Hoax dalam Perspektif Islam

 

Oleh: Anugrah Roby Syahputra.

“Rumours are carried by haters, spread by fools, and accepted by idiots.”

(Ziad K. Abdelnour, Economic Warfare)

Nayirah. Perempuan lugu berusia 15 tahun itu berdiri di depan Kongres Amerika, pada Oktober 1990, dua bulan pasca Saddam Hussein dan pasukannya menginvasi Kuwait. Dalam forum itu, dengan sesenggukan gadis itu bersaksi melihat dengan mata kepalanya sendiri tentara Irak mengambil paksa 15 bayi dan membiarkan begitu saja para bayi itu menggelepar di lantai hingga meregang nyawa. Itu semua terjadi di sebuah rumah sakit di Kuwait, katanya. Malahan menurut laporan tertulis ada 312 bayi yang dibantai tentara Irak.

Testimoni Nayirah ini kemudian secara massif oleh Hill & Knowlton selaku promotor kampanye “Citizens for a Free Kuwait” di Amerika Serikat. Video Nayirah juga disebarkan ke seluruh penjuru dunia dan diputar berkali-kali di sidang-sidang internasional. Publik Amerika Serikat tergugah dan akhirnya Kongres memberi ‘lampu hijau’ kepada pemerintahan Bush untuk ‘menyelamatkan Kuwait’. Perang Telukpun pecah.

Belakangan, sejumlah wartawan mendapatkan hasil investigasi yang mengejutkan. Bayi-bayi yang tewas rupanya murni karena ketiadaan dokter dan tenaga medis, bukan dibantai tentara Irak. Dan ternyata Nayirah ternyata anak dari Saud Nasir Al Sabah, duta besar Kuwait untuk Amerika Serikat. Nama aslinya Nijirah Al Sabah. Ia telah dilatih secara profesional untuk berakting di depan kongres. Kesaksiannya palsu belaka alias hoax. Motifnya apalagi kalau bukan politik dan kongkalikong untuk agar AS dan Kuwait bisa berbagi limpahan minyak Baghdad.

Kisah tersebut merupakan salah satu contoh betapa hoax yang disebarkan secara luas sebagai hate speech (ujaran kebencian) bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan nan dahsyat.Ribuan nyawa melayang akibatnya. Kini, di zaman dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, virus hoax kembali berulang.

Berawal dari Gawai

Arus informasi yang mengalir begitu deras-utamanya di media sosial- membuat sebagian orang tak bisa memilah mana yang benar, mana yang salah. Fitur broadcast di aplikasi obrolan pada gawai (gadget) dan share pada jejaring sosial menjadi sarana yang membuat berita-berita palsu semakin cepat tersebar menjadi viral.

Cambridge Dictionary mengartikan hoax sebagai a plan to deceive a large group a people, a trick. Sedangkan menurut wikipedia, hoax bermakna usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Di dunia maya, ciri khas hoax adalah selalu bernada penting dan ada permintaan untuk disebarluaskan kepada oranglain.

Kebohongan atas Nama Agama

Belakangan, menjelang Pilpres 2014 yang lalu marak juga hoax yang menyerang masing-masing kandidat. Ada capres yang disebut komunis, antek zionis dan boneka kapitalis Amerika. Adapula capres yang dituduh pelanggar HAM, pro teroris dan semacamnya. Sungguh kebanyakan berita tersebut hingga hari ini tak ada yang bisa dibuktikan secara empiris. Namun kebencian terlanjur diumbar. Rasa permusuhan kadung bertebaran.

Sedihnya, sebagian besar hoax yang beredar hari ini terkait dengan agama (khususnya Islam). Setidaknya ada empat macam hoax yang menyangkut agama (Islam). Pertama, selebritis dunia tertentu masuk Islam. Contohnya adalah Paris Hilton, Angelina Jolie dan Jacky Chan. Nama yang terakhir disebut diberitakan masuk Islam dengan dalih foto aktor tersebut sedang memakai peci dengan busana Melayu. Padahal sebenarnya, bintang Hongkong tersebut sedang menerima gelar kehormatan bergelar Datuk dari Kerajaan Malaysia pada tahun 2015.

Kedua, bertema sains. Seolah-olah ada fenomena alam sesuai dengan apa yang tercantum didalam Al Quran atau nubuwwat Nabi SAW. Atau ilmuwan yang masuk Islam setelah melakukan penelitian yang hasilnya bersesuaian dengan Al-Qur’an. Misalnya tentang ilmuwan NASA yang membuktikan bulan terbelah. Secara akidah, kita yakin bahwa bulan pernah terbelah di masa Nabi Muhammad SAW sebab tertera dalam Surat Az-Zumar ayat 1 dan beberapa hadits. Tapi tentu kita tak perlu membawa berita palsu yang dipaksakan untuk dihubung-hubungkan. Termasuk kisah Demitry Bolykov dan Robert Guilhem masing-masing mengenai keakuratan orbit planet dan masa iddah. Cerita yang masyhur ini rupanya murni fiksi. Kedua nama ilmuwan itu tak pernah benar-benar ada. Begitu juga dengan foto-foto yang diklaim mayat raksasa kaum Aad temuan perusahaan tambang Saudi Aramco.

Ketiga, tentang bahan makanan yang dituduh haram karena mengandung babi. Ini sangat banyak sekali beredar dan menyerang berbagai jenis produk makanan yang populer di masyarakat. Disebutkan jika dalam kemasan terdapat kode E seperti E100, E200 dipastikan memiliki kandungan babi. Padahal kode tidak seluruhnya mengandung babi. Misalnya E100 adalah kode untuk kurkumin (tepung kunyit) dan E406 untuk agar-agar yang terbuat dari rumput laut.

Keempat, terkait pembantaian terhadap kaum muslimin. Tak bisa dipungkiri, di banyak belahan dunia umat Islam dizalimi seperti di Palestina, Pattani dan Arakan. Namun seringkali ada penggunaan foto editan yang tidak pada tempatnya. Misalnya foto-foto tentang pembantaian muslim Rohingya di Myanmar. Bahwa di sana ada kezaliman memang benar, tapi dalam propaganda yang beredar seringkali menggunakan foto peristiwa lain yang terlihat sama seperti evakuasi mayat korban gempa di Tibet, aksi protes dengan bakar diri wartawan di India hingga potongan adegan sebuah film produksi Nepal.Dibumbui tulisan mengharu biru dan ajakan muslim bersatu padu membela saudaranya, membuat hoax semacam ini rentan disalahgunakan untuk adudomba antarumat beragama.

Perspektif Islam

Di era sekarang ini, motif di balik hoax yang terbesar adalah bisnis dan politik. Pengelola media online abal-abal membutuhkan viewer sebanyak mungkin agar bisa meraup dollar dari iklan Google Adsense. Yang penting bisa muncul pada halaman pertama mesin pencari. Yang mereka pikirkan peringkat di Alexa Rank. Tidak peduli benar salah kontennya, asalkan bombastis dan berpotensi viral di media sosial pasti mereka muat. Selain itu, motif untuk menjatuhkan lawan politik baik tokoh maupun kelompok juga marak. Tujuannya agar sang lawan dibenci oleh publik. Hal yang semacam inilah yang bisa memecah belah keutuhan ummat dan bangsa.

Dalam hukum positif Indonesia, menyebar hoax walaupun cuma sekedar iseng mendistribusikan (forward) diancam pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Hal itu termaktub dalam pasal 28 ayat 1 dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Tentu ini tidak main-main. Lalu bagaimana Islam memandang?

Dalam Al-Qur’an telah jelas diterangkan bahwa berita bohong adalah modalnya orang munafiq untuk merealisasikan niat kotor mereka, “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam Keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (QS Al-Ahzaab : 60-61)

Para ulama bersepakat akan bathilnya perbuatan membuat berita bohong. Tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) mengenai hal itu. Akan tetapi, bagaimana hukumnya bagi yang menyebar? Bagaimana bila sebenarnya niatnya baik, agar orang tersentuh hidayah, supaya orang tergerak ukhuwah? Mari kita simak surat Al-Isra’ ayat 36,”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Menyebarkan berita kosong dan isu termasuk “qiila wa qaala” (katanya dan katanya) merupakan sikap yang ditolak dalam Islam dalam kondisi apapun dan dalam model apapun. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra.”Dan Rasulullah membenci dari kalian “Katanya dan katanya”, banyak bertanya, dan membuang-buang harta”

Berhati-hatilah. Jangan sampai kita menjadi orang yang memasang niat mulia, tapi menempuhnya dengan cara-cara yang jauh dari tuntunan Islam. Afalaa ta’qiluun? Afalaa tatafakkarun?

Penulis adalah Ketua Umum Forum Lingkar Pena Sumatera Utara

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *