Menyembunyikan Perbuatan, “Memamerkan” Perkataan

By: satria hadi lubis

Sesungguhnya yang termasuk sunnah Rasul adalah menyembunyikan perbuatan baik agar terhindar dari riya’ dan ujub. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR. Ahmad 5/428-429, al Albani berkata dalam as Silsilah ash Shahihah 2/634 no. 951: “Shahih“).

Sebaliknya, banyak “memamerkan” perkataan dan nasehat yang baik (perkataan bernilai dakwah). Semakin basah lidah kita oleh dakwah, maka semakin baik. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Qs. 41:33).

Saya sering ditanya, bagaimana cara agar kita istiqomah menjadi orang baik? Saya jawab : berdakwalah! Sebab dengan berkata-kata yang bernilai dakwah, kita akan terpacu untuk mempraktekkan apa yang kita dakwahkan dan malu jika hanya menang omong doang. Itulah yg dimaksud firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Qs. 61:3-4). Jadi jika semua cara untuk merubah diri tidak lagi efektif, maka berdakwahlah.

Jangan takut dan minder untuk “memamerkan” perkataan yang baik, kata-kata yang bijak atau nasehat-nasehat, entah itu di dunia maya (medsos) atau dunia nyata. Walaupun kita belum menjadi orang yang baik secara sempurna.

Ketahuilah…syetan berupaya agar kita diam (tidak berdakwah). Sebaliknya, syetan berupaya agar kita cerewet berkata yang tidak ada nilai dakwahnya, seperti memposting keluhan, laporan aktivitas harian yang remeh, dan lain-lain.

Lebih baik diam, tidak komen atau tidak pasang status apapun jika isinya tidak ada nilai dakwahnya. Sebab lidah kita (tulisan kita) akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Di sisi lain, cerdaslah menyembunyikan amal. Tidak usah cerita kemana-mana. Walaupun dalam kondisi tertentu boleh menampakkan amal sebagai contoh teladan. Namun menyembunyikan amal jauh lebih baik karena bisa menyelamatkan diri dari riya’.

Biarlah orang lain mengenalmu sebagai orang yang “cerewet” berdakwah dengan kata-kata bukan dari amalmu, yang engkau sembunyikan untuk menjaga keikhlasanmu. Jauh lebih bahaya riya’ dari amal yang engkau tunjukkan daripada perkataan dakwah yg engkau “pamerkan”.

Dahulu para sahabat Nabi saw menjadi umat terbaik karena rajin berkata yg baik dan pandai menyembunyikan amalnya, sebagaimana firman-Nya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3:110). Kini sebagian kita malah rajin berkata buruk (ghibah, fitnah, umpatan, ujaran kebencian, dll). Rajin juga memamerkan amalnya yang sebenarnya masih sedikit dan rentan riya’.

Wajar jika kesuksesan masih jauh dari harapan karena kita masih belum seperti karakter generasi terbaik Islam, yakni rajin berkata dakwah dan enggan menampakan amal kebaikan. Wallahu’alam.

Empat Proses Berfikir yang Jadi Penghalang Perubahan

Saat ingin mengubah kebiasaan, atau membangun kebiasaan baru yang baik, sering kali tidak mudah. Ada banyak kendala, alasan, dan godaan yang menguji kesungguhan. Dalam buku Re-Code Your Change DNA, Rhenald Kasali menulis ada empat hal yang perlu diwaspadai saat memulai kebiasaan yang baik, terutama yang berhubungan dengan fikiran dan persepsi.

1.Potensi vs Limitasi

Kebanyakan manusia ketika menghadapi hal-hal baru lebih banyak melihat dirinya dengan menggunakan kacamata limitasi (keterbatasan-keterbatasan yang ia miliki) daripada potensi (kemungkinan-kemungkinan bisa) yang ia miliki. Banyak orang yang selalu menduga dirinya tidak bisa sebelum mencoba melakukan apa saja yang baru baginya.

Misalnya ketika seorang muslim ingin membiasakan sholat tahajud, yang mau tak mau ia harus mengurangi jam tidurnya, ia dihantui fikiran efek dari kurang tidur. Ia takut tidak fokus kerja di kantor, takut mengantuk saat membawa kendaraan, dll. Ia berfikir tentang limitasi diri daripada potensi diri.

2. Rem Tangan pada Benak Manusia

Banyak orang yang memiliki potensi untuk berkembang tetapi memliki banyak belenggu yang mengikat pikiran-pikirannya. Ibarat seorang yang mengendarai mobil, sekalipun gas sudah dipacu dalam-dalam, mobil tak bisa melaju kencang. Mengapa demikian? Sebabnya adalah, kecepatan terbelenggu oleh sesuatu, yaitu rem tangan yang belum dilepas.

Rem tangan itu kadang berupa belenggu kejadian traumatis atau sukses di masa lalu. Ada yang trauma karena pernah punya atasan yang tak menolerirnya untuk izin sholat dhuha, lantas ia tak mau lagi merutinkan sholat dhuha meski sudah berganti atasan. Atau karena meski tak rajin sholat seseorang itu tetap sukses, lantas ia merasa tak perlu mengubah dirinya agar memenuhi kewajiban dari Allah swt.

3. Keletihan Memulai

Setiapkali memulai sesuatu yang baru maka kita mengaktifkan pikiran-pikiran kita. Dalam memulai sesuatu yang baru harap diingat bahwa manusia punya kecenderungan cepat menyerah dan ingin kembali ke posisi semula, yaitu posisi yang nyaman baginya (comfort zone). Kecuali ia merasakan ada perangsang yang cukup untuk terus bergerak, maka biasanya orang memilih kembali ke posisi semula.

Seperti seorang pemuda yang mencoba memulai merutinkan olahraga, sekali dua kali aktivitas itu membuatnya keletihan. Bahkan membuat ia jatuh sakit. Akhirnya ia berhenti rutin berolahraga.

4. Panik (Persepi Pintu Tertutup)

Manusia yang panik akan cenderung bereaksi berlebihan karena tidak mampu melihat opsi atau alternatif. Ketika lampu-lampu di sebuah gedung mati tiba-tiba, orang-orang yang diam sejenak memikirkan alternatif, tapi sebagian besar orang memilih berteriak secara spontan dan berkerumun menuju suatu titik.

Di setiap kejadian usahakan jangan panik. Terhadap kebiasaan baru yang malah menimbulkan efek negatif, jangan panik lantas menyerah. Tetap tenang dan cari cara lain agar perubahan yang kita yakini baik itu berhasil.

Zico Alviandri
Merujuk pada buku Re-Code Your Change DNA, Renald Kasali

Indonesia Darurat Parenting: Dari Sontoloyo hingga Asu

Erwyn Kurniawan

Direktur Sekolah Shibghah Akhlak Quran (Sakura)

Setiap kali mendengar kata-kata kasar yang terlontar dari mulut orang dewasa, saya selalu teringat peristiwa 2011 silam. Kala itu, saya mengikuti seminar parenting yang menghadirkan dua pembicara internasional.

Namanya Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D. Keduanya pakar pendidikan anak dari Florida, AS. Keduanya berbicara
soal Membangun Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak dalam Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini, di Jakarta.

Kata mereka, ada empat tahapan penyelesaian konflik yaitu: Pasif (Passive), Serangan Fisik (Physical Aggression),Serangan Bahasa (Verbal Aggression), dan Bahasa (Language).

Tahapan pertama Pasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.

Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul.

Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!”

Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya.

Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya.

Jika ada orang dewasa yang masih melakukan serangan fisik dan kata-kata, bisa dipastikan ketika anak-anak tidak tuntas melewati tahapan-tahapan di atas. Sehingga terbawa hingga dewasa saat menyelesaikan masalah atau konflik.

Kata-kata sontoloyo, asu hingga goblok menjadi indikasi kuat bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan kita. Ternyata banyak orang dewasa saat ini yang tak tuntas menyelesaikan tahapan perkembangannya. Dan bisa jadi itu adalah kita.

Karena itu, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa negeri ini darurat parenting. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesalahan dalam mendidik anak merupakan salah satu faktor penting yang membuat bangsa ini terus bermasalah.

Saatnya ‘merevolusi’ pendidikan kita. Sebab, jika kondisi ini terus dibiarkan, kata-kata makian akan terus diproduksi para pemimpin kita. Dan anak-anak kita, juga bangsa ini menjadi korbannya.

,

Jadikan Anak Lelaki Kita Sebagai Lelaki Sejati

Ayah Bunda mari rehat sejenak. Lihat anak-anak lelaki kita. Apakah mereka tumbuh di jalur lelaki yang sesungguhnya? Ataukah kita tak peduli, atau entah kurang peka dengan perkembangan karakter mereka sebagai lelaki. Sudah merasa aman? Merasa tenang? Atau kita tak peduli sama sekali?

Saya ingin mengingatkan banyak remaja dan pemuda (lelaki) di negeri ini yang ternyata tidak tumbuh dan menjadi pria sejati. Ada sebagian dari mereka yang hanya punya separuh jiwa lelaki. Ya, hanya separuh. Itu terlihat dari jiwa mereka yang miskin dari tanggung jawab dan seperti tak mau punya kaki sendiri. Uang jajan tinggal minta dan tinggal habiskan, kalau habis tinggal minta lagi. Jangankan mengurus tanggung jawab tentang orang lain, urusan diri sendiri pun minta orang lain yang bertanggung jawab. Kamar, pakaian, sepatu, tas, uang jajan, tinggal serahkan pada orang lain. Ada orang tua, ada pembantu, ada supir, ada yang lain-lain.

Saya kenal beberapa pemuda yang kuliah bertahun-tahun tak kunjung selesai, karena tak pernah merasa bertanggung jawab tentang kuliah. Bagi mereka menjadi anak SD atau mahasiswa sama saja; bermain. Dan orang tuanya pun membiarkan itu berlalu begitu saja.

Remaja lelaki yang hanya punya separuh jiwa, lelaki ini tak punya visi tentang masa depan, tak punya misi tentang hidup kecuali “ME & MYSELF”. Sekolah dan kuliah pun hanya untuk periuk nasi mereka saja. Punya karir bagus, uang banyak, dan istri cantik. Titik.

Jangan bandingkan mereka dengan Pangeran Diponegoro yang membuang kesempatan bertahta di Kerajaan Mataram, karena tak sudi jadi keset kompeni, dan melihat rakyat Jawa dan umat Muslim dikoyak-koyak kaum imperialis. Lalu memilih hidup dari hutan ke hutan, tinggal di Gua Selarong, dan memilih jalan hidup sebagai lelaki yang punya harga diri. Pada remaja dan pemuda yang hanya punya separuh jiwa lelaki ini, pengorbanan hidup untuk orang lain, apalagi untuk agama dan Tuhan mereka (Allah SWT). Impian terlalu mewah. Jangankan untuk menggapainya, untuk bermimpi pun mereka tak mau melakukannya.

Tapi ada sebagian lagi yang patut dikasihani justru hilang semua kelelakiannya. Mereka menjadi transgender, bencong, atau malah gay. Mereka ada di panggung dunia hiburan, panggung politik, bisnis, tapi hidup melawan kodrat lelaki. Ini kelompok lelaki yang paling sakit di dunia.

Tapi mari lihat diri kita Ayah Bunda, anak lelaki kita sakit dan menderita justru sebagian besar disebabkan oleh pola asuh dan pola didik di rumahnya. Ayah dan ibu-nyalah yang membuat anak-anak lelaki hilang kelelakiannya, baik separuh atau seluruhnya. Karena sebagaimana anak perempuan, tak ada anak lelaki yang dikodratkan lahir dengan pribadi yang cacat. Bapak dan ibunya yang membuat cacat kepribadiannya.

Dimulai dari para ayah yang jarang hadir dalam kehidupan anak lelaki selain untuk memarahi dan memukul, atau berdehem. Para ayah macam ini – dan jumlahnya masih amat banyak – merasa misi mereka sebagai ayah adalah memberikan fasilitas hidup pada anak lelaki, tapi bukan mengarahkan hidupnya.

Padahal dari ayah seharusnya anak lelaki belajar tentang kepemimpinan yang mengayomi (ri’ayah) pada keluarga, cara bersikap sebagai seorang lelaki, cara memperlakukan anak lelaki, dan bagaimana bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Tapi ayah itu banyak memberikan ruang hampa, selain uang dan barang yang menyenangkan sesaat.

Akhirnya pengasuhan anak-anak lelaki kita justru jatuh ke tangan perempuan. Mulai dari ibunya, guru-guru TK-nya, SD, SMP dan SMA, dominan perempuan. Padahal perempuan bukanlah lelaki dan lelaki bukanlah perempuan, fisik maupun jiwanya.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ
“…dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (TQS. Ali Imran: 36)

Meskipun mungkin tahu, tapi perempuan tak sepenuhnya paham bagaimana cara seharusnya lelaki berburu dan bertahan dari serangan musuh. Bagaimana dapat survive di alam liar. Karena jiwa perempuan adalah jiwa seorang ibu dan istri yang berbeda dengan kaum lelaki. Hormon testosteron lelaki itu 10-20 kali dari yang ada pada perempuan. Tapi dari pola asuh itu akhirnya banyak anak lelaki kita tidak tumbuh layaknya lelaki. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan separuh jiwa kelelakiannya.

Lelaki kadang perlu dihardik sebagaimana perlu dipuji. Kadang perlu dipukul sebagaimana perlu ditepuk bahunya. Lelaki harus lebih sering ditantang baru kemudian ditenangkan. Mereka perlu jatuh dan berdarah, dan bukan duduk menenun kain, atau menonton drama percintaan. Mereka perlu diyakinkan bahwa kegagalan itu harus diterima sebagaimana menerima keberhasilan. Menangisi kehidupan bagi lelaki itu perlu, tapi tak boleh melampaui kuota perempuan.

Tapi bagaimana anak lelaki kita akan punya jiwa lelaki sesungguhnya kalau ayah bundanya tak pernah menggambarkan seperti apa lelaki itu seharusnya. Ayah yang tak pernah hadir, dan kalau hadir pun hanya bisa memarahi dan memukul ketimbang menggambarkan visi dan misi hidup lelaki. Sedangkan ibunya merawatnya dengan dunia keperempuanan.

Maka, Ayah Bunda, jangan hanya duduk dan berdoa, tapi mulailah belajar mempersiapkan anak lelaki kita menjadi lelaki sejati. Belajarlah kepada Rasulullah SAW yang berhasil mencetak Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib, dll. Mencetak lelaki-lelaki sejati pengukir sejarah, pengharum pentas kehidupan di panggung dunia dan akhirat.

Oleh: Ustadz Iwan Januar

#SelamatkanKeluarga
#SaveTheFamily

Meludah

“Jangan pernah meludah di sumur yang airnya kamu minum.”

Pernahkan Anda berjumpa dengan orang yang bekerja di suatu perusahaan atau instansi, mendapat gaji dan berbagai fasilitas dari tempat itu, tetapi hobinya menjelek-jelekan perusahaan atau instansi dimana ia bekerja? Orang inilah yang saya sebut meludah di sumur yang airnya ia minum.

Orang-orang semacam ini biasanya senang mengeluh, tidak bertanggungjawab dan oportunis. Mereka membicarakan sesuatu yang tidak mereka suka kepada sesama teman yang tidak bisa mengambil keputusan. Saat diajak diskusi dengan pimpinan, mereka diam seribu bahasa. Bergaul dengan orang-orang semacam ini ibarat Anda minum air sumur yang airnya mereka ludahi.

Bila Anda berjumpa dengan kelompok orang semacam ini, nasihatilah. Bila ia marah saat Anda nasihati, itu pertanda bahwa dia tidak layak dijadikan sahabat Anda. Waspadalah, “penyakit” tersebut menular. Apabila Anda sering bersama orang-orang semacam ini Anda perlahan namun pasti akan tertular. Segeralah menjauh.

Mungkin sebagian Anda ada yang berkata, “Lha, kebijakan tempat saya bekerja memang kacau kok, memang pantas kalau dijelek-jelekin. Saya benar-benar tidak cocok dengan kondisi seperti ini.” Jika Anda berada dalam kondisi seperti itu, berilah masukan yang konstruktif kepada pengambil keputusan. Usulan Anda tidak digubris? Ya, keluarlah. “Wah nyari kerja lain khan gak mudah,” batin Anda. Ya, kalau begitu, diamlah.

Apakah penyakit ini hanya hinggap pada orang yang sudah bekerja? Tidak. Mereka yang menjelek-jelekkan orang tuanya juga termasuk kelompok ini. Orang tuanya begitu berjasa dalam hidupnya, tetapi hanya karena satu atau beberapa perbedaan, mereka tega-teganya mencela orang tuanya.

Mereka yang meludah di sumur yang airnya mereka minum adalah kelompok orang yang sulit berucap terima kasih. Padahal, mudah berucap terima kasih kepada manusia itu pintu mudah bersyukur kepada-Nya. Ingatlah, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah) akan menambah nikmat kepadamu.” Begitulah firman Allah dalam Kitab Suci-Nya.

Meludah di sumur yang airnya kita minum akan menjauhkan rasa syukur Anda. Dampaknya dalam jangka panjang, kenikmatan-kemikmatan hidup akan pergi menjauh dari Anda. Mau? Tentu tidak!

Salam SuksesMulia!

Oleh: Jamil Azzaini

Mata Kamera Penonton Meneropong Sudut-sudut Oktagon

Ada yang unik dan mencengangkan dari kejadian kaos seusai pergulatan Ultimate Fighting Championship (UFC 229) antara Khabib Nurmagedov dan Conor McGregor di T-Mobile Arena, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Ahad (7/10).

Ini bukan soal orang tua, agama, dan negerinya Khabib, petarung dari Dagestan, Rusia. Dan bukan soal perilaku intimidatif Conor McGregor dalam mendegradasi mental lawan pada saat konferensi pers karena kelakuannya memang seperti itu.

Mulut petarung dari Irlandia yang kotor dan kelakuannya yang sembrono ini memang bikin warganet tak simpatik.

Bulan April 2018 lalu McGregor membuat kekacauan di Brooklyn, New York, Amerika Serikat dengan merusak bus yang tengah ditumpangi petarung UFC. Ia tidak terima gelarnya dicopot karena tak mau bertanding mempertahankan gelar.

McGregor diborgol, ditangkap, dan disidang dengan dakwaan penyerangan dan tindakankriminal.Ia diperbolehkan pulang ke Irlandia setelah paspornya dikembalikan oleh pihak berwajib.

Sekarang, inilah soal ketika “citizen journalism” menjadi mata kedua setelah kamera yang tersambung ke saluran televisi.

Seluruh dunia menjadi tahu detil dari apa yang terjadi di seputar pergulatan itu. Melalui apa? Jawabannya: telepon genggam dan media sosial. Saya akan terangkan dengan lebih detil begini.

Jadi selama pertarungan di arena UFC yang disebut oktagon itu, semua direkam oleh banyak kamera. Saya tak tahu persis jumlah kamera yang merekam pertandingan dari berbagai sudut dan jarak: dekat, jauh, atas, dan bawah.

Gambar kemudian disalurkan via satelit menuju stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung ke rumah-rumah. Ini real timedan sungguh canggih. Tetapi tetap saja ada keterbatasan karena ada sudut-sudut yang luput dipantau. Tak semua bisa dilihat oleh lensa kamera.

Detik-detik saat McGregor akan menyerah karena dipiting oleh Khabib.

Terbukti pada saat kaos itu terjadi kamera resmi UFC tak bisa merekam berbagai “angel” (sudut) detil kejadian di dalam dan luar oktagon. Ini disebabkan beberapa hal antara lain kamera sedang fokus pada titik tertentu, terhalang kerumunan orang, atau tak pada posisi yang tepat.

Tetapi semua keterbatasan itu dimusnahkan dengan kamera yang ada di telepon ganggam pintar yang dimiliki ribuan penonton yang memenuhi T-Mobile Arena. Keunggulannya adalah mereka berada di sudutnya masing-masing.

Ribuan penonton yang berada di tribun jauh atau dekat oktagon merekam kejadian itu. dari berbagai sudut sampai 360 derajat. Lalu setelah itu mereka mengunggahnya melalui akun media sosialnya masing-masing. Kali ini rekaman satu menit Instagram menjadi media sosial paling efektif dalam penyebarannya.

Maka kita akan melihat dengan detil bagaimana Khabib melompat pagar oktagon dan menerjang Dillon Danis, anggota tim ofisial McGregor. Ini direkam dari sudut bawah yang tidak mampu terekam oleh kamera resmi UFC.

Menurut saksi mata, selama pertandingan tersebut, Dillon Danis memang meneriaki Khabib dengan teriakan rasis.

Kamera lainnya merekam saat McGregor hendak keluar dari oktagon lalu dihalangi panitia pertandingan. Saat itu juga Islam Ramazanovich Makhachev salah satu anggota tim ofisial Khabib, berada di atas pagar oktagon hendak melompat keluar, namun McGregor langsung memukulnya.

Inilah awal keributan di dalam oktagon. Islam lalu turun dari pagar hendak membalas, tetapi sudah dihalangi petugas. Keributan di dalam oktagon memancing tim ofisial Khabib yang lain untuk masuk ke dalam oktagon.

Kita juga melihat dengan detil dari kamera telepon genggam penonton saat Abubakar Nurmagedov, sepupu Khabib, masuk juga ke dalam oktagon dan hendak memukul McGregor namun meleset dan malah kena pukul balik membuat bagian bawah mata kanannya lebam.

Zubaira Tugukhov yang berkaos merah masuk terakhir ke dalam oktagon untuk langsung memukul McGregor dari belakang. Tak bisa ditepis. Beberapa pukulan masuk.

Panitia langsung melerai dan menjauhkan McGregor dari kerumunan, namun lupa dengan Islam yang sempat dikawal sehingga ia lepas dari pengawasan dan langsung menerjang McGregor.

Sudut-sudut itu semua diambil dari kamera para penonton. Saya yakin masih banyak rekaman dari banyak sudut yang belum terlihat karena keterbatasan untuk menjangkaunya melalui “tag” yang lebih spesifik atau karena memang tak diunggah ke media sosial.

Bahkan, sebelum saya menulis catatan ini saya mendapatkan sudut baru yang belum pernah terlihat sebelumnya di hari pertama dan kedua. Sudut ini baru muncul di hari ketiga. Rekaman ini menunjukkan secara jelas bagaimana pukulan-pukulan Zuba melesak mengenai McGregor.

Dari semua itu, sudah jelas, di era sekarang, penonton bisa menjadi kamerawan, produser, sekaligus publisis. Penonton, dalam hal ini masyarakat, menyajikan fakta yang tak bisa ditangkap atau sengaja ditutupi oleh media arus utama.

Uniknya media arus utama pun menjadikan video-video rekaman amatir itu sebagai sumber referensi berita. Contohnya, seusai pertandingan itu perkelahian berlanjut di luar gelanggang UFC antara fan dari Rusia dan Irlandia. Satu orang Irlandia yang memprovokasi fan Rusia dengan jari tengah terjungkal KO hanya dengan satu pukulan.

Saya ingat dengan buku yang ditulis pada 2004 oleh Dan Gillmor berjudul Grassroots Journalism by the People, for the people.Menurutnya begini: “Humans have always told each other stories, and eachnew era of progress has led to an expansion of storytelling.”

“Ini juga merupakan kisah revolusi modern, namun, karena teknologi telah memberi kita alat komunikasi yang memungkinkan siapa pun menjadi jurnalis dengan biaya kecil dan dengan jangkauan global,“ tambah Dan Gillmor. Tentunya dengan media sosial sebagai pelantang yang memekakkan telinga.

Pernah dulu seorang wartawan ditanya peserta pelatihan jurnalistik, “Mengapa sempat-sempatnya pewarta itu memfoto kecelakaan bus penuh penumpang yang terbakar daripada segera ikut menolongnya?”

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, di setiap kejadian, orang akan menekan tombol merah video terlebih dulu ketimbang menolong.

Setiap orang punya peluang yang sama. Dari sudut mana pun.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di pagar oktagon 😀
10 Oktober 2018
Foto-foto istimewa di atas diambil dari Instagram.

Mata Kamera Penonton Meneropong Sudut-sudut Oktagon

Setan dan Binatang tidak LGBT

Oleh Ahmad Sastra

Jika merujuk kepada sejarah datangnya berbagai musibah seperti gempa bumi, gunung meletus, dan badai, maka salah satu penyebabnya adalah perilaku LGBT yang sekarang makin marak. Dari banyak azab Allah yang ditimpakan kepada manusia zaman dahulu adalah hujan batu kepada para pelaku LGBT pada zaman Nabi Luth.

Perilaku dosa dan menjijikkan homoseksual yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth adalah perbuatan dosa pertama sejak zaman Nabi Adam. Sebelumnya belum pernah ada perbuatan homoseksual. Sebab perbuatan keji, nista dan munkar homoseksual sangat dilaknat oleh Allah [QS Al A’raf : 80-84].

Mereka bahkan menolak seruan dakwah Nabi Luth agar hanya menyembah Allah dan meninggalkan perilaku homoseksual. Maka Allah menurunkan bagi mereka azab yang tidak pernah terlintas dalam benak yakni hujan batu. Azab pedih kepada perilaku homoseksual semestinya juga menjadi pelajaran bagi manusia hari ini.

Karena itu jika hari ini banyak terjadi musibah kepada manusia, maka sesungguhnya ini adalah pengulangan sejarah agar manusia kembali kepada Allah dan meninggalkan perilaku menyimpang. Salah satunya adalah berkembangnya perilaku menjijikkan LGBT akhir-akhir ini.

Sebagaimana umat Nabi Nuh yang menantang azab Allah dan menolak dakwah Islam, kaum Nabi Luthpun dengan sombong menantang azab dari Allah.

…….datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar. [QS Al Ankabut : 29].

Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik [QS Al Ankabut : 34].

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari dari orang yang zalim [QS Hud : 83].

Maksud ayat diatas adalah bahwa hukuman itu adalah jenis hukuman bagi orang-orang yang berbuat hal yang serupa dengan perbuatan mereka. Ayat diatas digunakan oleh para ulama bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah dirajam sampai mati, baik pelakunya telah menikah maupun belum. Pendapat ini telah disepakati oleh Iman Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan sebagian besar ulama lainnya [Imam Ibnu Katsir, Khososul Anbiyaa]

Perilaku LGBT atau homoseksual selain merupakan perbuatan menjijikkan dan dosa, juga merupakan perbuatan yang bisa memusnahkan ras manusia. Sebab perbuatan homoseksual bertentangan dengan tujuan pernikahan untuk melanjutkan keturunan manusia.

Padahal yang namanya binatang yang tak berakal tidak pernah melakukan perbuatan homoseksual. Melalui perkawinan antara jantan dan betina, para binatang berkembang biak. Sekotor-kotornya binatang babi, dia tidak LGBT, malah anak-anak babi biasanya berjumlah banyak.

Bukan hanya itu, bahkan setan yang merupakan makhuk durjana penghuni neraka dan musuh terbesar manusia berimanpun tidak LGBT atau homoseksual. Dalam banyak keterangan dalil, setan berkembang biak dengan banyak keturunan. Dalam surat Al Kahfi ayat 50 disebutkan bahwa jin itu memiliki keturunan.

Mujahid berkata, Iblis kawin, berkembang biak dan punya keturunan. Jin itu melahirkan langsung sembilan dalam satu kali melahirkan. Bahkan setiap hari iblis mengeluarkan sepuluh telur dan dari setiap telur itu keluar 70 setan laki dan perempuan.

Meski terkait bagaimana setan dan iblis melakukan perkawinan adalah perdebatan, namun bahwa setan berkembang biak banyak keterangan yang bisa dirujuk. Artinya setan itu tidak melakukan homoseksual. Babi yang menjijikkan dan setan yang jahatpun tidak melakukan LGBT, ini inti pesannya.

Sementara manusia yang diberikan akal dan kecerdasan melebihi makhluk Allah lainnya justru banyak yang terjerumus kepada perbuatan menjijikkan yang tidak dilakukan oleh setan dan binatang. Pantaslah jika Allah murka kepada kaum Nabi Luth pelaku homoseksual dengan mendatangkan hujan batu berapi untuk membinasakan mereka.

Dan hari ini, seluruh perilaku maksiat yang dilakukan kaum-kaum terdahulu telah terjadi. Adalah akhir zaman, dimana kiamat semakin dekat, alam tidak lagi bersahabat. Segala kemaksiatan semakin merajalela. Kaum LGBT makin sombong dan tidak mau bertobat, maka sama saja mereka sedang mengundang kemurkaan Allah.

Ideologi demokrasi sekuler adalah biang kerok kebebasan perilaku manusia. Atas nama HAM, seluruh ekspresi maksiat diberikan ruang. Bahkan di Amerika kaum homoseksual diberikan perlindungan hukum. Dasar demokrasi setan.

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah [QS Al Baqarah : 169].

Dan orang beriman itu berkata, Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti kehancuran golongan yang bersekutu, (yakni) seperti kebiasaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang setelah mereka, padahal Allah tidak menghendaki kezoliman terhadap hamba-hambaNya. [QS Al Mukmin : 30].

Ahmad Sastra,Kota Hujan,10/10/18 : 23.40 WIB

Jangan-Jangan Kitalah Terdakwa Yang Sesungguhnya

Hari itu saya mendatangi salah satu guru saya. Bagi saya belajar agama memang harus dengan banyak guru. Saya bertanya pada beliau tentang bencana yang akhir-akhir ini terjadi beruntun di negeri ini. Karena usia beliau sudah sepuh, maka saya memanggilnya “kyai”

“Kyai, bagaimana dalam pandangan Islam tentang bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi di negeri ini. Banyak yang mengatakan semua ini azab dan mengaitkannya dengan pelaku musyrik, perzinahan dan penyimpangan seksual. Bagaimana menurut kyai ?”

Pak kyai menghela nafas sebentar sebelum akhirnya berbicara dengan kepala tertunduk. Raut wajah sedih tak dapat beliau sembunyikan.

“Apakah kalian siap mendengar apa yang akan saya katakan ini ?”

Kami yang duduk disitu saling berpandangan. Dengan lirih dan tidak kompak, kami menjawab hampir bersamaan.

“Inshaa Allah siap kyai.”

Kembali pak kiyai menghela nafas.

“Bila bencana dikaitkan dengan azab, apa yang kalian sebutkan itu benar turut mengundang kemarahan Allah sehingga Allah datangkan azab. Tapi jangan berhenti sampai disitu. Bila memang dikatakan azab maka terdakwanya bukan hanya mereka pelaku musyrik, pelaku penyimpangan sexual dan pelaku zina. Bisa jadi kita adalah terdakwa juga yang turut berkontribusi memancing kemarahan Allah.”

Pak kiyai berhenti sebentar menatap kami satu persatu. Wajah kami masih tanda tanya menunggu kelanjutan kata-kata beliau.

“Mari sejenak kita tengok sejarah. Azab, mushibah, dan bala dalam Alquran memang ada.

1) Umat Nabi Nuh yang keras kepala karena menyembah selain Allah (QS al-Najm/53:52) (QS Hud/11: 25-26), dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia (QS Hud/11:40);

2) Umat Nabi Syu’aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan (QS al-A’raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94);

3) Umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS Al-Syu’ara’/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa (QS Hud/11:67-68).

4) Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS.Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82);

5) Penguasa Yaman, Raja Abrahah, yang berusaha mengambil alih Ka’bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).

Kita hanya mengaitkan bencana yang terjadi pada peristiwa nabi Nuh dan nabi Luth. Kita lupa bahwa azab juga Allah berikan pada zaman nabi Syu’aib, nabi Shaleh dan penguasa Yaman.

Pada jaman nabi Nuh prosentase dosa terbesar adalah pelaku kemusyrikan. Pada jaman nabi Luth prosentase dosa terbesar adalah pelaku penyimpangan seksual dan perzinahan. Pada zaman nabi Syu’aib, nabi Shaleh dan Penguasa Yaman prosentase dosa terbesar adalah kaum hedonisme pecinta harta dunia.

Sekarang jujurlah, mari kita buat prosentase di jaman sekarang ini. Mari kita kelompokkan beberapa dosa berikut :

1. Pelaku musyrik
2. Pelaku penyimpangan seksual
3. Pelaku zina : pelacuran dan perselingkuhan
4. Pelaku riba

Mari mulai lihat sekeliling kita masing-masing. Ada berapa KK di komplek kalian masing-masing ? (Saya mulai membayangkan di komplek perumahan saya ada sekitar 1000 KK)

Dari sekian KK (1000 KK di komplek saya), ada berapa persen pelaku musyrik ? (Dalam hati saya menjawab, tidak ada, entah kalo yang tidak saya tahu)

Dari sekian KK (1000 KK dikomplek saya), ada berapa persen pelaku penyimpangan seksual ? (Dalam hati saya menjawab, belum pernah tahu)

Dari sekian KK (1000 KK kalo dikomplek saya), ada berapa persen pelaku zina ? (Dalam hati saya menjawab, lokalisasi pelacuran tidak ada, tidak ada diskotik, tidak ada PUB, perselingkuhanpun saya rasa tidak lebih dari 10%)

Dari sekian KK (1000 KK kalo dikomplek saya), ada berapa persen pelaku riba ? Untuk pertanyaan yang satu ini gantian saya yang menunduk. Tidak berani menjawab walau hanya dalam hati.

Berarti dosa mana yang berkontribusi paling besar mengundang bencana ? Bila bencana itu dikaitkan dengan azab ?

Pak kiyai kembali melanjutkan.

“Manusia itu curang pada Allah! Berani menggali lubang riba begitu banyak, namun hanya menutupnya dengan secuil sedekah. Melalui bencana ini Allah ingin bicara:

Lihatlah ! Rumah yang kalian cicil bertahun-tahun dengan cara riba, mampu AKU luluh lantakkan dalam sekejab!

Lihatlah ! Mobil mewah yang kalian pikir mampu menaikkan gengsi kalian dimata manusia, KU buat tidak berkutik saat kuperintah laut untuk menggulung bumiKU! (Karena memang saat tsunami kita harus keluar dari dalam mobil).

Harta yang selama ini kalian kumpulkan, dunia yang selama ini kalian kejar tidak mampu kalian gunakan untuk berlindung. Janganlah dulu menuding kearah sana! Janganlah dulu menuding ke arah mereka! Jangan-jangan kitalah terdakwa yang sesungguhnya.

Susah payah kutahan emosiku, tangisku, mataku berkaca-kaca. Lirih kukatakan : “Kyai sungguh mengerikan yang antum katakan.”

“Itulah sebabnya dari mula kutanyakan, apakah kalian siap mendengar jawabanku ?”

Banten, 8 Oktober 2018

(Agak) Bijaklah Ketika Bersosmed

Tiba-tiba, hanya dalam hitungan beberapa menit saja, masuklah beberapa info yang sama persis dari beberapa orang. Pesan penting itu ditutup dengan ajakan untuk tak berisik di medsos. Pesan itu memang sebuah pesan yang sangat penting bagi kami yang ada di grup itu. Tapi penutupnya agak ironis. Pesan untuk bijak di medsos yang dipraktikkan secara agak bijak.

Memang sulit untuk benar-benar bijak di medsos. Kecuali itu sekadar tampak bijak. Atau merasa bijak. Atau kadang-kadang tampak bijak, bergantung situasi. Atau yang semacam dengan itu.

Bijak menurut kamus adalah: selalu menggunakan akal budi, pandai, mahir, pandai bercakap-cakap, atau petah lidah. Secara mudah, bijak adalah sikap untuk selalu berpikir sebelum bertindak. Sikap bijak selalu erat berhubungan dengan perhitungan dan kehati-hatian dalam bersikap. Adil. Obyektif. Dalam bijak, selalu ada pikir sebelum ekspresi atau respons.

Dunia medsos berkebalikan. Dunia medsos menuntut kecepatan. Semakin pertama, semakin bagus. Di media sosial, sesuatu yang semakin ramai dan gaduh adalah hal yang semakin bagus. Semakin menjadi perhatian, semakin bagus.

Medsos nyaris tak menyediakan ruang berpikir yang memadai. Di medsos tak bisa sangat bijak. Sulit. Nyaris mustahil.

Maka, rasanya, cukuplah untuk agak bijak saja dulu.

Dalam praktiknya, seseorang akan berdiam ketika suatu konten tak menguntungkan golongannya. Tapi, segera berisik ketika ada konten yang tak menguntungkan lawan. Dalam praktiknya, jika jagad maya sedang dipenuhi kalimat-kalimat yang tak sesuai dengan kemauannya, dia diam. Tapi lalu boleh membabibuta jika angin berbalik dan jagad maya dipenuhi kalimat-kalimat yang memuaskan nafsunya.

Maka yang terjadi adalah pergiliran sikap bijak saja. Kala yang di sana bijak, yang di sini gaduh. Kalau sini bijak, sana gaduh. Ketika pendukung anu gaduh, pembencinya diam. Juga sebaliknya. Lalu merasa sama-sama bijak.

Sudahlah. Cukuplah agak bijak saja dulu. Tak perlu merasa sangat bijak. Supaya nafsu kita terpuasi. Karena jika kita benar-benar bijak di medsos, kita kurang eksis di dunia maya. Apakah kita sudah kuat menanggung beban tak eksis itu?

Cukuplah agak bijak saja dulu, kerena bijak itu tak mengijinkan ketergesaan. Cukupkan dengan agak bijak karena bijak yang sejati tak memerlukan kegaduhan. Sudahlah, cukupkanlah dengan agak bijak saja dulu, karena bijak yang sesungguhnya akan membuat kita tak bermedsos.

Sudah ya? Jangan merasa bijak selama batas pikir kita masih soal dunia. Jangan merasa bijak kalau kecenderungan kita soal kubu-kubuan. Tak perlu merasa sangat bijak jika bijak dan tidaknya kita sekadar soal periuk dan dapur kita.

Tak perlu muluk-muluk dulu di era ini. Agak bijaklah dulu dalam bermedsos. Rasanya itu sudah bagus. Setidaknya bagus untuk mencegah tumbuhnya perasaan sudah benar, padahal ruang berpikir kita masih saja sebatas soal dunia, benda, dan raga semata.

Allah, bantu kami agar kami sanggup untuk selalu berdzikir, bersyukur, dan baik dalam beribadah kepadamu.
Aamiin.

Jakarta, 7 Oktober 2018

Pemilu Tak Mungkin Tanpa Media

Oleh Akbar

PEMILU atau pemilihan umum yang demokratis tidak mungkin tanpa media. Perannya sangat esensial untuk tetap menjamin pemilihan yang bebas, jujur dan adil. Ini bukan hanya mengenai urusan bagaimana memberikan suara, namun juga proses partisipatif dimana pemilih memiliki informasi yang memadai tentang transparansi tahapan, dan kandidat yang akan dipilih pemilih.

Media telah memainkan perannya yang sangat luar biasa. Media menyediakan seluruh saluran komunikasi yang diperlukan publik. Dalam proses pemilihan umum seperti Pemilu 2019, media sedikitnya memiliki tiga peran yang sangat urgen. Diantaranya, menjadi penjaga atau pengawas, memberikan pendidikan atau edukasi bagi pemilih. Juga perannya dalam menjaga keutuhan dan stabilitas bangsa atau negara yang harus tetap damai, sejuk dan berintegritas.

Dalam menjaga atau mengawasi Pemilu, media memainkan peran untuk mengekspos setiap tahapan atau kelalaian yang dimungkinkan dilakukan penyelenggara Pemilu. Media serta merta dapat memperingatkan pemilih bila terjadi malpraktek Pemilu untuk segera dievaluasi atau diperbaiki. Termasuk dalam mengungkap skema kerugian yang dapat menimpa pemilih bila mereka terancam kehilangan hak memilih.

Peran mengawasi lainnya adalah menjaga agar tidak terjadi manipulasi data, distribusi logistik atau bentuk apapun yang bakal menghambat pelaksanaan tahapan Pemilu. Media juga mesti ikut menjaga kualitas kampanye kandidat agar benar tumbuh kepercayaan dan pengetahuan yang utuh mengenai visi, misi dan program peserta Pemilu.

Dalam urusan pendidikan pemilih, media dapat menarik asosiasi beragam mengenai situasi politik lokal hingga nasional sehingga warga pemilih dapat mengambil bagian secara aktif dalam Pemilu. Upaya mendorong kesadaran memilih bagi para pemilih secara berkesinambungan mengenai hakikat dari nilai suara yang dimiliki pemilih harus terus disosialisasi. Kesadaran mengenai ini perlu terus diedukasi agar tak ada lagi pemilih yang apatis lalu begitu mudah membarter suaranya dengan materi.

Media dapat berperan dalam menjaga ekspose kecenderungan ujaran kebencian dalam kontestasi dengan tata cara pemilihan yang berbeda dari pemilu sebelumnya. Media dengan kemajuan teknologi telah mengubah distribusi wacana dan sebaran informasi yang sangat cepat. Bila dahulu kandidat memerlukan lebih banyak pertemuan langsung atau kampanye dengan pola mobilisasi dengan konstituen, kini semua itu telah berubah.

Dalam pendidikan pemilih, peran lain yang dapat dikelola media yakni dengan memberi ruang lebih banyak pada orang-orang biasa dibanding elit. Media sebaiknya juga fokus pada berbagai isu dan kebutuhan pemilih yang sering dipandang tidak memiliki kekuatan suara. Segmentasi yang dapat disentuh antara lain kaum marjinal, komunitas perempuan, pemilih pemula, warga miskin dan atau kelompok minoritas.

Media juga harus mampu meletakkan pandangan warga negara atau pemilih secara proporsional atau setara, sehingga kontestasi di Pemilu dapat lebih berkualitas. Pemilih yang dapat mengenal dengan baik visi, misi dan program peserta Pemilu baik partai politik maupun perseorangan di jalur DPD, tentu akan memberi jaminan pada kita bahwa proses Pemilu berjalan dengan bernas.

Lalu apa yang cukup mengkhwatirkan kita di setiap kontestasi saat Pemilu? Polarisasi pemilih di dua-tiga pemilu sebelumnya tidaklah seperti saat ini. Dengan saluran media sosial setiap hari kita dapat menemukan atau menyimak terbelahnya pilihan warga yang trennya makin terbuka. Media seharusnya mengambil alih arus informasi yang berseliweran. Media arus utama sebaiknya menguatkan kekuatan newsroom untuk memperkuat wacana kepemiluan dalam konstribusi informasi yang lebih mendidik.

Ujaran kebencian juga berita bohong atau palsu (hoax) hampir saja telah mengambil alih. Media arus utama mesti memanfaatkan kekuatan sumber dayanya melalui kedalaman informasi dan sumber-sumber terpercaya. Sebab Pemilu tanpa kualitas informasi akan meruntuhkan kepercayaan publik atau pemilih, pada keadaan dan situasi yang terus berubah.

Media telah menjadi pilar terbaik dalam membentengi dan menjaga proses pemilihan atau kontestasi apapun di negeri ini. Di Pemilu 2019 kita begitu berharap media tetap dapat melakukan itu dengan menyadarkan pemilih, dan mengawasi penyelenggara agar pelaksanaan Pemilu berlangsung jujur, adil dan bermartabat.

Untuk memenuhi peran itu, dalam laman aceproject.org yang penulis sari, media harus mempertahankan tingkat profesionalisme, akurasi, dan ketidakberpihakannya. Kerangka peraturan dan standar etika jurnalistik harus dapat pula menjamin kebebasan mendasar yang penting bagi demokrasi, termasuk kebebasan informasi dan ekspresi, serta partisipasi publik.

Dalam beberapa tahun terakhir, definisi media secara tradisional telah menjadi lebih luas, mencakup media baru termasuk jurnalisme online, dan media sosial. Dari sinilah mengapa media sungguh-sungguh memiliki peran sangat utama dalam ikut menjamin Pemilu yang berkualitas.

Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 27 September 2018

#Sebagai bahan pengantar pesta demokrasi Sulawesi Barat hari ini.