Fahri Bukan Superman

|| Kontributor: Anugrah Roby Syahputra ||

Fahri Abdullah kembali jadi buah bibir. Film yang mengisahkan perjalanan kehidupan lelaki Jawa ini kembali tayang di layar lebar. Ya, “Ayat-Ayat Cinta 2” kembali melanjutkan fragmen perjuangan alumni Al Azhar ini yang sepuluh tahun lalu sukses meraup 3,7 juta penonton.

Sederet artis kenamaan pun tampil. Mulai dari Fedi Nuril, Chelsea Islan, Tatjana Saphira, Pandji Pragiwaksono, Arie K. Untung hingga Dewi Sandra.

Sejumlah apresiasi hadir menghampiri. Di antaranya dari Ketua MUI KH Makruf Amin dan Mantan Presiden Prof. BJ Habibie. Bagi mereka film ini membawa banyak pesan positif: tidak hanya soal cinta tapi juga perdamaian, keberagaman dan toleransi.

Namun garapan sutradara Guntur Suharjanto ini bukannya tanpa cela. Beberapa review pedas penuh umpatan kasar dan koleksi kebun binatang sempat viral di laman maya. Di twitterland, tanda pagar #nikahiakufahri juga menjadi trending topic sebagai bentuk sindiran sarkas.

Tak dapat dipungkiri, sejumlah kelemahan memang nyata ada dalam penggarapan film ini. Salah satu yang amat fatal adalah adegan face off yang dianggap mencederai nalar ilmiah publik.

Selebihnya saya menduga ada andil kekurangcermatan mengalih bentuk dari konten novel yang amat padat (690 halaman) menjadi film yang (hanya) berdurasi 102 menit.

Nah, salah satu obyek kritik (yang menurut sebagian pegiat film hanyalah “kegundahan emosional” belaka karena belum memenuhi syarat akademis) adalah tentang profil Fahri yang dianggap layaknya superman tanpa cela.

Ia adalah sosok ideal nan langka yang dirindukan banyak wanita: tampan, cerdas, kaya dan shalih sekaligus. Wajar kalau dari 2 juta penonton per 31 Desember 2017 itu didominasi kaum hawa yang mengidentifikasi diri sebagai jomblo fi sabilillah pendamba imam shalih nan setia.

Terkait hal ini, saya teringat saya tulisan Ustadz Salim A. Fillah dalam buku yang disusun Anif Sirsaeba berjudul “Fenomena Ayat-Ayat Cinta”. Dalam sebuah bedah buku bersama budayawan Maman Mahayana, Ustadz Salim Salim melontar kritik bahwa “satu-satunya kelemahan novel ini adalah tokoh utamanya tidak punya kelemahan.”

Kemudian Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy, sang penulis novel) menjawab dengan redaksi yang kurang lebih begini:

“Antum salah, Akhi. Di Mesir, yang jauh lebih baik dari Fahri itu banyak.”

Ustadz Salim kemudian terhenyak. Apalagi saya yang cuma remah-remah rengginang di kaleng Khong Guan.

Ya, kita memang sering mengukur orang lain dengan diri kita. Mungkin kita menuduh Fahri itu superman karena diri kita yang tak pernah menemui pribadi semacam itu dalam  hidup kita.

Karena teman-teman kita, lingkungan kita amat kering keteladanan, maka kita anggap pribadi Fahri adalah fantasi saja. Semacam utopia yang dipelihara untuk menyambung asa.

Padahal sebenarnya orang baik itu sangat banyak, hanya saja kita tak mengenalnya. Bisa jadi karena lingkar pertemanan kita yang terbatas sedangkan figur-figur shalih itu jauh dari publisitas. Dia tak populer di dunia, tapi viral di langit.

Sampai-sampai Kang Abik dalam sebuah acara menegaskan kalau saja Fahri hidup di zaman Imam Syafi’i maka dia “nggak akan dianggap”. Sama Syaikh Muhammad Al Ghazali yang kontemporer saja Fahri itu tidak ada apa-apanya.

Konon lagi dibanding Imam Nawawi. Ia justru sengaja menampilkan tokoh Fahri yang dianggap ideal itu karena masyarakat telanjur dijejali contoh-contoh yang tidak baik (termasuk dalam novel dan film). Beliau percaya contoh tersebut merupakan polusi bagi idealisme kita.

By the way, Fahri masih banyak cela loh. Buktinya dia masih bisa-bisanya diceramahin pengemudi pribadinya sendiri, Paman Hulusi.

Apapun akhirnya, jadikanlah setiap kisah sebagai cambuk motivasi pelecut semangat diri untuk senantiasa lebih baik lagi, meski itu cuma fiksi.

Salam hangat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *