Penutupan Alexis, Kebijakan Manis Dari Anies

Sebagian publik mungkin tak menyangka kalau Anies punya nyali menutup Alexis.

Penulis : Karnoto

Dua hari ini publik dibikin terkejut oleh keberanian Anies yang tidak memperpanjang operasional Alexis Hotel, bukan karena penutupanya, tapi timengnya yang super cepat. Hanya beberapa minggu pasca Anies dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Apalagi gubernur sebelumnya sering menakut nakuti publik kalau Alexis sulit ditutup. Dengan stylish Anies yang kalem, tenang dan lembut ternyata Anies membuat kejutan.

Penutupan Alexis merupakan kebijakan manis. Sebab isu Alexis sudah menjadi isu hot, se-hot isu reklamasi. Apalagi itu masuk dalam janji Anies-Sandi.

Sosial media pun heboh. Seperti biasa ada juga yang keberatan, diantaranya anggota parlemen dari Partai Nasdem.

Menurut mereka Anies hanya sekadar mengejar janjinya, meskipun kampanye sudah usai. Buat saya ini kritik yang rada-rada konyol.

Wong namanya janji kampanye ya harus ditunaikan, dan ditunaikannya ya setelah terpilih bukan saat sedang kampanye.

Inilah pemimpin yang baik, bisa menunaikan janji-janji kampanyenya. Wajar dukungan terhadap kebijakan Anies pun mengalir deras.

Publik masih menunggu kebijakan manis Anies lainnya. Kebijakan manis inilah yang diharapkan publik, khususnya sebagian besar warga Jakarta.

Satu kebijakan Anies ini memperkuat personal branding Anies sebagai sosok yang tak ingkar janji.

Membuat kebijakan yang tak sejalan dengan keinginan pengusaha besar tak mudah, karena risikonya cukup berat.

Apalagi mereka memiliki kekuatan finansial yang luar biasa dan dengan finansial itulah selama ini mereka merasa “nyaman” karena bisa melakukan apapun.

Namun nyali Anies rupanya harus membuat mereka berfikir ulang. Beda gubernur, beda gaya kepimpinan.

Kalau dijaman Ahok mungkin mereka enjoy karena Ahok memberi “perlindungan” terhadap mereka. Namun dimasa Anies akan ada yang beda 360 derajat.

Anies merasa yakin bahwa dia tak sendiri, kalau sekadar mengandalkan parlemen mungkin Anies tak seberani seperti sekarang, tapi karena support dari masyarakat besar itulah yang membuat Anies berani membuat kebijakan manis sekaligus pahit bagi mereka yang gerah.
Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kekuatan bagi Anies untuk mengetuk palu kebijakan yang manis.

Meski sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa rasa manis bukan berarti tanpa risiko. Opini pasti akan diarahkan atau dibelok belokan kepada sesuatu yang tidak substantif atau bumbu-bumbunya.

Bumbu-bumbu inilah yang sering digoreng, karena aroma dari bumbu memang paling menyengat sehingga mengundang perhatian banyak orang, apalagi bagi mereka yang hobinya meracik bumbu.

Beruntung masyarakat yang pro Anies sudah biasa dengan racikan bumbu yang banyak beda rasa dengan aslinya.

Maka jangan heran warga netizen pro Anies pun sudah menyiapkan bumbu yang diracik dengan data dan ilmiah, bukan bumbu yang penug zat kimia dan beracun.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *