Jadilah Legenda

|| Kontributor: Anwaril Hamidy ||

Kemerdekaan Indonesia merupakan karunia yang besar dari Tuhan yang Maha Kuasa, setidaknya itulah yang para pendahulu kita ekspresikan dalam alinea kedua dalam UUD 1945. Bahwa ia adalah perjalanan panjang. Ia bukan hanya tentang 17 Agustus 1945, namun telah ada jauh sebelumnya pada momentum Sumpah Pemuda. Begitu pula hari-hari setelahnya, seluruh rakyat Indonesia yang baru saja dipersatukan masih harus diuji dengan serangan demi serangan yang mencoba untuk merusak kedaulatan negara. Di antara detak-detik perjuangan itu, 1 Maret 1949 merupakan salah satu momentum penting dalam perjuangan kemerdekaan. Di mana Yogyakarta menjadi saksi bisu atas heroisme para prajurit kemerdekaan dan segenap rakyat Indonesia. Dan salah satu komandannya adalah sosok jenderal yang familiar dalam perbendaharaan (atau bahkan mungkin satu-satunya) tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Silahkan bertanya kepada siapapun, ketika disebutkan kata Jenderal, nama siapakah yang pertama kali terlintas? Ya, dialah Jenderal Sudirman. Seorang panglima besar yang terkenal dengan taktik perang gerilanya. Namun jika anda mulai berimajinasi bahwa Jenderal Sudirman adalah sosok yang tegap dan kekar, maka anda patut kecewa. Karena beliau adalah sosok berpostur kurus dengan tinggi sebagaimana manusia Indonesia pada umumnya. Bahkan tak jarang berpindah-pindah lokasi perang dengan cara ditandu oleh para prajuritnya karena sakit yang ia derita semakin parah.

Jenderal Sudirman memang tidak hanya berperang melawan penjajah, tapi beliau juga harus bertarung dengan penyakitnya. Namun hal itu tidak sama sekali membuat Jenderal Sudirman menyerah. Bahkan ketika Ir. Soekarno menyarankan beliau untuk keluar dari medan perang untuk berobat sejenak, Jenderal Sudirman menolaknya dengan gagah. “Yang sakit itu Sudirman. Jenderal besar tidak pernah sakit.” Kira-kira begitulah yang beliau ucapkan kepada Ir. Soekarno. Hingga akhirnya Jenderal Sudirman mati muda. Beliau wafat pada 29 Januari 1950 dengan umur 34 tahun. Selain meninggalkan jasa yang besar atas kemerdekaan Indonesia, detak-detik kehidupannya pun sangat berharga bagi siapa saja yang ingin belajar tentang nilai sebuah umur.

Umur manusia ada dua kategori, umur biologis dan umur karya. Umur biologis adalah umur manusia sejak ia lahir hingga wafat, sedangkan umur karya adalah suatu rentang waktu di mana seseorang dikenang dan dirasakan kebermanfaatannya lewat prestasi dan prasasti yang ia ukir. Kita dapat mengatakan bahwa umur biologis seorang Jenderal Sudirman adalah 34 tahun. Umur yang cukup singkat jika dikomparasikan dengan rata-rata umur biologis manusia yang mencapai 60 tahun. Namun di satu sisi, umur karya beliau telah melampaui umur biologisnya, 72 tahun sejak kemerdekaan Indonesia dan terus berlanjut sampai anak cucu kita kelak.

Mari belajar dari seorang Jenderal Sudirman. Di usianya yang masih muda, beliau telah mengukir karya yang mendunia, menjadi kenangan bagi segenap rakyat Indonesia. Namanya abadikan pada jalan-jalan besar ibu kota, museum, dan monumen. Menjadi sosok yang terlintas pertama kali ketika kata ‘jenderal’ dilontarkan. Jiwa dan raganya telah wafat, namun karya dan semangatnya tetap hidup dalam ruang-ruang kehidupan berbangsa dan bernegara. Alangkah ruginya jika yang terjadi pada diri kita adalah sebaliknya, yakni memiliki umur biologis yang panjang tetapi memiliki umur karya yang relatif lebih singkat.

Hidup ini tak berlangsung, hanya sekitar 60 tahun. Bahkan bisa lebih singkat dari yang kita duga. Pun lebih, tubuh kita tidak lagi prima, pikiran tak lagi tajam. Maka relakah kita untuk hidup lalu mati tanpa meninggakan kesan? 1 Maret sebelum tahun 1949 mungkin hanya sekedar tanggal yang menghiasi kalender, namun kini menjadi penuh kesan sejak peristiwa Serangan Umum. Kita mungkin sekarang hanya sekedar mahasiswa yang memenuhi kampus dengan agenda akademik dan perkuliahan. Tapi mari berjanji, sejak detik ini kita harus menjadi sosok yang bermanfaat bagi agama dan negara. Mari berkarya dan jadilah legenda.

 

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadari.

(QS. Al Baqarah: 154)

Wallahu a’lam.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *