Jendela Virtual Keluarga Itu Bernama Media Sosial

pernikahan adalah akad untuk saling mencintai menghormati dan menghargai

Kita semua mengetahui dan pernah melihat jendela. Di rumah kita, di kamar kita, hampir selalu ada jendela, bahkan jumlahnya bisa lebih banyak dari jumlah penghuninya. Sangat banyak manfaat jendela, di antaranya adalah untuk ventilasi, namun juga sarana interaksi dan komunikasi. Mengapa bisa menjadi sarana interaksi dan komunikasi? Coba perhatikan perilaku tetangga atau teman kita, bahkan mungkin perilaku kita sendiri.

Saat di dalam kamar mendengar suara tukang baso keliling, dengan cepat membuka jendela dan memesan baso lewat jendela. Ini contoh fungsi jendela sebagai sarana interaksi dan komunikasi. Dengan jendela, begitu mudah kita bisa melihat dunia di luar kita. Kamar kita terlalu sempit namun menjadi luas karena memiliki banyak jendela. Selain itu, jendela juga bermakna akses, yang menghubungkan kita dari satu ruang ke ruang lainnya. Lewat jendela kita bisa melihat dan mengetahui aktivitas orang lain. Mengenal kepribadian orang lain.

Sumber gambar: pinterest.com
Sumber gambar: pinterest.com

Jendela Virtual

Pada zaman kita hidup saat ini, jendela bukan hanya terbuat dari kayu atau besi yang terpasang di rumah kita. Namun yang lebih dekat lagi adalah jendela virtual yang tergenggam di tangan kita masing-masing. Jendela yang selalu kita bawa ke mana-mana. Jendela yang menyita sebagian waktu kita. Berada di dalam smartphone dan gadget kita. Sangat dekat bahkan melekat dengan diri kita di mana pun kita berada. Itulah yang saya maksudkan sebagai jendela virtual. Jendela yang tidak berbentuk fisik.

Semua fitur komunikasi kita adalah jendela. WhatsApp, Line, Facebook, Instagram, Telegram, web, blog dan lain sebagainya adalah jendela. Fitur-fitur itu membuka bahkan menelanjangi diri kita. Semua tentang diri kita bisa dibaca dan diketahui pihak lainnya. Sebagaimana kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang orang lainnya. Tanpa sadar, kita telah membuka bagian-bagian dari kehidupan kita untuk kita sharing secara sangat terbuka. Bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sangat sosial, sepertinya aneka fitur komunikasi ini memang sangat pas.

Sebagai contoh sederhana, saya belum pernah ketemu Mas Jody, pemilik akun @jody_waroeng di Instagram. Beliau adalah pengusaha kuliner yang sangat terkenal di Indonesia. Walaupun sama-sama tinggal di Yogyakarta, saya belum pernah bertemu muka dengan beliau. Padahal saya sekeluarga pelanggan setia Waroeng Steak milik beliau yang sangat lezat, juga Bebek Goreng Pak Slamet di Yogyakarta yang menjadi salah satu usaha beliau.

Namun syukurlah beliau membuka jendela. Melalui Instagram, saya mengetahui bahwa Mas Jody memiliki hobi olahraga fitnes, hobi motor gede dan hobi silaturahmi. Saya menjadi tahu bahwa Mas Jody sejak sekolah SMU sudah biasa naik motor dari Solo ke Surabaya, bolak-balik. Bahkan beliau menyatakan bahwa lebih baik tidak punya mobil daripada tidak punya motor. Beliau memang pecinta motor, dan sering melakukan touring bersama komunitas teman-teman beliau. Melalui Instagram, saya jadi mengenal dan hafal wajahnya. Moga suatu ketika ada kesempatan bertemu beliau.

Demikian pula Mas Saptuari, pemiliki aku @saptuari di Instagram. Beliau saat ini sangat terkenal di Indonesia melalui berbagai gerakan “Kembali Ke Titik Nol”. Saya belum pernah bertemu beliau walaupun sama-sama tinggal di Yogyakarta. Alhamdulillah saya bisa mengenal ciri fisiknya yang akan memudahkan saya mengenalinya jika suatu ketika bertemu muka. Saya bisa mengetahui berbagai kesibukannya, bahkan bayi mungilnya. Semua bisa saya akses lewat jendela Instagram.

Saya juga menjadi merasa dekat dengan tokoh-tokoh hebat seperti Dik Ustadz Salim A. Fillah, Mbak Helvy Tiana Rosa, Mbak Asma Nadia melalui akun Instagram mereka. Saya menjadi mengerti kegiatan, kesibukan, pemikiran, dan sepak terjang para tokoh inspiratif tersebut melalui jendela virtual. Setiap hari serasa bertemu tokoh hebat, dan bisa memberi saya inspirasi dan motivasi untuk selalu berbuat, bekerja, berkarya, melakukan hal terbaik yang saya bisa, bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan peradaban dunia.

Kita juga dengan mudah dan leluasa melihat ketegaran dan kerapuhan seseorang melalui media sosial mereka. Banyak orang menulis kepahitan, kesengsaraan, kepedihan, dengan bahasa yang melow, yang menandakan kerapuhan dan ketidaktegaran menghadapi persoalan kehidupan. Saya miris membaca status di Facebook yang berisi caci-maki, sumpah serapah, kata-kata hujatan dan celaan yang diarahkan kepada pasangan, atau kepada pacar, atau kepada mantan pacar. Saya sedih membaca status orang di Instagram yang mengharu-biru, bercerita secara galau dan melow. Betapa rapuh jiwa mereka, mengekspos kesedihan dengan semena-mena tanpa menyadari bahwa tulisan itu bisa dibaca oleh masyarakat seluruh dunia.

Sebaliknya kita juga sering membaca status di Facebook, kalimat-kalimat motivasi, kisah penuh inspirasi, yang memberikan penguatan kebaikan bagi pembaca. Ingatlah selalu, Anda adalah apa yang Anda tulis di media sosial. Semua dari kita memiliki jendela untuk melihat dunia lain, dan mendapatkan keterpengaruhan dari pihak lain. Bisa positif, bisa negatif. Jendela ini mengajak kita mengerti beragam corak manusia, dan beragam isi dunia. Maka, betapa penting filter nilai dalam diri kita untuk bisa bersikap secara bijak, tepat dan dewasa, ke arah mana jendela kita buka.

Beginilah corak perkenalan dan persahabatan manusia di zaman cyber. Sekarang kembali kepada kita: untuk apa itu semua? Jika untuk tujuan kebaikan, insyaallah akan mendatangkan kebaikan pula. Namun jika untuk tujuan yang jahat, pasti akan membawa mudharat. Maka tanya kepada diri sendiri. Untuk apa itu semua?

www.7pedia.net
www.7pedia.net

Jendela Dan Keluarga

Jendela virtual ini telah membawa sejumlah dampak dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Berbagai hal bisa “masuk dan keluar” melalui jendela virtual. Ada dampak yang bisa positif dan bisa pula negatif, tergantung bagaimana menyikapi itu semua. Maka hendaknya semua keluarga pandai bersikap secara bijak terhadap fenomena zaman cyber saat ini.

Semua anak kita memiliki banyak jendela untuk melongok dunia yang sangat luas tanpa batas. Mereka bisa mengeksplorasi informasi —dari yang positif sampai yang negatif—- dengan sangat mudah tanpa ada kendala. Jendela ini menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak kita apabila mereka tidak memiliki fondasi nilai-nilai yang harus dijadikan pegangan dan rujukan. Jendela tersebut bisa memasukkan racun yang sangat berbahaya dalam jiwa, pikiran dan hati anak-anak kita, apabila mereka tidak mengerti nilai-nilai yang harus dipegangi.

Pada saat yang sama, jendela itu juga membuat mereka menjadi pandai, cerdas dan mengenal banyak kebaikan. Mengaji, belajar agama, mendapatkan motivasi dan inspirasi kebaikan, karena tinggal membuka jendela yang ada dalam genggamannya. Jendela ajaib yang bisa membuat mereka mengerti dunia apa saja, tinggal membuka. Fondasi keimanan akan menuntun anak-anak membuka jendela pada arah yang baik dan benar, serta menutup jendela pada arah yang jahat dan munkar. Orang tua harus bijak menerapkan standar dan aturan bagi anak-anak, saat mereka mulai memiliki jendela virtual ini.

Demikian pula dalam relasi suami-istri. Jendela ini bisa membuat suami dan istri terhubung terus-menerus tanpa henti. Walau terpisah jarak yang jauh serta waktu yang lama, namun dengan membuka jendela virtual dalam genggamannya, segera mereka bisa terhubung kembali. Dua puluh empat jam sehari semalam, bisa terus menengok, melongok, melihat dan mengamati pasangan, walau sedang tidak bersamaan. Kita bisa mengetahui apakah pasangan kita sedang online atau tidak, kita juga bisa mengetahui jam berapakah pasangan kita mengakses WA terakhir kali. Semua tidak bisa disembunyikan.

Dalam konteks yang negatif, suami dan istri bisa melihat dunia para mantan, melalui jendela virtual tersebut. Suami dan istri bisa mendapatkan keasyikan sendiri-sendiri, membuka jendela sendiri-sendiri, akhirnya saling menjauh satu dengan yang lain. Jendela mereka berdua saling terbuka, namun menghadap kepada pihak yang berbeda. Suami tidak terhubung dengan istri, karena jendela mereka tidak saling terbuka menghadap pasangan. Justru jendela masing-masing terbuka ke arah yang berbeda. Dari sini mereka mulai saling menjauh dan bahkan bisa semakin jauh apabila tidak segera menyadari situasinya.

Ingat, jendela Anda buka ke mana? Untuk apa? Hendaknya Anda buka jendela anda hanya untuk menghubungkan Anda dengan hal-hal yang positif dan konstruktif bagi kebaikan diri dan keluarga. Jangan biarkan virus, penyakit, marabahaya, bencana dan musibah masuk ke dalam keluarga melalui jendela yang selalu anda buka tanpa ada filter yang anda pasang di dalamnya.

Jendela Anda, adalah jati diri Anda!

 

https://www.instagram.com/p/BJmF-jZhe9K/?r=wp1

Membangun Keluarga Tanpa Stres Itu Bisa!

bukti kasih sayang

Cahyadi Takariawan

“Suami saya sangat miskin. Hidup selalu dalam kekurangan. Wajahnya berantakan. Sudah begitu tidak ada romantisnya sama sekali. Saya bisa gila hidup bersama orang seperti itu”, ujar seorang istri.

“Suami saya berwajah ganteng. Secara ekonomi tergolong mapan dan berkecukupan. Sikapnya sangat romantis. Namun justru itulah yang membuat saya selalu stres. Romantisnya bukan hanya untuk saya. Jadi, banyak wanita mengaguminya, dimana-mana ada fans-nya”, ujar seorang istri.

“Istri saya terlalu dominan. Semua ingin dikuasai. Saya tidak memiliki kebebasan sama sekali. Dia selalu ikut campur dalam semua urusan saya. Rasanya lama-lama bisa meledak kepala saya menghadapi perangai istri”, ujar seorang suami.

“Istri saya orangnya sangat pasif. Tidak memiliki inisiatif. Apa-apa selalu menunggu arahan saya. Tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Capek saya menghadapi istri yang sangat tergantung seperti itu”, ujar seorang suami.

Mengapa Anda Stres?

Sumber Gambar: www.pinterest.com
Sumber Gambar: www.pinterest.com

Banyak orang tidak bisa bahagia dalam hidup berumah tangga, karena memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, tidak sesuai dengan realitas yang dihadapi. Mereka tidak bisa berdamai dengan masalah dan kondisi tidak ideal. Dampaknya, kekecewaan, kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan selalu melanda dirinya setiap hari.

Punya suami berwajah jelek, stres. Punya suami terlalu ganteng, juga stres. Punya suami miskin, stres. Punya suami mapan dan kaya, juga stres. Punya suami tidak romantis, kecewa. Punya suami terlalu romantis, selalu khawatir. Punya istri dominan, stres. Punya istri tidak punya inisiatif, juga stres. Sekan hidup tidak ada yang benar. Orang-orang semacam ini menghabiskan waktu dalam kegelisahan, kekecewaan, kemurungan dan kekhawatiran berlebihan. Melihat orang lain seakan-akan lebih bahagia daripada dirinya.

“Kamu itu beruntung, walaupun suami kamu wajahnya pas-pasan, tapi orangnya sangat perhatian. Suamiku itu memang ganteng, tapi sikapnya sering menyakitkan”.

“Bersyukur banget orang seperti kamu. Meskipun suami kamu miskin, tapi setia. Suamiku kaya, tapi selingkuhanya ada dimana-mana”.

Demikian itu ungkapan orang-orang yang selalu melihat masalah dalam dirinya, dan melihat kebahagiaan ada pada orang lainnya. Mereka cemas dengan masalah yang dialami, seakan-akan orang lain tidak memiliki masalah. Melihat diri sendiri dan pasangan selalu dalam perspektif yang negatif dan pesimistis. Tidak bisa keluar dari jebakan persoalan kehidupan.

Hal yang harus selalu diingat oleh pasangan suami istri adalah realitas bahwa hidup ini tidak pernah bisa memberi kepastian. Yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Oleh karena itu, semestinya kita semua bisa berdamai dengan berbagai situasi ketidakpastian dalam kehidupan. Suami baik dan setia itu sekarang, besok anda tidak tahu. Suami lembut dan penyayang itu sekarang, besok anda tidak tahu. Istri solihah itu sekarang, besok anda tidak tahu. Istri penurut dan penyayang itu sekarang, besok bisa berbeda lagi.

Demikian pula sebaliknya. Suami miskin itu sekarang, besok bisa berbeda kondisinya. Suami galak dan pemarah itu sekarang, besok bisa saja berubah perangai. Istri posesif dan cemburu buta itu sekarang, besok bisa saja sudah menjadi baik. Kita hanya mengetahui kondisi diri kita dan pasangan kita saat ini, sekarang ini. Besok masih memiliki sejarah yang bisa berbeda. Kehidupan telah mengajarkan kepada kita, bahwa ada banyak kejutan dan keajaiban bisa terjadi setiap hari. Sesuatu yang di luar dugaan, sesuatu yang tidak diperkirakan, semua mungkin terjadi.

Kebahagiaan maupun kedukaan, keberuntungan maupun kemalangan, keberhasilan maupun kegagalan. Semua bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa kompromi dan tanpa permisi.

Menghindari Stres Berumah Tangga

Karena realitas kehidupan mengajarkan sisi-sisi ketidakpastian, maka kita harus bisa bersikap tepat terhadap ketidakpastian tersebut. Ada dua sikap yang seharusnya anda bangun bersama pasangan dalam kehidupan keluarga, agar kehidupan anda terbebas dari stres dan ketidaknyamanan.

Pertama, kuatkan kebersamaan anda dengan pasangan.

Kebersamaan ini dimaksudkan agar terjadi suasana saling menjaga dalam kebaikan, saling menguatkan, saling berproses untuk memperbaiki diri, meningkatkan potensi positif dalam diri, sehingga ada perbaikan dari hari ke hari. Hal ini penting untuk membuat suasana interaksi yang terbuka, nyaman dan melegakan. “Jangan ada dusta di antara kita”, demikian kata syair lagu. Suami dan istri hendaknya selalu bersama dalam suka dan duka, dalam bahagia dan derita.

Suasana kehidupan suami istri harus saling percaya, saling menghormati, saling menghargai. Jika tidak muncul suasana itu, yang terjadi adalah ketegangan dan kekhawatiran yang berlebihan. Tidak ada kedekatan hubungan, tidak ada kebersamaan yang menyenangkan antara suami istri. Yang ada adalah saling curiga dan saling syak wasangka. Inilah yang menyebabkan stres, karena dilanda kecurigaan dan kekhawatiran berlebihan dan tanpa alasan.

Stres terjadi karena anda melewati hidup berumah tangga dengan cara sendiri-sendiri. Tidak melewati secara bersama-sama. Tidak berada dalam kebersamaan yang kuat antara suami dan istri.

Kedua, berdamailah terhadap ketidakpastian.

Walaupun sudah berusaha untuk saling menjaga, namun manusia adalah makhluk yang sangat dinamis. Kondisinya sangat mudah berubah karena ada berbagai faktor yang melingkupinya setiap hari. Hendaknya mempersiapkan diri untuk situasi yang tidak ideal, yang tidak dikehendaki, sehingga tidak menimbulkan tekanan berlebihan saat situasi buruk itu benar-benar terjadi.

Hidup di dunia selalu ada ujian dan cobaan. Semua dari kita mungkin saja mengalami kesengsaraan, kemalangan, kenelangsaan yang tidak diharapkan. Itulah yang dimaksud dengan ketidakpastian. Hidup ini tidak selalu menemui kemujuran, keberhasilan, kemenangan, dan hal-hal yang sesuai harapan. Bisa jadi kondisinya sangat ekstrem, masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai “sudah jatuh ditimpa tangga”. Artinya ada kemalangan yang bertumpuk-tumpuk. Sudah bangkrut usaha, rumah disita, anak terkena narkoba, dan suami selingkuh dengan banyak wanita.

Situasi kemalangan tentu saja tidak diharapkan, dan harus ada usaha untuk menghindari dan menjauhinya. Namun sebesar apa usaha dilakukan, tetap saja kehidupan ini memiliki sisi ketidakpastian. Walaupun sudah berusaha menghindari kecelakaan dengan sikap hati-hati di jalan raya dan melengkapi peralatan safety berkendaraan, namun tetap masih bisa ditimpa kecelakaan. Karena ada banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan di jalan.

Anda akan cepat mengalami stres jika tidak mau berdamai dengan kondisi-kondisi tidak ideal dari pasangan. Selama masih bernama manusia, pasangan anda pasti banyak memiliki kekurangan dan kelemahan. Juga mungkin melakukan kekhilafan dan kesalahan. Anda tidak mungkin menuntut kesempurnaan dari pasangan, karena diri anda juga tidak sempurna di hadapan pasangan anda.

Sumber Gambar: www.design2talk.com
Sumber Gambar: www.design2talk.com

Berdamai dengan Semua Keadaan

Cobalah perhatikan fenomena kehidupan di sekitar kita. Ada orang takut naik pesawat terbang karena ada banyak berita kecelakaan dalam dunia penerbangan. Ia juga takut naik kereta api, karena banyak rel yang rusak sehingga menyebabkan kereta anjlok. Ia juga takut naik bus, karena rawan tabrakan. Ia takut naik motor karena sering ada kecelakaan di jalanan. Akhirnya memilih jalan kaki. Dengan hati-hati ia berjalan di trotoar agar tidak tertabrak kendaraan, ternyata ada mobil nyelonong masuk trotoar tepat saat ia lewat. Peristiwa nahas, bisa menimpa siapa saja. Bahkan kepada orang yang selalu berhati-hati dalam hidupnya.

Dalam sejarah kita pernah mendengar berita kecelakaan yang sangat langka dan bahkan sulit dibayangkan dengan logika manusia. Graham Beveridge, seorang petugas pada sirkuit GP tahun 2001 di Melbourne, meninggal akibat terkena lemparan roda mobil F1 yang terlepas. Mobil balap yang dikendarai Jacques Villeneuve, tentu sudah disiapkan dengan sangat teliti oleh tim ahli, karena berada dalam arena tingkat dunia. Tentu sangat perfect menyiapkan segala sesuatunya.

Namun kemalangan bisa menimpa siapa saja. Salah satu roda mobil Villeneuve terlepas saat mobil tengah melesat kencang di arena balap. Roda itu terbang dan melewati sebuah celah sempit di pagar pembatas, dan tepat mengenai dada Graham. Posisi Graham cukup jauh dari arena balap, dan terlindungi oleh pagar pembatas. Pagar ini berfungsi untuk perlindungan. Namun roda yang lepas dan melesat terbang itu bisa melewati celah yang cukup sempit pada pagar pembatas tersebut.

Peristiwa seperti ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa, kemalangan dan kesengsaraan bisa menimpa siapa saja, bahkan orang yang sudah sangat berhati-hati dalam hidupnya. Maka menyadari kondisi ketidakpastian dalam hidup ini, hendaknya suami dan istri tetap menyiapkan ‘plafon’ yang luas dalam dirinya untuk berdamai dengan situasi dan kondisi tidak ideal, yang tidak diharapkan kejadiannya. Hidup ini tidak selalu linear, bahwa jika sekarang bahagia maka selamanya akan bahagia. Jika sekarang sukses maka selamanya akan sukses.

Hidup ini serupa misteri, dimana kewajiban kita adalah menjalani dengan sebaik-baik perbuatan yang bisa kita lakukan. Demikian pula dalam kehidupan berumah tangga. Kewajiban kita adalah menjalani dengan sebaik-baiknya, bersama pasangan tercinta. Menciptakan kebersamaan, menguatkan keharmonisan, menemukan kebahagiaan, menikmati kemesraan, menghadapi segala permasalahan, bersama pasangan.

Bahan Bacaan

Jangan Jadi Suami “Ad-Dayyuts”

siapkan kemampuan untuk nikahAfifah Afra

Beberapa tahun silam, di dalam sebuah forum seminar, di mana saya ikut menjadi pembicara, saya termenung ketika salah seorang pembicara yang lain, seorang bapak dari Departemen Sosial memaparkan materinya. “Jangankan hanya sekadar membiarkan istrinya jadi pelacur, bahkan saya tahu persis, bahwa sebagian pelacur di kota ini malah dimanageri suaminya. Suaminya mengantar jemput istri yang telah “bekerja” menjual diri.”

Saya bergidik, jijik sekaligus hilang hormat hingga seakar-akarnya kepada para suami itu. Betulkah tumpukan rupiah telah menghilangkan rasa cemburu sampai-sampai dia bersikap semacam itu?

Rasa cemburu, terkadang dipandang negatif. Mungkin di antara pembaca sekalian ada yang merasa terbeban dengan sikap cemburu suami yang berlebihan? Ya, kalau lebay sih memang membuat kesal, ya… seolah-olah tak ada rasa saling percaya. Tetapi, sejatinya kecemburuan alias ghirahseorang suami kepada istri itu pilar penting dalam tegaknya sebuah rumah tangga, lho.

Suami yang tidak memiliki rasa cemburu kepada istrinya, oleh Rasulullah disebut sebagai “ad-dayyuts”, lawan dari ad-dayyuts adalah al-ghayur. Wahai para lelaki, Anda termasuk tipe ad-dayyutsatau al-ghayur?

Coba jawab beberapa pertanyaan ini, jika kebanyakan iya, mungkin Anda termasuk atau setidaknya punya potensi menjadi ad-dayyuts.

  1. Saya tak pernah atau jarang memikirkan bagaimana istri saya melakukan perjalanan pulang pergi ke kantor, pasar, mall, atau tempat-tempat lain.
  2. Saya tak pernah atau jarang mengecek apakah istri sudah pulang tepat waktu atau belum
  3. Saya merasa baik-baik saja melihat istri histeris saat bertemu aktor ganteng, atau memuji-mujinya
  4. Saya merasa no problem saat istri foto bareng dengan teman-teman cowoknya dengan gaya yang agak mesra
  5. Saya tidak pernah peduli dengan akun medsos istri, jarang stalking, dan malas ngecek HP istri
  6. Saya tidak keberatan istri pergi berdua saja dengan bos atau teman kerja cowoknya
  7. Saya tidak keberatan istri dibonceng lelaki lain

Well, mungkin Anda menganggap saya ini berlebihan, ya… Tetapi, ada sebuah hadist dari Rasulullah yang jleeeb banget dan wajib direnungi oleh para suami, Rasul bersabda, “Tiga orang yang Allah tidak melihat mereka pada hari kiamat, (yaitu) orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai lelaki dan ad-dayyûts [HR an-Nasâ`i, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, 2/229].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya para sahabat, “…apa yang dimaksud ad-dayûts itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia ialah (laki-laki) yang tidak memperdulikan siapa yang menemui istrinya”. [HR ath-Thabrani dan dishahîhkan Syaikh al-Albaani dalam Shahîh at-Targhib wat-Tarhib, no. 2071 (2/227)].

Ancaman berat kepada ad-dayyuts ini kemudian ditegaskan pada pengertian yang cukup jelas, “Ad-dayyûts, ialah yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya”. [HR Ahmad dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jami’ ash-Shaghir, no. 5363]

Adapun menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk surga, sebab dia membiarkan perbuatan buruk terus terjadi dalam keluarganya, dan itu semua timbul karena hilangnya rasa cemburu (sifat ghirah) dalam hati pelakunya[1].

Sekali lagi, mari merenung, kaum lelaki. Misalnya Anda memiliki istri yang bekerja, sudahkah Anda cek bagaimana suasana kerja istri? Apakah banyak ikhtilat, alias campur baur dengan lelaki? Apakah istri Anda sering pergi berduaan dengan bosnya? Apakah istri ringan-ringan saja bercanda-canda mesra dengan lawan jenis? Jika anda cuek, minimal tidak muncul rasa gelisah dan cemburu, aduuuh jangan-jangan Anda punya potensi jadi ad-dayyuts.

Misalnya istri Anda biasa pulang jam empat sore, tetapi hingga jam enam belum pulang. Jika Anda tidak segera meneleponnya, menanyakan apa yang terjadi, dan jika perlu menawarkan bantuan, mungkin pula Anda punya potensi sebagai ad-dayyuts.

Terlebih, jika Anda nyaman-nyaman saja dengan ongkang-ongkang kaki di rumah, sementara istri sibuk membanting tulang, berinteraksi dengan sekian banyak lelaki, sementara Anda merasa no problem, alarm ad-dayyuts semakin berdering-dering di kuping Anda.

Ketika membaca otobiografi Umar At Tilmisani, Mursyid ‘Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah Hasan Al Banna dan Hasan Al-Hudhaibi, saya sempat terbengong membaca narasi beliau. Syekh Tilmisani dengan lugas mengatakan bahwa dia adalah seorang lelaki yang sangat pencemburu. Saking cemburunya, dia tidak mau sinar matahari membelai kulit istrinya, sehingga dia selalu mengantar kemanapun istrinya dengan mobil. Beliau juga cemburu kepada suara para penyanyi pria, sehingga tak mengizinkan istrinya mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan para lelaki. Mantap, to!Bagaimana dengan para ibu sekarang yang suka berteriak-teriak histeris melihat aktor pria yang berwajah kece? Kaum suami wajar-wajar saja kok, merasa cemburu. Bahkan, jika suami membiarkan saja si istri mengoleksi poster lelaki tampan, saya khawatir lama-lama sensitivitas sang suami tergerus, dan akhirnya rasa cemburu terkikis.

Ayo, lelaki, jangan sampai menjadi ad-dayyuts, alias sosok yang tak peduli mau seperti apa sang istri. Mau jalan sama cowok lain, chatting berjam-jam dengan teman lelaki di medsos, hang out berdua, boncengan dengan non mahram, sibuk lembur sampai lupa waktu, dan berbagai aktivitas yang tak wajar yang semestinya Anda cut segera.

Ingat, Anda adalah qowwam, pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, lho. Ayo, segera ambil HP Anda dan segera telepon istri Anda, “Mama, kamu sedang apa? Hati-hati ya jaga diri, di sini Papa selalu berdoa untukmu. Kalau Mama butuh bantuan, segera telepon Papa ya…”

Nah, ini baru suami teladan!

[1] https://muslim.or.id/658-dayyuts-profil-seorang-suami-dan-bapak-yang-buruk-bagi-istri-dan-anak-anak.html

Jangan Biarkan Anak Bermain Sendirian

anak mandi hujan

Saat usia masih kanak-kanak, saya sudah biasa tinggal di rumah sendirian. Bapak Ibu sejak pagi sudah pergi ke pasar. Mencari uang. Membiayai hidup kami berlima; bapak, ibu, dua kakak, dan saya. Namun kedua kakak saya tinggal di rumah simbah. Jadi, kami hanya bertiga di rumah.

Karena itu saya terbiasa berangkat sekolah sendirian, sejak taman kanak-kanak. Saya ingat bahwa saya selalu merasa takut saat berangkat dan pulang sekolah. Karena saya mesti melewati jalan dengan pohon-pohon bambu yang lebat di pinggirnya. Konon kabarnya pohon bambu adalah tempat tinggal favorit genderuwo.

Jalan itu panjangnya cuma sekitar 50 meter. Kedua ujungnya merupakan pertigaan. Yang kanan kirinya sudah ada rumah penduduk. Namun di sepanjang jalan itu hanya sepi. Penuh pohon-pohon bambu yang besar-besar dan rimbun.

Saat lewat di jalan itu saya selalu berlari. Saking takutnya. Saat sampai di pertigaan baru terasa tenang. Aman. Banyak orang, pikir saya.

Bapak dan Ibu pulang ke rumah saat matahari sudah benar-benar tenggelam. Maka saat pulang saya sendirian di rumah. Tak ada teman.

Teman-teman seusia saya rata-rata tinggal di pojok kampung. Terlalu jauh jaraknya dari rumah.

Karena itu kenangan bermain bersama orang tua hampir tidak ada. Masa kecil saya adalah bersama tumpukan majalah Bobo dan Donal Bebek. Adalah pura-pura bermain main petak umpet di dalam rumah sendirian. Adalah main-main di halaman rumah sambil membuat rumah-rumahan di tanah. Melakukan apa saja agar rasa bosan enyah.

Pun saat orang tua di rumah, hampir-hampir tak ada hal bersam yang kami lakukan. Mereka sudah lelah. Saya tahu itu. Maka di malam hari saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca (ulang) majalah Bobo atau Donal Bebek. Mengerjakan PR (kalau ada). Nonton tivi. Lalu tidur.

Itulah kenangan saya saat sekolah dasar. Saat balita saya belum bisa mengingat, namun sautau kali saya melihat sebuah foto jadul. Ada gambar saya di sana, dengan ibu yang sibuk bekerja, dan saya disampingnya memegang boneka.

Kini usia saya sudah hampir menginjak kepala tiga. Dan saya tentu bertekad tidak ingin kenangan masa kecil saya itu terulang pada anak-anak.

Saya tidak menyalahkan kedua orang tua. Tidak. Kondisi ekonomi keluarga kami waktu itu memang memaksa mereka untuk lebih sedikit meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Sebagian besar waktu mereka habis untuk membiayai keperluan kami. Dan tentu saya sangat berterima kasih.

Namun kini situasinya berbeda. Kondisi ekonomi sudah membaik. Dan tentu saja itu berimbas pada kita semua punya lebih banyak waktu untuk anak-anak.

Dan sebaiknya, mulailah kita meluangkan untuk bermain bersama anak.

Bermain bersama anak punya banyak manfaat. Tak hanya untuk tumbuh kembangnya, tapi juga untuk mendidik karakter anak. Bermain bersama anak tak hanya menyenangkan, tapi orang tua juga bisa mengajarkan dan membimbing anak banyak hal.

Dan yang lebih penting adalah menggoreskan kenangan indah pada anak.

Kenangan yang akan ia kenang selamanya. Sebuah kenangan yang akan ia ulangi pada anak-anaknya kelak. Yang membuatnya bisa berkata, “Dulu waktu kecil aku bermain bersama Ayah Ibu. Seru. Seru sekali. Sampai kini aku masih mengingatnya dengan jelas.”

Jangan biarkan anak-anak bermain sendirian. Kenapa? Setidaknya ada beberapa alasan.

Pertama, tidak semua permainan itu aman. Ada mainan-mainan yang bisa jadi berbahaya bagi anak. Bisa tertelan. Ayunan yang bisa membuat anak jatuh, misalnya.

Kedua, orang tua bisa tidak tahu mainan favorit anak. Banyak contoh ada sebuah mainan yang sudah usang, orang tua berpikir simpel; membuangnya. Namun ternyata itu mainan kesukaan anak. Alhasil anak malah menangis. Rewel. Mainan baru tak bisa menggatikannya. Atau kadangkala orang tua salah membelikan mainan untuk anak, karena tak tahu mana yang disukai anak dan mana yang tidak.

Ketiga, bahaya negatif permainan. Kalau orang tua tak pernah bermain bersama anak, orang tua bisa jadi tak tahu bahaya negatif permainan. Misalnya saja video game yang mengandung kekerasan, sadis, bullying, dan lainnya.

Keempat, ingatlah bahwa mainan mahal dan bagus tak akan terasa menyenangkan bila dimainkan sendirian. 🙂

Bermainlah bersama anak. Luangkan waktu dalam satu hari minimal satu jam untuk menemani anak bermain. Jangan sekadar menontonkan video kartun saja pada anak. Tapi betul-betul bermain bersamanya.

Hadirlah sepenuh jiwa dan raga. Hadirlah seutuhnya. Jadilah anak-anak di depan anak.

Jangan biarkan anak bermain sendirian.

Agar Istri Anda Menjadi Wanita Tercantik di Dunia

kesempurnaan pasangan

Cahyadi Takariawan

“Gila, si Dani berhasil menggaet boneka barby dari Hanoi… Cantik pisan euy… Benar-benar selera artis papan atas….”

“Ah, cewek Dani belum ada apa-apanya dibanding cewek Antony. Dia bisa menarik cewek Rusia yang bening luar biasa….”

Obrolan beberapa laki-laki ini tengah terkagum-kagum oleh kecantikan wanita yang ada di sekitar teman-teman mereka. Demikianlah sebagian karakter laki-laki, yang sangat mudah menilai dan membandingkan kecantikan wanita. Para wanita juga menyadari sisi ini, sehingga mereka berusaha tampil cantik menarik agar bisa disenangi kaum laki-laki. Akhirnya, gejala seperti ini ditangkap oleh investor menjadi lahan industri yang sangat menjanjikan.

Sekarang ini sangat banyak sarana kecantikan wanita yang ditawarkan pihak industri modern, dengan harga yang sangat variatif, sesuai kelasnya masing-masing. Semua menjanjikan hasil berupa wajah cantik menarik, tubuh langsing dan seksi, serta kulit yang bening bersinar. Sejak dari polesan kosmetik di salon kecantikan, hingga operasi kecantikan yang memerlukan tindakan lebih “besar” dan lebih serius.

Bisnis kecantikan termasuk salah satu jenis bisnis yang sangat laku dan diminati, disebabkan adanya dua kondisi berikut ini. Pertama, karena sifat fitrah wanita yang suka berdandan, suka terlihat cantik, suka terlihat menarik. Kedua, karena sifat fitrah laki-laki yang menyukai kecantikan wanita. Klop sudah, antara pribadi wanita yang suka berdandan, dengan pribadi laki-laki yang menyukai keindahan fisik wanita. Menyebabkan bisnis solusi kecantikan menjadi skala besar.

Pada dasarnya laki-laki adalah makhluk visual. Mereka sangat mudah tertarik dan tergoda oleh sesuatu yang masuk melalui pandangan matanya. Wajah wanita yang cantik menarik, tubuh yang seksi aduhai, kulit yang putih dan jernih, merupakan daya tarik visual yang luar biasa besarnya bagi kaum laki-laki. Hal ini membuat banyak wanita merasa tidak percaya diri jika tidak tampak cantik menarik, bahkan sampai ke tingkat merasa rendah diri.

Dalam kehidupan berumah tangga, kondisi ini bisa memberikan pengaruh positif maupun negatif, tergantung bagaimana suami dan istri menggunakannya. Saya ingin mengajak anda melihat sisi positif dan negatif  dari fenomena fitrah ini dalam kehidupan keluarga.

Penjagaan Diri : Dari Sisi Istri

Menyadari bahwa suami adalah makhluk visual, hendaknya para istri pandai dan senang memperhatikan penampilan tubuhnya. Merawat dan menjaga kecantikan wajah, merawat dan menjaga bentuk tubuh, merawat keindahan rambut, kulit, kuku, dan lain sebagainya. Jangan malas untuk mengusahakan perawatan diri sehingga selalu tampak cantik menarik di hadapan suami. Semua usaha perawatan tubuh ini adalah untuk membahagiakan suami.

Para istri harus berusaha membuat suami bahagia dengan penampilannya. Dengan penampilan diri yang cantik menarik, membuat suami bangga dan bahagia bersama istri tercinta. Tidak “malu-maluin” saat sang suami berinteraksi dengan teman dan koleganya, justru membuatnya menjadi merasa “berkelas” dengan kondisi istri yang selalu tampak terawat. Para istri harus menyadari sepenuhnya masalah ini, agar tidak membiarkan tubuhnya “berantakan. Jangan membiarkan fisiknya tidak terawat, tidak terurus, tidak teratur, tidak terpoles dengan cantik dan menarik.

Para istri tidak perlu mendengar provokasi dari “seberang sana”, yang mengajak melakukan perlawanan terhadap stigma dan nilai diri seperti ini. Bahwa wanita harus selalu tampil cantik dan menarik. “Emangnya gue harus selalu tampak cantik seperti maunya loe. Enggak lah yaw”, begitu kira-kira suara penolakan itu. “Jadilah dirimu sendiri”, itu juga suara ajakan yang lain. Pandangan dan perlawanan seperti itu bertentangan dengan realitas dalam kehidupan suami istri, bahwa mereka adalah pasangan yang harus saling melengkapi dan menyesuaikan dengan harapan pasangan.

Pada dasarnya semua suami senang melihat penampilan istri yang cantik menarik. Jika istri malas merawat kecantikan, sehingga tidak tampak cantik menarik di hadapan suami, dikhawatirkan suami lebih mudah tergoda oleh kecantikan wanita lain.

Penjagaan Diri : Dari Sisi Suami

Menyadari bahwa laki-laki adalah makhluk visual, yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita, hendaknya para suami selalu fokus kepada kecantikan istri. Upaya untuk memperindah dan merawat kecantikan fisik istri, harus mendapat bantuan dan dukungan sepenuhnya dari suami. Sejak dari dukungan dana dan fasilitas, bantuan teknis untuk mengantarkan ke tempat perawatan tubuh, dan menjadikan istri selalu bahagia. Dengan hati yang bahagia, ditambah fisik selalu dirawat, maka istri akan selalu tampak canting dan bening di mata suami.

Namun ada hal yang lebih penting lagi bagi para suami. Hendaknya suami bisa menjaga pandangan matanya. Jangan membiarkan matanya terbiasa melakukan “searching”, melihat-lihat, mengamati, menikmati kecantikan banyak wanita. Baik pengamatan langsung, mencermati kecantikan wanita lain; ataupun searching melalui dunia maya. Mengintip foto profil wanita cantik, mengamati bahkan mengkoleksi foto-foto wanita cantik.

Kebiasaan seperti itu akan membuat suami memiliki banyak perbandingan tentang nilai kecantikan wanita. Ada terlalu banyak wanita cantik, sehingga ia membandingkan dengan realitas sang istri. Walaupun istri sudah menjaga dan merawat penampilan serta kecantikan, namun karena suami tidak bisa menjaga pandangan, akhirnya ia merasa sang istri masih kalah cantik dibanding wanita lainnya. Semakin liar pandangan mata laki-laki, semakin tidak bisa mensyukuri kecantikan sang istri.

Dampak dari kebiasaan “memelototi” kecantikan wanita lain, membuat suami mudah tergoda oleh kecantikan yang dilihatnya. Ia tidak lagi melihat istri yang cantik, karena membandingkan dengan kecantikan banyak wanita lainnya. “Ternyata istriku tidak ada apa-apanya dibanding wanita itu”, begitu pikirnya. Ini karena matanya tidak bisa terpejam saat menyaksikan keelokan wanita, bahkan sengaja membelalakkan mata untuk mengamati dan menikmati.

Istri Anda Adalah Wanita Paling Cantik

Secantik apapun istri anda, selalu ada wanita yang lebih cantik darinya. Pepatah mengatakan, masih ada awan di atas awan. Masih ada langit di atas langit. Jika ada wanita tercantik di dunia, itu hanya berlaku untuk satu masa tertentu. Karena kecantikanpun bisa luntur bahkan hilang. Akan muncul wanita lain yang lebih cantik dibanding wanita tercantik tersebut. Wanita yang anda kagumi kecantikannya, itu karena terkonteks dimensi ruang dan waktu yang selalu terbatas. Jika dimensi ruang dan waktu dihilangkan, maka menjadi tidak ada wanita paling cantik itu.

Sesungguhnya ada dua kata kunci yang perlu anda pahami dalam melihat sisi kecantikan wanita.

Pertama, sesungguhnya kecantikan wanita itu sangat relatif. Tidak ada kecantikan yang bersifat mutlak. Ketika melihat ada seorang wanita yang sempurna dan menarik diri anda, itu karena anda tengah jatuh cinta kepadanya. Proses kimia, biologi dan fisika pada seseorang yang tengah jatuh cinta, membuat dia terinfeksi oleh sosok yang dicintainya. Semua serba menarik, menyenangkan, dan membuat tergila-gila. Penampilannya, perbuatannya, perkataannya, gerak-geriknya, semua serba menarik dan menyenangkan.

Kondisi ini pernah anda alami saat dulu anda tengah jatuh cinta kepada wanita yang sekarang menjadi istri anda. Dulu, saat anda berada dalam masa jatuh cinta, ia adalah wanita satu-satunya yang cantik menarik bagi anda. Bahkan andai istri anda tidak cantik, anda bisa meyakinkan diri “aku melihat sisi kecantikan lain di dalam dirinya, bukan di dalam wajahnya”. Itu karena anda tengah jatuh cinta.

Maka, jika ingin istri anda menjadi wanita paling cantik di muka bumi ini, jagalah suasana jatuh cinta kepadanya. Rawatlah keindahan cinta, sehingga semua tentang istri anda menjadi menarik dan menyenangkan diri anda.

Kedua, setelah anda membandingkan istri anda dengan wanita lain, maka anda merasa bahwa selalu ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih menarik dari diri anda. Maka, jika anda ingin istri anda menjadi wanita paling cantik di muka bumi ini, pandailah menjaga dan menahan pandangan mata anda. Jangan membiarkan mata anda “jelalatan” mengamati banyak wanita atau foto-foto mereka. “Pejamkan” mata saat melihat wanita cantik, karena itu akan sangat mengganggu perasaan anda dalam menjaga hubungan dengan istri.

Perintah agama untuk “ghadul bashar” atau menundukkan pandangan, sangat jelas memiliki makna untuk menghilangkan perasaan ketertarikan atas kecantikan wanita lain yang membuat seorang suami tidak lagi tertarik kepada sang istri. Inilah kata kunci yang sering disepelekan oleh banyak suami. Banyak orang tidak bisa menjaga pandangan mata, banyak orang tidak bisa menjaga interaksi dan komunikasi dengan wanita lain, sehingga membuat terpedaya, tertarik dan tergila-gila dengan wanita lain. Di saat yang sama, ia mulai berpaling dari istrinya. Ini adalah awal dari petaka dalam rumah tangga.

Segera sadari kondisi ini, agar tidak menjadi situasi rumit yang menjerat anda dalam hubungan dengan wanita lain dan dengan istri anda.

Persahabatan Abadi Suami Istri

pinanglah tanyakanlah untuk menikah

Cahyadi Takariawan

Sering saya sampaikan bahwa hendaknya suami istri itu saling menjadi sahabat satu dengan yang lainnya. Ini karena corak interaksi yang sangat khas dan intim antara suami dengan istri, yang tidak sama dengn corak interaksi antarmanusia pada umumnya. Bukan seperti interaksi dalam perusahaan, dalam organisasi, dalam pemerintahan, atau dalam hubungan bisnis. Corak interaksi dan komunikasi suami istri sangat dekat, sangat intim dan tanpa sekat dan jarak.

Istilah “suami” dan “istri” itu adalah pernyataan hukum, yang menandakan bahwa di antara mereka berdua telah terikat oleh pernikahan yang sah. Namun hakikatnya, mereka harus menjadi sahabat yang sanga istimewa. Bukan saling asing atau saling menjadi orang lain, namun saling mendekat dan tidak berjarak. Jika suami dan istri saling jaim, menjaga jarak satu dengan yang lain, membuat interaksi mereka menjadi sangat formal dan tidak memiliki kedekatan dan keintiman.

Surat nikah hanyalah bukti legal formal bahwa mereka berdua sudah sah sebagai suami dan istri, namun kehidupan pernikahan tidak bisa bahagia hanya karena mereka memiliki surat itu. Yang membahagiakan mereka adalah corak interaksi dan komunikasi yang mereka bangun setiap hari. Yang berkesan dan melanggengkan kebahagiaan mereka adalah kualitas persahabatan antara suami dan istri. Jika mereka tidak memiliki tingkat persahabatan yang bagus, maka ikatan yang ada hanyalah legal formal. Hanya bicara hak dan kewajiban. Yang menunaikan sejumlah peran, tanpa kehadiran perasaan dan kehadiran jiwa di dalamnya.

Rumah tangga akan kering, gersang, mekanistik, dan sekedar berjalan tanpa ada sentuhan keindahan. Hidup berumah tangga seperti ini akan cepat membuat lelah kedua belah pihak.

Siapakah Sahabat?

Jika ada dua orang bersahabat karib, apakah yang terjadi di antara mereka? Apa yang menjadi ciri sebuah persahabatan, yang membedakan dengan hubungan antarmanusia pada umumnya? Perhatikan ciri-ciri sahabat berikut ini.

1.Sahabat itu saling berbagi

Disebut sahabat, karena mereka saling berbagi rasa dalam suka dan duka. Mereka saling membantu dan saling meringankan beban, karena kuatnya ikatan perasaan yang ada pada diri mereka. Saat memiliki keluangan rejeki, ingin berbagi. Saat sedang kekurangan, sahabat adalah tempat yang tepat untuk berkeluh kesah. Saat pergi rekreasi, ingin membelikan hadiah untuk sahabat. Saat sedang haji, ingat mendoakan sahabat.

Demikian pula suami istri. Semestinya mereka saling berbagi dalam suka dan duka, dalam canda dan airmata, dalam derita dan bahagia. Suami dan istri harus saling bisa berbagi dalam segala sisi, baik perasaan, materi, fasilitas, dan lain sebagainya. Suami dan istri itu tidak pelit, tidak rumit dalam berbagi, dan memudahkan semua urusan. Sampai pun dalam hal yang teknis dan praktis, bisa makan sepiring berdua, minum segelas bersama, tidur satu selimut, menggunakan sabun dan pasta gigi yang sama, dan lain sebagainya.

Jika suami istri tidak mau peduli dan saling berbagi, berarti mereka belum saling menjadi sahabat. Mereka masih mementingkan diri sendiri, masih sangat kuat keakuan dan kekamuan, belum menyatu menjadi kita.

2.Sahabat itu saling curhat

Jika ada seseorang sedang memiliki masalah, ia paling mudah curhat kepada sahabatnya. Sahabat adalah seseorang yang kita rela menceritakan semua masalah hidup kita. Sahabat adalah seseorang yang kita rela membuka semua aib kita hanya kepadanya. Berbagai macam hal tentang kesedihan dan kebahagiaan bisa disampaikan kepada sahabat dengan leluasa. Tanpa ada perasaan tidak nyaman atau sungkan, karena kuatnya ikatan diantara mereka.

Demikian pula suami istri. Semestinya mereka saling curhat, saling membuka diri, saling menyampaikan kegelisahan dan kebahagiaan, saling merenda harapan. Berbagai masalah, berbagai kesulitan, berbagai kesenangan, bisa diobrolkan dengan santai. Semua bisa diselesaikan dengan nyaman dan menyenangkan. Suami dan istri harus memiliki tradisi mengobrol dan saling bercerita, tanpa ada perasaan takut atau beban berat. Suami dan istri harus leluasa menyampaikan keluhan, perasaan, pikiran, keinginan, harapan, tanpa merasa takut atau khawatir yang berlebihan.

Jika suami dan istri tidak bisa saling curhat, atau ada suasana tidak nyaman saat curhat, menandakan mereka belum mencapai kondisi sahabat. Ketika ada masalah bukan curhat kepada pasangan, justru curhat kepada sahabat yang ada di luar rumah. Justru curhat melalui chatting dengan orang lain. Harusnya sahabat sejati yang harus dicurhati pertama kali adalah suami atau istri, bukan orang lain.

3.Sahabat itu senang dan betah menemani

Dua orang atau lebih yang bersahabat, mereka saling senang untuk menemani kegiatan yang lain. Kadang hanya sekedar menemani makan siang atau makan malam, kadang hanya menemani jalan-jalan, atau menemani belanja, atau menemani olah raga. Jika tidak menjadi sahabat, menemani adalah aktivitas yang tidak menyenangkan dan membosankan. Namun karena saling bersahabat, maka menemani adalah kegiatan yang membahagiakan untuk semua.

Demikian pula suami istri. Semestinya mereka bisa saling menemani. Suami senang menemani kegiatan istri, sebagaimana istri senang menemani kegiatan suami. Walaupun kegiatan itu tampak tidak penting, atau kegiatan rutin, namun mereka saling menikmati. Suami tidak tersinggung saat diminta mengantar istri belanja, karena merasa diperlakukan seperti sopir atau suruhan. Justru suami merasa senang menemani istri mengerjakan kegiatannya. Jika lebih senang sendiri-sendiri, mereka bukanlah sahabat.

Bahkan ketika sekedar duduk-duduk saja di teras belakang rumah, tanpa kata-kata, tanpa ada cerita. Kebersamaan mereka bukan hanya karena ada yang perlu diomongkan atau dicurhatkan. Kebersamaan mereka ada dalam segala suasana, sehat maupun sakit, suka maupun duka, dalam gerak maupun diam. Karena ada masa dimana suami istri sudah kehabisan cerita, kehabisan kata-kata, yaitu saat tua renta. Mereka tidak perlu lagi bercerita seperti anak muda, namun tetap bisa meikmati kebersamaan walau dalam diam.

Jika suami dan istri tidak betah menemani, bahkan lebih senang jika sendiri, artinya belum menjadi sahabat bagi pasangan. Apalagi jika merasa tersiksa saat bersama pasangan, ini sangat jauh dari makna sahabat.

4.Sahabat itu tidak banyak bertanya

Sahabat itu tidak banyak bertanya. Jika ada dua orang yang bersahabat karib, mereka akan sangat mudah untuk saling mengerti kesenangan ataupun ketidaksenangan tanpa banyak tanya. Jika salah satu dari mereka mengajak pergi, maka sahabat tidak perlu banyak bertanya. Tidak perlu ribut mendefinisikan tujuan pergi, karena sudah saling mengerti tempat favorit, menu favorit, lagu favorit, dan lain sebagainya.

Suami dan istri semestinya tidak perlu banyak bertanya. Jika mereka berdua sudah menjadi sahabat setia satu dengan yang lain, maka setiap ajakan suami akan mudah direspon istri dan setiap ajakan istri akan mudah direspon suami tanpa banyak bertanya lagi. “Ayuk kita pergi jalan-jalan yuk”, ajak sang istri. Dengan cepat sanag suami menyahut, “Ayuk….” tanpa harus banyak bertanya atau meributkan soal kemana atau untuk apa. Hal itu karena mereka sudah saling mengerti akan pergi kemana, atau jalan-jalan kemana, atau bahkan tidak kemana-manam karena hanya ingin menikmati suasana.

Jika suami dan istri masih sangat banyak yang dipertanyakan, segala sesuatu harus melalui keributan, semua keputusan diambil dengan suasana yang sangat alot dan menegangkan, menandakan mereka belum saling menjadi sahabat satu dengan yang lain. Sekedar memutuskan kegiatan saat libur akhir pekan, harus melalui perdebatan panjang, harus melalui pertengkaran yang melelahkan, ini menandakan belum menemukan format persahabatan.

5.Sahabat itu saling percaya

Sahabat itu saling percaya satu dengan yang lain. Mereka memberikan kepercayaan yang sangat tinggi seakan tanpa garansi. Saat seseoramg melakukan suatu tindakan, sebagai sahabat akan lebih cepat percaya bahwa tindakan itu tidak membahayakannya. Semua cerita dan omongan akan mudah dipercaya. Semua barang terasa aman jika dititip kepada sahabat dibanding dititip kepada yang lainnya. Semua janji akan dipercaya kebenarannya, bahkan ketika janji itu tidak ditepati akan mudah untuk dimaklumi.

Suami istri semestinya menjadi sahabat yang saling percaya satu dengan lainnya. Mereka tidak mudah cemburu buta, karena percaya informasi dari pihak ketiga. Mereka lebih percaya kepada pasangannya daripada omongan orang lain. Mereka lebih percaya kepada pasangannya daripada isu yang berdar di sosial media. Suami akan mudah mempercayai istri dalam urusan keuangan dan manajemen rumah tangga. Istri akan mudah mempercayai suami dalam urusan keuangan dan pekejaan. Saat merasa ada yang perlu diklarifikasi, mereka akan cepat percaya kepada keterangan pasangannya.

Jika suami istri tidak bisa saling percaya, bawaannya hanya curiga, lebih percaya orang lain daripada pasangannya, menandakan mereka belum menjadi sahabat setia. Suami selalu mencurigai istri, dan istri selalu mencemburui suami. Ada ustri yang menyewa detektif untuk mengutit kegiatan suami. Ada suami yang memasang kamera tersembunyi dan alat perekam untuk mengetahui kegiatan istri. Mereka tidak bisa saling percaya, sehingga selalu curiga dan mudah timbul prasangka.

6.Sahabat itu betah ngobrol berlama-lama

Salah satu ciri sahabat adalah betah mengobrol berlama-lama, untuk tema dan urusan apa saja. Mereka bisa menghabiskan waktu yang panjang hanya untuk mengobrol. Pada saat-saat senggang mereka menyempatkan waktu untuk bertemu dan mengobrol. Bahkan jika tidak sempat bertemu mereka bisa berbicara lewat telepon berlma-lama. Ada rasa rindu apabila lama tidak mendengar suaranya, ada rasa kangen untuk mendengar suara tertawanya, atau candanya yang kadang kelewatan. Tapi justru itu menyenangkan dan membentuk kenangan.

Suami dan istri seharusnya menjadi sahabat yang betah mengobrol berlama-lama, tanpa peduli tema. Mereka tidak lagi meributkan akan berbicara tentang tema apa, karena tema yang paling penting adalah : mengobrol berdua. Suami dan istri merasakan keasyikan untuk selalu menghabiskan waktu berbicara, mengobrol, bercerita, bercanda, bersendau gurau dalam suasana yang ceria. Ada kerinduan mendengar suara tawanya, ingin selalu menghabiskan waktu berdua dalam obrolan mesra. Itulah persahabatan hakiki antara suami dan istri.

Jika suami istri masih ribut soal tema pembicaraan, jika mereka belum bisa betah mengobrol berlama-lama, jika mereka saling menyimpan perasaan saat berdua, menandakan belum menjadi sahabat setia. Mungkin saja sang istri yang banyak bicara dan cerita, sementara suaminya diam saja. Namun diamnya sang suami ini menkmati, bukan diam dalam kebencian. Walau hanya diam, namun sang suami betah mendengar obrolan istri. Sesekali waktu ia menyela, bertanya, atau hanya senyum senyum saja dan tertawa.

7.Sahabat itu saling mengerti

Bukanlah sahabat jika tidak saling mengerti dan memahami. Ciri persahabatan adalah adanya pengenalan yang mendalam antara satu dengan yang lainnya. Mereka bahkan memiliki uniform, memiliki istilah-istilah khas yang tidak dimengerti oleh orang yang berada di luar lingkaran persahabatan. Sebuah kalimat yang tidak dipahami orang lain, mudah dipahami oleh sahabat. Komunikasi yang bagi orang lain tidak bisa dimengerti, akan mudah dipahami oleh sahabat. Itu karena kedalaman pengenalan di antara mereka.

Suami istri adalah pasangan yang seharusnya paling mengerti, paling memahami satu dengan yang lain. Maka tangis, makna tawa, makna anggukan kepala, makna tatapan mata, maka lambaian tangan, makna kerdipan, makna senyum, makna gerakan jari, bahkan rona wajah pasangan. Suami dan istri saling mengerti apa yang menyenangkan pasangan dan apa yang membuatnya benci. Apa yang menenteramkan pasangan dan apa yang menggelisahkannya.  Suami dan istri saling mengerti tentang hal yang membuat marah dan murka pasangan.

Jika suami dan istri sulit mengerti keinginan pasangan, sulit memahami bahasa pasangan, artinya mereka belum saling menjadi sahabat. Suami dan istri mestinya berada dalam pengertian dan pemahaman yang sangat mendalam, karena interaksi yang sangat intim setiap harinya. Jika suami dan istri tidak saling mengerti, selalu salah komunikasi, mudah tersinggung oleh kalimat pasangan, ini menandakan belum adanya persahabatan di antara mereka berdua.

8.Sahabat itu ada ketika anda memerlukannya

Sahabat itu menjadi istimewa, karena selalu ada saat kita memerlukannya. Ia hadir untuk menghibur di saat kita sedih, hadir untuk memotivasi saat kita terpuruk, hadir untuk membimbing saat kita terjatuh. Sahabat merelakan waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk membantu keperluan kita. Ini yang membuat persahabatan tidak mudah rusak dan hilang, bisa menjadi sahabat sehidup semati, karena sifatnya yang sangat peduli.

Demikianlah suami dan istri, semestinya mereka saling peduli dengan kondisi pasangannya. Saat istri memerlukan kehadiran suami, maka suami selalu ada di dekatnya. Saat suami memerlukan kehadiran istri, maka istri selalu ada di sampngnya. Dengan demikian, suami benar-benar merasakan kehadiran istri, dan istri benar-benar merasakan kehadiran suami. Mereka berdua saling menikmati kebersamaan yang melegakan dan membahagiakan. Ada perasaan terjaga, terlindungi, terawat dan terpuaskan kebutuhannya.

Jika suami dan istri benar-benar bisa saling menjadi sahabat

Mengantar Anak Sekolah, Merajut Kenangan Berharga

al ummu madrasatul ula ibu adalah sekolah utama

Mendikbud, beberapa waktu lalu membuat himbauan agar para orang tua mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Himbauan yang bagus sekali.

Saya jadi teringat berpuluh-puluh tahun yang lalu. (wes suwe tenan yaa.. jebule aku wes tuo). Saat saya untuk pertama kalinya mengenakan “seragam sekolah.” 

Waktu itu, kalau tak salah ingat, usia saya 6 tahun saat masuk Taman Kanak-Kanak. Dan itulah pertama kali saya “sekolah.” Maklum saya waktu itu tidak dimasukkan ke PAUD. Alasannya karena pada jaman saya kecil, PAUD belum bertebaran hingga pelosok RW, belum menjadi trend jaman. Saya termasuk terlambat masuk TK. Teman-teman seusia saya umumnya masuk TK selama 2 tahun. Saya sendiri -karena usianya sudah 6 tahun- TK cuma setahun saja. Lalu langsung SD. 

Sebelum masuk TK praktis saya cuma menghabiskan waktu di sekitar rumah saja. Cuma muter-muter di halaman. 

Rumah saya persis di belakang kuburan, mepet tembok. Jadi kalau dulu sudah ada Pokemon Go, saya mesti nyari Pokemon di samping rumah. Pokemon hantu. Langka.  

Saya seperti kebanyakan anak-anak, pada hari pertama sekolah saya juga diantar oleh Mamak. Digandeng tangannya, sambil terus diwanti-wanti, “Dieling-eling iki dalane. Bar lewat kene, terus lurus. Belokane ojo nganti lali.” 

Saya manggut-manggut. Memperhatikan betul. Kalau saya sampai lupa, bisa celaka. Bisa nyasar saat pulangnya nanti. Ya, karena bersama Mamak cuma perjalanan pergi, perjalanan pulang saya harus mengandalkan ingatan ancer-ancer. 

Dan itulah hari pertama saya sekolah. Pertama diantar oleh Mamak ke sekolah, untuk esoknya dan hari-hari selanjutnya; yah, berangkat TK dengan jalan sendiri. 

Seingat saya begitu.. 

Hari pertama sekolah, himbauan menteri itu bagus juga. Karena hari pertama sekolah inilah yang akan diingat selamanya oleh anak..

Selain itu, ada banyak manfaat mengantar anak ke sekolah. Kata teman saya, Idris Apandi, seorang ahli pendidikan, setidaknya beberapa manfaat mengantar anak ke sekolah.

Pertama, mengantar anak ke sekolah pada dasarnya adalah kewajiban orang tua. Ya, ini adalah kewajiban orang tua untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Kewajiban untuk mendampingi anak di momen penting dalam hidupnya.

Kedua, orang tua dapat berkenalan dengan guru, wali kelas hingga kepala sekolah. Perlu diketahui bahwa saat anak sekolah bukan berarti lantas selesai. Tidak. Antara guru dan orang tua sangat perlu untuk saling berkomunikasi, agar orang tua juga mengetahui perkembangan anak saat di sekolah.

Ketiga, menceritakan kondisi dan karakter anak saat di rumah. Ya, dengannya akan dapat terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Mengantar anak ke sekolah adalah tugas penting orang tua. Lebih penting dari menjadi pahlawan dalam satu kota. Anak memerlukan keberanian untuk memasuki lingkungan baru. Disaat momen penting inilah, ia membutuhkan kehadiran orang tuanya.

Antarkanlah anak ke sekolah, karena saat ia sudah besar nanti bisa jadi ia enggan diantarkan lagi oleh orang tuanya. Mumpung ia masih kecil, masih pertama mengenal sekolah, hadirlah untuknya..

Mari kita merajut satu per satu kenangan berharga untuk anak. Yang akan ia kenang selamanya.

Keluarga Sakinah, Seperti Apa?

jangan ngeles ayo nikah

Cahyadi Takariawan

Banyak orang beranggapan bahwa keluarga sakinah itu adalah keluarga yang tidak memiliki permasalahan dalam kehidupan. Seakan-akan hidup dalam keluarga sakinah itu selalu tenang, damai, tanpa dilanda konflik, pertengkaran, permasalahan dan dinamika. Seakan-akan dalam keluarga sakinah itu tidak ada kemarahan dan emosi, tidak ada kata-kata yang meninggi, tidak ada situasi yang tidak dikehendaki.

Jika seperti itu cara memahami keluarga sakinah, tentu tidak ada keluarga yang bisa disebut sebagai sakinah. Karena dalam semua keluarga selalu dijumpai permasalahan, selalu ditemukan konflik, selalu ada pertengkaran, selalu ada dinamika. Tidak ada keluarga yang bisa membebaskan diri dari permasalahan, karena permasalahan adalah ekspektasi yang tidak bisa didapatkan, masalah adalah jarak yang terbentang antara harapan ideal yang diinginkan dengan realitas yang dihadapi saat ini. Maka semua orang hidup pasti memiliki permasalahan. Demikian pula denga keluarga. Selalu ada permasalahan, yang menandakan bahwa mereka adalah kumpulan manusia biasa.

Bermula Dari Sakinah

Jika memang dalam keluarga didapatkan suasana sakinah, berarti dalam keluarga itu terdapat ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, kebahagiaan, kelegaan dan kedamaian. Ini semua merupakan modal dasar dan pondasi untuk menapaki kehidupan berumah tangga yang selalu penuh dengan dinamika. Selalu ada tantangan, selalu ada kekecewaan, namun juga selalu ada harapan. Saya ingin mengajak anda semua memahami, bahwa dalam keluarga yang sakinah juga terdapat konflik, juga terdapat pertengkaran, juga ada masalah, juga ada kekecewaan.

Pertanyaan berikutnya adalah, jika demikian, lalu apa perbedaan keluarga sakinah dengan keluarga yang gelisah? Apa beda keluarga sakinah dengan tidak sakinah? Nah, berikut beberapa kunci untuk memahami perbedaan itu.

1. Keluarga Sakinah Itu Mudah Keluar Dari Goa Masalah

Seperti telah saya sampaikan di depan, bahwa semua keluarga pasti memiliki permasalahan dalam kehdupan. Kecil atau besar, rumit atau mudah, berat atau ringan, itu hanya ukuran yang sangat relatif bagi semua orang. Dalam sebuah keluarga yang sakinah, mereka akan mudah keluar dari goa masalah. Segelap apapun goa itu, sedalam apapun masalahnya, seberat apapun timbangannya, keluarga sakinah selalu memiliki cara untuk menyelesaikannya.

Dalam keluarga yang tidak sakinah, setiap kali dihadapkan kepada masalah, selalu muncul kerentanan atau kerawanan yang membahayakan. Mereka tidak bisa keluar dari masalah dengan mudah. Mereka selalu merasakan berat setiap menghadapi permasalahan, walau sebenarnya hanya masalah ringan. Mereka disibukkan oleh aneka permasalahan kecil dalam kehidupan, higga waktunya habis untuk mencari penyelesaian.

2. Keluarga Sakinah Itu Mudah Mengendalikan Amarah

Manusia memiliki emosi yang mudah berubah-ubah situasinya. Kadang meledak emosinya karena mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, atau melihat kejadian yang tidak diinginkan. Dalam keluarga sakinah, suami dan istri pandai mengontrol emosi. Pandai mengendalikan amarah, dan memiliki cara untuk melampiaskan kemarahan secara positif dan produktif. Dalam keluarga sakinah juga terjadi kemarahan, namun mereka pandai mengendalikan. Kemarahan tidak berubah menkadi petaka yang merusakkan semua bangunan keharmonisan dan kebahagiaan. Mereka mengerti cara pengendalian jiwa, sehingga kemarahan bisa disalurkan dengan cara yang dewasa dan bijaksana.

Pada keluarga yang tidak sakinah, mereka sulit mengendalikan emosi dan kemarahan. Setiap kali ada hal yang tidak disukai hati, selalu muncul caci maki. Ada suami yang biasa memukul istri, ada istri yang sering mencaci maki suami. Ada suami yang cepat melakukan kekerasan dalam rumah tangga, ada istri yang senang menyakiti hati suaminya. Kondisi tu menunjukkan ketidakmampuan mengelola emosi, ketidakdewasaan dalam mengelola gejolak jiwa.

3. Keluarga Sakinah Itu Mengutamakan Musyawarah

Ada hal-hal penting dalam kehidupan keluarga yang harus dihadapi dan disikapi dengan tepat dan kompak oleh suami dan istri. Misalnya tentang pendidikan anak. Bagaimana cara mendidik anak, dimana anak akan disekolahkan, akan dicetak menjadi manusia seperti apa anak-anak, hal-hal seperti itu menjadi sangat penting dan harus menjadi kesepakatan antara suami dan istri. Pada keluarga sakinah, mereka mengutamakan musyawarah untuk mendapatkan masa depan terbaik bagi anak-anak. Dalam berbagai hal yang penting dan strategis bagi keluarga, mereka mengutamakan musyawarah. Bukan mengambil sikap serta langkah sendiri-sendiri.

Berbeda dengan keluarga yang tidak sakinah. Mereka tidak bisa melakukan musyawarah. Suami dan istri bersifat tertutup, masing-masing melaksanakan agenda dan keinginanya sendiri. Tidak mempertemukan pendapat, tidak menyamakan persepsi, tidak menyatukan pandangan. Akhirnya anak-anak bisa menjadi korban, karena ayah dan ibu mereka tidak kompak dalam mengarahkan masa depannya. Tidak pernah ada musyawarah yang melibatkan semua anggota keluarga.

4. Keluarga Sakinah Itu Pandai Mengelola Rasa Gelisah

Dalam kehidupan berumah tangga, bisa muncul rasa gelisah yang dupicu oleh kecemburuan, atau kekhawatiran tertentu terhadap pasangan. Misalnya, seorang istri yang cemburu karena melihat suaminya asyik berkomunikasi dengan perempuan lain. Atau seorang suami yang cemburu karena menyaksikan sang istri menjadi fans berat dari lelaki temannya bekerja. Dalam keluarga sakinah, mereka pandai mengelola rasa gelisah ini, dengan melakukan tabayun atau recheck kepada pasangan. Mengkonfirmasikan perasaan, dugaan, dan kekhawatiran. Mengkomunikasikan kecemburuan kepada pasangan. Mereka saling terbuka untuk adanya konfirmasi seperti ini.

Pada keluarga yang tidak sakinah, perasaan gelisah ini sulit untuk diredam. Kecemburuan mudah meledak menjadi kemarahan dan dendam. Kecurigaan mudah berubah menjadi tindakan yang membahayakan diri dan pasangan. Rasa gelisah yang selalu dituruti dengan emosi, bukan dengan nalar sehat. Akhirnya menyewa ‘detektif swasta’ untuk menguntit kemanapun suaminya pergi, menyadap semua pembicaraan suami, memasang chip untuk memata-matai suami, yang itu semua memerlukan biaya besar dan tenaga yang ekstra. Rasa gelisah tidak bisa diselesaikan secara nyata dalam keluarga yang tidak sakinah.

5. Keluarga Sakinah Itu Selalu Berorientasi Jannah

Visi besar yang mengikat keluarga sakinah adalah jannah atau surga. Mereka memiliki visi yang besar, ingin mendapatkan surga dunia dan surga akhirat bersama seluruh anggota keluarga. Untuk itu, tindakan, tingkah laku dan perbuatan anggota keluarga, mengarahkan mereka untuk memiliki ciri-cici sebagai calon penghuni surga. Mereka bekerja sama sebagai sebuah tim yang saling menguatkan, untuk melakukan tindakan yang menghantarkan mereka menuju surga. Suami dan istri menjadi tokoh utama dalam keluarga, yang akan menginspirasi dan memotivasi anak-anak untuk menggapai suasana surga dunia, dan menggapai surga di akhirat kelak.

Berbeda dengan keluarga yang tidak sakinah. Mereka tidak memiliki kejelasan visi, karena sejak awal membangun keluarga tidak disertai dengan kesadaran untuk membangun jalan menuju surga. Lelaki dan perempuan yang saling jatuh cinta, lalu pacaran, lalu menikah, sekedar untuk melampiaskan kesenangan syahwat. Tanpa ada kesadaran Ketuhanan dalam langkah perjalanan kehidupan berumah tangga. Keluarga seperti ini mudah tersesat jalan, karena bahkan tidak mengerti arah yang akan dijadikan tujuan.

Demikianlah beberapa kondisi keluarga sakinah.

Inilah Rahasia Dianjurkan Mesra Suami Istri di Hari Jumat

Hatta Syamsuddin

Saya termasuk yang tidak setuju dengan fenomena membesar-besarkan istilah “sunnah rosul” di malam jumat yang merujuk pada hubungan suami istri pada waktu tersebut. Alasan sederhana ketidak setujuan saya, ada tiga:

Pertama, dari sisi bahwa amalan sunnah rasul pada malam jumat atau hari Jumat itu banyak ragamnya, dari mulai sholawat, perbanyak doa, baca al kahfi, sehingga menyebutkan istilah “sunnah rosul” hanya pada amalan mesra tentu akan mengecilkan makna sunnah-sunnah lainnya di malam itu, bahkan melupakannya karena fokus dengan “sunnah rosul” yang dipahami sebagian orang hari ini.

Kedua, penyebutan “sunnah Rasul” untuk aktifitas hubungan suami istri di malam Jumat, tanpa disadari menggiring opini dan pemahaman melecehkan Rasulullah SAW, seolah-olah itu menjadi aktifitas utama dan ajaran utama Rasulullah SAW pada umatnya di malam Jumat, padahal yang terjadi tidaklah demikian.

Ketiga, karena sejatinya aktifitas hubungan suami istri dan aktifitas bermesaraan antara keduanya adalah bernilai sunnah sepanjang waktu, bukan hanya terbatas di malam Jumat. Sehingga menyebutkan istilah “sunnah rosul malam jumat” seolah-olah menafikkan hal tersebut juga menjadi amalan yang dianjurkan pada hari-hari lainnya.

Tapi pada sisi yang lain, saya juga kurang sepakat pada yang menolak mentah-mentah amalan yang diistilahkan “sunnah rosul” di malam Jumat, karena meyakini tidak ada dalilnya sama sekali, dan menjadi sesuatu yang mengada-ada. Karena sesungguhnya ada beberapa dalil yang menyebutkan tentang anjuran “mesra malam jumat” bagi suami istri. Setidaknya, ada dua riwayat shohih menyebutkan secara tersirat (isyarat), dan ada dua riwayat lemah yang menyebutkan secara tersurat nan jelas.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin memperpanjang pembahasan soal dalil, mengingat tanpa dalil spesifik pun mesra suami istri adalah berpahala. Namun yang menjadi menarik adalah, apa sebenarnya hikmah, manfaat atau rahasia yang tersembunyi dibalik anjuran mesra suami istri di hari/malam Jumat. Ternyata para ulama seperti Ibnu Hajar juga menyebutkan beberapa hal manfaat hal tersebut, dan berikut saya tambahkan dan lengkapi menjadi hal-hal sebagai berikut :

Pertama, Lebih menenangkan Jiwa sehingga lebih siap untuk beribadah
Desakan gejolak seksual akan terasa sangat mengganggu bagi kaum pria, dan itu menjadi lebih tidak mengenakkan pada hari Jumat yang semestinya dioptimalkan dengan kekhusyukan beribadah. Karenanya gejolak tersebut perlu disalurkan lebih awal, agar jiwa lebih tenang pada hari yang tersisa.

Kedua, Lebih menundukkan pandangan saat di jalan
Diriwayatkan pada masa awal Islam kaum muslimah juga pergi keluar untuk mengikuti sholat Jumat berjamaah, karenanya hal tersebut menjadi ujian tersendiri bagi kaum laki-laki dalam menjaga pandangan di jalanan. Hari ini meskipun tidak banyak wanita yang mengikuti sholat Jumat di masjid, namun esensinya tak jauh berbeda karena di jalanan pun begitu mudah ditemui hal-hal yang mengganggu dan menggoda pandangan. Dengan telah berjimak di pagi hari maka hal-hal teknis semacam itu diharapkan bisa berkurang atau teratasi.

Ketiga, Lebih Sehat dan Bahagia di Hari Raya.
Hari Jumat adalah hari raya yang tidak hanya berisi ibadah semata, namun juga kebahagiaan nan penuh semangat. Karenanya dengan berhubungan badan suami istri di pagi hari, akan melahirkan sehat dan semangat yang berlebih untuk menyambut hari bahagia tersebut. Hal ini didukung dengan serangkaian penelitian soal tersebut, pakar kesehatan menyebutnya dengan morning sex. Dikatakan dalam sebuah situs kesehatan bahwa : “pasangan yang melakukan hubungan intim di pagi hari mampu meningkatkan suasana hati di siang hari. Tak hanya itu, hal ini juga mampu meningkatkan kesehatan kulit, rambut dan kuku. Estrogen kimia yang dilepaskan selama “sexy time” bisa membuat rambut lebih bersinar, kuku lebih kuat dan meningkatkan warna kulit.

Para ahli juga mengatakan, tingkat testosteron pria mengalami lonjakan sepanjang malam saat tertidur, sehingga pagi hari sebenarnya para pria lebih cenderung berada dalam mood untuk bercinta. Bercinta di pagi hari juga membuat tubuh kita lebih sehat dan lebih bahagia, serta mampu membakar rata-rata 300 kalori per jam dan meningkatkan tingkat denyut jantung dan sirkulasi darah sambil menurunkan tekanan darah.”

Nah, akhirnya tak ada alasan lagi untuk tidak menyambut hari Jumat dengan penuh riang gembira. Bukan hanya ada dosa-dosa kecil yang berguguran di janjikan, namun sebentuk kemesraan nyata nan berpahala juga telah menunggu untuk ditunaikan. Segera  bacakan artikel ini dihadapan istri Anda tercinta , dan selanjutnya terserah Anda …

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Ayah, Kapan Kita Makan Bareng Lagi?

nasihat untuk ananda

“Nanti ayah pulangnya jam sepuluh malam, ya Bund..”

Saya melihat pesan singkat dari suami saat jam sudah menunjukkan pukul delapan. Saat itu saya duduk di sofa ruang keluarga. Sambil menonton, atau tepatnya ditonton, karena saya tak memperhatikan televisi yang menyiarkan berulang-ulang gosip politik.

Bila suami saya berkata bahwa ia akan pulang malam, maka ia pasti sudah makan malam. Mungkin bersama teman-temannya di rumah makan. Sambil nongkrong. Kebiasaannya sejak muda.

Padahal saya sudah memasak makanan kesukaan suami. Ada cak kangkung, tempe goreng, dan ayam goreng spesial. Yang resepnya saya warisi dari ibu mertua.

“Ayam goreng resep ini dimakan anak saya sejak kecil. Makanan kesukaanya. Kini kamu yang harus menghidangkannya padanya ya, Nduk” itu kata ibu mertua saya saat pertama kali mengajarkan memasak resep itu pada saya.

Makanan itu kini hanya terhidang di meja makan. Sudah dingin.

Saya menatapnya dengan perasaan yang susah dijelaskan. Antara sedih atau sayang tidak termakan atau kecewa.

Bayangan saya, hari ini kami makan bersama beritga; saya, suami dan anak saya yang masih berusia tiga tahun. Makan bersama memang kebiasaan yang ingin kami berdua bangun sejak dulu. Sejak menikah.

Saya belum makan. Inginnya menunggu suami pulang. Namun si kecil, anak saya yang berusia tiga tahun, sudah makan sejak jam setengah tujuh. Ia harus makan sesuai jadwal, agar jadi kebiasaan baik untuknya.

“Ayah, puyang jam belapa..?” tanya anak saya saat saya menyiapkan makannya.

“Nanti, sebentar lagi,”

“Ayah ikut maem gak..?”

“Iyaa, adek maem dulu sekarang gak apa-apa kok. Maem yang banyak yaa…”

Kalau banyak orang mengatakan makan tidak boleh sambil bicara, namun kami berbeda. Saat makan bersama, kami bisa ngobrol apa saja. Makan membuat komunikasi antara saya, suami dan anak menjadi lebih baik.

Percakapan saat makan itulah yang menurut saya bisa menjalin ikatan yang lebih kuat antar keluarga. Selain itu, saya dan suami bisa mengajarkan berbagai hal pada anak saat makan. Kami bisa mengajarkan pada anak sopan santun, saling bercerita tentang perkembangan anak, dan banyak lainnya.

Kebiasan ini memang bagus untuk keluarga. Dan sebisa mungkin kami pertahankan. Namun beberapa waktu terakhir, suami lebih banyak pulang malam.

Saya lihat lagi pesan suami saya. Belum saya balas. Bingung.

Ingin sekali memberitahunya bahwa saya sudah capek-capek memasak untuknya. Namun urung saya lakukan. Hanya akan membuatnya merasa bersalah.

“Lagi dimana emang sekarang?” kalimat itulah yang kemudian terketik di layar hape.

“Di resto. Sama teman-teman bicarakan bisnis.”

Nah, seperti dugaan saya. Di resto. Tidak ada orang yang pergi ke resto tanpa pernah memesan makanan.

Saya menghela nafas.

“Ya, sudahlah. Daripada menuggu, mungkin lebih saya makan sekarang.” Lalu saya berdiri. Mengambil piring. Mengambil makanan di meja makan. Lalu kembali lagi duduk di sofa.

Makan sambil melihat televisi. Bosan dengan gosip politik, saya pindah channel. Isinya sinetron. Pindah lagi, isinya kompetisi nyanyi yang gak bermutu. Pindah lagi, isinya lawakan yang tidak lucu. Orang tertawa karena disuruh tertawa, bukan tertawa karena ada yang lucu.

Akhirnya saya berhenti di channel yang liputan tentang olimpiade.

Padahal sewaktu makan bersama bersama keluarga, kami akan mematikan televisi. Meletakkan gadget di tempat yang jauh. Di meja makan hanya ada saya, suami, anak dan makanan. Serta obrolan yang hangat. Tidak boleh terganggu televisi dan suara notifikasi hape.

Makan bersama adalah waktu berharga. Ia tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi semata, tapi adalah waktu yang penuh makna.

Saat ini mungkin banyak yang mengabaikannya. Padahal dari jaman dahulu kala, jaman leluhur, makan bersama sambil lesehan adalah kebiasaan yang wajib ada di keluarga.

Ia adalah waktu dimana ada rasa bahagia antara istri, suami dan anak. Anak akan merasakan bahwa ada nuansa harmonis antara ayah dan ibunya. Dan secara langsung anak akan merasa lebih bahagia.

Maka makan bersama bukan soal makanannya, tapi pada soal kebersamaannya. Mungkin makanan di restoran bisa lebih enak, atau malah lebih enak masakan saya. Tapi ini bukan soal makanan, ini soal cinta. Dan ini yang pelan-pelan saya rasakan mulai luntur.

Selesai makan, saya ambil secarik kertas dan pulpen. Setelah mencuci piring dan gelas kotor saya menulis di atas kertas itu. Lalu saya taruh di atas meja makan. Berharap suami saya membacanya dan tersadar.

“Ayah, kapan kita makan bareng lagi?”