Hidup Bisa Seperti Argentina

Bagi saya, komentar paling tengil dalam dunia sepakbola salah satunya komentar dari bek Kroasia bernama Sime Vrsaljko. Pasca timnya mengalahkan Argentina 3-0, dengan songongnya Vrsaljko mengumbar pernyataan;

I saw Argentinians falling on the floor and crying like girls,“. Barangkali kalau saya mengambil terjemahan bebas dari pernyataan Vrsaljko ini; “Aku melihat, pemain Argentina nangis guling-guling kayak cewek,” begitulah kira-kira.

Bukan kepalang, pernyataan bek Kroasia ini dimuat media-media internasional. The Sun, four four two, dan media-media besar lainnya tak ketinggalan, turut memuat olok-olok Vrsaljko ini. Meski bukan fans Argentina, secara pribadi saya tak setuju dengan Vrsaljko. Jelasnya, meminjam istilah almarhum Meggy Z, Vrsaljko sudah menari-nari di atas penderitaan.

Ya! Magis seorang Messi seolah redup di Novgorod Stadium, Rusia, Jum’at (22/06). Meski diisi pemain-pemain nomor wahid, Argentina ternyata keok dengan skor mencolok. Banyak orang terperangah, kaget bukan kepalang. “Kok bisa?!”.

Argentina berduka. Caci maki dan sumpah serapah bertaburan menerpa para pemain, pelatih, dan semua offisial yang terlibat di dalamnya. Pendek kata, gambaran Diego Armando Maradona dan masa keemasan Argentina seolah telah punah, lebur, bahkan seolah tak akan terganti lagi. Kesebelasan Argentina berada di titik nadir, tekanan yang kuat belum mereda, isu kekisruhan di kalangan internal malah menyeruak. Lengkap sudah penderitaan!

Namun, nampaknya kesebelasan Argentina di Piala Dunia 2018 ini memang hadir untuk mengajarkan paradoks kepada kita semua. Barangkali mungkin juga hadir untuk mengajarkan tentang bagaimana cara terbaik menikmati kesedihan, caci maki, dan hujatan, lalu mengubahnya menjadi sanjung puji dan euforia kemenangan.

Lima hari pasca pertandingan tersebut, situasi berbalik! Argentina yang sudah dirasa akan masuk kotak dan pulang kampung ternyata lolos ke babak 16 besar. Adalah Nigeria yang menjadi tumbal dari kondisi ini. Kemenangan dramatis 2-1 Lionel Messi cs atas Nigeria, serta merta mengubah segalanya. Duka yang lima hari sebelumnya merundung, berubah drastis menjadi suka cita. Pujian dan kalimat sanjungan bertabur dimana-mana. Apa yang dikatakan Vrsaljko, tak lagi ada! Argentina kembali berdiri tegak, layaknya gelaran Piala Dunia 2014, dimana mereka keluar sebagai runner up.

Apa yang terjadi dengan Argentina, rasanya mirip dengan apa yang kita hadapi. Dinamika kehidupan terkadang membawa kita terbentur dalam kesulitan-kesulitan dan kejadian yang bukan hanya tidak diharapkan, melainkan juga sampai hilangnya kepercayaan setiap orang kepada kita. Acap kita menangis seolah dunia hendak runtuh menimpa, bahkan tak jarang ada kalanya merasa putus semangat tak berkesudahan. Ya, seperti kesebelasan Argentina pasca dilumat Kroasia!

Namun ternyata selang beberapa hari, kita bisa tertawa kembali. Menjadi orang yang tegar, bahkan merasakan diri siap untuk menyongsong kesuksesan serta menghilangkan setiap rintangan yang menghadang. Situasi memang kerap tiba-tiba berubah.

Tentu perubahan ini tidak terjadi serta merta. Pasca kekalahan dari Kroasia, Argentina berbenah. Messi sebagai kapten mengemban peran lebih lagi. Bahkan tertangkap kamera, ia memberikan motivasi khusus kepada para pemain lainya di lorong stadion jelang babak kedua dimulai. Ada pendekatan solutif yang dilakukan. Ini juga berlaku untuk setiap kita, bahwa untuk mengawali kebangkitan, harus ada pendekatan solutif yang dilakukan. Tidak bisa tidak.

Menjaga semangat serta harapan adalah hal yang penting, disamping hal utama yakni tidak boleh berputus asa atas rahmat Allah swt. Lalu mengedepankan sikap positif, dan menghadapi segala kesulitan dengan kesabaran dan segenap kemampuan maksimal. Setidaknya itulah pendekatan secara pribadi.

Lalu bagaimana pendekatan secara manusia apabila orang lain yang mengalami itu? Pesannya, jangan bertingkah seperti Sime Vrsaljko! Hindari mengolok-olok orang yang kesusahan. Bisa jadi, hari ini orang lain susah, esok dia berjaya. Hari ini ia zero, esok ia hero! Bahkan tidak menutup kemungkinan kita membutuhkan bantuan orang tersebut.

Biarlah Vrsaljko dengan kelakuannya, asal jangan kita. Bagaimanapun Timnas Argentina sudah memberikan contoh nyata, meski pada akhirnya Argentina tumbang juga di 16 besar! (*)

Petropolis, 10 Juli 2018

Kang Ewa

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *