Nyinyirmu Tak Setajam Mulut Donald

|| Kontributor: Yuli ||

Alhamdulillah lancar, setelah berdiri seharian meluapkan amarah, serta bernasyid perjuangan penambah semangat akhirnya acara yang bertajuk aksi bela Palestina yang digelar partai keadilan sejahtera berjalan lancar. Meski ada sedikit aksi tak terduga dari para peserta di akhir sesi pada saat penutupan dengan nasyid ternyata masa semakin bergelora semangatnya, hingga team nasyid menambah beberapa lagu lagi untuk menandakan acara berakhir. Namun begitu besar antusias dari para kader pks ini, sudah ditambah lagu masih saja kurang. Dan pada akhirnya penutupan acara diiringi dengan shalawt nabi.

Seiring shalawat nabi dilantunkan masa perlahan bergerak mundur, begitupun dengan saya perlahan yang juga ikut mlipir meninggalkan tempat aksi.

Panas yang tak terasa, keringat bercucuran membasahi wajah, angin semilir datang memberikan warna kesegaran.

“makan dulu yuk” kata salah satu teman yang ikut aksi. Dengan senang hati aku pun menerima tawarannya tersebut. Setelah kurang lebih satu jam an kita makan, kami pun memutuskan berpisah di Stasiun Gambir. Bu Tri dengan suaminya melanjutkan perjalanan pulang sedangkan saya dan Widi melanjutkan perjalanan di Istiqlal sembari membicarakan banyak hal.

Akhirnya bisa selonjoran di Istiqlal sambil menyelesaikan beberapa tugas. Istiqlal yang hari ini penuh jama’ah nya membuat kami mengalah untuk tidak naik ke atas. Kami pun duduk di lantai bawah tangga dekat pintu, lantai ini menjadi pilihan kami untuk menyelesaikan tugas aksi bela Palestina, selain tidak di lalui orang lantai ini bisa dilalui angin dengan bebas hingga membuat kami merasa nyaman.

“onok aksi pks toh?” (ada aksi pks toh?) suara nya terdengar khas Jawa sekali republik ngapak.

“iyok, makanek aku dagang rada akeh” (iya makanya aku jualan agak banyak) jawab salah satu pedagang nasi di emperan Istiqlal

“lha inyong e ae kagak ngerti, maju mundur maning dagang. Malah tangik jam wolu. Retik ngenek tak dagang lak lumayan” (lha aku nggak tau, ragu mau dagang, malah bangun jam delapan. Tau begini tadi aku jualan, kan lumayan) sesal seorang pedagang di Istiqlal

Masya Allah, saya yang orang Jawa meski bukan republik ngapak mesem-mesem sendiri mendengarkan obrolan para pedagang di Istiqlal.

Begitu menyesalnya si ibu karena tidak jualan. Pks memang partai Islam dengan masa terbanyak bila mengadakan suatu acara, maka tak jarang banyak pedagang yang merasakan keberkahan dari aksi-aksi yang diadakan pks. Peduli wong cilik sekali.

Sangatlah sayang bila masih ada orang yang nyinyir bila melihat pks yang selalu berada di garda terdepan dalam membantu umat ini. Sangatlah sayang bila masih ada yang bilang kalau pks nanti buat rusuh, pks nanti rusak fasilitas umum, nanti injek rumput, atau apalah segala citra negatif yang dilabelkan oleh nyinyiners kepada pks.

“beb ayo selfie” ajak Widi yang membuyarkan gerutuan saya

“pakai hp nya sapak?” (pakai hp nya siapa?) gerrr kami tertawa karena mendadak saya menjawab ajakan Widi dengan bahasa Jawa ngapak.

Tapi apalah itu katamu tak akan berpengaruh buat PKS untuk terus menyerukan keadilan bagi umat. Karena ternyata nyinyiran mu ternyata tak setajam mulut Donald.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *