Dunia hanya Sementara

Kehidupan dunia hanyalah tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan akhirat, dengan berbagai macam ibadah dan dzikir yang mendatangkan manfaat besar untuk kehidupan akhirat kelak.

Pertemanan dan persahabatan sungguh tidak bernilai dan hanya sia sia, jika tidak mengarah kepada keikhlasan dan tawakal karena Allah, orientasi kesenangan dunia, kepuasan pertemanan akan punah dengan keperluan dan kepentingan syahwat belaka.

Apakah kamu suka duduk tertawa dengan budak harta ?
Merasa benar dan baik, karena usaha yang sudah diwujudkan untuk kepentingan nya dan populeritasnya ?

Betapa keren nya sahabat Nabi saw dengan jalinan emosi nya, usaha semata karena Allah dan Rasulullah.

Beramal semata kecintaannya terhadap Allah dan Rasulullah.

Persaudaraan fokus semata mencari keridhoan Allah dan Rasulullah.

Kehidupan dunia ibarat musafir yang akan kembali ditanya tuan Nya.

Kepastian kembali akan menghampiri seorang musafir.
Betapapun waktu perjalanan yang ditempuhnya tetap ia akan ditanya tuannya.

Maka tidak lah mungkin seorang sahabat Abu Darda Menolak lamaran putrinya dengan putra Mahkota, Yazid bin Muawiyah kalau ia anggap kesenangan kehidupan dunia adalah hakiki kesenangan juga tanda keberhasilan usahanya.

Sebaliknya Abu Darda dengan keras menolak lamaran Muawiyah, karena kemewahan dan tingginya jabatan Yazid sama sekali tidak membuatnya tergoda !

Abu Darda nikahkan putrinya dengan seorang pemuda muslim yang sangat miskin tetapi saleh.
Abu Darda lebih banyak menampilkan keutamaan dan keindahan dari kehidupan akhirat, dan menjahui bahayanya tipuan dunia dan kemewahannya.

Betapapun mewah nya status kepemilikan dunia yang kamu ada, sama sekali tidak mempengaruhi kecondongan diri seorang Abu Darda terhadap tipuan kesenangan dunianya.

Bagaimana mungkin seorang yg mukmin’ mengabaikan semua renungan tersebut ?

Ingatlah betapapun seorang baik akan ditinggalkan oleh sahabatnya, manakala ia tidak mengerti arti pentingnya persahabatan serta nilainya.
Terlebih fokus terhadap ambisi dirinya dan kesenangan dirinya.

Ka’ab bin Malik meninggalkan sahabat nya.
Mararah bin Rabi’ juga sama meninggalkan sahabatnya.
Hilal bin Umayyah juga demikian !”

Maka dengan sikap mereka seperti itu apa kata Nabi Saw, beliau mengatakan dan mengulang kalimat itu sampe 3x dengan mengatakan :
“Biarlah”,
“Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah swt tentu, akan mengembalikannya kepada kita, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kita dari bahayanya.” !!!

Perhatikan juga bagaimana yang disampaikan wanita perkasa, Asma Binti Abu Bakar, ketika Abu Naufal bercerita, Hajjaj bertanya :
kepada Asma :

Bagaimana menurutmu dengan apa yang telah aku lakukan terhadap musuh Allah?

Asma menjawab: Saya melihat kamu telah menghancurkan kehidupan dunianya dan dia telah menghancurkan kehidupan akhiratmu.

Sahabat, …
Surga itu nikmat, akan semakin bertambah nikmat ketika di surga nanti, dikumpulkan dengan orang-orang yang semasa di dunia bertemu dan bersahabat lalu kemudian kita disucikan, dan saling mengunjungi dan menyapa didalam Surga.

Tidak ada rasa capek, letih, juga bosan. Kehidupan di surga tidak ada akhirnya.

Mereka (Pasangan) adalah orang-orang yang kekal. Kekalnya sama-sama kekal, tidak ada perpisahan.

Di surga nanti juga tidak ada rasa cemburu dan dendam. Maka nikmat sekali, ketika kita hidup dengan sama-sama ikhlas.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *