Menanti Gebrakan Ekonomi Sri Mulyani

negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi bukan pemaki

Anugrah Roby Syahputra

Gonjang-ganjing wacana reshuffle Kabinet Kerja sudah beberapa minggu menjadi rumor politik yang tak jelas jun­trungan­nya. Apalagi di dunia maya dimana pertentangan po­litik terbelah dalam dua kutub yang kadang bertolak­bela­kang secara ekstrim: lovers dan haters. Namun, semua seliweran gosip tersebut sudah berakhir Rabu (27/7) kemarin saat Pre­si­den Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet baru hasil reshuffle jilid kedua.

Hasilnya sebenarnya tak terlalu mengejutkan, namun na­ma­nya dunia politik selalu saja melahirkan sikap pro dan kontra. Berbagai pertanyaanpun me­nge­muka. Mengapa Anies Bas­wedan yang berprestasi justru diganti? Padahal ia sudah banyak membuat terobosan baru dalam dunia pendidikan seperti program membaca buku 15 menit setiap hari se­­b­elum mulai belajar, kampanye orang tua mengantar anaknya pada hari perta­ma sekolah hingga penghapusan kekera­san di seko­lah. Lalu, ada pula perta­nya­an, mengapa Puan Maharani adem ayem saja? Sementara kinerjanya terlihat bia­sa-biasa saja dan tak ada yang patut diistimewakan. Sampai-sampai ada tu­di­ng­an bahwa Rizal Ramli diberhentikan dari tugasnya karena ber­seberangan de­ngan Ahok yang dulu mendampingi Jo­kowi dalam memimpin DKI Jakarta.

Tak hanya itu, salah satu isu yang me­nge­muka adalah po­li­tik transaksional. Se­perti yang sudah-sudah, partai-partai pen­­dukung pemerintah memang diang­gap sudah sewajarnya men­dapat kursi men­teri. Maka dalam reshuffle kali ini kita meli­hat parpol yang belakangan bergabung dengan koalisi pemerintah akhirnya juga mendapat jatah. PAN mendapat posisi Menpan RB yang diisi oleh Asman Abnur, sedangkan kader Golkar dipercaya menjadi Menteri Perindustrian yang diserahkan kepada Airlangga Hartarto. Meski juru bicara istana membantah adanya politik dagang sapi, ini adalah fakta telanjang yang tak bisa dibantah.

Kembalinya Sri Mulyani

Di luar itu, yang menarik adalah me­lihat konfigurasi tim eko­nomi Jokowi-JK. Kembalinya Sri Mulyani Indrawati (SMI) ke kursi lamanya sebagai Menteri Ke­uangan menjadi pem­bicaraan hangat di berbagai tempat. Perempuan yang akrab disapa Mbak Ani ini rela mening­gal­kan posisinya yang prestisius di Bank Dunia untuk menggantikan Bambang P Brod­jonegoro di kursi Menkeu. Sejak Juni 2010, perempuan kelahiran Bandar Lam­­pung, 26 Agustus 1962 itu dipercaya se­­bagai direktur pelaksana Bank Dunia. Di lembaga keuangan internasional yang ber­basis di Washington itu, beliau di­per­caya sebagai chief operating offi­cer (COO). Seder­hana­nya, SMI adalah orang kedua dalam struktur petinggi Bank Dunia.

Percaya tidak percaya, beliau rela meninggalkan posisi nya­man­nya dengan penghasilan yang mencapai USD 630.­175 atau jika dirupiahkan menjadi se­kitar Rp 8.192.275.000 untuk kem­bali ke kam­pung halaman. Setelah menjadi men­teri, SMI diper­kirakan hanya akan mem­peroleh gaji sekitar Rp. 19 juta per bulan di luar biaya operasional menteri Rp. 120-150 juta per bulan. Hal ini di­ang­gap sebagai sebuah narasi pengor­ba­nan dan nasionalisme yang tinggi.

Publik mengenal SMI sebagai sosok yang cemerlang ketika memimpin Ke­men­terian Keuangan. Ia merupakan Men­keu yang sukses merintis reformasi bir­okrasi. Semua orang menga­kuinya. Ter­masuk bagaimana langkah out of the box-nya yang mempersilakan Komisi Pem­berantasan Korupsi (KPK) untuk ma­suk ke Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU BC) Tanjung Priok se­bagai sarana shock theraphy bahwa langkah perubahan ini tidak main-main. Hal yang sama juga beliau terapkan di Dit­jen Pajak dan unit eselon II Kemen­keu yang lain. Hasilnya, alhamdulillah menggembiarakan. Segelintir oknum nakal memang masih ada, tetapi se­ti­dak­nya SMI telah mele­takkan fondasi mental yang kuat di Kemenkeu melalui re­for­­masi birokrasi. Belakangan, refor­masi bi­rokrasi di Ke­men­keu yang di­rintis oleh SMI menjadi prototype yang di­­adopsi  oleh sejumlah kementerian dan lem­baga lainnya.

Alumnus University of Illinois, Amerika Serikat (AS), ini juga be­berapa kali menerima penghargaan atas kinerjanya yang luar biasa sebagai Menkeu. Pada 2006 majalah Euro­money memberikan penghar­gaan sebagai Finance Minister of the Year. Sedangkan Emerging Markets memilihnya sebagai Men­teri Keuangan terbaik di Asia dua tahun secara beruntun, 2007 dan 2008.

Di samping itu, Sri Mulyani ter­catat berada di urutan ke-55 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Forbes pada tahun 2013. Forbes menulis Sri Mulyani meru­pakan wanita paling senior yang duduk di bank dunia sejak Mei 2010 sebagai Direktur.

Ia mengawasi negara-negara di bagian Asia dan Afrika, Amerika Latin hingga Timur Tengah. Sri Mulyani juga pernah berhasil membawa Indonesia ber­tahan dari serangan krisis keuangan global tanpa cedera sedikitpun keti­ka menjadi Menteri Keuangan.

Sungguh, pilihan Presiden meng­angkat SMI dinilai pelaku eko­nomi sebagai langkah yang tepat. Kala­ngan politisi pun menilai demikian. Bahkan kelompok oposisi juga me­muji penugasan SMI sebagai Men­keu. Seperti misalnya Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman, Ph.D yang menyebut tim eko­nomi kabinet yang sekarang sebagai dream team. “Iba­rat tim bola, sekarang tim ekono­minya sudah diisi pemain bintang, tinggal Presiden sebagai pelatihnya apakah mampu secara efektif me­mimpin dan mengarahkan permain­an,” kata Sohibul kepada wartawan, Rabu sebagaimana dilansir  Antara (27/7/2016).

Justru kritik keras datang dari po­litisi partai pendukung pe­merintah sendiri. Di antaranya adalah anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning Proletariati. Ia menyebut SMI sebagai antek neoli­beralisme dan penunjukan SMI ti­dak sesuai dengan prinsip Trisakti dan visi Nawacita yang didengung-de­ngungkan Presiden sebab beliau disebut-sebut tersangkut kasus bail-out Bank Century.

Respon Positif Pasar

Tak pelak publik di dalam negeri pun umumnya menyambut positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IH­SG), pada Rabu (27/07), menguat hingga mencapai level 5.300.

Hal ini salah satunya disebabkan sentimen positif pasar setelah Sri Mulyani diumumkan sebagai Menteri Keu­ang­an, kata pengamat pasar.

Lucky Bayu, seorang analis Da­nareksa, mengonfirmasi ‘efek Sri Mulyani’ di pasar keuangan. “Me­reka (pasar) melihat bahwa sosok Sri Mulyani tersebut merupakan men­teri yang me­mang memiliki kom­petensi khusus di bidang eko­nomi moneter. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Menkeu dan pada masanya prestasi serta kinerja rupiah pada saat itu cukup baik,” te­rang Lucky.

Sementara itu, pengamat eko­nomi, Goei Siauw Hong, berkata po­sisi Menteri Keuangan adalah ben­teng terakhir pemerintah dan Sri Mul­yani adalah orang yang berani berkata tidak. “Sri Mulyani orang­nya berani ngomong. Seorang men­teri keuangan seharusnya bisa mem­beri tahu pemerintah jika itu tidak bisa dilakukan. Sehingga APBN itu, asumsi-asumsi lebih masuk akal. Ja­ngan sampai asumsinya di-revisi karena akhirnya tidak kredibel di pasar”, jelasnya.

Selain itu, Nilai rupiah atas dolar Amerika juga naik 0,29% dibanding hari sebelumnya. Sejumlah analis pasar menyebut apresiasi positif pa­sar ini sebagai efek Sri Mulyani. Lucky Bayu berpendapat, IHSG akan terus mengalami tren positif hingga ke level 5.500 dan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS juga akan menguat ke Rp12.800 per US$1 di akhir tahun (vivanews.com, 28/7/16)

PR Berat Menanti

Meski disambut hangat dan me­nuai pujian, pekerjaan ru­mah tera­mat berat sedang menanti SMI. Yang paling utama adalah membe­na­hi risiko fiskal, khususnya pene­rimaan negara dan defisit anggaran. Mengingat peran belanja pemerintah pada semester kedua tahun ini ter­hadap pertumbuhan ekonomi perlu diwaspadai lantaran diperkirakan tidak sebesar semester kedua tahun lalu.

Apalagi target penerimaan pa­jak yang te­­lah disahkan dalam AP­BN-Perubahan 2016 dinilai pe­ngamat ma­sih terlalu tinggi, walau­pun telah direvisi dan kebijakan Pe­ngam­punan Pajak sudah dijalankan.

Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy memper­kirakan, penerimaan pajak dari Tax Amnesty hanya sekitar Rp. 80-Rp. 90 triliun dan penerimaan pajak di luar Tax Amnesty hanya bisa tumbuh maksi­mal 8 persen dibandingkan rea­lisasi tahun lalu.

Angka ini jauh lebih ren­dah dari target tahun ini yang sebe­sar 24 persen dibanding realisasi tahun lalu.Dengan perkiraan rea­lisasi belanja negara pada tahun ini hanya 96 persen dari target, Leo menghitung, defisit anggaran bisa jatuh ke 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). (tribun­news.com, 1/8)

Tentu tugas-tugas ini tidak mu­dah, apalagi banyak harapan dari sektor usaha agar SMI membuat ke­bijakan investasi yang friendly tapi tetap ketat dalam law enforce­ment. Inilah yang ditunggu masyarakat agar Indonesia kembali menjadi negara yang kokoh fundamen eko­nominya dengan gaya baru yang sudah -direvolusi mental.

Dengan itu, diharapkan kesen­jangan eko­nomi bisa diminimalisir, lapangan kerja semakin terbuka dan pengang­guran akan berkurang. Oleh karena­nya, meng­hadapi tudingan-tudingan negatif, kita yakin SMI akan tegar sebagaimana ungkapan beliau sen­diri, “Melakukan keba­ikan tak se­lamanya men­dapatkan terima kasih dari banyak orang.” Selamat be­kerja, Bu Ani!. ***

Penulis adalah PNS Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Bergiat di komunitas Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *