Kerupuk, Tunanetra dan Pejuang Keluarga

Tadi pagi sewaktu mengantar anak ke sekolah, aku melihat seorang nenek tua tunanetra pedagang kerupuk. Tangan kirinya menarik gerobak sedangkan tangan kanannya memegang tongkat mencari jalan aman.

Mendadak dada berdegup kencang. Air mata hampir menetes. Tapi segera kubatalkan dengan mengajak anakku untuk melihat apa yang aku lihat. Sebetulnya aku ingin memotret nenek pejuang itu, tapi sayang, di kantongku tidak ada Si Android.

Jika dia mau, nenek tua tunanetra itu pasti punya banyak alasan untuk tidak berjualan kerupuk. Alasan tua, tunanetra dan beresiko di perjalanan sudah cukup kuat untuk membuatnya wajar tidak berjualan (lagi). Mungkin beliau sudah saatnya beristirahat di rumah dan menikmati masa tuanya. Pekerjaan itu bisa digantikan oleh anak-anaknya.

Sebagai laki-laki, sebagai kepala keluarga, saya tertunduk malu. Malu kalah gigih dengan nenek tua itu. Ini juga kode keras buat para lelaki yang masih memperbanyak alasan untuk enggan berjuang demi keluarga.

Dalam perjalanan menjemput pulang sekolah, aku clingak-clinguk barangkali bisa menemukan nenek pejuang itu. Alhamdulillah, aku menemukannya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berhenti dan membeli kerupuk. Harganya 16.000. Sialnya aku bawa uang seratus ribuan. Aku khawatir nenek tua itu akan kesulitan dengan pengembalian.

Astaghfirullah…
Aku salah. Dia dengan mudah memilih uang untuk kembalian sambil mengkonfirmasi ke aku, ini uang lima puluh ribuan, sepuluh ribuan dan seterusnya.

Buat para suami, para lelaki, para PEJUANG KELUARGA, belajarlah pada nenek tunanetra penjual kerupuk ini. Biar tua tapi tidak bermental kerupuk. Ayo semangati semua keluarga untuk menjadi KELUARGA PEJUANG.

Budi Purwanto

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *