Mengharap Ridho Allah

Jika kita ridho dengan ketentuan Allah, maka ruh kita akan lebih mudah melepaskan diri dari jasad, karena kita sudah ridho. Sebaliknya, jika kita tidak ridho, maka malaikat maut akan dengan paksa melepaskan ruh itu.

Sakit yang diderita itu jadikanlah sebagai wujud rasa sabar kita, ridho kita akan ketentuan yang Allah berikan pada kita, dan dijadikan sebagai ihtisaaban, ladang pahala amal kita.

Kelak di surga nanti, orang2 mukmin akan merasa iri kepada orang2 yang ketika di dunia diberikan cobaan dan musibah yang berat, karena derajatnya nanti berbeda. Bahkan, kalau boleh mengulang hidup, mereka minta dihidupkan di dunia lagi dan diberikan cobaan dan musibah yang kelak akan dirasakan hasil manisnya di surga, hal mana tidak dirasakan oleh penghuni surga yang lain yang lebih diberikan kemudahan dan kenikmatan hidup.

Setelah kita ridho dengan cobaan hidup itu, pertama kita merasakan lebih ringan dalam menjalaninya. Kedua, kita mendapatkan kenaikan derajat, bisa diistilahkan naik kelas setelah dapat melalui ujian tersebut.

Pelajaran kedua adalah, kematian itu bisa datang sewaktu2 tanpa pemberitahuan atau pertanyaan, mengenai apakah kita sudah siap atau belum. Karena itulah, sebagainmanusia yang cerdas, kita perlu senantiasa ingat jati diri kita siapa.

Siapa saya? Untuk apa saya hidup? Setelah hidup, ada apa lagi sesudahnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus ada di pikiran kita, dan menjadi bahan renungan kita, karena seriap hari ada saja diberitakan orang-orang yang mati.

Orang-orang yang tadinya ada di sekitar kita–kakek-nenek,orang tua, paman, bibi–peerahan-lahan mulai menghilang dari kehidupan. Dan pada gilirannya kelak kita pun akan mengalami seperti mereka yang telah tiada.

Apa yang kita dapat dari pelajaran orang yang mati?

Hendaklah kita menjadi orang yang cerdas, yang mempersiapkan kehidupan kita agar berakhir dengan kehidupan yang baik–husnul khotimah. Bagaimana itu dapat dicapai?

Tetaplah berfokus pada tujuan, tidak mudah terpesona dengan keindahan dunia. Dan cukuplah dunia diletakkan di tangan kita, tidak di hati kita.

Perbanyaklah berkawan dengan orang-orang shalih, yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah, mengajak kita berbuat baik, mencegah kita dari keterpurukan karena hendak melakukan hal-hal yang akan membuat kita makin binasa.

Apakah standar teman-teman yang shalih itu? Yaitu teman yang ketika kita melihatnya, kita ingat kepada Allah.

Teman seperti itulah yang akan mendorong kita mendapatkan akhir yang husnul khotimah…..akhir yang baik. Kelak di surga nanti, ketika kita bergaul dengan teman yang shalih– dan dia tak mendapatkan kita di surga, maka dialah yang akan memohon kepada Allah SWT agar mengajak kita masuk bersamanya ke surga.

Sarah Amalia

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *