Haruskah Aku Berpaling?

Mencintai dengan seutuhnya cinta adalah milik Allah, tak ada yang bisa mencintai seperti Ia mencintai hamba-hamba Nya. Ah jika membahas kesetiaan tentulah Allah yang akan menjadi pemenang karena Allah lah yang selalu senantias menunggu hamba Nya untuk kembali pada jalan Nya.

Ada satu cinta lagi, cinta yang bila mencintainya maka akan bertambah rasa cinta dalam nyata. Terjal memamg jalan untuk terbersama menumbuhkan cinta, namun mulia bila tetap bersama dalam cinta bersamanya. Tersebab jatuh cinta itu mudah namun bertahan dan berjuang bersama dengannya sampai akhir itulah yang susah.

Haruskah aku berpaling? Melepas semua yang sudah terbangun dan mendarah daging?

Mencela bahagia yang pernah terbangun?
Mencaci empati yang sudah di hati?

Jika berpaling itu indah, maka sudah tentu akhir cerita bahagia yang akan terlantun berdawaikan cinta bersama dalam keberpalingan.

Jika berpaling itu mudah, toh tentu rasa setia itu akan terobohkan!

Namun tidak demikian indahnya berpaling, menyayat hati siapa saja, mengundang tanya pada setiap jiwa

Pantaskah yang berpaling diberi setia?
Bukankah suatu keberpalingan akan dibalas dengan keberpalingan yang amat menghujam raga hingga muncul derita?

Berpaling dalam barisan cinta tak akan membawa siapa saja bahagia.

Haruskah berpaling jika setia akan menjadi cerita bahagia?

Aise

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *