Karena Tak Ada Menu “Pause”

Hari ini, 15 Syawwal 1439 Hijriah. Pekan kedua pasca Ramadhan. Ah, Ramadhan? Tamu Agung itu baru saja berlalu. Ada yang melepasnya dengan sedu sedan, ada yang melepasnya dengan gembira, bahkan ada yang melepasnya begitu saja -barangkali dapat digambarkan seperti tak terjadi apa-apa-; “Yang sudah pergi, biarlah pergi!”, mungkin begitu katanya.

Kebaikan, senyum ramah, jiwa pemaaf, kuantitas dan kualitas ibadah, serta berbagai pengharapan dibingkai utuh, penuh bersama Ramadhan. Kita seolah tak hendak kehilangan sedetik saja, apalagi sampai berhitung hari dan jam untuk melakukan sebuah kebaikan. Pintu rahmat, ampunan, dan kebaikan yang dilipatgandakan seumpama magnet yang terus dilekatkan di dalam hati, sehingga motivasi berlipat itu muncul tiada terkira besarnya.

Hal-hal di atas baru dari tataran pribadi. Secara lingkup sosial tak kalah kerennya. Tempat-tempat hiburan malam tutup. Meski sebagian masih buka, tetapi dibatasi pada jam-jam tertentu saja. Kondisi masyarakat pada umumnya kondusif. Bahkan warung-warung makan banyak yang tutup demi menghormati kaum muslimin yang menunaikan ibadah puasa.

Melalui corong-corong speaker Masjid, lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an hampir 24 jam berkumandang silih berganti. Kedermawanan meningkat drastis. Anak-anak yatim, kaum dhuafa, hingga madrasah-madrasah, serta saudara seiman di Suriah, Palestina, dan belahan dunia lainnya yang sedang dalam penjajahan serasa mendapat “Bapak Angkat” yang datang silih berganti turut memikul beban. Sekali lagi, Ramadhan memang luar biasa berkahnya.

Dan… ternyata Ramadhan harus berakhir pada waktunya! Pergi! Bahkan seolah membawa sebagian aktivitas yang dikerjakan di dalamnya. Sementara itu, “argo” kehidupan masih tetap akan berlanjut, ia tak memberikan menu pause sehingga kita memasuki Ramadhan di tahun berikutnya.

Menu pause juga tidak berhenti untuk kehidupan anak-anak yatim, kaum dhuafa, hingga dera nestapa yang menimpa anak-anak kita di Suriah, Palestina, dan belahan dunia lainnya yang berada dalam penjajahan, yang jadi masalah adalah munculnya gajala lemah semangat dalam beribadah, sehingga amaliyah-amaliyah di bulan Ramadhan tak terbawa sepenuhnya di luar Ramadhan.

Adalah para salafush shalih, mereka ternyata orang-orang yang lekat dengan semangat Ramadhan di luar maupun di dalam bulan Ramadhan itu sendiri. Lathaiful Ma’arif yang disusun oleh Ibnu Rajab mengupas perihal para salafush shalih sepeninggal bulan Ramadhan.

Terdapat hal-hal yang menarik dalam pelaksanaan ibadah para salafush shalih di bulan Ramadhan khususnya. Ternyata, di tengah tingginya kualitas dan kuantitas ibadah dalam bulan Ramadhan, para manusia generasi terbaik di kalangan umat ini memiliki rasa takut yang sangat tinggi. Rasa takut yang selalu menjadi tanya; “Apakah ibadah di bulan Ramadhan diterima oleh Allah swt?

Melalui pertanyaan itulah, para salafus shalih bermohon dengan penuh harap tidak kurang dari enam bulan lamanya supaya ibadah mereka diterima oleh Allah swt. Dimana pada enam bulan berikutnya digunakan mereka untuk bermunajat supaya dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Hal itulah salah satunya yang membuat mereka membawa semangat Ramadhan saat berada di luar bulan Ramadhan. Sehingga gerak laku kehidupan di luar Ramadhan selaras dengan kesibukan yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Tentu saja, ini hanya sekelumit kelebihan para salafus shalih dalam mengaplikasikan semangat Ramadhan. Kelebihan yang bukan hanya didasari rasa takut tidak diterimanya amal kebaikan. Melainkan rasa takut akan kehadiran Malaikat Izrail, yang datangnya juga tidak bisa di-pause.

Lalu bagaimana dengan kita? Semoga semangat Ramadhan terus bisa dipupuk dalam diri. Tentu saja, karena hidup tak bisa di-pause, sebagaimana ajal yang pasti akan datang. Wallahu a’lam. (*)

Petropolis, 29 Juni 2018

Kang Ewa

Always Be Happy

Eko Jun

Kapten Jack Sparrow (Pirates of the Carribean) selalu dihadapkan pada banyak masalah rumit, gawat dan besar. Dari dikejar – kejar sama mayat hidup hingga dikejar – kejar sama suku pedalaman, mau dimakan. Tapi dia menghadapi semuanya dengan canda tawa dan tingkah konyol. Dan dia berusaha tetap tenang dan mengumbar senyuman tapi akalnya terus berpikir keras meracik strategi.

Mungkin dia paham dengan filosofi angsa. Di atas permukaan air terlihat sangat anggun, tapi di bawah permukaan air kakinya terus bergerak tanpa henti.

Nasrudin Hoja (seorang tokoh sufi) juga selalu dihadapkan pada banyak masalah sulit dan rumit. Dari keledainya yang banyak ulah, istrinya yang sangat cerewet hingga sang raja yang terus menerus memberinya teka – teki aneh. Dengan kesabaran, kecerdikan dan sikap konyolnya, Nasrudin Hoja bisa mengatasi semua masalah itu dan mendapatkan banyak hadiah dari raja. Saat membaca kisah – kisah Nasrudin Hoja, kita pun dibuat tertawa di satu sisi sekaligus kagum di sisi lain.

Sebagian aktivis dakwah, ada yang terlalu serius dalam menghadapi semua persoalan. Seolah tidak ada ruang untuk berpikir santai dan melepas energi kekanakan yang ada dalam dirinya.

Sekali waktu, isilah ruang hati dengan canda tawa. Terlalu serius, tidak lantas membuat kita jadi orang alim. Canda tawa yang sewajarnya juga tidak akan membuat kita jadi orang pandir. Memang benar ada Syaikh Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdul Azis yang banyak menangis, tapi jangan lupa ada Syaikh Ibnu Sirin (ulama besar yang hidup sezaman) yang banyak tersenyum.

Menghadapi masalah dengan muka serius? Ah itu sudah biasa.
Menyelesaikan masalah dengan canda tawa? Nah, itu baru luar biasa.

Fahri Bukan Superman

|| Kontributor: Anugrah Roby Syahputra ||

Fahri Abdullah kembali jadi buah bibir. Film yang mengisahkan perjalanan kehidupan lelaki Jawa ini kembali tayang di layar lebar. Ya, “Ayat-Ayat Cinta 2” kembali melanjutkan fragmen perjuangan alumni Al Azhar ini yang sepuluh tahun lalu sukses meraup 3,7 juta penonton.

Sederet artis kenamaan pun tampil. Mulai dari Fedi Nuril, Chelsea Islan, Tatjana Saphira, Pandji Pragiwaksono, Arie K. Untung hingga Dewi Sandra.

Sejumlah apresiasi hadir menghampiri. Di antaranya dari Ketua MUI KH Makruf Amin dan Mantan Presiden Prof. BJ Habibie. Bagi mereka film ini membawa banyak pesan positif: tidak hanya soal cinta tapi juga perdamaian, keberagaman dan toleransi.

Namun garapan sutradara Guntur Suharjanto ini bukannya tanpa cela. Beberapa review pedas penuh umpatan kasar dan koleksi kebun binatang sempat viral di laman maya. Di twitterland, tanda pagar #nikahiakufahri juga menjadi trending topic sebagai bentuk sindiran sarkas.

Tak dapat dipungkiri, sejumlah kelemahan memang nyata ada dalam penggarapan film ini. Salah satu yang amat fatal adalah adegan face off yang dianggap mencederai nalar ilmiah publik.

Selebihnya saya menduga ada andil kekurangcermatan mengalih bentuk dari konten novel yang amat padat (690 halaman) menjadi film yang (hanya) berdurasi 102 menit.

Nah, salah satu obyek kritik (yang menurut sebagian pegiat film hanyalah “kegundahan emosional” belaka karena belum memenuhi syarat akademis) adalah tentang profil Fahri yang dianggap layaknya superman tanpa cela.

Ia adalah sosok ideal nan langka yang dirindukan banyak wanita: tampan, cerdas, kaya dan shalih sekaligus. Wajar kalau dari 2 juta penonton per 31 Desember 2017 itu didominasi kaum hawa yang mengidentifikasi diri sebagai jomblo fi sabilillah pendamba imam shalih nan setia.

Terkait hal ini, saya teringat saya tulisan Ustadz Salim A. Fillah dalam buku yang disusun Anif Sirsaeba berjudul “Fenomena Ayat-Ayat Cinta”. Dalam sebuah bedah buku bersama budayawan Maman Mahayana, Ustadz Salim Salim melontar kritik bahwa “satu-satunya kelemahan novel ini adalah tokoh utamanya tidak punya kelemahan.”

Kemudian Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy, sang penulis novel) menjawab dengan redaksi yang kurang lebih begini:

“Antum salah, Akhi. Di Mesir, yang jauh lebih baik dari Fahri itu banyak.”

Ustadz Salim kemudian terhenyak. Apalagi saya yang cuma remah-remah rengginang di kaleng Khong Guan.

Ya, kita memang sering mengukur orang lain dengan diri kita. Mungkin kita menuduh Fahri itu superman karena diri kita yang tak pernah menemui pribadi semacam itu dalam  hidup kita.

Karena teman-teman kita, lingkungan kita amat kering keteladanan, maka kita anggap pribadi Fahri adalah fantasi saja. Semacam utopia yang dipelihara untuk menyambung asa.

Padahal sebenarnya orang baik itu sangat banyak, hanya saja kita tak mengenalnya. Bisa jadi karena lingkar pertemanan kita yang terbatas sedangkan figur-figur shalih itu jauh dari publisitas. Dia tak populer di dunia, tapi viral di langit.

Sampai-sampai Kang Abik dalam sebuah acara menegaskan kalau saja Fahri hidup di zaman Imam Syafi’i maka dia “nggak akan dianggap”. Sama Syaikh Muhammad Al Ghazali yang kontemporer saja Fahri itu tidak ada apa-apanya.

Konon lagi dibanding Imam Nawawi. Ia justru sengaja menampilkan tokoh Fahri yang dianggap ideal itu karena masyarakat telanjur dijejali contoh-contoh yang tidak baik (termasuk dalam novel dan film). Beliau percaya contoh tersebut merupakan polusi bagi idealisme kita.

By the way, Fahri masih banyak cela loh. Buktinya dia masih bisa-bisanya diceramahin pengemudi pribadinya sendiri, Paman Hulusi.

Apapun akhirnya, jadikanlah setiap kisah sebagai cambuk motivasi pelecut semangat diri untuk senantiasa lebih baik lagi, meski itu cuma fiksi.

Salam hangat.

Kebaikan Tak Selalu  Bersama

 

 

Jangan berbicara tentang rindu

Kata-kata itu akan membuatku sendu

Karna sejatinya hati kita masih padu

Meski tampaknya kita beradu.

 

Siapa bilang kita berpisah?

Ini hanya soal beda langkah

Jalan ini harus dilalui penuh lelah

Teruslah berjalan dengan gagah.

 

Tak selamanya…

Realitas sejalan dengan idealisme

Kenyataan seindah keinginan

 

Aku tak mau berandai-andai

Andai kursi kita cukup…

Andai kita punya tokoh yang…

Andai kita punya dana memadai…

Andai kita bersatu satu suara…

 

Aku hanya mau berkata

Kebaikan tak selalu bersama

Kadang ia terpisah jauh dengan kekuatan.

 

Bukan Tuhan tak tahu keadaan

Tapi Tuhan menginginkan kita faham

Bahwa kebenaran perlu disokong persatuan.

 

Di sini, Aku masih setia

Setia menyaksikan panggung

Semoga kita beruntung.

 

#M4SBudi

Antara Laksamana Cheng Ho, Ustadz Felix Siauw dan Bangil

|| Kontributor: Enjang Anwar Sanusi ||

Banyak yang bahas soal pengusiran Ustadz Felix Siauw saat mengisi pengajian di Bangil Pasuruan oleh Banser NU. Buat saya pribadi, hal ini mengingatkan pengalaman saat berkunjung ke Bangil bulan Maret 2017 lalu.

Kunjungan ke Bangil Pasuruan itu buat saya sangat berkesan, tiga hari disana banyak pengalaman menarik.

Pas turun di Bandara Juanda, saya dan istri dijemput travel dari Bangil. Nah, sopir travelnya itu santri pesantren. Dia datang ke bandara dengan kostum sarungan.

Di perjalanan menuju Bangil, kami ngobrol banyak hal. Dia cerita sudah mondok di pesantren dari masih SD. “Nih seumur anak sampean, saya udah mondok”.

Di perjalanan pula, dia banyak cerita soal rencana kunjungan Habib Rizieq Shihab ke Bangil.

“Habib Rizieq mau ke Bangil lho mas,” kata dia.

Saya memilih diam sejenak. Sempat menduga-duga dulu, beliau termasuk yang suka atau nggak suka dengan jalan yang ditempuh Habib Rizieq.

“Tapi kalau pesantren saya sih, gak boleh keluar santrinya pas Habib nanti datang,”

Tuh kan..

“Gak boleh datang mas. Santri-santri gak boleh keluar. Soalnya kalau ada yang keluar nanti ada yang gak sampai ke lokasi. Nanti mereka ada yang belok ke warnet, ada yang belok ke bioskop. Biasanya nanti kyai di pesantren minta habib datang langsung ke pesantren, gak sekarang. Bisa bulan depan atau kapan-kapan, tapi biasanya datang.”

Ouw. Salah kuduga 😀

Pas udah sampai di lokasi, di kampung itu.. banyak tanda-tanda keturunan Arab. Jarak antar mushola atau masjid pun berdekatan. Pertama kali sampai, saya sholat di mushola NU. Terlihat dari ornamen mushola seperti bintang sembilan dan tradisi setelah sholat selesai. Di waktu sholat berikutnya, saya memilih mushola yang tepat berada di belakang rumah tempat menginap. Banyak wajah-wajah Arab di mushola itu. Dari kedua mushola ini, banyak perbedaan tentunya, namun saya mendapatkan hal yang sama. Nyaman, bersih dan keramahtamahan mereka pada tamu.

Hari berikutnya saat jalan-jalan ke Taman Safari Jatim, saya banyak ngobrol dengan sopir travel lagi. Ternyata mas sopir travel itu paham betul dengan materi ormas Islam, golongan, manhaj, fikrah dan sejenisnya.

“Di Bangil sih hidup semua mas. Disini ada NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, semuanya ada. Syiah juga ada disini. Punya pesantren besar. Nanti saya tunjukin di jalan ya pesantrennya. Salafi ada, HTI saya juga tahu, suka nganterin mahasiswa dari Malang. Partai politik Islam juga, disini PKB banyak, PKS juga punya basis kuat,” kata Mas Sopir.

Saya bertanya, itu gak suka ada yang berantem mas? Itu Syiah gimana kalau bikin acara?

“Ya, udah biasa sih disini beda-beda sama tetangga. Kalau syiah sih kalau ada acara sudah banyak yang jagain dulu,” katanya.

Ia juga sempat menjelaskan soal rencana kedatangan Habib Rizieq. “Itu Habib sempat gak boleh datang. Spanduk-spanduknya diturunin. Eh tapi kyai-kyai senior turun tangan minta acara Habib gak boleh diganggu”.

Pulang dari Taman Wisata itu, saya diajak ke Replika Masjid Cheng Ho di Pandaan (kalau gak lupa nama daerahnya).

Masjid serba merah itu dibuat oleh Bupati Pasuruan untuk mengenang jasa dakwah Islam Laksamana Cheng Ho, seorang panglima perang pasukan Tionghoa yang pernah singgah di Surabaya dan menyebarkan Islam. Saya sholat ashar disitu..

Ustadz Felix Siauw..
Laksmana Cheng Ho..
Bangil..
Tionghoa..
Muslim..

Kok banyak kesamaannya ya?
Tapi?

Semoga di kesempatan selanjutnya, ada ruang dialog, ada ngobrol-ngobrol sambil minum kopi. Di selasar masjid itu. Antara Ustadz Felix Siauw dan Banser NU tentunya.

Semoga!

Bekasi, 5 November 2017

Arus Kebersamaan

|| Kontributor: Kang Ewa ||

Sungguh tiada penciptaan Allah swt yang sia-sia di muka bumi ini. Kalau lah tidak mengandung unsur kegunaan secara fisik, setidaknya penciptaan Allah swt tersebut memiliki kegunaan secara makna, yakni sebagai petunjuk, tamsil, atau pengingat untuk setiap hambaNya.

Salah satu tanda ketidaksia-siaan ini ada pada air yang ada disekeliling kita. Air menjadi asal tumbuhnya manusia di alam rahim, menjadi penyejuk bumi yang menghampar, penyegar jasad yang dahaga, hingga menjadi petaka apabila terlalu besar datangnya.

Air ketika kecil, ia menjadi sahabat yang menyenangkan untuk diarungi, bahkan untuk direguk kesegarannya. Namun tatkala membesar, ia akan menjadi arus yang bisa melabrak dan menenggelamkan siapa saja, bahkan kekuatannya tak terbendung.

Dalam perjalanannya, air yang mengalir di sungai adalah air yang mengalir dalam jumlah banyak. Dengan jumlahnya ia memberikan manfaat kepada seluruh mahluk. Ia dinikmati tetumbuhan sebagai bekal bertumbuh-kembang, dinikmati binatang dan manusia sebagai penopang kehidupan, serta menjadi penyeimbang alam sehingga memberikan kesejukan.

Pengecualian dari manfaat itu semua adalah bencana. Air yang bergerak dalam jumlah besar bukan hanya merepotkan manusia, tetapi menjadikannya sebuah bencana yang bisa berakibat hilangnya nyawa, harta, benda, serta sebuah tatanan masyarakat. Tsunami di Aceh, banjir bandang di Bengawan Solo, serta air bah yang melanda kaum Nabi Nuh as adalah sebuah isyarat, bahwa air dalam jumlah besar tak selamanya bersahabat dengan manusia.

Mengambil perumpamaan air, arus pergerakan umat Islam tidak kalah hebatnya. Dua hari lalu, Zionis Israel menyerah. Mereka membuka gerbang Masjid Al Aqsha dan melepas seluruh metal detektor lengkap dengan gerbang elektroniknya. Tentu saja, ini semua dilakukan atas desakan seluruh umat Islam di berbagai penjuru bumi ini.

Kemudian “bencana” dari kebersamaan umat Islam baru-baru ini paling hebat dirasakan oleh salah satu produsen roti. Aksi boikot umat Islam di Indonesia akibat sikap direksi pabrik roti tersebut berbuntut panjang. Bukan hanya dicap sebagai pabrikan yang tidak pro umat Islam, melainkan juga turunnya nilai di bursa saham serta kerugian secara materi, memberikan indikasi bahwa sebuah persatuan yang besar tidak bisa dianggap main-main dalam memberikan efek negatif terhadap sesuatu.

Dari kejadian-kejadian di atas, umat Islam tak ubahnya air. Ketika ia bersatu dan menuju ke satu titik tujuan bersama, maka manfaat besar akan didapat. Tetapi sebaliknya, ketika bersatu untuk menyelesaikan suatu perkara yang bisa memberikan dampak negatif, kerugian pabrik roti dengan market share terbesar di Indonesia tersebut tentu bisa dijadikan contoh nyata.

Saat ini, umat Islam bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia dibutuhkan untuk memiliki kesatuan yang utuh. Banyak masalah-masalah besar keumatan yang menanti untuk dituntaskan. Penindasan rezim Syiah Bashar Asad di Suriah, pembantaian dan teror kepada umat Islam di Xinjiang dan penjajahan di bumi Palestina menunggu untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Semoga, semangat persatuan umat Islam akan semakin bergelora. Tentu saja perbedaan pendapat, sikap, dan kebijakan tidak dapat dipungkiri, tetapi perlu diingat, bahwa kita berasal dari “mata air” keimanan yang sama, “mengalir” dalam syariat yang sama, serta akan “bermuara” pada kepentingan yang sama yakni; kejayaan Islam.

Itulah yang kita harapkan segera tumbuh di dada umat ini; sebuah arus kebersamaan yang akan membawa kepada perubahan. Aamiin (*)

Semoga sukses bersama!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day24

#Air #Motivasi #Inspirasi #edukasi #jamaah #Islam #Muslim

Ngalalakon

|| Kontributor: Kang Ewa ||

Ngalalakon (Sunda:red.) merupakan sebuah kata yang memiliki pengertian; sekedar menjalankan. Menjalankan skenario atau sebuah jalan cerita yang telah berisi ketetapan-ketetapan Ilahiah. Dimana masing-masing kita adalah lakon atau pelaku yang mengejawantahkan setiap aturan yang ada di dalam kehidupan.

Sebagai seorang lakon, tentu saja kita semua dibekali dengan segala bentuk fasilitas untuk menunjang laku. Dimana skenario dalam kehidupan tempat kita ngalalakon ini akan selalu taat kepada hukum sebab akibat.

Ketika seseorang mengambil lakon antagonis, maka sejatinya ia telah mengambil jalan untuk kemiskinannya. Apabila tidak miskin harta, sejatinya ia telah memiskinkan hati, iman, dan moralnya.

Sebaliknya ketika seseorang mengambil peran protagonis dalam hidupnya. Ia akan bergelimang bahagia, meski tak melulu bersanding harta di sekelilingnya. Ia bisa kaya dalam konteks hati, bisa juga lapang dalam jiwa.

Manusia sebagai individu yang sedang ngalalakon pada hakikatnya memiliki tujuan akhir untuk meraih kebahagiaan, bukan hanya di dunia, melainkan di kehidupan pasca kehidupan fana ini, yakni kebahagiaan di kampung akhirat kelak.

Namun demikian, tak sedikit pun Allah swt memaksa. Individu yang ngalalakon hanya diberikan sebuah rambu-rambu dan aturan yang jelas dimana ditegaskan; jalan hidup itu pilihan! Bila baik, maka kebaikan pula sebagai imbalan. Apabila buruk langkah ditempuh, kesusahan pula sebagai balasan.

Sekali lagi terserah! Lakon bukan hanya tinggal lakon tanpa karakter. Entah itu protagonis atau sebaliknya. Yang pasti, kita semua harus memilih. Karena saat ngalalakon pun memiliki batas waktu sesuai kehendak Sang Pencipta yang memberi titah kepada kita untuk ngalalakon.

So, ada dimana, mau apa, dan untuk apa kita berada sejatinya harus diperjuangkan supaya senantiasa berada dalam kebaikan. Supaya perjalanan kita dalam ngalalakon tidak sia-sia. Semoga! (*)

Salam Sukses Bersama!
#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day20

Saya Hanya Butuh Dua Puluh Satu Hari!

“Anda hanya butuh dua puluh satu hari untuk menyadari bahwa anda begitu amazing!”

Demikian kata dr. Andyka Sedyawan, penulis buku Amazing You! yang juga pendiri AmazingYou Institute ini. Saya mengikuti kelas beliau beberapa tahun lalu, tetapi kalimat ini masih terus terekam dalam benak saya.

Dr. Andhyka menjelaskan bahwa apa yang kita tanyakan akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita ucapkan, apa yang kita ucapkan akan menjadi tindakan kita, lalu tindakan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakter. Demikianlah karakter seseorang dibentuk.

Bila seseorang berpikir sesuatu yang positif, ia akan berkata positif, bertindak positif, memiliki kebiasaan positif, hingga memiliki karakter yang positif. Adapun masa dua puluh satu hari ini adalah bentuk latihan untuk membentuk itu semua. Apabila dalam dua puluh satu hari ini terlewatkan sehari saja, maka harus diulangi dari awal. Begitu latihannya.

Dalam penelusuran saya demi menguatkan pendapat dr. Andyka ini, masa dua puluh satu hari sendiri salah satunya tertuang dalam Jurnal European Journal of Social Psychology yang dirilis Phillippa Lally dari University College London. Phillippa menyebutkan bahwa untuk menciptakan habit atau kebiasaan seseorang harus melakukan hal yang sama setidaknya dalam waktu dua puluh satu hari hingga enam puluh enam hari.

Pendapat lain dikemukakan oleh seorang ahli bedah plastik bernama Dr. Maxwell Meltz tahun 1960. Maxwell mengungkapkan hasil observasinya terhadap para pasien yang telah selesai diamputasi. Ia menyimpulkan, bahwa proses adaptasi bagi pasien pasca amputasi terhadap kehilangan sebagian anggota tubuhnya serta membentuk kebiasaan baru adalah dua puluh satu hari.

Dalam pemaparan materinya dr. Andhyka menyebut bahwa sejatinya tidak ada orang yang kurang cerdas atau kurang beruntung, yang ada hanyalah orang-orang yang kurang memiliki motivasi. Kekurangan motivasi inilah yang pada akhirnya membawa seseorang gagal dalam mencapai satu titik yang ia inginkan. Bisa jadi titik itu berupa sebuah kesuksesan, kebahagiaan, atau sebuah pencapaian tertentu.

Hal ini berlaku umum, tidak ada pengecualian bagi para penulis sekalipun. Ali Muakhir, penulis serial anak sekaligus Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (FLP) mengaku merasakan beratnya berproses menjadi seorang writerpreneur, setelah sebelumnya menjadi orang kantoran.

Kejadian yang sama dialami sahabat saya Erwyn Kurniawan, beliau berkisah bahwa proses menjadi seorang writerpreneur memang berat, tapi bukan berarti tak bisa dilalui, salah satunya dengan motivasi berlipat serta fokus pada tujuan.

Untuk memuluskan jalan mencapai cita-citanya, Ali Muakhir membuat jadwal kegiatan sehari-hari untuk bisa tetap eksis berkarya, termasuk di dalamnya kapan ia harus menulis. Dua puluh satu hari menjadi ajang berlatih bagi Ali. Kantuk, lelah, dan banyak hal yang ia rasakan menjadi rintangan dalam memantapkan tujuannya sebagai seorang writerpreneur.

Ali Muakhir dengan segala perjuangannya berhasil menaklukan tantangan dirinya untuk menjadi seorang writerpreneur. Karyanya saat ini bertebaran di banyak toko buku ternama, bahkan mungkin juga salah satunya ada di lemari buku kita.

Kang Erwyn tak kalah hebat, untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang writerpreneur, beliau memutuskan berhenti bekerja, mengalami penurunan income, serta mendapati tantangan lain yang tak kalah berat. Saat ini, beberapa bukunya sudah beredar luas di negeri ini, bahkan ke luar negeri. Sekali lagi, kuncinya ketekunan dan semangat yang dijaganya terus menerus.

Sekelumit kisah perjuangan para penulis di atas, sungguh memberikan secercah harapan bagi saya. Bahwa untuk menjadi seorang penulis sejatinya saya hanya perlu terus menjaga semangat, fokus terhadap cita-cita, dan terus berproses, setidaknya dalam dua puluh satu hari secara terus menerus.

***

Terakhir, dalam kepesertaan saya di 30 Days Writing Challenge (DWC), saya mengajukan pertanyaan kepada Mbak Sari yang mengemban amanah sebagai General di 30DWC ini.

“Di pekan ke berapa para penulis mulai kehilangan semangat atau banyak yang DO (drop out), Mbak?”

Satu jawaban beliau yang membuat saya termotivasi untuk terus merenung dan meningkatkan semangat,

“Pekan kedua biasanya sudah banyak yang tumbang,” begitu kata beliau.

Mendapati jawaban Mbak Sari, saya langsung teringat dr. Andhyka Sedyawan tentang dua puluh satu hari mengubah karakter. Bisa jadi, saya tidak butuh tiga puluh hari untuk menyelesaikan tantangan menulis di 30DWC ini. Mestinya saya hanya butuh dua puluh satu hari saja!

Kenapa dua puluh satu hari? karena pada hari ke-22 sampai hari ke-30 saya tidak lagi harus mengais-ngais alasan untuk tidak menulis, melainkan saya sudah menjadi seorang penulis konsisten dan sadar yang terus berkarya dalam kondisi sesulit dan seberat apapun.

Pekan kedua, pekan yang sangat dekat dengan hari keduapuluhsatu. Hari dimana itu bisa jadi, justru menjadi titik awal timbulnya kontinuitas dalam menekuni dunia kepenulisan. Haruskah berhenti dan memupus harapan yang lebih besar? Atau bertahan memberangus segala rintangan?

Bagaimanapun ada cita-cita yang harus terus diperjuangkan. Cita-cita ingin meninggalkan warisan hasil olah pikir, meninggalkan karya yang turut mewarnai peradaban, serta manfaat diri yang tiada putus dengan menjadi seorang penulis.

Azzam saya, semoga selanjutnya tidak menjadi “Penulis Wanna Be“, yang hanya menunggu “nanti”, dan akrab dengan alasan “tapi”. Tapi penulis yang terus belajar dan tak henti menjaga motivasi. Semangat! (*)

Salam sukses bersama!
#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day10

Kilas Balik

Sejarah adalah peristiwa yang selalu berulang di setiap rentang waktu, substansinya sama dan yang berubah hanya aktor, lokasi, setingan dan waktu. Berkaitan dengan kekuasaan, kepemimpinan, keserakahan, ketamakan, keculasan, kedermawanan, keadilan sekaligus kenegarawanan, dalam catatan yang ada sejak dunia terkembang hanyalah kisah pergulatan antara yang baik dan yang buruk. Ada yang mampu dan berkaca dari sejarah mengambil ibrah, ada juga yang tidak.

Pada akhirnya waktu jualah yang akan menentukan siapa pemenang dan siapa pecundang. Sunatullah memberikan sinyal cukup jelas sebagai akhir cerita dalam seluruh rangkaian tersebut bahwa, kaum pecundang pada umumnya adalah kaum yang mengingkari kebenaran firman tuhannya, demikian pula sebaliknya. Dan jangan lupa, di dalam QS Al Mujadalah ayat 20 dikatakan bahwa orang-orang penentang Allah beserta Rasul-Nya adalah orang-orang yang hina.

Apa saja yang sudah dikatakan oleh Sang Khalik, adalah sebuah ketetapan yang harus diimani oleh manusia, karena firman Tuhan bukanlah sebuah hidangan prasmanan yang boleh dipilih dan diambil hanya yang disukai saja. Meski sulit, seyogianya menjadi manusia kaffah tentulah idaman setiap insan. Dengan arti kata semua ayat dalam kitab tak bisa dipilih-pilih mana yang akan diyakini, karena semua sudah given. Agama adalah pegangan hidup, memisahkan agama hanya untuk urusan tertentu saja berarti menafikan keberadaan agama itu sendiri.

Dan sungguh saat ini sebuah imaji melayang-layang di pelupuk mata, ketika Rasul lelaki perkasa itu detik-detik terakhir menjelang dipanggil Sang Maha Pencipta, sebuah ucapan kecintaan sekaligus kekhawatiran akan ummatnya, terucap dari mulut beliau: “ummatii, ummatii, ummatii”. Kekasih Allah itu akhirnya berpulang jua dan para sahabat, keluarga serta handai taulan larut dalam kesedihan tak kuasa meneteskan air mata.

Pada saatnya nanti pasti kita juga akan mengikuti jejak beliau. Lalu sebenarnya apa sih yang membuat kita ribut dan perebutkan selama di dunia ini? Selamat tinggal harta, selamat tinggal wanita, selamat tinggal tahta. Dan, ya Rasulullah, maafkan kami. “Ummatii, ummatii, ummatii”.

Androecia Darwis
Taman Yasmin, 16 April 2017

Money Monster

Awalnya kami hanya tertarik dari judul film dan pemerannya saja. Itu karena kami sepakat bahwa sekarang ini, uang memang telah berubah jadi monster. Terlebih pemeran utamanya adalah Goerge Clooney dan Julia Robert, yang sudah tentu memberikan jaminan akting yang prima. Mereka juga sudah pernah bermain bersama dalam film Ocean’s Eleven dan Ocean’s Twelve sebagai anggota geng The Proffesional Thief. Setelah kami tonton, isinya cukup menarik juga. Tapi berhubung sinopsisnya juga sudah banyak beredar, maka kami coba mengulasnya dalam bentuk yang berbeda.

Film ini menampilkan beberapa sisi gelap kehidupan di Amerika, yang polanya bisa jadi juga terjadi dibanyak negara termasuk di Indonesia. Pertama, tentang kejahatan media. Mereka membuat sebuah acara bertajuk investasi yang sukses menjadi referensi publik. Banyak publik yang ikut berinvestasi, sesuai dengan arahan pembawa acara. Usut punya usut, ternyata sang pembawa acara tidak terlalu mengetahui apa yang disampaikannya. Karena posisinya tidak lebih hanya sebagai “boneka” yang membaca naskah serta diarahkan oleh managernya.

Hal seperti ini jamak terjadi didunia media, baik berupa program berita, talkshow, gossip show dll. Mereka membombardir publik dengan beragam informasi, membius kesadaran publik dengan berbagai opini serta mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan masyarakat. Seolah mereka sangat tahu situasi dilapangan. Padahal yang terjadi, mereka hanya membaca narasi yang telah dibuat serta berakting sesuai arahan manager produksinya. Mereka hanya tahu bahwa dirinya tengah melakukan pekerjaan profesional, tanpa berpikir lebih jauh tentang dampak yang dibawanya kepada masyarakat. Menurut kami, talkshow yang sudah diframing serta kerja – kerja buzzer medsos juga masuk dalam kategori ini.

Kedua, kejahatan kaum tertindas. Ada orang yang jadi korban investasi karena mengikuti seruan acara ini, lalu bertindak nekad demi mencari penjelasan yang rasional. Dia datang ke studio, mengancam dengan bom serta minta terus disiarkan secara langsung. Bukan agar uangnya dikembalikan, tetapi ingin tahu bagaimana uang para investor dirampok oleh perusahaan sekuritas. Dalam teori kriminologi, kejahatan memang bisa terjadi sebagai reaksi atas kondisi sosialnya. Sebabnya beragam, dari jerat kemiskinan hingga tekanan hidup yang keras. Teori ini kita kenal sebagai Mazhab Chicago.

Tentu saja teori mazhab Chicago bukan satu – satunya alat analisis untuk membedah kriminologi. Buktinya, tidak semua orang miskin jadi penjahat. Namun analisanya memang tidak bisa kita kesampingkan begitu saja. Jika tekanan, himpitan, kesulitan terus menerus dialami, pasti satu atau dua ada yang akan meletup dan melakukan aksi – aksi nekad. Dalam hal ini, mereka tidak bisa langsung disalahkan karena hanya bereaksi atas keadaan yang menghimpitnya. Sebab – sebab pemicunya yang harus dipadamkan, agar api dan asapnya hilang. Perkembangan sosial politik di Indonesia juga berpotensi mengarah pada kondisi ini, jika tidak segera diterapi dengan benar, tepat dan tegas.

Ketiga, kejahatan kerah putih. Perusahaan sekuritas mencuri uang dari para investornya. Mereka berdalih ada kesalahan pada program algoritma yang berimbas pada hilangnya uang. Padahal uangnya dilarikan untuk membiayai kegiatan tambang dan pengkondisian masyarakat disekitar area pertambangan (demo). Aksi ini dilakukan dengan aman karena hanya diketahui oleh bosnya saja, sedangkan pihak public relation perusahaan hanya memberikan jawaban normatif dan prosedural kepada media. Karena pihak humas juga tidak tahu menahu dengan “keanehan” situasi tersebut.

Edwin Sutherland mendefinisikan kejahatan jenis ini sebagai white collar crime. Sebuah kejahatan yang dilakukan oleh pihak yang kuat, terhormat dan berwenang. Mereka berlindung dibalik prosedur perusahaan, tim pengacara yang hebat serta jaringan birokrasi yang luas. Jika kejahatan kaum tertindas adalah pemenuhan kebutuhan hidup, maka kejahatan kerah putih adalah wujud keserakahan dan dominasi. Operasinya jauh lebih aman ketimbang kejahatan jalanan, namun dampaknya sangat parah terhadap masyarakat, lingkungan maupun kehidupan ekonomi. Masuk dalam kerangka kejahatan kerah putih adalah manipulasi data, penyesatan informasi, suap terhadap pemegang kebijakan dll.

Film ini layak diapresiasi dengan positif. Selain akting yang prima dari George Clooney dan Julia Robert, juga karena mengangkat tema kejahatan kerah putih. Steven Seagal dalam film On Deadly Ground juga melakukan hal yang sama, yakni mengulas seputar perusahaan pertambangan yang mencemari lingkungan. Di Indonesia, sebenarnya banyak kasus – kasus seperti ini. Misalnya tragedi diteluk Buyat yang tercemar limbah mercuri, kerusakan lingkungan akibat penambangan Freeport dan jangan lupa,.. Reklamasi Teluk Jakarta. Semoga kelak ada sineas berkelas yang berani mengambil tema – tema seperti ini dalam industri perfilman nasional. Capek juga bolak – balik disuguhi tema cinta kan?