Cinta yang Mendewasa

“Pas awal-awal nikah sering nangis mbak. Gak nyangka rupanya kayak gini rasanya pernikahan.” Ujar kakak sepupuku. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Dari curhatan orang-orang kepadaku, setiap wanita biasanya shock di awal pernikahan. Hanya beberapa hari saja bak surga. Setelahnya, kalau tak kuat mental dan iman, rumah tangga bisa jadi neraka menyala2. Kenapa bisa?

Begitulah memang pada kenyataannya.

Kenyataannya, cinta itu bukan sesuatu yang selalu indah, selalu berbunga2. Karena bagai taman, saat musim semi ia memang berbunga. Namun ada kalanya musim gugur, daun2 berjatuhan. Apalagi di musim panas, kering dan gersang.

Kenyataannya, cinta itu tidak stagnan, ia amatlah labil. Selabil hati yang selalu berfluktuasi. Maka hari ini kita bisa tersenyum bersama kekasih namun esok bisa jadi kita saling tak enak hati. Membisu dalam sekam.

Memang begitulah fitrah cinta. Maka cinta harus disikapi dengan kedewasaan dan kelapangan. Kedua kekasih harus saling memperbaiki diri. Bergantian mengalah dan mengemukakan pendapat. Ada saatnya diam dan ada saatnya bicara. Ada saatnya meneteskan air mata sendiri ataupun berdua.

Ketika cinta dua kekasih mendewasa, maka hubungan dua kekasih akan gapai bahagia. Apalagi saat kedua kekasih rajin curhat pada-Nya, menggantungkan cinta pada Sang Maha Pencipta cinta itu sendiri, maka berkah akan menaungi keduanya hingga ke surga. Ah, begitulah cara cinta bekerja.

Namun cinta yang mendewasa hanya ada dalam pernikahan. Pernikahan akan menyediakan segala perniknya untuk mendewasakan cinta. Maka jangan heran akan kita temui rasa kesal, marah dan benci seperti rasa sayang kita pada sang kekasih. Namun itu tak lantas membuat kita berpisah darinya karena ada banyak kenangan berharga juga bersamanya. Tak hanya kenangan bahagia, namun juga kenangan duka. Begitulah cinta yang mendewasa, cinta dalam pernikahan, cinta yang paling pantas menghantarkan kita ke surga. Karena dalam pernikahan sudah kita lalui berbagai uji dan coba hingga 1/2 agama kita ada bersamanya. Ah cinta…

Aku ingat sekali kata2 bijaksana dr.Zakir Naik saat ditanya tentang cinta, “Cintailah orang yang kau nikahi, bukan menikahi orang yang kau cintai.”

Ah, sungguh cinta yang mendewasa…

Eka Diyah Ardiyati

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *