Karena Tak Ada Menu “Pause”

Hari ini, 15 Syawwal 1439 Hijriah. Pekan kedua pasca Ramadhan. Ah, Ramadhan? Tamu Agung itu baru saja berlalu. Ada yang melepasnya dengan sedu sedan, ada yang melepasnya dengan gembira, bahkan ada yang melepasnya begitu saja -barangkali dapat digambarkan seperti tak terjadi apa-apa-; “Yang sudah pergi, biarlah pergi!”, mungkin begitu katanya.

Kebaikan, senyum ramah, jiwa pemaaf, kuantitas dan kualitas ibadah, serta berbagai pengharapan dibingkai utuh, penuh bersama Ramadhan. Kita seolah tak hendak kehilangan sedetik saja, apalagi sampai berhitung hari dan jam untuk melakukan sebuah kebaikan. Pintu rahmat, ampunan, dan kebaikan yang dilipatgandakan seumpama magnet yang terus dilekatkan di dalam hati, sehingga motivasi berlipat itu muncul tiada terkira besarnya.

Hal-hal di atas baru dari tataran pribadi. Secara lingkup sosial tak kalah kerennya. Tempat-tempat hiburan malam tutup. Meski sebagian masih buka, tetapi dibatasi pada jam-jam tertentu saja. Kondisi masyarakat pada umumnya kondusif. Bahkan warung-warung makan banyak yang tutup demi menghormati kaum muslimin yang menunaikan ibadah puasa.

Melalui corong-corong speaker Masjid, lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an hampir 24 jam berkumandang silih berganti. Kedermawanan meningkat drastis. Anak-anak yatim, kaum dhuafa, hingga madrasah-madrasah, serta saudara seiman di Suriah, Palestina, dan belahan dunia lainnya yang sedang dalam penjajahan serasa mendapat “Bapak Angkat” yang datang silih berganti turut memikul beban. Sekali lagi, Ramadhan memang luar biasa berkahnya.

Dan… ternyata Ramadhan harus berakhir pada waktunya! Pergi! Bahkan seolah membawa sebagian aktivitas yang dikerjakan di dalamnya. Sementara itu, “argo” kehidupan masih tetap akan berlanjut, ia tak memberikan menu pause sehingga kita memasuki Ramadhan di tahun berikutnya.

Menu pause juga tidak berhenti untuk kehidupan anak-anak yatim, kaum dhuafa, hingga dera nestapa yang menimpa anak-anak kita di Suriah, Palestina, dan belahan dunia lainnya yang berada dalam penjajahan, yang jadi masalah adalah munculnya gajala lemah semangat dalam beribadah, sehingga amaliyah-amaliyah di bulan Ramadhan tak terbawa sepenuhnya di luar Ramadhan.

Adalah para salafush shalih, mereka ternyata orang-orang yang lekat dengan semangat Ramadhan di luar maupun di dalam bulan Ramadhan itu sendiri. Lathaiful Ma’arif yang disusun oleh Ibnu Rajab mengupas perihal para salafush shalih sepeninggal bulan Ramadhan.

Terdapat hal-hal yang menarik dalam pelaksanaan ibadah para salafush shalih di bulan Ramadhan khususnya. Ternyata, di tengah tingginya kualitas dan kuantitas ibadah dalam bulan Ramadhan, para manusia generasi terbaik di kalangan umat ini memiliki rasa takut yang sangat tinggi. Rasa takut yang selalu menjadi tanya; “Apakah ibadah di bulan Ramadhan diterima oleh Allah swt?

Melalui pertanyaan itulah, para salafus shalih bermohon dengan penuh harap tidak kurang dari enam bulan lamanya supaya ibadah mereka diterima oleh Allah swt. Dimana pada enam bulan berikutnya digunakan mereka untuk bermunajat supaya dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Hal itulah salah satunya yang membuat mereka membawa semangat Ramadhan saat berada di luar bulan Ramadhan. Sehingga gerak laku kehidupan di luar Ramadhan selaras dengan kesibukan yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Tentu saja, ini hanya sekelumit kelebihan para salafus shalih dalam mengaplikasikan semangat Ramadhan. Kelebihan yang bukan hanya didasari rasa takut tidak diterimanya amal kebaikan. Melainkan rasa takut akan kehadiran Malaikat Izrail, yang datangnya juga tidak bisa di-pause.

Lalu bagaimana dengan kita? Semoga semangat Ramadhan terus bisa dipupuk dalam diri. Tentu saja, karena hidup tak bisa di-pause, sebagaimana ajal yang pasti akan datang. Wallahu a’lam. (*)

Petropolis, 29 Juni 2018

Kang Ewa

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *