya bebal. Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Bila kekurangan anakmu engkau bandingkan dengan kelebihan anak lain, tentu saja yang tampak hanya kebebalannya. Tapi carilah kelebihan yang telah Kuberikan padanya, maka engkau pun akan bersyukur. Ketahuilah, bentuk kecerdasan tidak hanya satu. Aku telah menciptakan sangat banyak kecerdasan-kecerdasan hidup. Apakah engkau mengira tak ada satupun bentuk-bentuk kecerdasan itu yang aku tanamkan dalam diri anakmu?”

Pasti akan ada juga orangtua yang protes, “Tuhan, kenapa kau berikan anak padaku yang tidak setampan dan secantik anak-anak yang kau berikan pada orang lain?”

Tuhan setidaknya akan menjawab, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya bagi mahluk setiap kesempurnaan pasti diikuti oleh kekurangan. Sebaliknya, setiap kekurangan pun pasti ditutupi oleh kelebihan-kelebihan. Bersyukurlah engkau bahwa kekurangan anakmu adalah di rupanya. Suatu kekurangan yang tidak perlu susah payah lagi engkau perbaiki karena memang begitulah adanya. Berarti berkurang satu beban padamu untuk membantu anak menutupi kekurangannya. Sementara kekurangan-kekurangan yang lain akan Aku minta pertanggungjawabanmu: apakah engkau telah membantu anakmu mengatasi kekurangan-kekurangannya itu.”

Di tempat lain banyak juga orangtua yang melakukan protes, “Wahai Sang Maha Pencipta, mengapa tidak Engkau berikan padaku harta yang banyak agar aku bisa memasukkan anakku ke sekolah-sekolah yang bagus sehingga terjaminlah masa depannya?”

Ada kemungkinan begini kira-kira jawaban Tuhan, “Hai Hambaku, rezeki tiap mahluk tidaklah sama. Namun yang terpenting, rezeki tidaklah harus berupa harta. Rezeki dari-Ku bisa berbentuk kesehatan, kecerdasan dan keshalihan seorang anak. Syukurilah itu, sebab kesehatan, kecerdasan dan keshalihan seorang anak tidak bisa dibeli meskipun engkau memiliki harta sepenuh bumi dan langit. Bila engkau merasa hartamu kurang, janganlah melancarkan protes, tetapi berdoalah pada-Ku dan tunjukkan pada-Ku bahwa engkau memang layak diberi sedikit harta dengan kerja kerasmu. Setelah itu ingatlah, masa depan anakmu bukan milikmu. Masa depan anakmu telah Aku tentukan dalam sebentuk takdir. Bila anakmu mematuhi-Ku masa depan anakmu akan menapaki takdir yang kuridhoi. Begitupun sebaliknya. Masa depan anakmu memang bukan milikmu tetapi usahamu sebagai orangtua yang mendidik sangat menentukan seberapa banyak kebaikan dan kemudahan yang akan Kuberikan pada anakmu.”

Orangtua-orangtua pengeluh akan sering melakukan protes pada Tuhan, “Mengapa Engkau jadikan anakku begini, mengapa Engkau jadikan anakku begitu, ya Tuhan?”

Maka kira-kira jawaban Tuhan akan selalu balik bertanya, “Kaca mata apakah yang engkau pakai, hamba-Ku? Bila engkau mengasuh anakmu dengan selalu berprasangka baik pada-Ku, maka engkau layak berharap besar bahwa usahamu sebagai orangtua tidak sia-sia. Bahwa kelak anak-anakmu akan mendatangkan pahala dan kehormatan besar padamu. Namun bila engkau mengasuh anakmu dengan selalu berburuk sangka pada-Ku, maka engkau akan selalu meratap. Tak mungkin ada anak hebat yang dihasilkan dari orangtua peratap.”

Salam Smart Parents!

Sakinah Mawadah Warahmah: Proses Terbentuknya Cinta dalam Pernikahan

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Begitu bunyi pantun lama. Mengisahkan tentang terbentuknya cinta di dalam hati anak manusia.

Dalam dongeng atau pun roman picisan yang berakhir happy ending, biasanya akhir cerita akan mengisahkan sepasang manusia yang saling mencintai akan menikah dan hidup selamanya. Seolah cinta menjadi penjamin sepasang manusia mampu bertahan dalam ikatan perkawinan.

Padahal membangun rumah tangga tak sesederhana itu: ekspresikan cinta, lalu bahagia selamanya. Gambaran itu terlalu manis dan bisa menipu pemuda/pemudi yang hendak menjalin pernikahan.

Dalam Al-Qur’an, pernikahan tidak digambarkan sebagai muara dari cinta yang tumbuh di hati dua anak muda. Tetapi justru pernikahan membentuk cinta dari dua anak manusia yang bersatu. Pernikahanlah yang menyebabkan cinta!

Tahapan terbentuknya cinta sebagai buah dari perkawinan digambarkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 21. Ayat ini cukup populer karena sering disertakan dalam undangan pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS: Ar-Ruum:21)

Dari ayat ini, muncul kata-kata terkenal: sakinah, mawaddah, warohmah.

Sakinah atau Rasa Tenteram

“Litaskunu” kata Allah swt. Agar kamu menjadi tenang atau tenteram atau nyaman dengan adanya pasangan hidup. Sakinah.

Pernikahan menghapus predikat “jomblo galau”. Dengan pernikahan, tak ada lagi kegelisahan saat nafsu datang. Ada tempat untuk melampiaskan dengan nyaman tanpa rasa takut operasi satpol PP ataupun penyakit menular.

Sebagai teman, pasangan hidup membuat tenang dengan tempat menumpahkan perasaan suka dan duka juga sebagai kawan berjuang mencapai kemapanan bersama.

Inilah pernikahan yang diharapkan oleh Al-Qur’an. Bukan pernikahan yang selalu diliputi kecemburuan, kecurigaan, dan tuntutan alih-alih mau menerima apa adanya.

Mawaddah wa Rohmah, atau Cinta dan Harapan

Lalu Allah swt melanjutkan dengan kata-kata “wa ja’ala baynakum mawaddah wa rohmah”, “dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Mawaddah wa rohmah, cinta dan kasih sayang, merupakan buah dari rasa nyaman kepada pasangan.

Allah memilih kata mawaddah, bukan mahabbah. Ada yang mengartikan karena mawaddah adalah cinta yang terus menerus tanpa mengharap balasan. Sedang mahabbah adalah cinta yang berharap balas.

Tentu makna ini berarti cinta yang tulus. Ada kisah mengharukan tentang suami yang rela merawat istri yang lumpuh. Atau istri yang tetap setia menemani suami yang bisnisnya sedang terpuruk. Itu adalah mawaddah. Dan sangat pas untuk konteks pernikahan.

Atau ada juga yang mengartikan mahabbah berarti cinta yang meluap-luap dan bergejolak. Sedangkan mawaddah berarti cinta yang lebih dewasa.

Arti yang lebih ringkas, mawaddah bermakna cinta dan harapan.

Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Ekspresi menyantuni, merawat, dan memelihara, dsb.

Jadi, jalan terbentuknya cinta dan kasih sayang harus didahului dengan perasaan tenteram terhadap pasangan. Orientasi awal pernikahan adalah bagaimana menyelaraskan perilaku sehingga lahir kesepahaman dan kenyamanan. Tidak harus memeriahkannya dengan bulan madu yang romantis yang berorientasi kesenangan belaka.

Di awal pernikahan, terkuaknya sifat buruk pasangan justru bermanfaat sebagai informasi tentangnya yang akan kita sikapi – baik bersabar maupun mencoba membantunya berubah. Dan terlihatnya kebaikan pasangan adalah hal yang harus selalu dikenang untuk disyukuri dan menjadi pengokoh rasa nyaman kepadanya.

Zico Alviandri

Cinta yang Mendewasa

“Pas awal-awal nikah sering nangis mbak. Gak nyangka rupanya kayak gini rasanya pernikahan.” Ujar kakak sepupuku. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Dari curhatan orang-orang kepadaku, setiap wanita biasanya shock di awal pernikahan. Hanya beberapa hari saja bak surga. Setelahnya, kalau tak kuat mental dan iman, rumah tangga bisa jadi neraka menyala2. Kenapa bisa?

Begitulah memang pada kenyataannya.

Kenyataannya, cinta itu bukan sesuatu yang selalu indah, selalu berbunga2. Karena bagai taman, saat musim semi ia memang berbunga. Namun ada kalanya musim gugur, daun2 berjatuhan. Apalagi di musim panas, kering dan gersang.

Kenyataannya, cinta itu tidak stagnan, ia amatlah labil. Selabil hati yang selalu berfluktuasi. Maka hari ini kita bisa tersenyum bersama kekasih namun esok bisa jadi kita saling tak enak hati. Membisu dalam sekam.

Memang begitulah fitrah cinta. Maka cinta harus disikapi dengan kedewasaan dan kelapangan. Kedua kekasih harus saling memperbaiki diri. Bergantian mengalah dan mengemukakan pendapat. Ada saatnya diam dan ada saatnya bicara. Ada saatnya meneteskan air mata sendiri ataupun berdua.

Ketika cinta dua kekasih mendewasa, maka hubungan dua kekasih akan gapai bahagia. Apalagi saat kedua kekasih rajin curhat pada-Nya, menggantungkan cinta pada Sang Maha Pencipta cinta itu sendiri, maka berkah akan menaungi keduanya hingga ke surga. Ah, begitulah cara cinta bekerja.

Namun cinta yang mendewasa hanya ada dalam pernikahan. Pernikahan akan menyediakan segala perniknya untuk mendewasakan cinta. Maka jangan heran akan kita temui rasa kesal, marah dan benci seperti rasa sayang kita pada sang kekasih. Namun itu tak lantas membuat kita berpisah darinya karena ada banyak kenangan berharga juga bersamanya. Tak hanya kenangan bahagia, namun juga kenangan duka. Begitulah cinta yang mendewasa, cinta dalam pernikahan, cinta yang paling pantas menghantarkan kita ke surga. Karena dalam pernikahan sudah kita lalui berbagai uji dan coba hingga 1/2 agama kita ada bersamanya. Ah cinta…

Aku ingat sekali kata2 bijaksana dr.Zakir Naik saat ditanya tentang cinta, “Cintailah orang yang kau nikahi, bukan menikahi orang yang kau cintai.”

Ah, sungguh cinta yang mendewasa…

Eka Diyah Ardiyati

Ayahku Hebat…

|| Kontributor: Mekel Roseta ||

Barangkali setiap laki-laki di dunia ini selalu mendambakan dirinya menjadi seorang ayah yang hebat.

Menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Misalnya saja, saat anaknya takut gelap, lampu padam, ayah hadir untuk menenangkan hatinya. Saat ia takut untuk keluar rumah, bersama ayah semua rasanya aman tentram.

Ayah saya mungkin tidak hebat seperti super hero. Kalau ayah hebat adalah ayah yang tidak pernah membentak anaknya, maka ayah saya bukan seperti itu.

Ayah saya termasuk ayah yang galak. Suara yang keras sudah menjadi santapan setiap hari. Kadang hal-hal sepele dihadiahi oleh gertakan. Misalnya saja karena salah meletakkan handuk, tidak rapi, langsung saja gertakan muncul.

EIts, tapi tak cuma bentakan, tapi juga pukulan. Ya, sewaktu kecil ayah langganan banget memukul saya. Tiap kali ia emosi, tangannya selalu lincah menyasar pantat saya.

Tapi saya juga tahu bahwa ayah adalah orang yang sayang pada anak-anaknya. Dan rela melakukan hal apa saja untuk anaknya, bahkan kadang hal yang tidak rasional sekalipun. Dan itu pernah dilakukan ayah.

Dulu saat saya masih SD, saya sempat terjatuh karena bermain bola. Tidak ada cedera serius sebenarnya, hanya saja saat saya berjalan apabila dilihat dari belakang maka akan terlihat sedikit pincang.

Awalnya tidak ada yang tahu, dan saya pun tidak merasa kesakitan. Biasa saja. Hingga suatu hari saat saya berjalan ke kamar mandi, ayah melihat saya berjalan dengan agak pincang.

“Loh, sikilmu ngopo?” tanyanya.

“Rapopo kie, Pak,” jawab saya.

“Kok mlakune pincang ngono. Waduh, ndelok kene..”

Di lihatnya kaki saya. Ia usap-usap, diperhatikannya seperti dokter ahli. Setelah tak diketahui ada yang aneh, ia membiarkan saya masuk ke kamar mandi.

Ternyata ayah menganggap serius soal “cedera” saya itu.

Selang beberapa hari kemudian ia mengajak saya ke dokter untuk di rontgen apabila ada yang retak. Hasilnya? Nihil. Ya, karena memang kaki saya tidak retak. Dokter pun mengatakan tak ada yang salah, dan ia juga tak bisa menjawab kenapa jalan saya agak pincang.

Ayah saya tak menyerah. Dibawanya saya ke tukang pijat. Ke ahli akupuntur. Ke banyak macam pengobatan tradisional. Namun hasilnya tetap sama saja.

Melihat hasil yang tidak memuaskan itu, saya ingat ayah menangis malam-malam. Ia sesenggukan sambil mengelus-elus kaki kanan saya. Membuat saya terbangun namun saya tak ingin menganggunya. Saya teruskan pura-pura tidur hingga benar-benar tertidur.

Usaha terakhir ayah untuk menyembuhkan saya adalah usaha yang tidak rasional. Malam-malam saya diajaknya ke lapangan. Disuruhnya saya menunjukkan lokasi jatuh. Lalu ia keluarkan kembang mawar tujuh rupa dan menyan.

Ia nyalakan api dan membakar menyan sambil komat kamit.

Mungkin ia minta agar jin penunggu lapangan tidak mengganggu. Tidak membuat saya sakit. Mungkin dikiranya saya kualat. Dalam kultur masyarakat Jawa hal-hal semacam ini wajar dilakukan. Ayah saya memang tidak berpendidikan tinggi, pun tidak berilmu agama yang mumpuni, maka ia meyakini bahwa yang ia lakukan itu sah-sah saja. Semata demi kesembuhan anaknya.

Kini setelah puluhan tahun kemudian, saya baru sadar bahwa kaki saya sebenarnya normal-normal saja. “Pincangnya” saya disebabkan karena perbedaan beberapa senti panjang kaki. Dan itu masih wajar, yah seperti beda tinggi antara jari manis dan telunjuk. Saya masih bisa main bola. Bahkan saya membayangkan jadi seperti Hiro Ito yang kakinya juga panjang dikit sebelah.

Itulah salah satu tanda betapa besarnya kasih sayang ayah.

Tentu setiap ayah punya cerita masing-masing. Yang menjadi tanda betapa seberapa pun kurangnya kita menjadi ayah yang hebat -menurut pengertian umum dan para ahli- tapi tetap ada satu dua kisah yang menunjukkan bahwa kita adalah ayah hebat.

Kalau kita belum bisa menjadi ayah seperti yang diajarkan dalam buku-buku parenting, janganlah putus asa. Janganlah rendah diri.

Terus belajar saja.

Sembari menyaksikan betapa ajaib dan cepatnya anak-anak kita tumbuh dewasa.

“Cinta seorang Ayah kadang memang tak terlihat, tapi kita dapat merasakannya…”

Urusan Jodoh, Mintalah Selalu Do’a Mereka

|| Kotributor: Khansa Sayyidatina ||

Doa orangtua ibarat tak ada yang membatasi… insya Allah, akan sampai kepada sang Pengabul doa, Allah swt sebagaimana hadits di bawah ini.

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani.

Oleh karena hal tersebut, sebagai orangtua juga tak boleh sembarangan mengucapkan doa untuk anak-anaknya.

Saya belajar itu semua dari Ibu. Ibu yang telah menghidupi tiga anaknya setelah hampir 13 tahun lalu ditinggal Bapak. Ibu sering mengingatkan saya untuk berdoa baik-baik bagi suami dan anak saya. Terkadang, tanpa sadar di tengah emosi yang tak tertahan dengan mudah kita mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Kemudian, ibu mengingatkan dengan lemah lembut, tak baik mengucapkan sesuatu buruk saat emosi, terutama untuk anak dan suami, beristighfarlah….

Dalam hal jodoh, selain kita juga berusaha dan berdoa janganlah pernah lupa meminta restu dan doa dari orangtua. Sebenarnya, tanpa diminta, orangtua pasti akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Akan tetapi, tak ada salahnya kita pun melibatkan orangtua dalam pencarian jodoh ini. Ungkapkan keinginan kita, kriteria seperti apa, dan visi misi ke depannya. Bertukar pikiran dengan orangtua soal jodoh akan menjadi diskusi menarik. Mungkin akan ada perbedaan pendapat, tapi justru saat itulah kita ungkapkan apa yang ingin kita lakukan.

Soal taaruf, perkenalan menuju pernikahan dan lain-lain mungkin merupakan hal yang awam bagi sebagian orangtua kita yang memahami pernikahan diawali dengan pacaran ataupun intensitas pertemuan yang cukup sering.

Oleh karena itu, pelan-pelan kita menjelaskan aturan yang ada dalam Islam dalam proses menuju jenjang pernikahan, selain tentunya kita juga memohon doa agar orangtua kita bisa memahami dengan baik.

Insya Allah, hati dan pikiran orangtua kita pun akan terbuka dan turut membantu mencarikan jodoh yang kita inginkan. Kalaupun belum bisa, insya Allah, ia senantiasa mendoakan kita.

Segala sesuatunya berproses hingga ketika tiba saatnya nanti kita mengajukan seseorang yang baru kita kenal dari sebuah biodata, orangtua kita tak lagi kaget.

Hal itulah yang saya lakukan selama penantian tujuh tahun berikhtiar. Bolak-balik biodata, sosok laki-laki datang langsung berkenalan untuk menuju pernikahan. Beberapa kali juga Ibu saya memberi pendapat.

Ibu juga tak pernah lelah menghibur ketika saya dirundung kekecewaan. Saya sadari ia begitu tulus dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia pun selalu saya jelaskan panjang lebar tentang sebuah proses menuju pernikahan walau itu tak umum di keluarga kecil maupun keluarga besar kami. Karena dengan segala jalan yang ditempuh, dari lubuk hati, saya sangat menginginkan proses pernikahan yang syari.

Hingga suatu hari, saya sodorkan sebuah foto, sosok laki-laki yang kemudian hadir ke rumah untuk taaruf dan khitbah. Laki-laki yang dengan serius ingin menikahi saya. Laki-laki yang langsung mendapatkan restu dari Ibu saya. Laki-laki yang secara paras lumayan menarik.

Terdengar sedikit obrolan ibu dan abang saya ketika sosok itu pamit, “Ibu doain apa jodohnya Khansa?”

“Laki-laki yang baik agamanya, bertanggung jawab plus ganteng”

Saya tertawa mendengarnya. Kriteria ganteng tak pernah saya masukkan dalam biodata saya, delalahnya ibu dengan polos meminta kepada-Nya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya.

Alhamdulillah, laki-laki itu telah menjadi suami saya setelah proses yang sedemikian lancar dan mudah. Dengan dukungan kedua belah pihak, persiapan kurang dari sebulan telah mempertemukan kami di pelaminan hingga saat ini menuju tahun ke-5 pernikahan kami. Moga kelak kami bisa menjadi partner dunia-akhirat bersama anak-anak kami, berguna bagi umat dan bangsa.

Dia insya Allah banyak membimbing saya dalam ilmu agama, menyayangi kami, bertanggung jawab dan Bonus ganteng, hehe

So, jangan pernah ragukan doa orangtuamu.

Mintalah dengan tulus… doanya tak dibatasi tabir karena ridha-Nya pun bergantung juga dengan ridha orangtua.

Salam,

Forgiven Not Forgotten: Tak Cukup Berucap ‘Saya Minta Maaf’

Kemarin pagi saya sedang menemani anak saya, Hibban, yang hari itu bangun kesiangan dan segan untuk berangkat ke TK-nya. Kami menonton televisi di ruang tengah, dengan saluran favoritnya yaitu Disney Junior. Saat itu sedang diputar kartun Daniel Tiger’s Neighborhood. Diceritakan, Daniel dan Pangeran Rabu sedang bermain membuat kue pie dari pasir basah. Oleh karena ingin membuat kue pie yang indah, mereka menggunakan mahkota milik Pangeran Selasa yang saat itu sedang tergeletak. Ide ini ternyata fatal, karena mahkota tersebut menjadi sangat kotor. Saat Pangeran Selasa datang, dia tampak tak suka. Ada dialog yang sangat menarik setelah itu, yang kurang lebih begini:

Daniel, “Kami minta maaf atas kecerobohan kami.”
Pangeran Rabu (PR), “Iya, saya juga minta maaf.”
Pangeran Selasa (PS), “Oke saya maafkan.”
PR, “Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita main bersama membuat pie?”
PS, “Tidak, aku tidak mau.”
Daniel, “Kenapa?”
PS, “Aku masih marah”
PR, “Karena mahkotamu sekarang kotor? Kalau begitu, apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

Adegan selanjutnya adalah mereka bernyanyi lagu sederhana, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”
PS, “Emm,..bagaimana kalau kalian bersihkan mahkotaku?”
Daniel dan PR segera membersihkan mahkota tersebut, dan setelah itu baru mereka bermain bersama.

Pesan sederhana di film kartun itu sangat menggelitik dan menyindir saya sendiri. Karena, kadang kita yang sudah dewasa pun lupa untuk melakukan sesuatu bagi orang yang sudah kita cederai setelah kita minta maaf. Seolah dengan sudah dimaafkan, berarti beres sudah. Tak melihat lagi bahwa dia yang sudah memaafkan pun sedang bersusah payah mengikhlaskan hatinya, dan dia perlu dibantu untuk itu. Terlebih karena jelas-jelas kitalah yang telah membuat luka hatinya. Ternyata, setelah minta maaf tak berarti beres, tetapi perlu dilanjutkan dengan, “Apa yang dapat kulakukan untukmu?”

Sehingga, jangan sampai meskipun seseorang sudah memaafkan, tapi sebetulnya masih ada ganjalan dan sulit melupakan. Sampai fenomena ini menjadi lagu yang diciptakan oleh salah satu grup musik ternama, the corrs, dengan lagunya forgiven not forgotten. Tentu kita tidak ingin begitu. Baik sebagai orang yang melakukan kesalahan, maupun sebagai orang yang dicederai.

Saya teringat pada salah satu episose sejarah, tentang luka hati yang dirasakan Rasulullah saat perang Uhud, dimana salah satu paman kesayangannya yang begitu gigih membela beliau sebelumnya, Hamzah, syahid terbunuh. Hamzah dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang dijanjikan akan merdeka oleh tuannya, jika mampu membunuh Hamzah. Perjalanan takdir lalu membawa Wahsyi ke dalam pelukan Islam. Sebagai seorang muslim, tentu dia rindu sekali ingin bertemu Rasulullah. Namun, syahidnya pamanda Hamzah bagi Rasul telah menoreh luka sangat dalam, apalagi dengan dilihatnya Wahsyi, si pembunuh. Sehingga saat Wahsyi ingin mendekati beliau, Rasul berkata, “‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajah dan dirimu dari penglihatanku?”

Bukan berarti Rasul tak memaafkan Wahsyi. Tapi luka itu begitu dalam. Wahsyi mengingatkannya tentang Hamzah yang terbunuh, dan jasadnya yang dirusak serta diambil jantungnya oleh Hindun. Hingga secara spontan usai perang Uhud Rasul pernah berucap akan membalas dengan cara yang sama terhadap 30 orang kafir Quraisy  Tetapi lalu Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut. Sungguh luka itu begtu dalam, hingga melihat Wahsyi sekilas pun bertahun kemudian, luka itu menguak kembali, perih.

Di sisi lain, andai kita menjadi seorang Wahsyi, alangkah sedihnya. Keislamannya tak mampu membuatnya untuk bisa berdekat-dekat dengan Rasul yang dicintainya. Ia tentu sangat sedih, tapi ia juga memahami luka yang dirasakan Rasul. Ia hanya mampu memandang Rasul dari kejauhan, sama sekali tak berani mendekat, hingga Rasul wafat. Hingga pada saat kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar, muncullah beberapa nabi palsu, antara lain Musailamah. Wahsyi termasuk diantara salah satu sahabat yang dikirim Abu bakar untuk menumpas Musailamah dan gerombolannya. Dia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menebus kesalahannya yang sangat fatal di masa lalu: membunuh Hamzah. Dengan tombak yang sama untuk membunuh Hamzah dulu, dia gunakan tombak itu untuk membunuh Musailamah. Paling tidak, apa yang telah dilakukannya itu mampu membebaskan rasa tersiksanya sendiri, oleh kesalahannya yang begitu fatal sehingga tak bisa berdekat-dekat dengan Rasulullah.

Dari Wahsyi, kita juga belajar, bahwa seseorang tak cukup untuk hanya mengatakan minta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi perlu melakukan sesuatu. Meski Wahsyi menemukan momen itu agak terlambat, justru setelah Rasul wafat. Tapi, tentu semua kisah ini mengandung hikmah. Paling tidak, supaya kita juga berhati-hati, jangan sampai membuat orang lain terpaksa memaafkan, padahal di hatinya masih ada luka yang dalam. Lebih jauh lagi, tentu sebisa mungkin tidak menciderai hati orang lain, meski pun ini sangat sulit.

Jadi, marilah kita camkan bersama, “Saying sorry it’s the first step. And then how can I help?”

PS:
Ohya, tambahan info. Film kartun Daniel ini diputar tiap hari di saluran Disney Junior tiap jam 07.30. Tapi bagi yang tidak memiliki TV kabel, jangan berkecil hati, kita bisa melihat  nilai-nilai (values) yang bisa diambil dari tiap episode disini, namun sayang sementara ini untuk video streamingnya baru bisa diputar closed user di amrik. Sedang nilai-nilai khusus dari episode saying im sorry bisa dilihat disini.

Muktia Farida

7 Januari 2015