Merayu Lewat Lagu

surga rumah tangga

Aduhai sang bidadari
Benarkah kau membenciku
Ataukah memang kau tak sudi lagi

Masih adakah rasa sayang dihatimu
Masih adakah sisa cinta dihatimu
Serta kerinduan di dalam hatimu
Untuk diriku yang mencintaimu

Getarkan bibirmu, bicaralah sayang
Walau kau berdusta, aku tak kan marah
Pabila dirimu tak mau bicara
Berarti hatimu ada kebimbangan

Ijinkah aku untuk meyakinkan
Bahwa dirimu masih sayang padaku

(Masih Adakah Cintamu – Lathief Khan)

Behind The Scene

Lagu ini dibuat oleh almarhum Lathief Khan, kala istri tercintanya sedang ngambek. Tidak mau bicara, tidak mau disapa. Mungkin karna banyak beban, tapi suaminya tengah sibuk dengan banyak tugas.

Sampai akhirnya, sang istri lebih memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dalam kesedihan yang memuncak, lahirlah sebuah syair lagu yang yang syahdu. Tanda cintanya kepada sang istri. Ah, dasar seniman. Apa saja bisa jadi inspirasi, untuk karya emasnya.

Sang istri masih belum mau bicara dan berada dirumah orang tuanya. Tiba – tiba, dia menyaksikan suaminya muncul di Album Minggu TVRI, dengan lagu ini. Dia tahu benar, ini lagu diciptakan khusus untuk dirinya.

Melalui lagu, hatinya luluh. Kunyanyikan lagu yang sama, semoga hatimu juga luluh. Mohon maaf atas segala khilaf.

Dari suamimu,…
Suaminya bu bidan.

Eko Jun

Kembali ke Rumah

awas proyek penghancuran moral

Oleh : Miarti Yoga
(Early Childhood Consultant)

Rasanya, terlalu.

Jika ada orang yang tak paham saat mendengar seorang Doktor ahli psikiatri yang membeberkan LGBT dari sudut pandang ilmiah nan penuh nilai spiritual.

Pro kontra memang wajar dan telah sangat biasa. Tetapi, pro LGBT dengan segala pertimbangan emosional, duh sangat disayangkan.

LGBT memang bukan untuk didiskriminasi. Tetapi langkah dan tingkahnya bukan untuk di-iya-kan.

LGBT memang bukan untuk diisolasi dan dibenci. Tetapi, konyol nian jika tak merasa sebagai sebuah gangguan.

LGBT memang fakta. Tetapi betapa parah cara berpikir mereka yang menganggap hal itu halal adanya. Apalagi mencoba mencibir agama yang nyata-nyata sudah memberi jeda antara boleh dan tidak.

Baiklah. Jika “keukeuh” LGBT bagian dari hak asasi manusia. Memang benar harus sama-sama kita lindungi.

Tapi. Pliiiiiis.

Yang dilindungi itu individunya. Bukan tingkahnya, bukan jalan hidupnya.

Dan melindungi itu bukan berarti membebaskan mereka untuk tetap berada di jalannya. Melainkan mengarak mereka menuju kesembuhan. Menuju jalan hakiki. Sehingga ke-manusia-an mereka benar-benar manusia. Benar-benar laki-laki dan benar-benar perempuan.

Lima tahun lalu. Saya takjub dengan seorang ibu. Beliau mendaftarkan sekolah plus mengkonsultasikan permasalahan putra semata wayangnya.

Apa sebab?

Penyebabnya, karena ada yang janggal pada alat kelamin putranya itu. Sebagai orang tua yang paham terhadap aturan agama, maka ia ingin memastikan apa sebetulnya gender dari buah hatinya. Maka, beliau rela mengeluarkan sekian biaya untuk membiayai operasi kelamin sang buah hati. Dan setelah dokter memeriksa secara apik, bahwa hormon dan DNA anak tersebut laki-laki, maka dioperasilah anak tersebut agar jelas sebagai laki-laki. Sehingga keluarga dan orang sekitar tak ragu MEMPERLAKUKAN.

So, KEJELASAN itu niscaya. Maka kehati-hatian orang tua dalam menentukan pun, jelas sebuah ikhtiar mulia.

Apalah lagi, kita yang yang jelas tak ada keraguan atas ggender putra putri kita. Pendidikan seks itu semestinya. Bahkan dengan kejelasan identitas saja, itu bagian dari pendidikan seks yang sangat nyata.

Kita berikan pakaian sesuai peruntukkan. Mana untuk laki-laki, mana untuk perempuan.

Kita belajarkan mereka untuk tidak bercampur. Sehingga mereka sadar dengan tempat duduk. Mana tempat duduk laki-laki, mana tempat duduk perempuan.

Lalu apalagi yang kita ragukan dari Al-Qur’an. Allah telah berpesan bahwa laki-laki dilarang menyerupai perempuan dan atau sebaliknya.

Tak cukupkah pesan moral dari sejarah. Bagaimana Allah binasakan kaum sodom. Naudzubillah.

Yuk ah. Jaga rumah, jaga keluarga. Biarkan kasih sayang kita wajar tanpa pincang. Biarkan pengasuhan kita qona’ah tanpa celaan.

Tumbuh suburkan cinta kita secara lengkap. Biarkan mereka dapatkan kepuasan dari masing-masing profil. Profil ibu dan profil ayah.

Buanglah semua kecewa atas pengharapan terhadap buah hati berjenis kelamin tertentu. Jika ternyata tak sesuai harapan, maka dramatis bukanlah jalan kebaikan. Karena amanah kita, untuk membesarkannya di jalan LURUS.

Lawan Seramnya Globalisasi, Didik Anak Dengan Konsep Imunitas!

Doa untuk anak
Globalisasi dan kemajuan teknologi menyebabkan jarak dan waktu menjadi seakan tanpa batas. Informasi mengalir deras bagai tekanan air yang mengalir dari selang hidran. Dengan hilangnya sekat batas tempat dan waktu tersebut membuat berbagai macam jenis informasi mudah masuk ke negara manapun, termasuk Indonesia. Jika  informasi yang masuk adalah informasi yang bermanfaat dan positif tentu menguntungkan. tapi jika informasi yang masuk negatif maka informasi ini harus sekuat tenaga agar dampaknya tidak terlalu buruk. Informasi dapat berdampak negatif bagi suatu bangsa bisa berupa perubahan budaya, nilai, kepercayaan dan lain sebagainya yang dapat menjauhkan nilai nilai luhur yang telah lama di yakini oleh bangsa.
Salah satu dampak buruk dari keterbukaan informasi global adalah maraknya pornografi, narkoba, terorisme dan yang sekarang sedang ramai di bicarakan adalah propaganda tentang kelainan orientasi seksual yang gencar di advokasi oleh negara negara barat. Ke empat hal tadi sangat di tentang oleh ajaran agama dan nilai nilai luhur bangsa, namun sangat masif penyebarannya di Indonesia sehingga bukan tidak mungkin Indonesia hancur bukan oleh perang tapi oleh invasi budaya yang bertentangan dengan nilai nilai kemanusiaan.
Kelompok yang paling rentan di sasar oleh penyalahgunaan keterbukaan informasi tadi tentunya adalah anak anak dan remaja. Lalu langkah apa yang tepat untuk meminimalisir dampak buruk tersebut bagi anak anak kita ? sebagian orang tua yang sangat ketakutan dengan dampak globalisasi ini melakuka perlindungan yang sangat protektif bagi anak anak mereka. Ada beberapa yang menjalankan konsep tanpa TV di rumah. konsep ini sangat bagus, tapi apakah TV sekarang satu satunya sumber informasi global, jelas tidak. sumber informasi global sekarang sudah sangat dekat dengan anak anak yaitu melalui gadget telepon pintar yang relatif mudah didapatkan. Kemudian, apakah kita juga harus memberlakukan hidup tanpa gadget kepada anak anak kita ?
Anak-anak jika semakin dilarang akan menimbulkan kecenderungan untuk lebih penasaran dengan hal yang dilarang tersebut. Akan semakin berbahaya jika anak anak mencari tahu sendiri rasa penasarannya itu tanpa didampingi oleh orang tuanya. menjauhkan anak dari TV akan membuat anak anak penasaran dengan TV tetangga, tentu pengawasan menonton TV di tetangga sangat mungkin lebih lemah jika orang tua sendiri yang mengawasi. Pelarangan penggunaan Gadget, tentu membuat penasaran anak anak untuk menggunakan gadget temannya. Tentu lebih berbahaya jika anak anak menggunakan gadget secara liar bersama teman temannya tanpa pengawasan orang tua.
Saya sepakat dengan upaya preventif berupa pembatasan/pengaturan penggunaan TV, telepon pintar dan perangkat lainnya oleh orang tua kepada anak anak mereka. Namun, pengaturan yang hanya didasari atas pembatasan saja justru hanya akan meningkatkan rasa penasaran anak anak, apalagi usia remaja. Dan jika rasa penasaran tersebut tidak didapatkan di rumah, mereka bisa dapatkan jawabannya di luar rumah. oleh karena itu pembatasan penggunaan media elektronik dan media sosial wajib disertai dengan penjelasan yang komprehensif sehingga muncul pemahaman di benak anak anak kita, kenapa suatu hal di larang untuk di dekati apalagi di gunakan/dilakukan. Nah… Proses pemahaman inilah yang seharusnya menjadi langkah utama dalam melindungi anak anak dari paparan informasi yang negatif dan efek buruk globalisasi, sehingga dimanapun mereka berada, mereka sudah punya imunitas yang kuat untuk bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.
Sekarang langkah apa yang perlu dilakukan agar anak anak kita terbangun imunitasnya terhadap paparan dampak negatif globalisasi ? berkaitan dengan hal ini ada baiknya kita mengikuti langkah langkah yang dilakukan oleh Lukman terhadap anak anaknya seperti yang dikisahkan dalam Al Quran surat Lukman ayat 13-19. yaitu :
1. Menguatkan tauhid kepada sang pencipta. Artinya dalam rangkan memberikan imunitas yang kuat pada anak anak kita maka ajaran pertama yang harus kita berikan adalah ajaran mengenalkan sang pencipta ke pada anak anak kita dan kita kuatkan keyakinannya agar tidak menyembah selain Allah SWT. Dalam ayat 13 di sebutkan “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dengan menguatkan Tauhid kepada anak anak kita maka kita telah menanamkan filter pertama. Karena dengan tauhid tersebut anak anak kita akan lebih mudah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
2. Tanamkan kepada anak anak kita untuk menghormati dan berbuat baik kepada orang tua atau orang yang lebih tua. Dengan hormat kepada orang tua maka anak anak kita akan cenderung patuh terhadap nasihat, arahan, penjelasan dan peringatan peringatan yang disampaikan oleh orang tuanya, seperti disampaikan dalam ayat 14 yaitu “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. Dengan demikian, filter kedua juga sudah tertanam kepada anak kita. Dengan filter kedua ini, atas dasar jasa orang tua yang telah mengandung dan merawat saat kecil maka anak anak juga akan lebih mudah untuk dikondisikan menjadi anak anak yang bersyukur dengan keadaan apapun. Anak anak dan remaja yang terlatih untuk selalu bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah SWT maka akan mengurangi rasa penasaran akan hal hal yang jelas jelas dilarang Allah SWT, bahkan jika orang tuanya mengajak kepada keburukan anak kita sudah bisa menolak keburukan tersebut apalagi jika keburukan tersebut diajak oleh orang lain.
3. Ajarkan anak anak untuk berfikir sebelum bertindak, karena setiap amal dan tindakan sekecil apapun akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Jika amalnya baik maka akan mendapatkan pahala yang ganjarannya syurga, jika amalnya buruk maka akan mendapatkan dosa yang ganjarannya neraka. dalam ayat ke 16 di sebutkan “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” . Dengan  bekal filter ketiga ini, anak anak akan terbiasa untuk berfikir jauh sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.
4. Kondisikan anak anak agar terbangun kesadaran untuk beribadah kepada Allah SWT, karena dengan aktivitas ibadah yang intensif maka kedekatan dengan Allah akan semakin baik dan tentu Allah akan memberikan perlindungan kepada hambanya yang mendekat. Ayat 17 menyebutkan “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. Jadi, selain membangun kesadaran untuk memperbanyak ibadah kepada Allah, perlu juga dibangun kesadaran untuk saling menasehati dan mengajak teman / orang lain melakukan banyak hal kebaikan dan mencegah teman / orang lain untuk melakukan hal yang buruk. Filter keempat ini jika sudah melekat ke anak maka imunitas anak anak kita sudah semakin kuat.
5. langkah kelima adalah menanamkan anak anak kita agar terbiasa berbuat baik kepada orang lain dan saling menolong. dengan demikian diharapkan tidak ada ruang dalam fikiran anak anak kita untuk melakukan hal hal yang buruk, bahkan membenci keburukan tersebut. Dalam ayat 18-19 dijelaskan “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. Sikap yang rendah hati dan tidak sombong serta senantiasa berakhlak baik kepada orang lain menjadi modal penting bagi anak anak kita agar menjauh dari efek efek buruk globalisasi tersebut.
Semoga, dengan sentuhan pendidikan yang tepat maka, anak anak kita dapat terhindar dari masifnya program program penghancur moral anak anak bangsa. Orientasi pendidikan yang menanamkan imunitas yang kuat pada anak tentu memberikan rasa aman tersendiri bagi orang tua dibandingkan dengan pendidikan yang berorientasi pada proteksi yang berlebihan.
arsad
, ,

“Surga Yang Tak Dirindukan”, Sebuah Pelajaran

surga rumah tangga

“Aku akan menikahimu. Malam ini juga. Pegang kuat tanganku, naiklah…!” ujar Prasetya meyakinkan Meirose agar tidak bunuh diri, lalu menariknya agar tidak terjatuh dari gedung rumah sakit.
Malam itu juga mereka menikah.

Dialog diatas adalah cuplikan adegan dalam filem Surga Yang Tak Dirindukan ‪#‎SYTD‬, yang diangkat dari novel karya Asma Nadia, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia tulis menulis Indonesia.
Dialog diatas itu pula awal konflik serius dalam filem #SYTD.

Ada beberapa catatan setelah menonton film #SYTD yang berkisah tentang poligami tersebut.

Prasetya dan Arini, cuplikan adegan dalam Film SYTD

– Bahwa poligami adalah bagian tak terpisahkan dari syari’at Islam, ia adalah aturan yang berasal dari Allah. Menentangnya, seperti menganggap poligami adalah penindasan terhadap perempuan, poligami bertentangan dengan hak asasi perempuan, maka berarti itu menentang syari’at Allah. Saya menyebutnya dengan Well Belief.

– Bahwa Poligami harus dilihat sebagai bagian (meski bukan satu-satunya) solusi yang disediakan Allah. Oleh karenanya, ilmu tentangnya haruslah diketahui secara baik. Bagaimana ‘adil yang dimaksud syari’at, bagaimana memenuhinya. Bagaimana jika sudah berusaha adil namun tetap dianggap tidak adil. Ini harus dipelajari.
Karenanya pula, bila tanpa ilmu, maka poligami yang seharusnya menjadi solusi akan menjadi bagian dari problem rumah tangga. Saya menyebutnya dengan Well Educated.

– Selanjutnya, agar syari’at Allah tentang poligami ini teraplikasi dengan baik, maka harus ada persiapan yang matang dari pelakunya. Persiapan yang paling utama -menurut saya- adalah kemampuannya untuk menafkahi lahir dan bathin. Saya menyebutnya dengan Well Prepared.
Termasuk dalam mempersiapkan ini adalah, bagaimana kita memahamkan syariat Islam kepada anak-anak, agar kelak jika dewasa tidak gagap terhadap syari’at.

– Hal berikutnya adalah, melakukan komunikasi dengan hikmah kepada pihak-pihak terdampak poligami. Istri, anak, mertua dan keluarga. Semua keluarga yang memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.
Ini penting agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Paling tidak, meminimize sakit hati utamanya dari istri.
Diberitahu akan lebih baik daripada tahu sendiri seperti Arini dalam filem #SYTD. Saya menyebutnya dengan Well Communicated.
Betapa hancur hati Arini, suami yang dicintainya, yang telah berjanji pada ayahnya utk tidak menyakitinya, ternyata menikah lagi tanpa lebih dulu memberitahunya. Ini karena tidak ada komunikasi yang baik. Bahkan, bisa saya sampaikan bahwa ‘prahara’ dalam film ini terjadi hanya karena Prasetya tidak nelpon saat ada accident.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari filem #SYTD adalah tentang IKHLASH.
Ikhlash atas taqdir Allah. Seperti sikap yang ditunjukkan ibunya Arini, setelah dikomplen Arini karena menyembunyikan fakta bahwa ayah Arini ternyata poligami, yang diketahui Arini saat ayah Arini wafat dan anak istrinya datang takziah.

Ikhlash itu tidak berarti tidak ada sakit hati. Ada rasa sakit hati pada ibu Arini saat ayah Arini menikah lagi. Tapi demi Arini, sang ibu betusaha ikhlash.

Hal yang sangat ditekankan dalam poligami adalah mampu berlaku ADIL. Ini memang sulit, meskipun kita sangat menginginkannya. Adil itu belum tentu tidak menyakiti. Kalau sudah emosi yang bicara, maka tidak akan ada rasa diperlakukan adil. Maka, kalau sudah diperlakukan adil, tapi masih juga sakit hati, ya derita loe, hehehe…

Kiranya itulah pandangan saya. Kalo yg mau nikah lagi, pasti sepakat dengan saya. Sementara buat para istri, termasuk istri saya, boleh jadi tidak sepakat dengan saya.
Namun sekali lagi, ini bukan tentang sepakat atau tidak. Ini tentang syari’at, ini tentang ilmu. Begitu…

Dan kata para istri shalihah, “Surga tidak hanya bisa didapat dengan ikhlash dimadu”

Nah…!!!

Ada Kamu Dihatiku

Cinta di Depan Penghulu

@ Memetik Buah Kasih Sayang

Sewaktu pertama kali disodori fotomu, kulihat wajah imut dan menggemaskan. Sangat mirip Aiswarya Rai, megabintang bollywood. Ah, beruntungnya diriku kala itu. Setelah ta’aruf pertama, aq terkejut bukan main. Karna foto yang kau berikan, ternyata foto kala SMA. Tapi aq malu untuk mundur, karna rasa hormatku pada murobbiku. Ternyata, lama – lama engkau terlihat cantik juga.

Sewaktu mengandung anak pertama, kau tengah ditempatkan di Desa Bolang, Dayeuhluhur. Ngidamnya sederhana saja, nasi padang. Masalahnya, tidak ada warung nasi padang di Dayeuhluhur. Ku rela pergi turun gunung ke kota, melintasi propinsi, dari Dayeuhluhur ke Kota Banjar. Hanya sekedar membelikan nasi padang. Karna rasa cintaku pada bu bidan.

Foto ta’aruf dari Bu Bidan yang bersejarah, kini ku simpan di dalam mushaf Al Qur’an. Dibagian akhir, setelah doa khatam. Agar bisa kucium, setiap kali khatam Al Qur’an. Sebagai tebusan atas impian yang tidak terwujud, untuk muraja’ah ria di malam pertama.

Demikianlah, cinta akan terasa indah jika dipetik pada waktunya. Ini ceritaku, apa ceritamu?

Kemana Perginya Rasa Cinta?

Doa untuk anak

Sangatta pecah pagi itu, 9 Desember lalu warga dibuat geger… Ada bayi menggenaskan dibuang ke sungai… Bukannya mendapat kehangatan belaian dari sang ibu, bayi perempuan yang diperkirakan baru saja dilahirkan tersebut justru ditemukan dalam kondisi tewas mengenaskan. Ya, bayi yang masih memiliki tali pusar tersebut ditemukan warga mengambang dan terbungkus dalam kantong plastik di sekitar dermaga ponton (perahu penyebrangan) di desa Sangatta Selatan, Sontak penemuan jasad bayi tersebut langsung menghebohkan warga sekitar.

Jumat 4 November siang itu, sebuah tas ransel hitam tergeletak di semak di dasar jurang yang tingginya sekitar 6 meter, persis di jalan Pangeran Suryanata Samarinda. Sepasang suami istri yang melintas, melihat kondisi tas masih bagus, Suwaji (51) dan Andis (31) jadi curiga. Apa lagi tas tersebut dikerumuni lalat. Penasaran, Suwaji turun ke jurang, bertepatan dengan waktu shalat Jumat.

Suwaji semakin mendekati tas itu. Tercium bau aroma menyengat dan lalat yang semakin banyak. Suwaji semakin penasaran dan buru-buru membuka tas. Sementara Suwaji memeriksa isi tas, Andis mengamati dari turap semen di atas jurang. Mata Suwaji langsung terbelalak. Ternyata bau busuk berasal dari jasad bayi berjenis kelamin laki-laki.

Mayat bayi berada di dasar tas dan ditutupi jarik serta lampin (kain pembungkus bayi baru lahir) dengan posisi terlentang dan leher menekuk ke bawah. Saat itu tubuh bayi montok itu sudah menghitam, mengenakan baju dan celana putih mermotif dinosaurus dengan dominasi corak kuning. Tangan dan kaki bayi juga terbungkus rapi. Astaqfirullah…

Oktober lalu tepatnya 26 Oktober di Bontang pun mendadak ramai, ditemukan sesosok bayi dalam kardus, tergeletak di halaman rumah seorang warga bernama Kusnan, di Jalan Tomat 5, RT 44 Kelurahan Gunung Elai, Bontang, kemarin pukul 05.00 Wita. Bayi berjenis kelamin perempuan itu memiliki berat 3,3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter A.

Saat ditemukan, kondisinya lemah. Di wajahnya tampak darah yang masih segar. Di kardus juga terdapat kantong plastik hitam berisi ari-ari yang masih basah, seolah-olah menunjukkan jika dia baru dilahirkan. Meski demikian, bayi tersebut tetap berselimutkan dua lembar kain putih dan kuning.

Jika kita melihat 3 kejadian berturut-turut dalam beberapa bulan kemarin di Kaltim tentu sangat memprihatinkan. Bagaimana kesadaran peran seorang ibu kini? Buah hati yang seharusnya didekap penuh kehangatan ketika ia ditakdirkan hadir di dunia, malah mendapatkan perlakukan sadis dari seorang ibu. Sudah semakin terkikiskah rasa kasih dan sayang direlung hati seorang ibu? Padahal janji sang Kholiq sangat indah untuk ketulusan dan cinta ibu yang sesungguhnya tanpa batas ini…

Sungguh, betapa tragis apa yang terjadi saat ini terhadap anak-anak yang ada disekitar kita. Pembunuhan anak, pembuangan bayi tak berdosa dan kekerasan pada anak menjadi berita yang semakin akrab tiap hari kita saksikan di media. Astaqfirullah… Lalu  bagaimana agar anak-anak kita yang seharusnya memperoleh segudang kasih sayang dan cinta, dapat terhindar dari tindak kekerasan? Baik yang dilakukan oleh orang terdekat maupun orang tak dikenal? Berikut beberapa hal penting untuk menghindari tindak kekerasan pada anak:

1. Karena anak mempunyai hak perlindungan, pendidikan dan nafkah yang sama sekali tidak boleh diabaikan, oleh para orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sabda Nabi besar kita, “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang dipimpinnya itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Karena anak mempunyai hak hidup. Ayah dan ibu tidak boleh merenggut hidup anak, apalagi dengan membunuhnya. Ketentuan ini berlaku untuk anak laki-laki maupun wanita. Seperti pesan cinta Allah SWT kepada kita bahwa :”Jangan kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut kelaparan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka maupun kepadamu; sesungguhnya membunuh mereka suatu dosa besar.” (al-Isra’: 31)

Karena dorongan untuk berbuat yang mungkar ini ada kalanya soal ekonomi, misainya karena takut kelaparan dan kemiskinan, atau alasan non-ekonomis.

Rasulullah saw. pernah ditanya: dosa apakah yang teramat besar? Jawab Nabi: yaitu engkau menyekutukan Allah padahal Dialah yang menjadikan kamu. Kemudian apa lagi? Maka jawabnya: yaitu engkau bunuh anakmu lantaran kamu takut dia makan bersamamu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Untuk menghindari kekerasan pada anak, sebisa mungkin orangtua tidak menitipkan anak pada orang yang tak bertanggungjawab. Meskipun hanya keluar sebentar, sebaiknya tidak meninggalkan anak begitu saja dengan tetangga yang kita tak terlalu tahu baik/ buruk perangainya. Upayakan anak bersama dengan orang-orang yang kita yakini kebaikan akhlaknya.

4. Sadarilah bahwa yang disebut tindak kekerasan bukan hanya yang bersifat fisik! Mungkin kita tak pernah memukul, mencubit, atau menjewer anak-anak kita, tapi ketika kita mengatakan bahwa mereka bodoh, mengucapkan kata makian terhadap mereka yang bernada hinaan atau meremehkan, bahkan menyengaja membuat mereka kelaparan, tidak memberi pengobatan ketika anak jatuh sakit, sebenarnya hal-hal tersebut juga masuk dalam kategori tindak kekerasan.

Sungguh dengan banyaknya kejadian pembuangan bayi tak berdosa dan kekerasan pada anak disekitar kita, semoga kita para orangtua mampu mengambil pelajaran untuk menjaga amanah anak dengan sebaik-baiknya. (*)

Oleh : Bunda Muthi’ Masfu’ah
(Ketua Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila)

#RelawanLiterasiKaltim

Mengejar Kehangatan yang Tertinggal

Doa Orang Tua

»Bang Joy«

Istriku tercinta sudah melahirkan anak 6. Perempuan, Allah beri anugerah untuk bisa menjalin kehangatan saat hamil dengan si bayi, 9 bulan.

Sebuah amalan yang pintunya sudah tertutup bagi kita para pria, ayah.

Mengejar ketertinggalan itu. Tiap hari dari anak pertama sampai ke enam. Semasa buah hatiku masih bayi. Sayalah yang 90% lebih memandikannya.

Mengejar kehangatan yang tertinggal, sangat penting sekali buat saya. Sebab, saya harus menebus sembilan bulan yang telah dimulai istri.

Ada teman saya yang merasa gak berani memandikan bayi. Berbagai alasan ia coba lontarkan sebagai pembenaran sikapnya. Mulai dari gak bisa, takut bayinya cidera, gak berani dan segudang amunisi alasannya.

Padahal memandikan bayi besar sekali manfaatnya. Silakan anda googling!

Kalau anda sebagai ayahnya enggan memandikan bayi. Maka anda akan semakin tertinggal dengan salah satu peluang. Untuk bisa merasaakan kehangatan hadirnya si buah hati.

Salah satu motivasi saya memandikan si debay. Adalah mengejar kehangatan yang tertinggal. Iri melihat istri dapat anugerah lebih awal. Karenanya, berbagai cara saya tempuh untuk mendapatkannya.

Ayo para ayah, gak usah ragu atau takut. Membangun kehangatan dengan bayi salah satunya bisa dilakukan dengan memandikan bayi.

Wahai para ayah, sudah pernahkah memandikan bayimu?

Sahabatmu,

Bang Joy

(#KramatJati, Sabtu 13/02. Para ayah #AyoLebihBaik)

#RelawanLiterasiJakarta

Melihat Cinta Istri Hanya Dari Secangkir Susu

Cinta seorang wanita, kata suamiku, bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Entah itu secangkir teh, kopi, atau bahkan susu.

Saat suamiku berkata seperti itu, aku tak langsung memahaminya. Namun aku tak begitu kaget dengannya. Suamiku memang suka dengan hal-hal begitu; mengait-kaitkan berbagai macam hal yang ada dengan sesuatu yang ia mau.

Bukan kali ini saja ia mengatakan padaku soal cinta yang tidak bisa langsung ku pahami. Dulu sewaktu kami belum menikah, ia seringkali berkata bahwa cinta itu seperti hujan. Pikirku itu cuma rayuan gombal saat kami sedang duduk-duduk menanti hujan reda.

“Jadi begini, mulai dari pilihan suhu air. Ia akan tahu kapan waktunya menyajikan minuman yang panas; hingga membuat si peminum harus meniup-niupnya dulu. Ia juga tahu kapan menyajikan minuman yang tidak terlampau panas tapi juga tidak dingin; yang bisa diselesaikan dengan sekali dua kali teguk,” lanjutnya.

Aku hanya mendengarkan saja. Mencoba memahami maksud perkataannya.  Saat itu kami sedang berbaring berdua di kamar.

“Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Dari takaran gula. Ia tahu seberapa pas takaran itu. Seberapa manis harusnya minuman yang ia sajikan. Tidak terlampau manis agar rasanya tidak hilang, namun juga tidak kurang agar tidak pahit atau hambar,” katanya.

“Dari cara mengaduknya. Adukannya akan terlihat pada air dalam minuman yang ia sajikan. Membentuk pusaran yang mengalir halus atau beriak-riak tak beraturan. Kamu bisa melihat suasana hatinya hanya dari pusaran dari segelas minuman yang ia sajikan.”

“Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Yang tiba-tiba ada di atas meja makan setelah kamu mandi. Setiap pagi. Setiap hari. Tanpa pernah dirinci berapa pengeluarannya per hari.”

Aku mulai mengerti apa yang ia katakan.

Suamiku ini, sejak kecil dulu selalu terbiasa meminum susu coklat hangat sebelum pergi sekolah. Sejak ia duduk di bangku TK hingga lulus kuliah, hal itu terus dilakukan saban pagi. Maka lebih dari lima belas tahun, tiap pagi suamiku akan minum susu coklat hangat.

Bukan buatannya, juga tentu saja buatanku, tapi buatan ibunya. Ibunya yang penuh ketulusan dan keihklasan dan jauh dari kata lelah membesarkannya.

“Aku tak akan bisa membuat susu coklat seperti buatan ibumu, Mas,” kataku.

“Bagaimana mana mungkin aku bisa mengalahkan secangkir susu buatan ibumu yang telah kau minum ribuan gelas selama puluhan tahun?”

Suamiku tersenyum. Ia memandang wajahku sesaat, menatap mataku sebelum akhirnya berkata, ”Aku tak memintamu untuk mengalahkan susu buatan ibu, Sayang. Aku cuma berkata bahwa cinta seorang wanita bisa terlihat dari cara dia menyajikan minuman.”

Aku tersenyum mendengarnya.

“Aku akan membuatkanmu susu hangat tiap pagi, bukan karena ingin mengalahkan susu buatan ibumu. Tidak. Hanya ingin membuktikan pada ibu, bahwa anaknya jatuh di tangan yang tepat.”

Ia memandangku. Tersenyum. Lalu mengecup keningku dengan lembut.

“Kau lihat, anak-anak kita. Kelak saat mereka besar, aku juga ingin mendengar bahwa mereka akan mengatakan; tidak ada yang bisa mengalahkan susu hangat buatan Mamanya.

Aku Meminang untuk Suamiku

20151107102207Sebuah kisah nyata ini membuatku sadar bahwa Allah swt memberi kemengan kepada kita, salah satunya ketika memiliki keikhlasan dalam mencegah kemudharatan.

Pertengahan Juni 2005. Seorang Ustadzah menangis mendengar ucapan Santriwatinya saat keduanya terlibat dalam pembicaraan yang teramat serius. Sebuah pembicaraan dengan tema tak lazim untuk kebanyakan orang.

“Banyak cara lain untuk masuk Surga, Nak. Kenapa harus dengan cara ini?” Sang Ustadzah tersedu.

“Apakah ada masalah dengan suami?” lanjutnya.

“Kenapa Ummi? Alhamdulillah ana dengan suami baik-baik saja. Ana hanya tidak tega melihat seorng akhwat menyimpan hati pada suami ana” Sang Santriwati justru kebalikannya. Ia berucap dengan ringan.

“Ummi masuk syurga memang tidak mudah. Mungkin dengan memberikan izin suami menikahi akhwat itu, Ana dapat membantu meringkankan perasaannya. Dan, semoga itu menjadi salah satu asybab jalan ke Surga-Nya”

“Ummi, Ana sudah ajak akhwat itu menginap di rumah ketika suami pergi muqhoyyam,” lanjut Sang Santriwati.

Sang Ustadzah terus terisak menangis penuh haru mendengar cerita Santriwatinya.

“Tidak usah sedih, Ummi. Insya Allah ana dah ikhlas. Selama 2 bulan ini ana, suami, dan anak-anak sering mengajak akhwat ini jalan, makan bersama, belanja, bahkan rihlah. Beliau sudah sangat kenal dengan anak-anak kami,” dengan bersemangat Sang Santriwati mengisahkan apa yang sudah dilakukannya.

“Ummi bukannya sedih. Ummi justru terharu dan salut dengan cara Ukhti menyikapi keadaan ini. Ummi belum bisa seperti ukhti. Ummi malu,” Sang Ustadzah kembali menundukan kepada. Tak kuat menahan keharuan yang terus menyeruak di dadanya.

“Saran Ummi, Istikharah-lah perbanyak ibadah sunnah. Terus dekatkan diri pada Allah swt. Ummi bantu dengan do’a ya, Nak,” lanjut Sang Ustadzah lirih.

Senja hadir di ufuk barat. Mengakhiri pembicaraan kedua insan beda pemikiran ini. Santriwati tadi berpamitan. Keduanya berpelukan. Menjadi isyarat orang-orang yang saling mencintai karena Allah swt.

Sang Ustadzah jauh terhanyut dalam perenungannya. Ia sadari betul. Tak semua wanita seperti Santriwatinya tadi. Dikala ia tahu ada wanita lain yang menyimpan perasaan cinta kepada suaminya, ia membukakan pintu lebar-lebar. Ia justru memperlakukan wanita tersebut tak ubahnya seorang Ibu yang menyambut calon menantu. Sambutan penuh sadar, bahwa apa yang dilakukannya dapat menghindarkan wanita itu dari hal-hal yang penuh kemudharatan.

“Ini keikhlasan tiada tara. Ini keikhlasan untuk ridha dan Surga-Nya. Semoga, Nak,” Sang Ustadzah membatin.

***

Cerita ini terus bergulir dari waktu ke waktu. Sang Ustadzah terus menanyakan kesungguhan Santriwatinya. Pun Sang Santriwati tak bergeming dengan pilihannya. Meski ia sadar, apa pun yang diinginkannya harus berdasarkan persetujuan banyak pihak.

Ya, seperti yang dibayangkan. Banyak orang yang menentangnya, bahkan tak sedikit yang menganggap buah pikirnya adalah keniscayaan. Mustahil. Terlalu mengada-ada.

Namun Sang Santriwati ternyata tetap dengan pendiriannya. Suatu waktu ia pergi menemui keluarga Sang Akhwat. Ia meminang wanita itu. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk suaminya sendiri!

“Itu lah niat saya datang kesini, Pak” tutur Sang Santriwati.

“Terima kasih, Bu. Terima kasih telah memperlakukan adik kami dengan sangat baik. Saya Abangnya, memohon maaf atas apa yang dipikirkan adik saya,” tutur perwakilan Sang Akhwat.

“Saya faham, Pak. Untuk itulah saya kesini. Saya ikhlas karena Allah swt bila memang harus menjadikan adik Bapak sebagai istri dari suami saya,” mantap Sang Santriwati bertutur.

“Baiklah, Bu. Terima kasih. Namun demikian, saya mohon maaf. Kami telah punya pilihan calon suami untuk adik saya. Terima kasih atas keikhlasan Ibu,”

Sesaat suasana mendadak hening. Jauh di relung hati Sang Santriwati ada rasa lega yang luar biasa. Bukan karena Sang Akhwat telah dipilihkan calon suami oleh keluarganya. Namun kelegaan atas segala niat yang telah tersalurkan. Untuk keikhlasan yang telah tertunaikan karena Allah swt.

***

Tak lama berselang, Sang Akhwat dikabarkan menikah dengan lelaki pilihan keluarganya. Menempuh jalan hidup bahagia. Dan, Sang Santriwati pun demikian dengan keluarganya. Namun satu dari sekian banyak hal yang dapat disaksikan, sejak itu kehidupan Sang Santriwati semakin membaik. Kondisi keuangan keluarganya terus meningkat. Amanah yang diembankan sebagai ladang amal terus bertambah. Sampai kini, bahkan mungkin sampai nanti. Bahkan semoga sampai akhirat kelak.

Mungkin ini buah keikhlasan, buah kesungguhan, buah dari keinginan menyelamatkan perempuan lain dari hal yang mencelakakan. Semua rahasia Allah swt. Wallahu a’lam bish shawab… (*)

Penulis: Ummu Azzam, saat ini berdomisili di Kota Duri, Riau.