Mengingat “Buku” di Hari Buku

membacaSeutas catatan jiwa…

Ini Hari Buku Sedunia; “Selamat Hari Buku, Sahabat!”. Demikian salah seorang sahabat yang bekerja di kantor berita terbesar dan bersejarah di Negeri ini berucap. Namun pada peringatan Hari Buku Sedunia ini, tak sekonyong-konyong membuat saya mengingat akan lemahnya minat baca para penduduk negeri ini yang dicatat melalui grafik-grafik yang terus menukik tajam, bukan pula soal lemahnya semangat menulis, sehingga buku-buku berkualitas makin surut di masa kekinian, bahkan saya juga tak secara otomatis memikirkan kenapa para pelajar lebih mencintai televisi dan gawai dari pada buku-buku pelajaran mereka.

Semuanya tak serta merta berkelebat dalam benak saya. Pun demikian dengan para penulis idola saya macam Raudal Tanjung Banua, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, hingga Paulo Coelho, atau Joni Ariadinata. Seolah lesap. Hilang tak berbekas tatkala saya mengingat “Buku” satu ini.

Apakah saya tidak memandang bahwa buku dan karya-karya mereka sebagai sesuatu yang penting? Apakah saya sudah menganggap bahwa lemahnya minat baca tidak menjadi concern saya? Tidak. Sama sekali tidak! Semuanya penting bagi saya. Atau setidaknya saya masih memiliki kepentingan terhadap buku-buku untuk menuntaskan studi saya, demikian juga dengan dunia kepenulisan yang saya tekuni, butuh referensi. Tentu saja, disitu saya harus mengatakan bahwa buku adalah hal yang penting buat saya.

Tetapi dari ucapan selamat Sahabat tadi, justru saya memikirkan buku yang lain. Buku yang mendadak membuat hati saya kecut. Buku yang sejatinya sedang saya, sahabat, serta kita semua isi dengan rangkaian perbuatan, perkataan, dan segenap detak hati pada tingkatan yang sangat tersembunyi sekalipun. Itulah buku yang akan kita terima kelak. Buku yang tak lain berisikan catatan amal perbuatan kita. Buku yang akan diberikan pada pengadilan terakhir dalam sejarah hidup manusia; Pengadilan Akhirat! Sesuatu yang sangat rahasia, dimana kita tidak tahu, akhir perjalanan setiap kita di neraka atau Jannah-Nya.

Sungguh saya bergetar mengingat bagaimana buku catatan amal akan saya terima. Kemana jalan hidup saya akan berakhir, dalam keridhoan Allah swt ataukah mendapat kehinaan dengan dicampakan ke dalam neraka. Na’udzubillah. Tentu ini bukan perkara yang main-main, Sahabat Rasulullah saw seperti Abu Bakar ra yang keimanannya lebih berat derajatnya bila dibanding keimanan seluruh umat ini saja masih berujar; “Wahai burung, sungguh beruntungnya engkau, engkau makan, minum dan terbang di antara pepohonan penuh kebebasan tanpa perasaan takut akan hari kiamat, andai Abu Bakar menjadi seperti engkau, wahai burung.”

Demikian kerisauan Sahabat mulia Abu Bakar ra. Kerisauan yang hadir atas kebersihan jiwa tatkala menyoal akumulasi catatan amal dan dosa yang akan diterima di akhirat kelak. Lalu bagaimana dengan saya? Rasanya kelalaian ini lebih sering menjadi bagian diri, sementara, buku catatan amal itu akan diterima suatu masa kelak. Begitulah janjiNya yang termaktub dalam kitab nan suci Al Qur’an Al Karim.

Ini tentang sebuah buku yang sedang kita persiapkan kini, buku catatan yang suatu saat kelak apakah akan kita terima dengan wajah berseri, atau sesal yang tiada terperi. Sebuah buku, yang catatannya masih bisa kita perbaiki sedari kini!

Selamat Hari Buku, Sahabat!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *