Kesombongan yang Menghancurkan

Kalau ala-ala film televisi kekinian mungkin judulnya akan sepanjang ini: Azab Penjual Obat Kuat Yang Sempat Kaya Tapi Sombong, Yang Terjatuh Dan Tak Bisa Bangkit Lagi Sampai Tak Kuat Lagi Menghadapi Kenyataan

Malin adalah pemuda desa yang bercita-cita menjadi saudagar kaya. Sejak kecil, dia hidup ditengah himpitan ekonomi. Orangtuanya tak mampu mewujudkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari dia bertemu seorang kakek yang bijak dan menceritakan mimpi-mimpinya pada sang kakek tersebut.

“Anak muda, kamu tahu negeri ini belum kuat?” Tanya kakek bijak.

“Negeri ini masih lemah, buktinya banyak penjual obat kuat yang bisa kamu temui di pinggir jalan?”

“Saya punya sedikit ilmu yang bisa kamu ambil untuk mewujudkan mimpi-mimpimu anak muda”

Singkat cerita si kakek bijak dan Malin berpisah. Malin merasa semakin percaya diri karena sudah punya bekal dan ilmu.

Malin pun pulang ke desanya dan langsung mengaplikasikan ilmu dari si kakek tadi. Malin yang biasa bangun siang dan malas-malasan, kali ini harus bangun lebih pagi untuk membuka tokonya.

Tokonya bukan ruko di gedung-gedung perkotaan, hanya teras rumahnya yang dilengkapi etalase. Hari pertama, penjualannya cukup lumayan. Dilanjutkan hari kedua dan seterusnya, omzet semakin meningkat.

Malin merasa puas akan hasilnya. Dengan kerja keras dan ilmu yang didapat, tak menyangka dia sudah jadi saudagar kaya.

Datanglah seorang teman, mengajaknya pergi ke masjid untuk beribadah dan mengikuti sebuah kajian. Karena kesibukan dan hal lain, Malin tak bisa mengikuti kesempatan itu.

Hari ke hari, kesibukan Malin semakin meningkat seiring omzet dari penjualan obat kuat yang terus melesat. Sampai-sampai tak punya waktu untuk beribadah. Berbeda dengan Malin yang dulu, sekalipun pemalas, dirinya masih sempat untuk beribadah.

Di tengah kesuksesannya sekarang, dia berkata pada dirinya “Apa yang sudah aku dapatkan saat ini, adalah hasil dari kerja keras dan kepandaianku (ilmu yang didapat)”.

Barang branded yang dulu hanya bisa dilihatnya di online shop, kini bisa diborongnya. Dompet yang dulu setipis ATM, kini sudah setebal make up para biduan, lengkap dengan kartu kredit, debit, dan lainnya.

Hampir 9 bulan hidup penuh dengan kemewahan dia rasakan. Dan di bulan 10 menjadi bulan ujian baginya. Supplier yang biasa memasok produknya harus berurusan dengan pihak berwajib karena produknya belum memenuhi standar dan izin. Alhasil produk kosong, penjualan pun kopong. Dan Malin kembali ke zaman susahnya kembali.

Barangkali kita pernah berada di posisi Malin tadi. Merasa kesuksesan yang didapat adalah hasil kerja keras dan kepandaian kita. Padahal setiap kesuksesan yang didapat adalah semata karena ada pertolongan dariNYA.

Sebagaimana orangtua yang tanpa pamrih menolong anaknya disetiap situasi. Atau ketika kita sedang mendapat kesusahan, kita pasti akan meminta tolong kepada teman kita. Tanpa kasih sayang dan kedekatan dengan mereka, rasanya mereka enggan menolong.

Karena kita selaku manusia itu sangat lemah, maka ketika kita ingin mendapatkan pertolongan dariNYA, dekatkan diri kita padaNYA.

Ali RA, pernah berkata:
“Kasihan sekali manusia itu. Ia tak mengetahui kapan ajal tiba. Tubuhnya adalah penyakit. Segala perbuatannya selalu dicatat. Kutu kecil pun bisa menyakitinya. Ia bisa mati hanya dengan tersedak. Dan baunya busuk hanya karena keringat”.

Sesungguhnya kita itu lemah. Dan Allah mengecam pada orang-orang yang memiliki rasa sombong.

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah” (QS. An-Nisa: 28).

Ketidaksadaran yang sering kita rasakan adalah sadar kita ini lemah tapi seringkali salah bersandar pada yang tak seharusnya.

Lahaula wala quwwata illa billah

fazarfirmansyah.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *