Nasehat Nan Indah dari Kepala Sekolah

Ibu, anaknya di pesantren? Bagus!
Sering menerima keluhan anak, setiap kali berkunjung atau menerima telepon, sampai waktu kunjungan yang diberikan pesantren habis hanya untuk mendengar serentetan masalah yang dialami anak anak kita.
Saya ucapkan, selamat! karena ibu masih dipercaya sama anak.

Loh? Tenang, begini penjelasannya.
Bagi orang tua, memasukan anak ke pesantren mungkin sebuah prestise, ada kebanggaan tersendiri saat berhasil memasukan ke sini,ibu mungkin merasa aman,apalagi di pesantren semuanya terjamin!

Makannya, kesehatanya, ibadahnya, dan yang paling penting, PERGAULAN.
Sebagian besar orangtua memasukan anaknya ke boarding school karena alasan terakhir ini.

Di tengah hiruk pikuk kota kota besar, pergaulan kawula muda yang sudah melampui batas, pacaran, narkoba, tawuran, free sex, LGBT, sampai pembunuhan di kalangan remaja!
Ngeri bu! Bahkan hanya sekadar dibayangkan,
Makanya saat ini pesantren dipercaya menjadi alternative untuk mengamankan anak anak kita.

Itu versi kita loh!
Bagaimana dengan anak kita,
Pernah bertanya, apa yang dirasakan?
Atau sekadar bersabar mendengarkan keluh kesah mereka selama disini?

Kalau anda tipe pendengar yang baik, Anda hebat! 4 jempol buat Anda, tapi tak banyak orangtua yang seperti ini, kadang yang mereka kejar hanya capaian-capaian yang mungkin malah jadi beban buat mereka.

Saya sering bilang sama orangtua, “bu sekolah di pesantren itu capek!banget!
Bayangkan, Sebelum shubuh mereka bangun, mandi, sholat, ngaji, setelah itu makan, bersih bersih kamar, nyiapin buku,tugas,dll, lalu, belajar sampai siang, lanjut ekskul, sorenya ngaji lagi, malamnya kegiatan keagamaan , sampai menjelang tidur, dan semuanya dilakukan sendiri, catet, SENDIRI!

Bisa dibayangkan bagaimana capeknya bocah bocah kecil ini melakukan semua aktivitas ini, dan itu seharian, padahal bisa jadi sebelum masuk pesantren, semuanya diterima secara instan.

Bu, Banyak goncangan yang anak kita rasakan, belum gesekan yang mereka alami dengan sesama teman.
Huff! berat, sangat berat!

Maka pekan kunjungan, adalah masa yang dinanti, agar beban dan sampah yang selama ini disimpan, bisa dibuang, lalu jiwa yang lelah itu bisa segar kembali untuk dua pekan berikutnya.
maka jangan abaikan hak kunjungan ini.

Tanya, “Nak, mamah ingin dengar cerita kamu selama dua minggu ini?”

Setelah itu, duduk, dengar, berikan empati saat anak mengeluh, tunjukan antusias dan rasa bangga saat mereka menyampaikan raihan raihan selama di pesantren, setelah itu apresiasi !

Dengarkan dengan tuntas, jangan dipotong. Kalau ada yang keliru, sampaikan nanti saja, saat anak tuntas mengeluarkan sampah jiwanya, lalu rangkul bahunya, peluk dengan erat, sambil membayangkan bagaimana beratnya beban selama di pesantren, setelah itu berikan nasihat nasihat ringan yang menyejukan, bisa sambil makan, ngemil, liat trotoar atau kebun teh di ciater, bebas, yang penting mereka happy.

Kalau pun ibu tidak bisa berkunjung karena kesibukan, jauh, dsb.
telepon mereka, lalu gunakan waktu sejam yang diberikan, untuk mereka. Selanjutnya lakukan langkah di atas.

Kalau anak ibu tipe pendiam, belikan diary, suruh tulis apapun yang dirasakan, lalu kirimkan melalui wali asramanya, bisa di screen shoot, di foto, atau dikirim lewat pos seperti tahun 90an dulu.

Lakukan itu secara konsisten, setidaknya, jiwa mereka tidak bimbang, tak ada perasaan dibuang, karena kanal komunikasi utama mereka masih terhubung.
Lalu temukan keajaiban di kunjungan berikutnya,

Oke, selamat berkunjung di kunjungan regular pekan ini.

Salman Awaludin
(Kepala Asrama SMPIT Assyifa Boarding School Wanareja Subang )

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *