Pantai Tanpa Ombak

Pantai tanpa ombak alangkah indahnya! Pasir yang menghampar putih berkilauan, mempesona sejauh mata memandang. Air yang jernih hijau kebiruan. Ikan-ikan menari diantara terumbu karang.

Pantai tanpa ombak alangkah nyamannya! Air yang tenang, langit yang membayang, suasana lengang. Hanya semilir angin yang menggoda manja, berselingan kicau burung liar memadu irama.

Sukakah kita kalau pantai tanpa ombak itu ada di rumah-rumah kita? Menjadi bagian hidup kita? Anak-anak yang manis, patuh dan penurut. Suami yang sholeh, istri sholehah. Keuangan dinamis. Bisnis berkembang. Karier laju melejit.

Sukakah?
Senangkah?
Idamankah?

Jangan malu-malu
Yuk katakan “SETUJU!”

Sejenak mari kita alihkan pandangan ke pantai yang lain. PANTAI yang BEROMBAK!

Ya. Pantai itu penuh ombak. Dari jauh getarnya sudah terasa. Deburnya mendera. Ombak nampak gulung gemulung bak raksasa mengamuk!

Sukakah kita kalau pantai itu menjadi bagian dari hidup kita?
Anak-anak nakal, istri bawel, suami rewel, ekonomi sulit, rencana meleset?

Jangan malu-malu
Jangan ragu-ragu
Katakan, “maaf, ntar dulu…”

Tapi. Di pantai berombak benarkah tanpa keindahan? Bukankah gulungan ombak itu keindahan tersendiri? Dan pecahnya yang berderai? Serpihan-serpihan air memutih di pinggir karang, tidakkah menawan?

Lihatlah. Betapa para peselancar justru mencari*PANTAI TANPA OMBAK*

Pantai tanpa ombak alangkah indahnya! Pasir yang menghampar putih berkilauan, mempesona sejauh mata memandang. Air yang jernih hijau kebiruan. Ikan-ikan menari diantara terumbu karang.

Pantai tanpa ombak alangkah nyamannya! Air yang tenang, langit yang membayang, suasana lengang. Hanya semilir angin yang menggoda manja, berselingan kicau burung liar memadu irama.

Sukakah kita kalau pantai tanpa ombak itu ada di rumah-rumah kita? Menjadi bagian hidup kita? Anak-anak yang manis, patuh dan penurut. Suami yang sholeh, istri sholehah. Keuangan dinamis. Bisnis berkembang. Karier laju melejit.

Sukakah?
Senangkah?
Idamankah?

Jangan malu-malu
Yuk katakan “SETUJU!”

Sejenak mari kita alihkan pandangan ke pantai yang lain. PANTAI yang BEROMBAK!

Ya. Pantai itu penuh ombak. Dari jauh getarnya sudah terasa. Deburnya mendera. Ombak nampak gulung gemulung bak raksasa mengamuk!

Sukakah kita kalau pantai itu menjadi bagian dari hidup kita?
Anak-anak nakal, istri bawel, suami rewel, ekonomi sulit, rencana meleset?

Jangan malu-malu
Jangan ragu-ragu
Katakan, “maaf, ntar dulu…”

Tapi. Di pantai berombak benarkah tanpa keindahan? Bukankah gulungan ombak itu keindahan tersendiri? Dan pecahnya yang berderai? Serpihan-serpihan air memutih di pinggir karang, tidakkah menawan?

Lihatlah. Betapa para peselancar justru mencari ombak? Liak-liuknya menggemaskan. Dan keberaniannya itu, loh.
Mengagumkan!

Apakah di pantai berombak hilang kenyamanan? Bagaimana kalau kita tidak berkonsentrasi pada ombaknya, pada deburnya dan bersandar pada Sang Pencipta ombak?

Dan batu karang. Layakkah mengaku batu karang tanpa ombak yang menerjang terjang?

Jangan-jangan hanya batu apung yang menggembung!🙂

Begitulah…

Pantai tanpa ombak dan pantai penuh ombak adalah fenomena. Bagi yang berpantai tanpa ombak, bersyukurlah. Tapi tetap waspada. Kenyamanan mungkin saja menjebak
Lemah rasa, tipis sensitivitas.
Rusak simpati
Hilang empati
Zona nyaman yang melenakan.

Bagi yang pantainya berombak, jangan mengeluh.
Ada ujian ada tantangan.
Bisa jadi pantai berombak khusus diperuntukkan untuk mereka-mereka yang kuat terpercaya.
Manusia-manusia pilihan!

SEMOGA!

oleh: Eko Jakasampurna

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *