Pemilih Radikal Cum Rasional

IG @anugrah.roby

Milih karena seagama dibilang radikal. Milih putra daerah dituduh primordial. Padahal itu semua hak konstitusional. Mirisnya si pemvonis ternyata lebih ekstrimis daripada yang disangka: di ruang terbuka ia bilang semua sama dan tak bawa pengaruh apa-apa sedang di forum tertutup ia yang paling lancang teriak politik identitas dengan emosional.

Padahal tak pernah Pancasila melarang kita untuk hal demikian. Malahan UUD 1945 menjamin kebebasan kita. Yang penting bila yang menang tak sesuai harapan, kita tetap legowo menerimanya, setia mendukung program pembangunannya dan tak segan mengingatkannya jika khianat kepada sumpah jabatannya.

Kan sedih kita ada tudingan “biar korupsi asal seakidah” atau “biar preman asal putra daerah”? Entah dari mana dia tahu bahwa si calon yang dituduh ini adalah koruptor dan bandit. Kalau memang dia penipu yang culas dan penjarah tengik kenapa tak lapor polisi atau KPK segera saja? Ya karena itu cuma asumsi belaka, bahkan bisa jadi bertolakbelakang dengan fakta alias hoaks yang tak henti dipropaganda. Seringkali maling asli lebih kencang teriak maling sehingga orang tak bersalah menjadi kambing hitam korban framing maling asli.

Kan sedih kita ketika ada spanduk ajakan shalat subuh berjamaah dituduh politisasi agama. Masjid lalu dituduh dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu. Sampai-sampai ada spanduk tandingan berisi pesan “luruslan niat shalat subuh bukan karena Pilkada”.

Duh, inilah logika keliru. Wajar demikian jika yang memasang spanduk tadi memang tak pernah shalat subuh ke masjid. Kata Nabi ciri orang munafik itu sulit berangkat shalat isya dan subuh berjamaah di rumah Allah itu.

Kalau menurut saya sih ini justru islamisasi politik. Umat diajak agar mencoblospun diniatkan untuk ibadah. Ada tanggungjawab moral di situ sehingga pilihan kita harus merdeka bukan karena rayuan seplastik sembako berstiker tertentu atau lembaran rupiah senilai lima puluh ribu. Jamaah dicerahkan bahwa pilihan ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban olehNya.

Bahkan masjidlah yang dapat memanfaatkan politisi (jika spanduk tadi dibuat oleh timses atau simpatisasi cakada). Syiar agama lebih meriah. Kesadaran relijius melimpah ruah. Insya Allah membawa kebaikan untul Indonesia berkah. Toh di spanduk tidak ada ajakan memilih calon tertentu. Kalau curiga, sambangi saja seharusnya. Lalu lapor ke Panwaslu jika ada bukti pelanggaran. Mudah kan? Daripada terus berkoar memfitnah teman ngopi kita.

Terus, saya milih apa? Rahasia. Saya ASN: punya hak politik tapi dilarang mengekspresikan preferensi politik. Hatta like, comment atau share status calon kepala daerah atau legislatif di 2019 nanti.

Namun jangan khawatir. Saya pemilih rasional. Tak mempan diberi sogokan dan janji-janji utopis. Saya pemilih yang pakai akal dan pikiran waras. Tak goyah dituduh macam-macam oleh alayers yang baru puber politik.

Percayalah, saya bukan pembebek katakita, seword, humorpolitik, gelora, posmetro atau piyungan. Saya berusaha mengikuti petuah Pram: adil sejak dalam pikiran. Saya sadar ketika menonton debat publik terakhir di teve yang saya putar ulang di youtube: calon-calon ini menjual omong kosong. Isi debat di hotel hanyalah saling sindir dan cibir. Ada yang mengulang-ngulang retorika. Ada pula yang membawa program-program imitasi dan mengklaim kerja-kerja petahana yang sejak lama sudah ada sebagai ide barunya. Walah-walah.

Bagi saya rasionalitas itu sudah diwakili
Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata dalam Majmu’ Fatawa,

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.”

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216185226573491&id=1536486203

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *