UJIAN TAK BERJEDA

Belum kokoh rumah saudaraku di Lombok, belum kering air mata di pipi..
Jerit tangis kehilangan nyawa, bergaung mengiris hati karena gelimpangan jasad tergerus arus Tsunami di Palu-Donggala..
.
Tak lama berjeda tanah Madura, Bali digoncangkan pula..
.
Apa salah kami?
Apa salah Ibu Pertiwi?
.
Terlalu banyak khilaf dan salah yang ku tutup-tutupi, aib yang terpampang nyata tapi sengaja dibutakan nafsu hewani..
.
Dan kini ujian sebenarnya di uji, gejolak keimanan dalam dada dibombardir oleh kelakuan oknum yang berniatkan suci..
Menjaga keutuhan NKRI..
.
Tak peduli apa maksud dan niat dalam hatimu wahai para bedebah!
.
Kalimat tauhid yang kau bakar itu..
Adalah kalimat pertama yang didengungkan Ayahku ketika aku lahir ke bumi..
.
Kalimat pertama yang orang tua dan guruku ajarkan sebagai tanda keimanan dan sahnya sholat kami..
.
Dan ketika anakku lahir kelak, kalimat tauhid itu pula yang diperdengarkan pertama kali ke gendang telinganya..
.
Dan kau tahu?
.
Kalimat tauhid itu yang akan menyelamatkanku dari api neraka jahannam, ketika nafas telah di ujung tenggorakanku dan malaikat maut siap menjemput..
.
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah muhammadarrasulullah..
.
Muĥammad:19 – Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Ida Ayu

Bandung, 25 Oktober 2018

ORANG YANG LEBIH KAYA DARI BILL GATES

By Andrie Wongso

Di kerumunan beberapa teman, pengagum dan wartawan, ada seseorang yang bertanya kepada Bill Gates, “Bill, walaupun semua orang tahu bahwa Anda adalah orang terkaya di dunia ini. Menurut Anda sendiri, adakah orang yang lebih kaya dari Anda, Bill?”

Di saat semua orang terperangah dengan pertanyaan itu, sambil matanya menerawang jauh, Bill Gates menjawab, “Ada. Hanya satu orang”. Jawaban yang mengejutkan semua orang di situ.

Begini kisahnya, lanjut Bill Gates.

“Bertahun-tahun yang lalu, waktu saya miskin, tidak punya uang sekadar untuk menyiapkan makan malam pun. Saya pergi ke bandara New York, melihat keramaian orang di sana dan membaca surat kabar yang digelar di sana, sekadar ingin mendapatkan lowongan pekerjaan. Sebenarnya, saya ingin membeli suat kabar itu tetapi ternyata koin saya tidak cukup. Saat menghitung koin itulah, tiba-tiba seorang anak kulit hitam memanggilku dan mengatakan,’Koran ini untuk Anda’.”

“Dengan sedikit malu saya berkata, ‘Tetapi koin saya tidak cukup.”

“Dia berkata , ‘Tidak masalah, saya memberikan kepada Anda, gratis!’”

“Setelah tiga bulan, saya pergi lagi ke bandara New York. Secara kebetulan cerita itu terjadi lagi, anak berkulit hitam yang sama, untuk yang kedua kali.”

“Lalu ia berkata, ‘Ambillah, tidak apa-apa. Saya akan memberimu keuntungan dari apa yang telah saya lakukan’.”

“Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa, setelah lewat 19 tahun, dan dari hasil perjuangan keras, saya sudah kaya raya. Saya memutuskan untuk mencari dan menemukan si anak kulit hitam penjual koran waktu itu. Saya menyadari bahwa saya pernah ‘berhutang’ kepadanya, setidaknya dua eksemplar surat kabar yang sangat berarti bagi saya. Ternyata dia sudah tidak ada di bandara New York menjual koran lagi.”

“Saya terus berusaha dengan berbagai upaya. Setelah satu setengah bulan mencarinya, akhirnya saya menemukannya. Masih dengan senyum yang sama, saya menatap senang dan bertanya kepadanya, ‘Hai bro, kenal saya?’

Dengan takjub dan suara terbata dia menjawab, ‘Iya, Anda sangat terkenal, namamu Bill Gates’.”

“Saya bilang, ‘Beberapa tahun yang lalu, kamu memberiku surat kabar gratis sebanyak dua kali. Sekarang, saya ingin membalas budi yang telah diberikan. Silahkan sebut barang apa saja, saya akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Biarkan hutangku lunas dan saya akan senang sekali mengabulkan’.”

“Sesaat pemuda kulit hitam itu mengingat dan tertawa sambil menjawab:, ‘Hahaha….Tentu saja Anda tidak bisa mengimbangiku!’”

“Saya bertanya, ‘Kenapa?’ Dia berkata, ‘Karena saya memberi Anda ketika saya miskin, sedangkan Anda ingin memberi saya ketika Anda jaya. Jadi bagaimana Anda bisa mengimbangiku?’”

Bill Gates bilang, “Saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dari situ. Bahkan setelah saya dinyatakan sebagai orang terkaya di dunia pun, hutang itu tak pernah bisa terlunaskan. Kurasa pria kulit hitam itu lebih kaya dariku.”

“Sekarang saya memiliki kesadaran baru, bahwa kita tidak harus menunggu kaya untuk memberi, karena sejatinya, adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. (Winston Churchill)

”Kita hidup dari apa-apa yang kita peroleh, tapi kita menciptakan kehidupan dari apa-yang kita beri.”

Nasehat Nan Indah dari Kepala Sekolah

Ibu, anaknya di pesantren? Bagus!
Sering menerima keluhan anak, setiap kali berkunjung atau menerima telepon, sampai waktu kunjungan yang diberikan pesantren habis hanya untuk mendengar serentetan masalah yang dialami anak anak kita.
Saya ucapkan, selamat! karena ibu masih dipercaya sama anak.

Loh? Tenang, begini penjelasannya.
Bagi orang tua, memasukan anak ke pesantren mungkin sebuah prestise, ada kebanggaan tersendiri saat berhasil memasukan ke sini,ibu mungkin merasa aman,apalagi di pesantren semuanya terjamin!

Makannya, kesehatanya, ibadahnya, dan yang paling penting, PERGAULAN.
Sebagian besar orangtua memasukan anaknya ke boarding school karena alasan terakhir ini.

Di tengah hiruk pikuk kota kota besar, pergaulan kawula muda yang sudah melampui batas, pacaran, narkoba, tawuran, free sex, LGBT, sampai pembunuhan di kalangan remaja!
Ngeri bu! Bahkan hanya sekadar dibayangkan,
Makanya saat ini pesantren dipercaya menjadi alternative untuk mengamankan anak anak kita.

Itu versi kita loh!
Bagaimana dengan anak kita,
Pernah bertanya, apa yang dirasakan?
Atau sekadar bersabar mendengarkan keluh kesah mereka selama disini?

Kalau anda tipe pendengar yang baik, Anda hebat! 4 jempol buat Anda, tapi tak banyak orangtua yang seperti ini, kadang yang mereka kejar hanya capaian-capaian yang mungkin malah jadi beban buat mereka.

Saya sering bilang sama orangtua, “bu sekolah di pesantren itu capek!banget!
Bayangkan, Sebelum shubuh mereka bangun, mandi, sholat, ngaji, setelah itu makan, bersih bersih kamar, nyiapin buku,tugas,dll, lalu, belajar sampai siang, lanjut ekskul, sorenya ngaji lagi, malamnya kegiatan keagamaan , sampai menjelang tidur, dan semuanya dilakukan sendiri, catet, SENDIRI!

Bisa dibayangkan bagaimana capeknya bocah bocah kecil ini melakukan semua aktivitas ini, dan itu seharian, padahal bisa jadi sebelum masuk pesantren, semuanya diterima secara instan.

Bu, Banyak goncangan yang anak kita rasakan, belum gesekan yang mereka alami dengan sesama teman.
Huff! berat, sangat berat!

Maka pekan kunjungan, adalah masa yang dinanti, agar beban dan sampah yang selama ini disimpan, bisa dibuang, lalu jiwa yang lelah itu bisa segar kembali untuk dua pekan berikutnya.
maka jangan abaikan hak kunjungan ini.

Tanya, “Nak, mamah ingin dengar cerita kamu selama dua minggu ini?”

Setelah itu, duduk, dengar, berikan empati saat anak mengeluh, tunjukan antusias dan rasa bangga saat mereka menyampaikan raihan raihan selama di pesantren, setelah itu apresiasi !

Dengarkan dengan tuntas, jangan dipotong. Kalau ada yang keliru, sampaikan nanti saja, saat anak tuntas mengeluarkan sampah jiwanya, lalu rangkul bahunya, peluk dengan erat, sambil membayangkan bagaimana beratnya beban selama di pesantren, setelah itu berikan nasihat nasihat ringan yang menyejukan, bisa sambil makan, ngemil, liat trotoar atau kebun teh di ciater, bebas, yang penting mereka happy.

Kalau pun ibu tidak bisa berkunjung karena kesibukan, jauh, dsb.
telepon mereka, lalu gunakan waktu sejam yang diberikan, untuk mereka. Selanjutnya lakukan langkah di atas.

Kalau anak ibu tipe pendiam, belikan diary, suruh tulis apapun yang dirasakan, lalu kirimkan melalui wali asramanya, bisa di screen shoot, di foto, atau dikirim lewat pos seperti tahun 90an dulu.

Lakukan itu secara konsisten, setidaknya, jiwa mereka tidak bimbang, tak ada perasaan dibuang, karena kanal komunikasi utama mereka masih terhubung.
Lalu temukan keajaiban di kunjungan berikutnya,

Oke, selamat berkunjung di kunjungan regular pekan ini.

Salman Awaludin
(Kepala Asrama SMPIT Assyifa Boarding School Wanareja Subang )