Napak Tilas

Puguh Prasetyo

Sore itu aku masih asyik menggerakan jemariku diatas papan keyboard komputer kantor, kupandangi arloji hitam klasikku sudah menunjukkan waktu pukul enam sore. Kulihat diluar sedang gerimis. “Wah gerimis nih, suasana yang sering menjebakku larut dalam kenangan masa lalu.” Gumamku dalam hati. Tak terlalu kuhiraukan gerimis sore itu, bahkan jas hujan dalam bagasi motor pun tak kukeluarkan. Lalu kutunggangi motor yang baru saja kubeli sebulan lalu dibawah rintik-rintik hujan, sesekali kuusap wajahku yang basah terkena air hujan agar tidak menghalangi pandanganku.

Di sepanjang jalan menuju rumah kupandangi sisi kiri dan kanan jalan yang penuh dengan tanaman jagung, kebetulan hampir seluruh pemilik lahan menanami sawah mereka dengan tanaman jagung. Aroma bunga jagung yang tertiup angin sukses membiusku dan membawaku larut kembali pada memori saat masih di kampung dulu. Suasanya mirip saat ini, aku dan Kakak perempuanku bermain dibawah guyuran hujan, kami mengejar belalang di sawah dekat rumah yang saat itu sedang ditanami tanaman jagung. Aroma bunga jagung begitu melekat erat di alam bawah sadarku sehingga setiap kali aku mencium aroma itu seketika aku teringat pada kenangan kala itu.

Rupanya gerimis tak bertahan lama, beberapa meter sebelum sampai di halaman rumah gerimis sudah reda. Sesampainya di rumah kuletakkan tas kerjaku diatas meja ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada bingkai foto yang terpajang manis di sudut tembok ruangan itu. Iya, itu foto keluarga yang diambil saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Disana ada aku, Ayah, Ibu dan Kakak perempuanku. Seperti sebuah petunjuk, baru saja gerimis dan bunga jagung mengingatkanku pada Kakak kesayanganku itu, sekarang tanpa kusengaja pandanganku tertuju pada foto keluarga kami. Jujur aku rindu pada mereka, sudah hampir lima tahun aku tidak pulang ke rumah Ayah dan Ibu, untungnya lebaran tahun ini aku mendapatkan ijin untuk cuti sehingga aku bisa pulang menemui mereka. Sedangkan bulan depan genap delapan tahun Kakak perempuanku pergi untuk selama-lamanya. Aku ingat betapa gigihnya ia berjuang melawan penyakit Lupus yang dideritanya meski akhirnya ia harus menyerah pada tahun keduanya mengidap penyakit langka tersebut.

Langit semakin gelap, sepertinya hujan akan segera turun. Aku bergegas menuju dapur dan meracik secangkir kopi kesukaanku. Aroma kopi Arabica menyeruak memenuhi seisi ruangan, seruputan demi seruputan sungguh kunikmati dan tubuhku terasa lebih rileks. Kupandangi kalender meja yang terletak persis didepanku, kulihat minggu depan ada libur tiga hari karena hari Jum’at bertepatan dengan hari libur nasional. Sepintas terbesit di benakku ingin memanfaatkan libur panjang tersebut untuk pergi berlibur ke luar kota.

“Aha!!! bagaimana kalau aku ke Surabaya saja.” Celetukku spontan. Kebetulan sudah lama aku tidak ke kota itu, tepatnya setelah Kakak perempuanku sakit dan akhirnya dibawa pulang ke rumah orang tua kami oleh suaminya. Meski tak terlalu lama tinggal di kota itu tetapi ada banyak sekali kenangan indah yang kurasakan, utamanya kenangan indah bersama Kakak. Lalu aku mulai menyusun rencana dan menyiapkan segala keperluan untuk meluluskan rencana perjalananku itu. Hari sudah semakin sore lalu aku bergegas mandi dan bersiap menunaikan ibadah sholat Maghrib.

**************

Kamis sore selepas pulang kerja aku mulai menyiapkan segala keperluan untuk perjalanan besok pagi. Aku mulai mengemasi pakaian dan perlengkapan lainya. Kebetulan tiket Bus besok pagi sudah kubeli semalam dan penginapan pun sudah kupesan kemarin lusa. Kuperiksa lagi rencana perjalanku yang kutulis pada secarik kertas. Tempat-tempat yang ingin kukunjungi pun sudah tertulis semuanya. Aku sengaja ingin mengunjungi tempat-tempat itu karena dulu ditempat-tempat itulah ada kenangan bersama Kakak perempuanku. Aku berharap rindu ini akan sedikit terobati meski tak akan benar-benar terobati karena aku sadar aku tak akan pernah menjumpai senyum manisnya lagi. “Malam ini aku harus tidur lebih awal agar besok punya tenaga lebih untuk menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.” Gumamku dalam hati.

Kumandang adzan Subuh mengalun merdu dan memecah sunyi pagi ini, aku pun segera bergegas menuju Masjid yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumahku. Selepas pulang dari Masjid aku pun bersiap diri untuk menempuh perjalanan yang lumayan panjang, kira-kira butuh waktu sepuluh jam untuk sampai di kota Surabaya. Sebelum pergi ke terminal Bus, aku ganjal dulu perutku dengan sepotong roti bakar dengan selai kacang ditambah segelas kopi hitam favoritku. Tepat pukul 07.00 aku berangkat ke terminal Bus antar kota. Sesampainya disana Bus yang hendak kutumpangi sudah datang dan terlihat beberapa penumpang dengan tujuan yang sama mulai naik ke dalam Bus, tanpa berlama-lama aku pun menuju Bus tersebut kemudian mencari nomor kursi yang sesuai dengan nomor yang tercantum dalam tiket yang sudah kubeli. Tak berselang lama Bus pun berangkat.

Di sepanjang perjalanan mataku sulit sekali terpejam meski sebenarnya kantuk menyerangku berkali-kali dengan membabi buta. Dalam benakku hanya ingin segera sampai dan memulai perjalanan napak tilas ini. Aku juga tak habis pikir kenapa rindu ini begitu meluap-luap, biasanya tak pernah separah ini. Perutku mulai lapar mungkin menu sarapan tadi tak cukup untuk memberiku energi hingga kota tujuan. Untungnya tadi sebelum Bus berangkat aku sempat membeli sebungkus nasi uduk lengkap dengan lauk suiran telur goreng dan serundeng.

Sepuluh jam yang melelahkan pun berlalu, akhirnya aku sampai di terminal Bungur Asih kota Surabaya. Sesaat setelah turun dari Bus, aku lemaskan dulu otot-otot tangan, kaki dan punggungku sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan untuk beristirahat. Setengah jam kemudian setelah merasa lebih bugar Aku pun bersiap mencari angkutan umum menuju penginapan yang lokasinya tak terlalu jauh dari terminal Bus tersebut. Beberapa menit kemudian sebuah angkutan umum berwarna biru tua berhenti tepat didepanku dan aku pun masuk. Duh makin tak sabar untuk memulai perjalanan ini. Hatiku girang tak menentu, sungguh senang bukan kepalang, hal ini tentunya akan menjadi cerita tak terlupakan dalam sejarah perjalanan hidupku.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap memulai perjalan, semalam tidurku nyenyak sekali mungkin karena perjalanan kemarin yang cukup melelahkan. Sebelum bergegas pergi aku menikmati sarapanku pagi ini, ada sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi serta tak ketinggalan secangkir kopi hitam. Perjalanan pun dimulai, tempat pertama yang kutuju adalah Pantai Biru, dulu ditempat itu aku pernah menghabiskan waktu dengan Kakakku dan Puteri kecilnya. Pantai Biru terlihat masih seperti dulu, deretan pohon Pinus tumbuh disepanjang jalan menuju Pantai tersebut, terlihat beberapa pedagang asongan menjajakan daganganya, bedanya saat ini kondisi Pantai terlihat lebih bersih dan terawat. Aku duduk termenung pada sebuah batu besar di bibir pantai, sesekali kupandangi orang-orang yang sedang bermain di pantai bersama keluarganya. Sungguh aku larut dalam kenangan, kuhirup udara dalam-dalam dan kuhempaskan perlahan. Tangisku hampir saja pecah, segera saja aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi dari tempat itu sebelum wajahku bersimbah air mata.

Matahari semakin meninggi, aku melanjutkan perjalananku ke sebuah toko baju. Dulu, di toko itu aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih sebuah model jaket terbaru. Bahkan masih lekat dalam ingatan, Kakak dan Keponakanku sampai terduduk lemas menunggu sampai aku benar-benar menentukan pilihan, saat itu aku hanya tersenyum seraya mengucapkan maaf kepada mereka. Sampai di toko tersebut aku duduk pada bangku kecil berwarna merah di sudut ruangan dan aku tak berniat membeli apapun, Aku hanya ingin merasakan situasi saat itu. Beberapa kali senyuman kecil mengembang di wajahku seolah aku kembali hadir ke masa itu. Tanpa kusadari mataku berkaca-kaca, lagi-lagi tangisanku hampir saja pecah. Aku pun beranjak dari tempat itu.

Hari mulai gelap dan aku masih punya satu tujuan lagi yakni ke pasar malam, sebenarnya pasar tersebut sama dengan pasar-pasar lainya, bedanya saat pagi aneka barang dagangan dijajakan khas pasar tradisional pada umumnya sedang saat malam hari aneka kuliner ditawarkan kepada para pengunjung lengkap dengan aneka permainan untuk anak-anak. Sesampainya disana aku menuju salah satu kedai yang menjual roti bakar. Pada suatu malam aku bermaksud mengajak keponakanku datang ke pasar malam ini, maklum waktu itu kota ini masih minim dengan tempat hiburan. Setelah lelah mencoba aneka permainan aku, Kakak dan Keponakanku mampir ke kedai ini untuk memesan roti bakar. Kami terlibat dalam perbincangan hangat dan yang menjadi topik utamanya adalah tingkah laku lugu Keponakanku yang selalu mengundang gelak tawa.

“Mas, ini roti bakar isi kacang pesananya.” sapa si pemilik kedai sembari meletakkan seporsi roti bakar yang kupesan tadi.

“Terimakasih Pak.” Jawabku dengan sedikit panik karena mulai datang tadi aku hanya duduk sambil melamun mengingat-ingat kenangan dulu saat kami bertiga bercanda ria di kedai ini.

Aku mulai menikmati roti bakar pesananku, tak ada yang istimewa dengan rasa roti bakar ini, rasanya hampir sama dengan roti bakar yang dijual di kedai lainya. Saat menggigit roti bakar tersebut tanpa kusadari air mataku meleleh turun melewati pipiku. Seketika kuusap dengan kedua tanganku, tetapi semakin lama air mataku turun semakin deras bahkan kedua tanganku tak mampu lagi mengusapnya. Kerinduan dalam hatiku seketika pecah malam itu, aku seperti kembali hadir pada hari dimana Kakaku harus pergi untuk selamanya. Saat itu bayangannya seperti muncul dihadapanku lalu ia melambaikan kedua tangannya. Sungguh sesak dada ini dan aku pun menangis sejadinya. Hari ini aku larut dalam peristiwa yang menguras emosi, dimulai saat datang ke pantai Biru lalu ke toko baju dan puncaknya di kedai roti bakar ini. Rinduku yang menderu-deru bukannya padam tetapi semakin membara. Seperti ada secuil sesal dengan perjalanan napak tilas ini, tapi sudahlah semuanya sudah terjadi. Harapku hanya Kakakku bahagia di alam abadi sana dan semoga kelak kami akan dipertemukan lagi di Surga, itu saja.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *