Rakaat-Rakaat Penantian

@anugrah.roby

Alif lam ra
Seorang musafir lusuh terhempas di tepian subuh
Wajah muramnya termangu dalam sepi yang membisu
Menginsyafi alpa diri perjalanan hidup sekian windu
Apakah masih tersisa segenggam ampun dari Rabb-ku?

Kaf, ha, ya, ain, shad
Si lelaki tengah berdiri di samudera Ramadhan nan bestari
Terpampang di matanya pintu surga menganga
Terlihat pula gerbang neraka yang tertutup rapat setelah digembok begitu tupa
Bahkan setan pun diam tak berdaya akibat tangannya diborgol hingga purna

Si musafir beranjak ke sebuah surau di sebelah madrasah
Diputarnya keran, dibasuhnya wajah dan anggota wudhu’ lainnya
Lalu ia tersungkur di sehampar sajadah
Mengingat kelam jahiliyah di masa silam
Memohonkan ampun atas dosa-dosa yang menggunung

Sebakda rakaat-rakaat penuh penantian
Disimpannya asa bertemu lailatul qadar
Demi takwa penghapus pedihnya luka

Jangan Dustakan Iman (Balasan Buat Ibu Sukmawati)

Bukan mencela, tapi aku percaya nadimu masih bersyahadat
Bukan menggugat, tapi aku percaya kau masih miliki nalar agamamu

Tak mengapa kau gugat aku di majelis hakim
Tapi jangan berani menjadi iblis yang mengumpat TuanNya.

Kitab suci tak pernah salah. Bahkan leluhurmu pun membaca Alif Lam Mim dengan bangga

Kenapa kau berpura bodoh
Seakan kau baru baca Al Fatihah

Bu, aku mencintaimu, karena aku kandung pertiwimu
Berbeda bukan menilap
Berbeda bukan meniadakan
Berbeda bukan menistakan

Wahai ibu aku mencintaimu
Takut nama besar dibelakang namamu, hilang dari catatan sejarah

(Ambon, 3 April 2018)
Oleh: M. Nasir Pariusamahu, Ketua FLP Wil. Maluku

Aku Perempuan Muslimah

Dibalik jilbab yang ku kenakan
Aku memenuhi titah Rabbku
Menyembunyikan mahkota terindah
Untuk kebaikan dunia dan akhiratku

Dibalik cadar itu aku tak ingin banyak mata menelanjangi setiap kecantikan yang Allah anugerahkan kepadaku
Tak ingin ada fitnah yang terjadi karenanya

Dengan jilbab, itu adalah identitasku sebagai seorang muslimah
Dengan kerudung, aku berharap kelak api neraka tidak membakar kulit kepalaku walau sehelai rambut yang menjulur

Pun perihal adzan, aku adalah manusia pelupa
Ia adalah seruan kerinduan terindah dari Tuhan yang merindukan kehadiran hamba-Nya
Suara yang selalu dinanti, bahkan ketika ku terlahir pertama kali ke dunia ini..
Suara adzanlah yang didengungkan ke telingaku
Ketika kelak aku mati suara adzan pula yang mengantarkanku menutup kefanaan duniawi

Aku selalu bahagia ketika adzan tiba
Aku selalu tenang ketika mendengarnya
Aku selalu menantikan seruannya dari waktu ke waktu sebagai tolak ukur ibadahku pada-Nya

Ku teringat Bilal yang tergugu menangis saat mengumandangkan adzan, di kala Rasulullah telah tiada dan masyarakat Madinah menangis karena suara adzan Bilal yang menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Yang mampu menutupi mahkotanya dengan kerudung
Meringankan hisab Ayahku kelak di akhirat

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Yang bila adzan tiba teringat Allah yang menyeru para hamba-Nya tanpa pernah terlambat walau sedetik

Aku bangga menjadi perempuan muslimah,
Karena Allah memberikanku seperangkat risalah sebagai bukti cinta-Nya, bukti perhatian dan perlindungan-Nya.
.
Wallahualam bisawab,
Bandung, 02 April 2018

Ida Ayu Nur’arofah

Bumiku telah Hancur

Aku sudah tidak punya teman lagi untuk bermain, semua temanku sudah memiliki tempat bermain baru yang lebih indah dari pada di Ghouta. Saat kami bermain ada suara keras seperti roket jatuh di atas atap tempat kami bermain. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi karena kami panik mencari tempat berlindung. Setelah beberapa saat berlindung aku buka mataku, kubersihkan pakaianku dan sedikit darah di tanganku, aku cari teman-temanku tapi mereka tidak ada.

Kemana mereka? Kenapa banyak warna merah di tanah? Ini ikat rambut siapa? Ini boneka siapa? Sepatu itu? Ke mana teman-teman ku? Apa mereka tak ingin mengajakku pergi bermain ke tempat indah itu?

Tangisku pecah namun tak terdengar, suara seperti roket yang tadi datang kembali terdengar. Aku menjerit takut, tanganku tertarik, aku terpejam tak berani kubuka mata sedikit pun, lagi aku mendengar suara itu lagi. “Booommmmm” suaranya menggelegar. Aku terjatuh. Tangan yang tadi menarikku terlepas dari genggaman.

Asap? Asapnya banyak sekali, aku terbatuk dalam kepulan asap.

Pelan kubuka mata, orang-orang berlarian seolah ingin menyelamatkan diri. Kulihat sekelilingku

Ghouta rumahku

Ghouta kecilku hancur seperti tubuhku yang kecil juga hancur

Ghouta tempat bermainku hancur seperti jasad temanku yang hancur

Ghouta tempat kelahiranku hancur seperti kematianku yang hancur

Mataku mulai tertutup mengobati rasa sakit yang tak akan terasa kembali

Aise

Belajar Jadi Pribumi

Kontributor: Eko Jun

@ Dialog Angkringan

Samidi : Tadz, lagi rame dengan kosakata pribumi nich. Gara – gara pidatonya Bung Anis Baswedan. Ada pencerahan tadz?

Mukidi : Kalau buat kami sendiri, istilah pribumi, bumiputera, orang indonesia asli dll adalah sebuah kosakata yang memiliki sejarah tersendiri. Jika kosakata itu kembali dipakai, mungkin karena dirasa ada kesesuaian konteks atau ketersambungan sejarah, antara suasana dulu dengan sekarang. Kita mengamini apa yang disampaikan oleh Bung Anis, karena saat ini memang kita merasakan adanya penjajahan gaya baru, ada peminggiran peran, ada perampasan hak, ada pengistimewaan perlakuan satu golongan minoritas diatas golongan mayoritas masyarakat kan? Fakta apalagi yang mau diingkari?

Jadi, tidak ada yang salah. Justru sebaliknya, konteksnya sangat tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa Indonesia, baik dimasa penjajahan jaman kolonial maupun penjajahan jaman milenial. Bedanya, dulu kita memang dijajah oleh bangsa asing, sedangkan sekarang kita dijajah oleh bangsa kita sendiri yang bekerjasama dan menjadi antek bangsa asing. Persis seperti yang digambarkan dalam lirik lagu dangdutnya Titi Kamal yang berjudul “Mars Pembantu”. He..9x.

Samidi : Wah, begitu ya tadz. Tapi kadang ane juga heran, kenapa mereka pada ribut dengan istilah pribumi sekarang ya tadz?

Mukidi : Nah, disitulah anomali dan hipokritnya mereka. Istilah pribumi itu masih lazim dipakai sampai sekarang, baik oleh seorang pimpinan parpol berpaham nasionalis, para mentri kabinet kerja hingga presiden sekalipun. Ndak ada yang meributkan tuch. Disisi lain, istilah pribumi juga lazim dipakai oleh etnis tertentu kepada penduduk suku Indonesia dengan maksud menghina dan merendahkan, seperti kasus hatespeech “Pribumi Tiko” dibandara Singapura. Lucunya, mereka yang ngaku – ngaku berpaham nasionalis dan berslogan NKRI harga mati malah banyak yang tidak terusik semangat kebangsaannya.

Sisi lain, sekarang juga muncul semangat nasionalisasi, paham nusantara dll yang secara spirit dan gagasan itu sangat dekat dengan pribumisasi. Jadi kalau semangat nasionalisasi diterima, paham nusantara digaungkan sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh global diterima, lalu mengapa istilah pribumisasi yang secara kultur dan spirit itu sangat identik harus ditolak? Bukankah sebagian aktivis kamar sebelah malah sempat menggaungkan konsep “Pribumisasi Islam” sebelum berubah menjadi “Islam Nusantara”?

Samidi : Hm,.. betul juga ya. Tadz, mengapa pada kasus di Indonesia, non pribumi biasanya diarahkan ke etnis china saja? Bukankah etnis arab dll juga termasuk non pribumi?

Mukidi : Nah, ini mulai menarik. Jawabanya ada pada 2 hal. Pertama, kegagalan sebagian besar etnis China dalam proses asimilasi sosial. Etnis arab relatif lebih berhasil dalam melakukan asimilasi sosial, diantaranya dengan cara kawin campur, persebaran geografis hingga pergaulan sosial yang lebih cair. Sedangkan etnis China cenderung ekslusif, baik dalam perkawinan, pergaulan sosial hingga tempat yinggal yang cenderung dalam satu klaster tertentu.

Kedua, etnis China memiliki sejarah yang agak suram dinegeri ini. Itulah salah satu alasan mengapa Sultan Jogja akhirnya tidak memberi ijin etnis China memiliki tanah di Jogjakarta. Mereka juga pernah bersekutu dengan Belanda dengan membentuk laskar Po An Tui. Jangan lupa juga dengan peran RRC jelang G30S/PKI. Situasi itu sangat kontras dengan etnis arab yang banyak berperan dan turut berjuang memerdekakan bangsa Indonesia.

Ketiga, banyak kasus – kasus kejahatan ekonomi yang melibatkan etnis China. Mega skandal korupsi itu rata – rata dilakukan oleh mereka yang bermata sipit. Termasuk skandal BLBI yang sangat merugikan keuangan negara. Dalam bidang ekonomi, biasanya etnis China dalam posisi superior dan menguasai sumber – sumber ekonomi dibandingkan penduduk lokal. Makanya dulu jaman orde lama sempat ada kabinet Ali Baba. Jangan lupa, Indonesia juga mengimpor banyak hal dari China, dari sekedar cangkul hingga narkoba. Jadi, kalau bangsa Indonesia masih memiliki stereotip yang negatif, ya tidak bisa disalahkan.

Samidi : Apa penyebabnya bukan pada masalah agama hingga mereka dianggap non pribumi tadz?

Mukidi : Hemat kami sih bukan karena agama. Agama Buddha hidup, diakui dan dilindungi di Indonesia. Bahkan dizaman Presiden Gus Dur, diakui pula agama Kong Hucu. Agama Buddha dan Kong Hucu adalah agama yang mayoritas dianut oleh etnis China di Indonesia. Jadi, dalam konteks beragama kedudukannya sudah sejajar dengan agama – agama lain di Indonesia.

Samidi : Tapi, kami koq masih kurang sepakat jika masalah pribumi dan non pribumi hanya ditujukan kepada etnis tertentu saja ya?

Mukidi : Sebenarnya, kami juga kurang sepakat dengan hal itu. Umat manusia zaman sekarang tinggal disebuah desa global. Bahwa istilah pribumi itu memiliki sejarah tersendiri, tentu tidak bisa dipungkiri. Tapi kedepan, istilah ini harus diberi makna baru, yakni pada sifat patriotisme. Bagi etnis China yang memiliki rasa cinta kepada Indonesia, harus diberi penghargaan sepenuhnya. Ada Susi Susanti, Alan Budikusuma hingga Kwik Kian Gie.

Namun sebaliknya, meskipun dia orang jawa asli, tapi jika sikap dan kebijakannya menjadi antek dan kaki tangan negeri lain, maka harus kita cap tidak berjiwa patriot. Dari jaman penjajahan, negeri ini juga memiliki catatan tentang kaum pribumi yang memihak Belanda. Termasuk zaman sekarang, banyak aktivis yang menjadi kaki tangan asing demi menghancurkan Indonesia. Mungkin, inilah pemaknaan kata pribumi dimasa depan. Bukan pada aspek primordial, tapi pada jiwa patriotis yang mereka miliki.

Samidi : Hm,.. bener juga tadz. Berarti, sekarang kita semua harus belajar menjadi seorang pribumi dalam arti yang sebenarnya. Mau etnis jawa, china ataupun arab. Betul tidak tadz?

Mukidi : Yap, betul sekali.

Canda Tawa Dalam Dakwah

Oleh: Eko Jun

@ Dialog Angkringan

Samidi : Tadz, sebenarnya dakwah sambil melempar canda tawa boleh apa tidak sih?

Mukidi : Dalam derajat tertentu, melempar canda tawa kepada jama’ah ya boleh saja. Maksudnya untuk menyegarkan suasana. Yang perlu diperhatikan adalah durasi dan substansi dalam canda itu.

Samidi : Maksudnya gimana tadz?

Mukidi : Pertama, canda tawa sebenarnya hanya selingan, bukan menu utama. Dibutuhkan, tapi kadarnya sedikit saja. Kalau kadarnya terlalu banyak, niscaya panggung dakwah akan berubah jadi panggung lawak. Nah, disini kadang terjadi kesalahan, yakni menu selingan malah dijadikan sebagai menu utama. Bisa karena penceramahnya yang punya pembawaan begitu, bisa pula karena jama’ah yang menghendaki demikian. Tahu sendiri, kadang masyarakat punya request khusus pas mencari penceramah, misalnya nyari pembicara yang lucu. Betul kan?

Samidi : He..9x. Betul juga tadz. Trus kalau yang substansi, gimana penjelasannya tadz?

Mukidi : Nah, kedua pada persoalan substansi. Mau bercanda seperti apapun, yang penting harus berisi kebenaran. Rasulullah itu kadang juga bercanda dengan para shahabatnya, tapi beliau tidak membungkus canda tawanya dalam perkara yang salah dan bohong. Sedangkan jaman sekarang, banyak orang mengarang cerita – cerita bohong untuk membuat orang lain ketawa. Kadang untuk memancing tawa malah harus dengan ungkapan kasar dan makian. Kalau pola seperti ini sampai masuk ke panggung dakwah, alamat dakwah bakal runtuh pamornya.

Samidi : Kalau menurut pandangan ustadz sendiri, bagaimana situasi canda tawa dalam dunia dakwah, khususnya di Indonesia?

Mukidi : Kita sebenarnya bisa membedakan model dan pola ceramah yang mengundang canda tawa para jama’ah. Model pertama, canda cerdas. Mubaligh melemparkan melempar statemen cerdas dengan gaya khas, yang memancing senyum dan tawa jama’ah. Ni gayanya agak berkelas. Diantara contohnya adalah Almarhum KH Zaenudin, MZ, Ustadz Abdul Shomad, Lc dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini dilakukan oleh Trio Bagito yang candaannya suka menyentil masalah politik, hukum, ekonomi dll.

Model kedua, canda lucu. Mubaligh menirukan ucapan – ucapan tertentu atau memperagakan gaya tertentu sehingga para jama’ah jadi tersenyum dan tertawa. Sebenarnya, mereka sengaja melakukan itu agar suasana interaktif lebih terasa. Diantara contohnya adalah KH Anwar Zahid, KH Duri Ashari, Ust Maulana dll. Kalau didunia lawak, candaan model begini biasa dilakukan oleh Srimulat. Candaan model begini bisa menurunkan marwah dari mubaligh bersangkutan, kecuali jika diimbangi dengan bobot ceramah yang tinggi dan berkelas.

Model ketiga, canda kelewatan. Mubaligh menyampaikan statemen khas yang secara zhahir menyalahi tuntunan dan cenderung bernada kontroversial, tapi maksud sebenarnya adalah untuk bercanda. Diantara contohnya adalah KH Said Aqil Sirajd. Beliau menyampaikan : semakin panjang jenggotnya maka semakin goblok, Gus Dur sampai sekarang belum ditanya oleh malaikat Munkar Nakir dll. Bagi warga nahdliyin, mereka tahu ungkapan ini bagian dari canda semata. Namun bagi komunitas diluar nahdliyin, jelas berpotensi menyebabkan salah paham dan salah tafsir. Karena itu, candaan model begini sebaiknya dihindari.

Samidi : Ustadz setuju tidak jika nanti ada penertiban kepada para ustadz yang senang bercanda saat ceramah?

Mukidi : Secara pribadi, kami sebenarnya kurang sepakat. Pertama, kita akan runyam dalam proses pendefinisian bentuk dan model canda yang dilakukan oleh mubaligh. Kedua, kita juga akan bingung siapa dan bagaimana proses penertiban dan penindakannya.

Samidi : Trus, harusnya bagaimana tadz?

Mukidi : Paling bagus, ada komisi pengawas (semacam komisi yudisial, komisi kepolisian, komisi ombudsmen dll) yang bertugas memonitor situasi terkini dilapangan. Nanti lembaga bisa dibentuk oleh MUI ataupun ormas dakwah yang menaungi muballigh tersebut. Hal lain, kita bisa kuatkan dalam proses pengkaderan (daurah) dai dan muballigh. Jadi mereka sudah ditatar secara baik tentang bagaimana bentuk dan cara dakwah yang baik dan efektif, tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Cara lain, dengan memperingatkan jama’ahnya, agar jangan ngundang dia ceramah lagi. Kan beres. He..9x.

Samidi : Jadi ustadz tetap setuju adanya canda tawa dipanggung dakwah ya? Bukannya dakwah semestinya serius karena tengah memberikan ilmu dan peringatan tadz?

Mukidi : Dunia dakwah itu warna warni, rame rasanya. Ada orang yang senangnya diberi sesuatu yang serius. Biasanya, mereka adalah para santri yang niatannya memang thalabul ‘ilm. Ada juga orang yang senangnya sama yang lucu – lucu. Biasanya, mereka adalah golongan masyarakat awam. Beda orang, beda pula pendekatannya. Kalau dai bertipe serius berceramah didepan masyarakat awam, ndak akan masuk. Sebaliknya, kalau dai yang senang bercanda berceramah dihadapan kaum terdidik dan terpelajar, ndak masuk juga. Jadi semua ada porsinya, semua ada pangsa pasarnya sendiri – sendiri. Adapun tentang ilmu, bisa diberikan dengan cara berat dan serius, bisapula dengan gaya ringan dan menghibur.

Samidi : Oh gitu ya. Sukron atas pencerahannya tadz.

Mukidi : Yap, sama – sama. Nanti kalau ada kegiatan daurah muballigh, antum ikutan ya.

Samidi : Siap tadz.

Setulus Hati Mbah Sadiyo

Oleh : Muthi’ Masfu’ah ‘Ma’ruf’ *)

Panas terik menyengat siang itu. Pria tua mengayuh sepedanya tergesa-gesa. Klontang-klonteng barang rongsokan yang diikat di belakang sepedanya mengirama sepanjang gang sempit berbatu yang dilaluinya. Irama khas siang hari yang belasan tahun didengar warga Dusun Dempo, sebagai pertanda dhuhur telah tiba… Yap, Pria pemulung itu memang rutin mengejar dhuhur berlarian dengan waktu untuk sampai ke rumah, berganti pakaian, berwudhu dan segera menyambung shaff sholat di mushola dekat rumahnya.

Dia adalah Sudiyo. Pria 65 tahun itu tinggal di Dukuh Dempo. Mbah Sudiyo sapaannya, bekerja sebagai pemulung yang ramah dan mudah menolong tetangganya kendati hidupnya serba pas-pasan. Pas untuk makan, pas untuk biaya tambahan pendidikan cucu-cucunya juga pas untuk bersedekah di hari itu.

“Pak, semen-semen, pasir-pasir menumpuk di belakang rumah itu untuk apa tho Pak?” Tanya istri mbah Sudiyo sambil membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. 45 tahun bertarung hidup bersama, sang istri hapal betul kebiasaan Mbah Sudiyo.

“Nanti kan tau tho Bu…” Jawaban singkat mbah Sudiyo mampu mendiamkan istrinya untuk tidak menyambung pertanyaan lain.

***

Bruuuukkk… Bruuuukkk… Di bawah terik sinar matahari, tampak seorang pria tua sedang menurunkan dua karung semen dari becaknya, di jalan Dusun Dempo. Becak yang berisi barang-barang rongsokan miliknya itu sengaja diparkir menutup separuh badan jalan agar tidak ada yang mengganggu aktivitasnya.

Mengenakan celana pendek dan baju lengan pendek, sepertinya mbah Sudiyo telah terbiasa dengan panasnya sinar matahari. Hanya sebuah caping yang melindungi kepalanya.

Seorang diri, ia mengaduk semen dan pasir dengan campuran air yang dia ambil dari sawah. Adonan semen itu kemudian dia tuangkan ke dalam lubang-lubang jalan sedalam 10 cm.

Inilah jawaban mengapa berbulan-bulan mbah Sudiyo mengumpulkan semen dan pasir di belakang rumahnya. Meski penghasilannya tidak seberapa, mbah Sudiyo selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli semen. Semen tersebut ternyata ia gunakan untuk menambal jalan yang berlubang. “Kalau semen, saya beli sendiri. Nanti pasirnya minta sisa-sisa di rumah orang yang sedang membangun. Kadang dikasih, kadang tidak dikasih,” kata mbah Sudiyo ketika ditanya salah satu warga setempat.

Penghasilan bersih mbah Sudiyo sebenarnya hanya sekitar kurang lebih Rp 100 ribu untuk satu minggu. Dalam lima sampai enam hari. Dia berkeliling mengumpulkan barang-barang rongsokan. Setelah terkumpul, rongsokan itu ia jual. Kalau beruntung bisa dapat Rp 150 ribu penghasilan bersihnya.

Niatnya memperbaiki jalan rusak berawal dari pengalamannya yang pernah jatuh terperosok akibat jalan berlubang. Mbah Sudiyo berebut jalan dengan kendaraan lain. Karena mbah Sudiyo hanya mengendarai sepeda ontel akhirnya ia mengalah, tapi ternyata jalan yang dilaluinya berlubang. Lubangnya lumayan besar… Ban sepedanya pecah sampai membentuk angka 8. Untunglah barang rongsoknya sudah diikat kencang, jadi tidak jatuh. Luka akibat terjatuh menghantam lubang jalan, lumayan parah, beberapa hari mbah Sudiyo tidak memulung karena kaki dan lututnya bengkak. Lebih tragis lagi, setelah mbah Sudiyo terjatuh, tetangganya pun menjadi korban. Terjatuh di tempat yang sama, bahkan hingga kakinya patah.

Peristiwa itu terjadi pada 2015. Semenjak itu, Sudiyo berjanji kepada dirinya untuk menambal sendiri jalan berlubang itu. Karena menunggu janji pemerintah untuk memperbaiki jalan tidak pernah kunjung tiba, entah alasan apa lagi mbah Sudiyo lelah untuk menanyakannya. Mau bertemu walikota saja prosedurnya rumit, padahal hanya menanyakan bantuan sak semen.

Mbah Sudiyo dengan ketulusannya, tanpa sama sekali dibayar oleh pihak mana pun rela untuk menambal jalan berlubang. “Saya niatkan untuk ibadah Bu, jangan ditanya lagi, jangan dihalangi…” Kata Sudiyo pada istrinya, agar istrinya tidak bertanya lagi tentang niat baiknya. Walaupun wajar bila istrinya bertanya, karena orang seperti mbah Sudiyo hanya satu banding seribu di zaman seperti sekarang, zaman yang serba berpamrih.

Di bawah terik matahari mbah Sudiyo masih bertemankan pasir dan semen. Memoles jalan menutupi lubang-lubang jalan… Tiba-tiba…

“Pak, saya Ingin membantu… Apa ini proyek dari Dinas Pekerjaan Umum? Dibayar berapa kita Pak?” Tanya salah satu warga yang lewat. Tapi begitu tahu itu bukan proyek pemerintah, warga itu pun pergi. Mbah Sudiyo hanya menghela nafas. Sudah biasa… Ia pun kembali pada aktifitas sosialnya.

***

“Saya ini memang miskin. Tapi batin saya tidak miskin, Bu,” kata mbah Sudiyo sore itu duduk depan rumah bersama istrinya. Hari ini tentunya sangat melelahkan, karena pagi sampai siang mbah Sudiyo memulung dan siang hingga sore is menambal jalan berlubang.

“Iya Pak saya gak nanya kok, saya hanya Ingin menyampaikan berita gembira,” kata istrinya berbinar.

“Kabar gembira apa tho Bu?” Mbah Sudiyo penasaran dibuatnya.

“Beberapa minggu lalu, Bapak kan menulis surat ke lembaga zakat tho… Nah alhamdulillah ini hasilnya dititipkan ke Ibu,” istri mbah Sudiyo ikut bahagia memberikan amplop titipan lembaga zakat di kotanya.

Mbah Sudiyo menerima dan membuka amplop itu tergesa-gesa tak sabar… “MasyaAllah Bu… Alhamdulillah Bu… Ini rezeki yang tidak di sangka-sangka… Jarang ada lembaga zakat yang cepat jawab Bu… Ya Allah…” Mbah Sudiyo memegang tangan istrinya yang keriput… Istri satu-satunya yang setia menemani sepanjang hidupnya.

Air matanya menetes, cita-cita menambal jalan-jalan berlubang di kampungnya sekaligus memperbaiki mushola dekat rumah akan segera terwujud… Bayangannya menari-nari, seolah-olah ia melihat dirinya sendiri sedang mengaduk semen, menambal jalanan berlubang dengan wajah tersenyum cerah… Sungguh kebahagiaan yang tidak terbayangkan olehnya… Seorang pemulung yang sederhana tapi memiliki ketulusan, harapan dan cita-cita yang besar, mengajarkan kita bagaimana berkorban untuk kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi dan keluarganya.

Angin berhempus pelan-pelan, senja menyentuh bumi tempat jutaan manusia berpijak. Azan magrib segera terdengar, bergegas suami istri itu mengambil air wudhu dan berjalan ke mushola dekat rumah, mushola yang sebentar lagi tidak akan kebocoran kalau kehujanan, tak remang-remang lagi saat sholat maqrib dan isya datang.

Gurat merah semakin meninggalkan langit, malam telah berganti. Hati mbah Sudiyo bergelora… Tak sabar menunggu datangnya pagi hari…

*) Penulis adalah Koordinator Literasi Kaltim dan Devisi Pengembangan Wilayah Literasi Pusat Jakarta, Mantan Ketua FLP Kaltim dan baru menulis 20 buku. Pembina Ekskul Menulis Dan Menggambar di SDIT Asy Syaamil Dan SDIT Cahaya Fikri Bontang.

Renovasi Indonesia

Oleh: Sukron Ya Sukron

Berabad lama gubuk ini berdiri

Rupa badannya begitu-begitu saja

 

Tida!, kini aku menatap bedanya

Ternyata ia lebih lusuh dari yang mula

Berabad lama gubuk ini dicipta

Rupa lusuh, namun nama tetap sama, Indonesia

 

Tidak! kini aku menatap lagi bedanya

Ternyata ada rayap penghuni menggerogoti, membangun istana pribadi

Inikah gubukku?

Inikah gubukmu?

Inikah gubuk kita?

Inikah Indonesia?

Dimanakah kau pemuda yang makin terlena

Dimanakah kau raja yang semakin kaya

Gubuk telah lusuh, pondasi telah jabuk, kini isi direnggut diakui tetangga

Masihkah kita berdiam saja?

Sungguh, gubuk ini butuh kita

Pemuda tangguh untuk kokohkan pondasi

Raja adil dan bijak untuk memimpin negeri

Rakyat peduli untuk melestari kulit dan isi

Sudah saatnya kita merenovasi

Mengganti pondasi dengan nilai persatuan

Mewarnai gelap temboknya dengan merah berani dan putih suci

Dan mulai membasmi rayap pendusta yang menggerogot gubuk sendiri

Banggeris, 01 Mei 2013

Napak Tilas

Puguh Prasetyo

Sore itu aku masih asyik menggerakan jemariku diatas papan keyboard komputer kantor, kupandangi arloji hitam klasikku sudah menunjukkan waktu pukul enam sore. Kulihat diluar sedang gerimis. “Wah gerimis nih, suasana yang sering menjebakku larut dalam kenangan masa lalu.” Gumamku dalam hati. Tak terlalu kuhiraukan gerimis sore itu, bahkan jas hujan dalam bagasi motor pun tak kukeluarkan. Lalu kutunggangi motor yang baru saja kubeli sebulan lalu dibawah rintik-rintik hujan, sesekali kuusap wajahku yang basah terkena air hujan agar tidak menghalangi pandanganku.

Di sepanjang jalan menuju rumah kupandangi sisi kiri dan kanan jalan yang penuh dengan tanaman jagung, kebetulan hampir seluruh pemilik lahan menanami sawah mereka dengan tanaman jagung. Aroma bunga jagung yang tertiup angin sukses membiusku dan membawaku larut kembali pada memori saat masih di kampung dulu. Suasanya mirip saat ini, aku dan Kakak perempuanku bermain dibawah guyuran hujan, kami mengejar belalang di sawah dekat rumah yang saat itu sedang ditanami tanaman jagung. Aroma bunga jagung begitu melekat erat di alam bawah sadarku sehingga setiap kali aku mencium aroma itu seketika aku teringat pada kenangan kala itu.

Rupanya gerimis tak bertahan lama, beberapa meter sebelum sampai di halaman rumah gerimis sudah reda. Sesampainya di rumah kuletakkan tas kerjaku diatas meja ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada bingkai foto yang terpajang manis di sudut tembok ruangan itu. Iya, itu foto keluarga yang diambil saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Disana ada aku, Ayah, Ibu dan Kakak perempuanku. Seperti sebuah petunjuk, baru saja gerimis dan bunga jagung mengingatkanku pada Kakak kesayanganku itu, sekarang tanpa kusengaja pandanganku tertuju pada foto keluarga kami. Jujur aku rindu pada mereka, sudah hampir lima tahun aku tidak pulang ke rumah Ayah dan Ibu, untungnya lebaran tahun ini aku mendapatkan ijin untuk cuti sehingga aku bisa pulang menemui mereka. Sedangkan bulan depan genap delapan tahun Kakak perempuanku pergi untuk selama-lamanya. Aku ingat betapa gigihnya ia berjuang melawan penyakit Lupus yang dideritanya meski akhirnya ia harus menyerah pada tahun keduanya mengidap penyakit langka tersebut.

Langit semakin gelap, sepertinya hujan akan segera turun. Aku bergegas menuju dapur dan meracik secangkir kopi kesukaanku. Aroma kopi Arabica menyeruak memenuhi seisi ruangan, seruputan demi seruputan sungguh kunikmati dan tubuhku terasa lebih rileks. Kupandangi kalender meja yang terletak persis didepanku, kulihat minggu depan ada libur tiga hari karena hari Jum’at bertepatan dengan hari libur nasional. Sepintas terbesit di benakku ingin memanfaatkan libur panjang tersebut untuk pergi berlibur ke luar kota.

“Aha!!! bagaimana kalau aku ke Surabaya saja.” Celetukku spontan. Kebetulan sudah lama aku tidak ke kota itu, tepatnya setelah Kakak perempuanku sakit dan akhirnya dibawa pulang ke rumah orang tua kami oleh suaminya. Meski tak terlalu lama tinggal di kota itu tetapi ada banyak sekali kenangan indah yang kurasakan, utamanya kenangan indah bersama Kakak. Lalu aku mulai menyusun rencana dan menyiapkan segala keperluan untuk meluluskan rencana perjalananku itu. Hari sudah semakin sore lalu aku bergegas mandi dan bersiap menunaikan ibadah sholat Maghrib.

**************

Kamis sore selepas pulang kerja aku mulai menyiapkan segala keperluan untuk perjalanan besok pagi. Aku mulai mengemasi pakaian dan perlengkapan lainya. Kebetulan tiket Bus besok pagi sudah kubeli semalam dan penginapan pun sudah kupesan kemarin lusa. Kuperiksa lagi rencana perjalanku yang kutulis pada secarik kertas. Tempat-tempat yang ingin kukunjungi pun sudah tertulis semuanya. Aku sengaja ingin mengunjungi tempat-tempat itu karena dulu ditempat-tempat itulah ada kenangan bersama Kakak perempuanku. Aku berharap rindu ini akan sedikit terobati meski tak akan benar-benar terobati karena aku sadar aku tak akan pernah menjumpai senyum manisnya lagi. “Malam ini aku harus tidur lebih awal agar besok punya tenaga lebih untuk menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.” Gumamku dalam hati.

Kumandang adzan Subuh mengalun merdu dan memecah sunyi pagi ini, aku pun segera bergegas menuju Masjid yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumahku. Selepas pulang dari Masjid aku pun bersiap diri untuk menempuh perjalanan yang lumayan panjang, kira-kira butuh waktu sepuluh jam untuk sampai di kota Surabaya. Sebelum pergi ke terminal Bus, aku ganjal dulu perutku dengan sepotong roti bakar dengan selai kacang ditambah segelas kopi hitam favoritku. Tepat pukul 07.00 aku berangkat ke terminal Bus antar kota. Sesampainya disana Bus yang hendak kutumpangi sudah datang dan terlihat beberapa penumpang dengan tujuan yang sama mulai naik ke dalam Bus, tanpa berlama-lama aku pun menuju Bus tersebut kemudian mencari nomor kursi yang sesuai dengan nomor yang tercantum dalam tiket yang sudah kubeli. Tak berselang lama Bus pun berangkat.

Di sepanjang perjalanan mataku sulit sekali terpejam meski sebenarnya kantuk menyerangku berkali-kali dengan membabi buta. Dalam benakku hanya ingin segera sampai dan memulai perjalanan napak tilas ini. Aku juga tak habis pikir kenapa rindu ini begitu meluap-luap, biasanya tak pernah separah ini. Perutku mulai lapar mungkin menu sarapan tadi tak cukup untuk memberiku energi hingga kota tujuan. Untungnya tadi sebelum Bus berangkat aku sempat membeli sebungkus nasi uduk lengkap dengan lauk suiran telur goreng dan serundeng.

Sepuluh jam yang melelahkan pun berlalu, akhirnya aku sampai di terminal Bungur Asih kota Surabaya. Sesaat setelah turun dari Bus, aku lemaskan dulu otot-otot tangan, kaki dan punggungku sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan untuk beristirahat. Setengah jam kemudian setelah merasa lebih bugar Aku pun bersiap mencari angkutan umum menuju penginapan yang lokasinya tak terlalu jauh dari terminal Bus tersebut. Beberapa menit kemudian sebuah angkutan umum berwarna biru tua berhenti tepat didepanku dan aku pun masuk. Duh makin tak sabar untuk memulai perjalanan ini. Hatiku girang tak menentu, sungguh senang bukan kepalang, hal ini tentunya akan menjadi cerita tak terlupakan dalam sejarah perjalanan hidupku.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap memulai perjalan, semalam tidurku nyenyak sekali mungkin karena perjalanan kemarin yang cukup melelahkan. Sebelum bergegas pergi aku menikmati sarapanku pagi ini, ada sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi serta tak ketinggalan secangkir kopi hitam. Perjalanan pun dimulai, tempat pertama yang kutuju adalah Pantai Biru, dulu ditempat itu aku pernah menghabiskan waktu dengan Kakakku dan Puteri kecilnya. Pantai Biru terlihat masih seperti dulu, deretan pohon Pinus tumbuh disepanjang jalan menuju Pantai tersebut, terlihat beberapa pedagang asongan menjajakan daganganya, bedanya saat ini kondisi Pantai terlihat lebih bersih dan terawat. Aku duduk termenung pada sebuah batu besar di bibir pantai, sesekali kupandangi orang-orang yang sedang bermain di pantai bersama keluarganya. Sungguh aku larut dalam kenangan, kuhirup udara dalam-dalam dan kuhempaskan perlahan. Tangisku hampir saja pecah, segera saja aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi dari tempat itu sebelum wajahku bersimbah air mata.

Matahari semakin meninggi, aku melanjutkan perjalananku ke sebuah toko baju. Dulu, di toko itu aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih sebuah model jaket terbaru. Bahkan masih lekat dalam ingatan, Kakak dan Keponakanku sampai terduduk lemas menunggu sampai aku benar-benar menentukan pilihan, saat itu aku hanya tersenyum seraya mengucapkan maaf kepada mereka. Sampai di toko tersebut aku duduk pada bangku kecil berwarna merah di sudut ruangan dan aku tak berniat membeli apapun, Aku hanya ingin merasakan situasi saat itu. Beberapa kali senyuman kecil mengembang di wajahku seolah aku kembali hadir ke masa itu. Tanpa kusadari mataku berkaca-kaca, lagi-lagi tangisanku hampir saja pecah. Aku pun beranjak dari tempat itu.

Hari mulai gelap dan aku masih punya satu tujuan lagi yakni ke pasar malam, sebenarnya pasar tersebut sama dengan pasar-pasar lainya, bedanya saat pagi aneka barang dagangan dijajakan khas pasar tradisional pada umumnya sedang saat malam hari aneka kuliner ditawarkan kepada para pengunjung lengkap dengan aneka permainan untuk anak-anak. Sesampainya disana aku menuju salah satu kedai yang menjual roti bakar. Pada suatu malam aku bermaksud mengajak keponakanku datang ke pasar malam ini, maklum waktu itu kota ini masih minim dengan tempat hiburan. Setelah lelah mencoba aneka permainan aku, Kakak dan Keponakanku mampir ke kedai ini untuk memesan roti bakar. Kami terlibat dalam perbincangan hangat dan yang menjadi topik utamanya adalah tingkah laku lugu Keponakanku yang selalu mengundang gelak tawa.

“Mas, ini roti bakar isi kacang pesananya.” sapa si pemilik kedai sembari meletakkan seporsi roti bakar yang kupesan tadi.

“Terimakasih Pak.” Jawabku dengan sedikit panik karena mulai datang tadi aku hanya duduk sambil melamun mengingat-ingat kenangan dulu saat kami bertiga bercanda ria di kedai ini.

Aku mulai menikmati roti bakar pesananku, tak ada yang istimewa dengan rasa roti bakar ini, rasanya hampir sama dengan roti bakar yang dijual di kedai lainya. Saat menggigit roti bakar tersebut tanpa kusadari air mataku meleleh turun melewati pipiku. Seketika kuusap dengan kedua tanganku, tetapi semakin lama air mataku turun semakin deras bahkan kedua tanganku tak mampu lagi mengusapnya. Kerinduan dalam hatiku seketika pecah malam itu, aku seperti kembali hadir pada hari dimana Kakaku harus pergi untuk selamanya. Saat itu bayangannya seperti muncul dihadapanku lalu ia melambaikan kedua tangannya. Sungguh sesak dada ini dan aku pun menangis sejadinya. Hari ini aku larut dalam peristiwa yang menguras emosi, dimulai saat datang ke pantai Biru lalu ke toko baju dan puncaknya di kedai roti bakar ini. Rinduku yang menderu-deru bukannya padam tetapi semakin membara. Seperti ada secuil sesal dengan perjalanan napak tilas ini, tapi sudahlah semuanya sudah terjadi. Harapku hanya Kakakku bahagia di alam abadi sana dan semoga kelak kami akan dipertemukan lagi di Surga, itu saja.

Tentara di Surga Himalaya

“Bila ada kepingan Surga yang singgah di dunia ini, maka aku tak ragu untuk mengatakan di Kashmir lah tempatnya,” demikian seorang sahabatku berucap. Mata kepalanya menjadi saksi, bagaimana Kashmir telah memikat hatinya yang terdalam. Oh iya, bukan hanya dia, melainkan siapapun yang pernah menginjakan kakinya di sana!

Atas dorongan kalimat itulah aku dan keluarga menguatkan niat. Perencanaan menggali keindahan alam di barisan pegunungan Himalaya ini dicanangkan jauh-jauh hari. Hingga akhirnya, jelang tengah hari siang itu…

Awak pesawat Air India yang kami tumpangi mengumumkan bahwa pendaratan di Bandara Srinagar dilakukan sekitar tiga puluh menit lagi. Sesaat selepas pengumuman itu berlalu dari pendengaran kami, para Kashmiri (panggilan untuk masyarakat Kashmir) mulai mengenakan jaket-jaket tebal mereka.

“Suhu minus dua, Brother. Siapkan bajumu,” Faizan, lelaki Kashmir seperjalanan kami dari Delhi mengingatkanku.

Aku, istri, dan anakku, para manusia tropis ini tergopoh-gopoh mengenakan jaket yang sebenarnya jauh dari kata memadai untuk menghadapi suhu minus. Tapi sudahlah, apa yang ada kami kenakan, dan segala resiko atas kurangnya persiapan ini akan diceritakan pada bagian selanjutnya dalam buku ini.

Di saat para Kashmiri mulai menata duduknya kembali, tiba-tiba istriku menunjuk ke arah jendela.

Masya Allah!” katanya spontan.

Aku menoleh. Kulihat sensasi dari pandangan penglihatanku. Luar biasa kekaguman memuncak. Ungkapan syukur tak henti terpanjat teriring takjub atas segala tangkapan pandangan mata yang sama sekali asing, namun keindahan teramat luar biasa ini sulit rasanya dilukiskan dengan kata-kata.

Dari jendela pesawat kulihat barisan pegunungan Himalaya tersaput salju. Sebagian gugusannya berwarna kehijauan, sebagian terlihat lebih pekat. Kabut tipis menyapu membingkai penciptaan sempurna Sang Khalik.

Pesawat terbang merendah, kulihat liukan aliran sungai membelah putihnya salju, pepohonan cemara yang berdiri tegar dalam saputan salju menampilkan mozaik kecoklatan dari dahan-dahan dan batangnya menampilkan keelokan rupa tiada banding. Atap perumahan yang memutih, gambaran hitam panjang jalanan kota perlahan terlihat jelas di tengah putihnya salju yang menghampar.

Sungguh indah bukan kepalang! Shahih! Demikian aku benarkan apa yang disampaikan sahabatku’ “Tanah ini seumpama kepingan Surga yang ada di dunia!”

Kebahagiaan kami semakin membuncah ketika pesawat telah mendarat dengan sempurna, serta pintu keluar dibuka. Tak sabar rasanya menginjakan kaki di tanah yang kami impikan; Kashmir!

Selangkah melewati pintu pesawat, udara dingin segera menyerbu. Mencucuk kulit tropis kami yang mulai merasakan kepayahan untuk menahan suhu minus dua ini. Namun sungguh, keudikan kami sekeluarga yang baru merasakan sensasi musim dingin ini mengalahkan itu semua.

Udara yang keluar dari indra pernafasan kami terlihat seperti asap. Bukannya mencoba bersikap biasa, kami justru memonyong-monyongkan mulut kami ketika mengeluarkan nafas. Banyak tatapan mata keheranan menyapa kami, tapi tetap saja kami tak acuh. Semua itu kami hentikan sesaat sebelum memasuki ruang bandara.

Kegirangan kami mulai hilang tatkala memasuki ruang bandara. Nuansa tegang menyelimuti hati kami tatkala melihat tentara-tentara bersenjata berat dengan jumlah sangat banyak bersiaga penuh di hampir setiap sudut ruang bandara.

Kami masih berdiri tak jauh dari pintu masuk ruang kedatangan. Sejenak kami melihat situasi sambil menenangkan diri. Pandangan kuputarkan mencari dimana konter petugas imigrasi, namun juga belum ditemukan.

Tourist?” seorang tentara India dengan senjata berat mendatangi kami.

“Ya, Pak,” aku menjawab singkat.

Tentara itu memberikan isyarat kepada kami untuk mengikuti langkahnya. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kami sampai di depan sebuah meja. Tak ada seorang pun petugas di sana.

“Tunggu di sini,” kata Tentara tadi. Wajahnya masih saja datar. Taka da senyum sedikit pun.

Tak lama ia kembali, di tangannya selembar kertas yang langsung disodorkan kepadaku.

Sesaat setelah kuterima kertas dari tentara itu, Faizan dan Asif kulihat mendatangi kami dengan ransel di pundak masing-masing.

Kudengar Faizan berbicara dengan bahasa Hindi kepada tentara itu.

“Kami akan membantumu, sampai tempat dimana kamu akan menginap,” Asif berbicara kepadaku.

Ia mendampingiku mengisi lembaran kertas untuk diserahkan ke meja imigrasi yang ternyata hanya dijaga oleh seorang wanita paruh baya berjilbab.

Dengan ramah ia bertanya tujuan kami, dan dari mana kami berasal. Sebelum jauh mendalami karakter para Kashmiri, pada awalnya aku mengira bahwa petugas imigrasi itu baru mendapatkan hadiah, atau baru menimang cucunya yang baru lahir sehingga sedemikian hangatnya ia menyambut kami.

Which from?

“Indonesia, Madam,”

Oh yes. Indonesia… plane crash, earthquake, and… muslim! Right?” katanya berbinar.

Memahami gelagat ini istriku segera menjawab,

“Muslim, Madam. Muslim,”

Kulihat senyumnya semakin lebar. Tak ada pertanyaan khusus lainnya selain mengucapkan salam dan mengucapkan penyambutan kepada kami.

Assalamu’alaikum. Welcome to Srinagar. Enjoy your trip,” ucapnya sumringah.

Tak lama setelah ia memberikan stempel di passport kami, Asif juga mengucapkan penyambutannya kepada kami.

“Selamat datang di Surga, Brother,” katanya tertawa.

“Surga? Mana ada tentara di Surga?” aku menjawab sambil menggamit ranselku. Kami tertawa bersama sambil berlalu.(*)

Salam sukses bersama!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day21