Menjadi Kupu-kupu atau Batu Bata?

Teks: Eko Novianto
Editor: Riza Almanfaluthi

Jika perbaikan dan penjagaan kualitas kehidupan manusia dimulai dari membangun kualitas pribadi, lalu membangun keluarga berkualitas, terus berlanjut sampai menjadi sosok yang berkontribusi untuk dunia, maka keinginan untuk selalu berbalik adalah masalah dari rangkaian perjalanan kehidupan itu.

Kepintaran seseorang hanya akan menjadi masalah jika kepintarannya itu hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Kekayaan seseorang hanya akan menjadi masalah jika hanya digunakan untuk membusungkan dada. Pun jabatan, panggilan-panggilan dan gelar, serta keindahan anak dan istri. Semua itu hanya akan menjadi masalah jika kembali digunakan untuk menjadi angkuh, membanggakan diri sendiri, atau mengangkat dagu karena sombong.

Keinginan untuk kembali memuaskan diri itulah pula yang sejatinya menghambat upaya perbaikan kualitas kemanusiaan. Perjalanan menjadi tak mudah melaju. Perjalanan menjadi tak mudah menanjak ke kualitas yang lebih baik. Perjalanan menjadi mandek. Perjalanan menjadi mundur. Dan – bahkan – kerap terhenti.

Itulah nyanyian sepanjang zaman. Seseorang menanjak seperti segera akan bersinar, tetapi lalu melemah dan memilih kembali ke titik awalnya. Atau seseorang melaju seperti akan bersinar, tetapi lalu melambat dan memilih untuk berhenti atau mundur. Sepanjang dunia berputar, kisah semacam ini adalah kisah yang tersedia dalam setiap putaran zaman.

Memang pasti tak mudah untuk memiliki determinasi. Memang pasti tak mudah untuk memiliki persistensi. Atau istikamah. Atau disebut apa. Memang pasti tak mudah.

Di antara yang harus dimiliki adalah visi. Saya tak berbicara tentang visi kemanusiaan. Saya sedang ingin kita merenungkan visi yang khas di antara kita masing-masing.
Manusia adalah makhluk yang khas. Unik. Tak pernah ada dua manusia yang identik sama. Kalaupun memiliki ciri fisik yang sama, dia memiliki lekuk jiwa yang berbeda. Kalaupun dua manusia memiliki tabiat dan kecenderungan yang sama, pasti ada hal lain yang membedakan keduanya. Manusia adalah makhluk yang khas. Tuhan menyebutnya sebagai Khalqan Akhar. Penciptaan yang (sama sekali) berbeda.
Manusia adalah makhluk yang khas.

Kekhasan itu bukan cuma menuntunnya pada perbedaan personal semata. Kekhasan itu juga menuntun manusia pada penugasan atau peran sosial yang khas dalam kehidupan.
Tak ada seorang pun yang tak memiliki peran atau pos yang penting dan khas dalam kehidupan ini. Maka, menjadi penting bagi setiap anak Adam untuk menemukan dan menentukan peran khas, spesial, unik, dan penting itu.

Sambil melakukan peran dan posisi khasnya itu, manusia tak bisa menghindari rute umum yang dilalui oleh kebanyakan. Belajar, bekerja, mencari nafkah, mengejar jabatan, menikah, membesarkan anak keturunan, dan lainnya. Setiap dan semua manusia akan menjalani jalan umum itu.

Di jalan umum itulah kerap manusia tak bisa menghindari kompetisi. Ada dorongan untuk bisa lebih cepat, keren, mentereng, dan semua proses kompetisi menuju kesempurnaan itu. Kompetisi itu baik, namun jika semuanya berorientasi publik dan dalam perspektif ‘jalanan umum’, manusia berpotensi tergerus arus dan kehilangan peran dan tugas khasnya. Seperti produk massal, manusia tak lagi memiliki identitas diri yang kuat. Kecuali makhluk yang sedang berlomba untuk lebih cepat dan lebih banyak.

Padahal setiap manusia memiliki ‘Bab Pendahuluan’ dan Mukadimah yang khas. Bagaimanapun, tak bisa menyeragamkan. Ingat, manusia diciptakan dengan penciptaan yang baru dan unik. Maka, adalah hal penting bagi setiap insan untuk memahami dirinya dan memahami kekhasan dirinya dalam kerumunan.

Setiap manusia harus memiliki definisi personal soal tugas dan perannya. Setiap manusia harus mampu mengukur diri. Lalu menempatkan diri dalam posisi dan peran khasnya itu. Tanpa gundah karena kompetisi. Tanpa resah karena kompetisi. Dan tak berkeluh kesah karena kompetisi-kompetisi fana itu. Setiap insan harus memiliki pendefinisian yang khas secara kokoh dalam dirinya. Ini hal penting, karena setiap manusia memiliki ukuran dan kapasitas. Tak bisa menerima beban di luar kapasitasnya dan merugi ketika menjalani peran di bawah kapasitasnya.

Memang tak bagus jika di bawah kapasitasnya, tapi bukan hal yang membanggakan jika sebaliknya. Dan di tengah iklim kompetisi ‘jalanan umum’ itu, manusia kini kerap digegas, kerap dipacu, lalu kehilangan pendefinisian dirinya. Lalu melakukan apologi dan pembenaran-pembenaran di tengah kebingungan dan kehilangan pendifinisian dirinya itu. Dan jika itu yang terjadi, manusia kerap melakukan perjalanan ke belakang. Seperti menanjak, tetapi melorot menurunkan kualitas dirinya. Seperti melaju, tetapi—sejatinya—mundur dan menurunkan kualitas dirinya sendiri.

Memang keren jika bisa menjadi Kupu-kupu. Dalam sesaat melakukan metamorfosis lalu menjelma menjadi makhluk cantik yang mengundang kekaguman. Tetapi mungkin perlu juga disisipkan dalam benak untuk menjadi batu bata yang meski tak memukau, namun menjadi tempat berpijak bagi proses kehidupan yang selanjutnya.

Jika setiap kita mampu melakukan ini semua, kualitas kehidupan manusia akan melaju ke depan. Ke atas. Dan memberikan lebih banyak jaminan bagi keberlangsungan proses penjagaan dan perbaikan kualitas kehidupan itu.

Hanya perlu sedikit ketenangan, kesinambungan berpikir, kelaziman berzikir dan merenung, dan sedikit kebiasaan untuk mengembangkan sikap respek. Itu saja. Lalu tawakal.[]

Catatan: Dimuat di Intax edisi 5/2018.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *