Rintihan Indonesia

Oleh: Eko Y. Purnanto

Rintihan Indonesia adalah rintihan seorang wanita malang
Yang terkungkung dalam dekap paksa para lelaki jalang
Lemah tak berdaya
Lantak oleh syahwat yang tak henti-henti mengoyak
Tangan-tangan kasar menjamah tiap inci tubuhnya
Badan-badan kekar dengan wajah berliur
Menindih membekap menorehkan luka
Tercabik-cabik harga dirinya
Terlecehkan kehormatannya
Dan mata publik hanya bisa memandang
Tak mampu untuk menolong

Rintihan Indonesia adalah rintihan kampung halaman yang terlantarkan
Menguning dedaunan pisang
Di kebon belakang
Sementara sawah dan ladang
Berpesta pora rumpun ilalang
Para petani para nelayan para buruh para pedagang dan para pengangguran
Terbengong dan memandang
Atas gelontoran bermacam kebijakan
Yang membuatnya terasing
Di bumi nenek moyang

Rintihan Indonesia adalah rintihan bocah-bocah tak berdosa
Saat mereka asyik bermain
Tetiba terpasang di kepalanya
Mahkota hutang belasan juta
Sementara di sekolah belum juga diajarkan apa nama mata uang negaranya

Rintihan Indonesia adalah
Gemeretak hati
Yang memerah
Darah

Bekasi, Juli 2018

Pantai Tanpa Ombak

Pantai tanpa ombak alangkah indahnya! Pasir yang menghampar putih berkilauan, mempesona sejauh mata memandang. Air yang jernih hijau kebiruan. Ikan-ikan menari diantara terumbu karang.

Pantai tanpa ombak alangkah nyamannya! Air yang tenang, langit yang membayang, suasana lengang. Hanya semilir angin yang menggoda manja, berselingan kicau burung liar memadu irama.

Sukakah kita kalau pantai tanpa ombak itu ada di rumah-rumah kita? Menjadi bagian hidup kita? Anak-anak yang manis, patuh dan penurut. Suami yang sholeh, istri sholehah. Keuangan dinamis. Bisnis berkembang. Karier laju melejit.

Sukakah?
Senangkah?
Idamankah?

Jangan malu-malu
Yuk katakan “SETUJU!”

Sejenak mari kita alihkan pandangan ke pantai yang lain. PANTAI yang BEROMBAK!

Ya. Pantai itu penuh ombak. Dari jauh getarnya sudah terasa. Deburnya mendera. Ombak nampak gulung gemulung bak raksasa mengamuk!

Sukakah kita kalau pantai itu menjadi bagian dari hidup kita?
Anak-anak nakal, istri bawel, suami rewel, ekonomi sulit, rencana meleset?

Jangan malu-malu
Jangan ragu-ragu
Katakan, “maaf, ntar dulu…”

Tapi. Di pantai berombak benarkah tanpa keindahan? Bukankah gulungan ombak itu keindahan tersendiri? Dan pecahnya yang berderai? Serpihan-serpihan air memutih di pinggir karang, tidakkah menawan?

Lihatlah. Betapa para peselancar justru mencari*PANTAI TANPA OMBAK*

Pantai tanpa ombak alangkah indahnya! Pasir yang menghampar putih berkilauan, mempesona sejauh mata memandang. Air yang jernih hijau kebiruan. Ikan-ikan menari diantara terumbu karang.

Pantai tanpa ombak alangkah nyamannya! Air yang tenang, langit yang membayang, suasana lengang. Hanya semilir angin yang menggoda manja, berselingan kicau burung liar memadu irama.

Sukakah kita kalau pantai tanpa ombak itu ada di rumah-rumah kita? Menjadi bagian hidup kita? Anak-anak yang manis, patuh dan penurut. Suami yang sholeh, istri sholehah. Keuangan dinamis. Bisnis berkembang. Karier laju melejit.

Sukakah?
Senangkah?
Idamankah?

Jangan malu-malu
Yuk katakan “SETUJU!”

Sejenak mari kita alihkan pandangan ke pantai yang lain. PANTAI yang BEROMBAK!

Ya. Pantai itu penuh ombak. Dari jauh getarnya sudah terasa. Deburnya mendera. Ombak nampak gulung gemulung bak raksasa mengamuk!

Sukakah kita kalau pantai itu menjadi bagian dari hidup kita?
Anak-anak nakal, istri bawel, suami rewel, ekonomi sulit, rencana meleset?

Jangan malu-malu
Jangan ragu-ragu
Katakan, “maaf, ntar dulu…”

Tapi. Di pantai berombak benarkah tanpa keindahan? Bukankah gulungan ombak itu keindahan tersendiri? Dan pecahnya yang berderai? Serpihan-serpihan air memutih di pinggir karang, tidakkah menawan?

Lihatlah. Betapa para peselancar justru mencari ombak? Liak-liuknya menggemaskan. Dan keberaniannya itu, loh.
Mengagumkan!

Apakah di pantai berombak hilang kenyamanan? Bagaimana kalau kita tidak berkonsentrasi pada ombaknya, pada deburnya dan bersandar pada Sang Pencipta ombak?

Dan batu karang. Layakkah mengaku batu karang tanpa ombak yang menerjang terjang?

Jangan-jangan hanya batu apung yang menggembung!🙂

Begitulah…

Pantai tanpa ombak dan pantai penuh ombak adalah fenomena. Bagi yang berpantai tanpa ombak, bersyukurlah. Tapi tetap waspada. Kenyamanan mungkin saja menjebak
Lemah rasa, tipis sensitivitas.
Rusak simpati
Hilang empati
Zona nyaman yang melenakan.

Bagi yang pantainya berombak, jangan mengeluh.
Ada ujian ada tantangan.
Bisa jadi pantai berombak khusus diperuntukkan untuk mereka-mereka yang kuat terpercaya.
Manusia-manusia pilihan!

SEMOGA!

oleh: Eko Jakasampurna

 

Rakaat-Rakaat Penantian

@anugrah.roby

Alif lam ra
Seorang musafir lusuh terhempas di tepian subuh
Wajah muramnya termangu dalam sepi yang membisu
Menginsyafi alpa diri perjalanan hidup sekian windu
Apakah masih tersisa segenggam ampun dari Rabb-ku?

Kaf, ha, ya, ain, shad
Si lelaki tengah berdiri di samudera Ramadhan nan bestari
Terpampang di matanya pintu surga menganga
Terlihat pula gerbang neraka yang tertutup rapat setelah digembok begitu tupa
Bahkan setan pun diam tak berdaya akibat tangannya diborgol hingga purna

Si musafir beranjak ke sebuah surau di sebelah madrasah
Diputarnya keran, dibasuhnya wajah dan anggota wudhu’ lainnya
Lalu ia tersungkur di sehampar sajadah
Mengingat kelam jahiliyah di masa silam
Memohonkan ampun atas dosa-dosa yang menggunung

Sebakda rakaat-rakaat penuh penantian
Disimpannya asa bertemu lailatul qadar
Demi takwa penghapus pedihnya luka

Jangan Dustakan Iman (Balasan Buat Ibu Sukmawati)

Bukan mencela, tapi aku percaya nadimu masih bersyahadat
Bukan menggugat, tapi aku percaya kau masih miliki nalar agamamu

Tak mengapa kau gugat aku di majelis hakim
Tapi jangan berani menjadi iblis yang mengumpat TuanNya.

Kitab suci tak pernah salah. Bahkan leluhurmu pun membaca Alif Lam Mim dengan bangga

Kenapa kau berpura bodoh
Seakan kau baru baca Al Fatihah

Bu, aku mencintaimu, karena aku kandung pertiwimu
Berbeda bukan menilap
Berbeda bukan meniadakan
Berbeda bukan menistakan

Wahai ibu aku mencintaimu
Takut nama besar dibelakang namamu, hilang dari catatan sejarah

(Ambon, 3 April 2018)
Oleh: M. Nasir Pariusamahu, Ketua FLP Wil. Maluku

Aku Perempuan Muslimah

Dibalik jilbab yang ku kenakan
Aku memenuhi titah Rabbku
Menyembunyikan mahkota terindah
Untuk kebaikan dunia dan akhiratku

Dibalik cadar itu aku tak ingin banyak mata menelanjangi setiap kecantikan yang Allah anugerahkan kepadaku
Tak ingin ada fitnah yang terjadi karenanya

Dengan jilbab, itu adalah identitasku sebagai seorang muslimah
Dengan kerudung, aku berharap kelak api neraka tidak membakar kulit kepalaku walau sehelai rambut yang menjulur

Pun perihal adzan, aku adalah manusia pelupa
Ia adalah seruan kerinduan terindah dari Tuhan yang merindukan kehadiran hamba-Nya
Suara yang selalu dinanti, bahkan ketika ku terlahir pertama kali ke dunia ini..
Suara adzanlah yang didengungkan ke telingaku
Ketika kelak aku mati suara adzan pula yang mengantarkanku menutup kefanaan duniawi

Aku selalu bahagia ketika adzan tiba
Aku selalu tenang ketika mendengarnya
Aku selalu menantikan seruannya dari waktu ke waktu sebagai tolak ukur ibadahku pada-Nya

Ku teringat Bilal yang tergugu menangis saat mengumandangkan adzan, di kala Rasulullah telah tiada dan masyarakat Madinah menangis karena suara adzan Bilal yang menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Yang mampu menutupi mahkotanya dengan kerudung
Meringankan hisab Ayahku kelak di akhirat

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Yang bila adzan tiba teringat Allah yang menyeru para hamba-Nya tanpa pernah terlambat walau sedetik

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Karena Allah memberikanku seperangkat risalah sebagai bukti cinta-Nya, bukti perhatian dan perlindungan-Nya.
.
Wallahualam bisawab,
Bandung, 02 April 2018

Ida Ayu Nur’arofah

Bumiku telah Hancur

Aku sudah tidak punya teman lagi untuk bermain, semua temanku sudah memiliki tempat bermain baru yang lebih indah dari pada di Ghouta. Saat kami bermain ada suara keras seperti roket jatuh di atas atap tempat kami bermain. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi karena kami panik mencari tempat berlindung. Setelah beberapa saat berlindung aku buka mataku, kubersihkan pakaianku dan sedikit darah di tanganku, aku cari teman-temanku tapi mereka tidak ada.

Kemana mereka? Kenapa banyak warna merah di tanah? Ini ikat rambut siapa? Ini boneka siapa? Sepatu itu? Ke mana teman-teman ku? Apa mereka tak ingin mengajakku pergi bermain ke tempat indah itu?

Tangisku pecah namun tak terdengar, suara seperti roket yang tadi datang kembali terdengar. Aku menjerit takut, tanganku tertarik, aku terpejam tak berani kubuka mata sedikit pun, lagi aku mendengar suara itu lagi. “Booommmmm” suaranya menggelegar. Aku terjatuh. Tangan yang tadi menarikku terlepas dari genggaman.

Asap? Asapnya banyak sekali, aku terbatuk dalam kepulan asap.

Pelan kubuka mata, orang-orang berlarian seolah ingin menyelamatkan diri. Kulihat sekelilingku

Ghouta rumahku

Ghouta kecilku hancur seperti tubuhku yang kecil juga hancur

Ghouta tempat bermainku hancur seperti jasad temanku yang hancur

Ghouta tempat kelahiranku hancur seperti kematianku yang hancur

Mataku mulai tertutup mengobati rasa sakit yang tak akan terasa kembali

Aise

Belajar Jadi Pribumi

Kontributor: Eko Jun

@ Dialog Angkringan

Samidi : Tadz, lagi rame dengan kosakata pribumi nich. Gara – gara pidatonya Bung Anis Baswedan. Ada pencerahan tadz?

Mukidi : Kalau buat kami sendiri, istilah pribumi, bumiputera, orang indonesia asli dll adalah sebuah kosakata yang memiliki sejarah tersendiri. Jika kosakata itu kembali dipakai, mungkin karena dirasa ada kesesuaian konteks atau ketersambungan sejarah, antara suasana dulu dengan sekarang. Kita mengamini apa yang disampaikan oleh Bung Anis, karena saat ini memang kita merasakan adanya penjajahan gaya baru, ada peminggiran peran, ada perampasan hak, ada pengistimewaan perlakuan satu golongan minoritas diatas golongan mayoritas masyarakat kan? Fakta apalagi yang mau diingkari?

Jadi, tidak ada yang salah. Justru sebaliknya, konteksnya sangat tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa Indonesia, baik dimasa penjajahan jaman kolonial maupun penjajahan jaman milenial. Bedanya, dulu kita memang dijajah oleh bangsa asing, sedangkan sekarang kita dijajah oleh bangsa kita sendiri yang bekerjasama dan menjadi antek bangsa asing. Persis seperti yang digambarkan dalam lirik lagu dangdutnya Titi Kamal yang berjudul “Mars Pembantu”. He..9x.

Samidi : Wah, begitu ya tadz. Tapi kadang ane juga heran, kenapa mereka pada ribut dengan istilah pribumi sekarang ya tadz?

Mukidi : Nah, disitulah anomali dan hipokritnya mereka. Istilah pribumi itu masih lazim dipakai sampai sekarang, baik oleh seorang pimpinan parpol berpaham nasionalis, para mentri kabinet kerja hingga presiden sekalipun. Ndak ada yang meributkan tuch. Disisi lain, istilah pribumi juga lazim dipakai oleh etnis tertentu kepada penduduk suku Indonesia dengan maksud menghina dan merendahkan, seperti kasus hatespeech “Pribumi Tiko” dibandara Singapura. Lucunya, mereka yang ngaku – ngaku berpaham nasionalis dan berslogan NKRI harga mati malah banyak yang tidak terusik semangat kebangsaannya.

Sisi lain, sekarang juga muncul semangat nasionalisasi, paham nusantara dll yang secara spirit dan gagasan itu sangat dekat dengan pribumisasi. Jadi kalau semangat nasionalisasi diterima, paham nusantara digaungkan sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh global diterima, lalu mengapa istilah pribumisasi yang secara kultur dan spirit itu sangat identik harus ditolak? Bukankah sebagian aktivis kamar sebelah malah sempat menggaungkan konsep “Pribumisasi Islam” sebelum berubah menjadi “Islam Nusantara”?

Samidi : Hm,.. betul juga ya. Tadz, mengapa pada kasus di Indonesia, non pribumi biasanya diarahkan ke etnis china saja? Bukankah etnis arab dll juga termasuk non pribumi?

Mukidi : Nah, ini mulai menarik. Jawabanya ada pada 2 hal. Pertama, kegagalan sebagian besar etnis China dalam proses asimilasi sosial. Etnis arab relatif lebih berhasil dalam melakukan asimilasi sosial, diantaranya dengan cara kawin campur, persebaran geografis hingga pergaulan sosial yang lebih cair. Sedangkan etnis China cenderung ekslusif, baik dalam perkawinan, pergaulan sosial hingga tempat yinggal yang cenderung dalam satu klaster tertentu.

Kedua, etnis China memiliki sejarah yang agak suram dinegeri ini. Itulah salah satu alasan mengapa Sultan Jogja akhirnya tidak memberi ijin etnis China memiliki tanah di Jogjakarta. Mereka juga pernah bersekutu dengan Belanda dengan membentuk laskar Po An Tui. Jangan lupa juga dengan peran RRC jelang G30S/PKI. Situasi itu sangat kontras dengan etnis arab yang banyak berperan dan turut berjuang memerdekakan bangsa Indonesia.

Ketiga, banyak kasus – kasus kejahatan ekonomi yang melibatkan etnis China. Mega skandal korupsi itu rata – rata dilakukan oleh mereka yang bermata sipit. Termasuk skandal BLBI yang sangat merugikan keuangan negara. Dalam bidang ekonomi, biasanya etnis China dalam posisi superior dan menguasai sumber – sumber ekonomi dibandingkan penduduk lokal. Makanya dulu jaman orde lama sempat ada kabinet Ali Baba. Jangan lupa, Indonesia juga mengimpor banyak hal dari China, dari sekedar cangkul hingga narkoba. Jadi, kalau bangsa Indonesia masih memiliki stereotip yang negatif, ya tidak bisa disalahkan.

Samidi : Apa penyebabnya bukan pada masalah agama hingga mereka dianggap non pribumi tadz?

Mukidi : Hemat kami sih bukan karena agama. Agama Buddha hidup, diakui dan dilindungi di Indonesia. Bahkan dizaman Presiden Gus Dur, diakui pula agama Kong Hucu. Agama Buddha dan Kong Hucu adalah agama yang mayoritas dianut oleh etnis China di Indonesia. Jadi, dalam konteks beragama kedudukannya sudah sejajar dengan agama – agama lain di Indonesia.

Samidi : Tapi, kami koq masih kurang sepakat jika masalah pribumi dan non pribumi hanya ditujukan kepada etnis tertentu saja ya?

Mukidi : Sebenarnya, kami juga kurang sepakat dengan hal itu. Umat manusia zaman sekarang tinggal disebuah desa global. Bahwa istilah pribumi itu memiliki sejarah tersendiri, tentu tidak bisa dipungkiri. Tapi kedepan, istilah ini harus diberi makna baru, yakni pada sifat patriotisme. Bagi etnis China yang memiliki rasa cinta kepada Indonesia, harus diberi penghargaan sepenuhnya. Ada Susi Susanti, Alan Budikusuma hingga Kwik Kian Gie.

Namun sebaliknya, meskipun dia orang jawa asli, tapi jika sikap dan kebijakannya menjadi antek dan kaki tangan negeri lain, maka harus kita cap tidak berjiwa patriot. Dari jaman penjajahan, negeri ini juga memiliki catatan tentang kaum pribumi yang memihak Belanda. Termasuk zaman sekarang, banyak aktivis yang menjadi kaki tangan asing demi menghancurkan Indonesia. Mungkin, inilah pemaknaan kata pribumi dimasa depan. Bukan pada aspek primordial, tapi pada jiwa patriotis yang mereka miliki.

Samidi : Hm,.. bener juga tadz. Berarti, sekarang kita semua harus belajar menjadi seorang pribumi dalam arti yang sebenarnya. Mau etnis jawa, china ataupun arab. Betul tidak tadz?

Mukidi : Yap, betul sekali.

Canda Tawa Dalam Dakwah

Oleh: Eko Jun

@ Dialog Angkringan

Samidi : Tadz, sebenarnya dakwah sambil melempar canda tawa boleh apa tidak sih?

Mukidi : Dalam derajat tertentu, melempar canda tawa kepada jama’ah ya boleh saja. Maksudnya untuk menyegarkan suasana. Yang perlu diperhatikan adalah durasi dan substansi dalam canda itu.

Samidi : Maksudnya gimana tadz?

Mukidi : Pertama, canda tawa sebenarnya hanya selingan, bukan menu utama. Dibutuhkan, tapi kadarnya sedikit saja. Kalau kadarnya terlalu banyak, niscaya panggung dakwah akan berubah jadi panggung lawak. Nah, disini kadang terjadi kesalahan, yakni menu selingan malah dijadikan sebagai menu utama. Bisa karena penceramahnya yang punya pembawaan begitu, bisa pula karena jama’ah yang menghendaki demikian. Tahu sendiri, kadang masyarakat punya request khusus pas mencari penceramah, misalnya nyari pembicara yang lucu. Betul kan?

Samidi : He..9x. Betul juga tadz. Trus kalau yang substansi, gimana penjelasannya tadz?

Mukidi : Nah, kedua pada persoalan substansi. Mau bercanda seperti apapun, yang penting harus berisi kebenaran. Rasulullah itu kadang juga bercanda dengan para shahabatnya, tapi beliau tidak membungkus canda tawanya dalam perkara yang salah dan bohong. Sedangkan jaman sekarang, banyak orang mengarang cerita – cerita bohong untuk membuat orang lain ketawa. Kadang untuk memancing tawa malah harus dengan ungkapan kasar dan makian. Kalau pola seperti ini sampai masuk ke panggung dakwah, alamat dakwah bakal runtuh pamornya.

Samidi : Kalau menurut pandangan ustadz sendiri, bagaimana situasi canda tawa dalam dunia dakwah, khususnya di Indonesia?

Mukidi : Kita sebenarnya bisa membedakan model dan pola ceramah yang mengundang canda tawa para jama’ah. Model pertama, canda cerdas. Mubaligh melemparkan melempar statemen cerdas dengan gaya khas, yang memancing senyum dan tawa jama’ah. Ni gayanya agak berkelas. Diantara contohnya adalah Almarhum KH Zaenudin, MZ, Ustadz Abdul Shomad, Lc dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini dilakukan oleh Trio Bagito yang candaannya suka menyentil masalah politik, hukum, ekonomi dll.

Model kedua, canda lucu. Mubaligh menirukan ucapan – ucapan tertentu atau memperagakan gaya tertentu sehingga para jama’ah jadi tersenyum dan tertawa. Sebenarnya, mereka sengaja melakukan itu agar suasana interaktif lebih terasa. Diantara contohnya adalah KH Anwar Zahid, KH Duri Ashari, Ust Maulana dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini biasa dilakukan oleh Srimulat. Candaan model begini bisa menurunkan marwah dari mubaligh bersangkutan, kecuali jika diimbangi dengan bobot ceramah yang tinggi dan berkelas.

Model ketiga, canda kelewatan. Mubaligh menyampaikan statemen khas yang secara zhahir menyalahi tuntunan dan cenderung bernada kontroversial, tapi maksud sebenarnya adalah untuk bercanda. Diantara contohnya adalah KH Said Aqil Sirajd. Beliau menyampaikan : semakin panjang jenggotnya maka semakin goblok, Gus Dur sampai sekarang belum ditanya oleh malaikat Munkar Nakir dll. Bagi warga nahdliyin, mereka tahu ungkapan ini bagian dari canda semata. Namun bagi komunitas diluar nahdliyin, jelas berpotensi menyebabkan salah paham dan salah tafsir. Karena itu, candaan model begini sebaiknya dihindari.

Samidi : Ustadz setuju tidak jika nanti ada penertiban kepada para ustadz yang senang bercanda saat ceramah?

Mukidi : Secara pribadi, kami sebenarnya kurang sepakat. Pertama, kita akan runyam dalam proses pendefinisian bentuk dan model canda yang dilakukan oleh mubaligh. Kedua, kita juga akan bingung siapa dan bagaimana proses penertiban dan penindakannya.

Samidi : Trus, harusnya bagaimana tadz?

Mukidi : Paling bagus, ada komisi pengawas (semacam komisi yudisial, komisi kepolisian, komisi ombudsmen dll) yang bertugas memonitor situasi terkini dilapangan. Nanti lembaga bisa dibentuk oleh MUI ataupun ormas dakwah yang menaungi muballigh tersebut. Hal lain, kita bisa kuatkan dalam proses pengkaderan (daurah) dai dan muballigh. Jadi mereka sudah ditatar secara baik tentang bagaimana bentuk dan cara dakwah yang baik dan efektif, tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Cara lain, dengan memperingatkan jama’ahnya, agar jangan ngundang dia ceramah lagi. Kan beres. He..9x.

Samidi : Jadi ustadz tetap setuju adanya canda tawa dipanggung dakwah ya? Bukannya dakwah semestinya serius karena tengah memberikan ilmu dan peringatan tadz?

Mukidi : Dunia dakwah itu warna warni, rame rasanya. Ada orang yang senangnya diberi sesuatu yang serius. Biasanya, mereka adalah para santri yang niatannya memang thalabul ‘ilm. Ada juga orang yang senangnya sama yang lucu – lucu. Biasanya, mereka adalah golongan masyarakat awam. Beda orang, beda pula pendekatannya. Kalau dai bertipe serius berceramah didepan masyarakat awam, ndak akan masuk. Sebaliknya, kalau dai yang senang bercanda berceramah dihadapan kaum terdidik dan terpelajar, ndak masuk juga. Jadi semua ada porsinya, semua ada pangsa pasarnya sendiri – sendiri. Adapun tentang ilmu, bisa diberikan dengan cara berat dan serius, bisapula dengan gaya ringan dan menghibur.

Samidi : Oh gitu ya. Sukron atas pencerahannya tadz.

Mukidi : Yap, sama – sama. Nanti kalau ada kegiatan daurah muballigh, antum ikutan ya.

Samidi : Siap tadz.

Setulus Hati Mbah Sadiyo

Oleh : Muthi’ Masfu’ah ‘Ma’ruf’ *)

Panas terik menyengat siang itu. Pria tua mengayuh sepedanya tergesa-gesa. Klontang-klonteng barang rongsokan yang diikat di belakang sepedanya mengirama sepanjang gang sempit berbatu yang dilaluinya. Irama khas siang hari yang belasan tahun didengar warga Dusun Dempo, sebagai pertanda dhuhur telah tiba… Yap, Pria pemulung itu memang rutin mengejar dhuhur berlarian dengan waktu untuk sampai ke rumah, berganti pakaian, berwudhu dan segera menyambung shaff sholat di mushola dekat rumahnya.

Dia adalah Sudiyo. Pria 65 tahun itu tinggal di Dukuh Dempo. Mbah Sudiyo sapaannya, bekerja sebagai pemulung yang ramah dan mudah menolong tetangganya kendati hidupnya serba pas-pasan. Pas untuk makan, pas untuk biaya tambahan pendidikan cucu-cucunya juga pas untuk bersedekah di hari itu.

“Pak, semen-semen, pasir-pasir menumpuk di belakang rumah itu untuk apa tho Pak?” Tanya istri mbah Sudiyo sambil membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. 45 tahun bertarung hidup bersama, sang istri hapal betul kebiasaan Mbah Sudiyo.

“Nanti kan tau tho Bu…” Jawaban singkat mbah Sudiyo mampu mendiamkan istrinya untuk tidak menyambung pertanyaan lain.

***

Bruuuukkk… Bruuuukkk… Di bawah terik sinar matahari, tampak seorang pria tua sedang menurunkan dua karung semen dari becaknya, di jalan Dusun Dempo. Becak yang berisi barang-barang rongsokan miliknya itu sengaja diparkir menutup separuh badan jalan agar tidak ada yang mengganggu aktivitasnya.

Mengenakan celana pendek dan baju lengan pendek, sepertinya mbah Sudiyo telah terbiasa dengan panasnya sinar matahari. Hanya sebuah caping yang melindungi kepalanya.

Seorang diri, ia mengaduk semen dan pasir dengan campuran air yang dia ambil dari sawah. Adonan semen itu kemudian dia tuangkan ke dalam lubang-lubang jalan sedalam 10 cm.

Inilah jawaban mengapa berbulan-bulan mbah Sudiyo mengumpulkan semen dan pasir di belakang rumahnya. Meski penghasilannya tidak seberapa, mbah Sudiyo selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli semen. Semen tersebut ternyata ia gunakan untuk menambal jalan yang berlubang. “Kalau semen, saya beli sendiri. Nanti pasirnya minta sisa-sisa di rumah orang yang sedang membangun. Kadang dikasih, kadang tidak dikasih,” kata mbah Sudiyo ketika ditanya salah satu warga setempat.

Penghasilan bersih mbah Sudiyo sebenarnya hanya sekitar kurang lebih Rp 100 ribu untuk satu minggu. Dalam lima sampai enam hari. Dia berkeliling mengumpulkan barang-barang rongsokan. Setelah terkumpul, rongsokan itu ia jual. Kalau beruntung bisa dapat Rp 150 ribu penghasilan bersihnya.

Niatnya memperbaiki jalan rusak berawal dari pengalamannya yang pernah jatuh terperosok akibat jalan berlubang. Mbah Sudiyo berebut jalan dengan kendaraan lain. Karena mbah Sudiyo hanya mengendarai sepeda ontel akhirnya ia mengalah, tapi ternyata jalan yang dilaluinya berlubang. Lubangnya lumayan besar… Ban sepedanya pecah sampai membentuk angka 8. Untunglah barang rongsoknya sudah diikat kencang, jadi tidak jatuh. Luka akibat terjatuh menghantam lubang jalan, lumayan parah, beberapa hari mbah Sudiyo tidak memulung karena kaki dan lututnya bengkak. Lebih tragis lagi, setelah mbah Sudiyo terjatuh, tetangganya pun menjadi korban. Terjatuh di tempat yang sama, bahkan hingga kakinya patah.

Peristiwa itu terjadi pada 2015. Semenjak itu, Sudiyo berjanji kepada dirinya untuk menambal sendiri jalan berlubang itu. Karena menunggu janji pemerintah untuk memperbaiki jalan tidak pernah kunjung tiba, entah alasan apa lagi mbah Sudiyo lelah untuk menanyakannya. Mau bertemu walikota saja prosedurnya rumit, padahal hanya menanyakan bantuan sak semen.

Mbah Sudiyo dengan ketulusannya, tanpa sama sekali dibayar oleh pihak mana pun rela untuk menambal jalan berlubang. “Saya niatkan untuk ibadah Bu, jangan ditanya lagi, jangan dihalangi…” Kata Sudiyo pada istrinya, agar istrinya tidak bertanya lagi tentang niat baiknya. Walaupun wajar bila istrinya bertanya, karena orang seperti mbah Sudiyo hanya satu banding seribu di zaman seperti sekarang, zaman yang serba berpamrih.

Di bawah terik matahari mbah Sudiyo masih bertemankan pasir dan semen. Memoles jalan menutupi lubang-lubang jalan… Tiba-tiba…

“Pak, saya Ingin membantu… Apa ini proyek dari Dinas Pekerjaan Umum? Dibayar berapa kita Pak?” Tanya salah satu warga yang lewat. Tapi begitu tahu itu bukan proyek pemerintah, warga itu pun pergi. Mbah Sudiyo hanya menghela nafas. Sudah biasa… Ia pun kembali pada aktifitas sosialnya.

***

“Saya ini memang miskin. Tapi batin saya tidak miskin, Bu,” kata mbah Sudiyo sore itu duduk depan rumah bersama istrinya. Hari ini tentunya sangat melelahkan, karena pagi sampai siang mbah Sudiyo memulung dan siang hingga sore is menambal jalan berlubang.

“Iya Pak saya gak nanya kok, saya hanya Ingin menyampaikan berita gembira,” kata istrinya berbinar.

“Kabar gembira apa tho Bu?” Mbah Sudiyo penasaran dibuatnya.

“Beberapa minggu lalu, Bapak kan menulis surat ke lembaga zakat tho… Nah alhamdulillah ini hasilnya dititipkan ke Ibu,” istri mbah Sudiyo ikut bahagia memberikan amplop titipan lembaga zakat di kotanya.

Mbah Sudiyo menerima dan membuka amplop itu tergesa-gesa tak sabar… “MasyaAllah Bu… Alhamdulillah Bu… Ini rezeki yang tidak di sangka-sangka… Jarang ada lembaga zakat yang cepat jawab Bu… Ya Allah…” Mbah Sudiyo memegang tangan istrinya yang keriput… Istri satu-satunya yang setia menemani sepanjang hidupnya.

Air matanya menetes, cita-cita menambal jalan-jalan berlubang di kampungnya sekaligus memperbaiki mushola dekat rumah akan segera terwujud… Bayangannya menari-nari, seolah-olah ia melihat dirinya sendiri sedang mengaduk semen, menambal jalanan berlubang dengan wajah tersenyum cerah… Sungguh kebahagiaan yang tidak terbayangkan olehnya… Seorang pemulung yang sederhana tapi memiliki ketulusan, harapan dan cita-cita yang besar, mengajarkan kita bagaimana berkorban untuk kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi dan keluarganya.

Angin berhempus pelan-pelan, senja menyentuh bumi tempat jutaan manusia berpijak. Azan magrib segera terdengar, bergegas suami istri itu mengambil air wudhu dan berjalan ke mushola dekat rumah, mushola yang sebentar lagi tidak akan kebocoran kalau kehujanan, tak remang-remang lagi saat sholat maqrib dan isya datang.

Gurat merah semakin meninggalkan langit, malam telah berganti. Hati mbah Sudiyo bergelora… Tak sabar menunggu datangnya pagi hari…

*) Penulis adalah Koordinator Literasi Kaltim dan Devisi Pengembangan Wilayah Literasi Pusat Jakarta, Mantan Ketua FLP Kaltim dan baru menulis 20 buku. Pembina Ekskul Menulis Dan Menggambar di SDIT Asy Syaamil Dan SDIT Cahaya Fikri Bontang.

Renovasi Indonesia

Oleh: Sukron Ya Sukron

Berabad lama gubuk ini berdiri

Rupa badannya begitu-begitu saja

 

Tida!, kini aku menatap bedanya

Ternyata ia lebih lusuh dari yang mula

Berabad lama gubuk ini dicipta

Rupa lusuh, namun nama tetap sama, Indonesia

 

Tidak! kini aku menatap lagi bedanya

Ternyata ada rayap penghuni menggerogoti, membangun istana pribadi

Inikah gubukku?

Inikah gubukmu?

Inikah gubuk kita?

Inikah Indonesia?

Dimanakah kau pemuda yang makin terlena

Dimanakah kau raja yang semakin kaya

Gubuk telah lusuh, pondasi telah jabuk, kini isi direnggut diakui tetangga

Masihkah kita berdiam saja?

Sungguh, gubuk ini butuh kita

Pemuda tangguh untuk kokohkan pondasi

Raja adil dan bijak untuk memimpin negeri

Rakyat peduli untuk melestari kulit dan isi

Sudah saatnya kita merenovasi

Mengganti pondasi dengan nilai persatuan

Mewarnai gelap temboknya dengan merah berani dan putih suci

Dan mulai membasmi rayap pendusta yang menggerogot gubuk sendiri

Banggeris, 01 Mei 2013