Mengenang Generasi Pendahulu

 

Diantara kebiasaan orang – orang shaleh saat mereka bertemu satu sama lain adalah mengenang dan membicarakan kebaikan dari orang – orang shaleh, baik para pendahulunya maupun rekan sejawatnya. Tujuannya adalah meningkatkan rasa mahabbah serta memotivasi untuk bisa beramal dan meraih keutamaan seperti mereka. Lain sekali dengan kita yang pada saat bertemu cenderung akan membicarakan aib, keburukan dan kejelekan pihak lain.

Boleh jadi, kebiasaan itu terinspirasi dari pemahaman mereka yang mendalam atas Al Qur’an juga. Ada banyak dalil yang menjelaskan bagaimana kita diingatkan dengan nenek moyang kita yang shaleh dimasa lalu. Tentu dikandung maksud, agar kita terpacu untuk beramal dan bersikap seperti mereka, agar kita meneruskan perjuangan mereka dan sekaligus upaya menasehati dengan halus jika dirasa kondisi kita bertolak belakang dengan kondisi mereka.

Al Qur’an menjelaskan bahwa kita adalah “Dzuriyyata man hamalnaa ma’a nuuh“. Bahwa kita, umat manusia yang ada didunia seluruhnya saat ini, sesungguhnya adalah anak cucu dari orang – orang yang ada didalam kapalnya Nabi Nuh As. Siapa mereka? Tentu saja orang yang beriman. Karena saat banjir besar, Allah ta’ala menenggelamkan semua orang kafir dan menyelematkan orang beriman, sebagaimana doa yang dipinta oleh Nabi Nuh sendiri. Seolah Al Qur’an mengingatkan akan jatidiri kita yang sebenarnya, bahwa kita adalah anak cucu dari orang – orang yang shaleh dan beriman.

Al Qur’an memanggil suatu kaum dengan menisbatkan kepada nenek moyangnya yang shaleh, berupa “Yaa Bani Israil”. Israil artinya adalah “Hamba Allah”, sama seperti Abdullah dalam bahasa arab. Siapa yang dimaksud dengan Israil? Tidak lain tidak bukan adalah Nabi Ya’qub As. Beliau adalah nabi yang mendirikan Baitul Maqdis di Palestina. Dengan panggilan ini, seolah bangsa Yahudi yang bersifat durhaka, zhalim, penakut dan tidak taat, tengah diingatkan jatidiri nenek moyangnya yang shaleh dan beriman.

Pada saat Maryam datang dengan membawa bayi, padahal beliau belum menikah dan sebelumnya dikenal sebagai wanita yang shaleha, maka kaumnya berkata “Ya ukhta haaruun, maakaana abuukim ra-a sau-in, wa maakaanat ummuki baghiyyaa”. Kaumnya langsung mengingatkan Maryam sebagai saudara perempuannya Harun (nabi). Tidak cukup disitu, kaumnya juga menjelaskan bahwa ayahnya Maryam (Imran) bukanlah orang jahat dan ibundanya juga bukan pezina. Seolah, Maryam tengah diingatkan dengan derajat nenek moyangnya sekaligus keutamaan orang tuanya yang shaleh dan beriman.

Begitulah teladan dari Al Qur’an tentang bagaimana cara menumbuhkan sifat – sifat kebaikan sekaligus mengkoreksi kesalahan kita. Yakni dengan menceritakan generasi pendahulunya yang shaleh serta mengingatkan kemuliaan dan keutamaan yang disandang oleh nenek moyangnya. Semoga kita bisa mengamalkan pelajaran mulia ini. Karena amal shaleh dan kebaikan yang dilakukan oleh para pendahulu dan orang tua bisa bermanfaat bagi anak cucunya. Sebagaimana kisah Nabi Khidir yang diperintahkan Allah untuk memperbaiki rumah dua anak yatim disebuah kota, disebabkan almarhum ayahnya mereka adalah orang yang shaleh. Wallahu a’lam.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *