Perjuangan Merajut Ukhuwah

|| Kontributor: Eko Jun ||

@ Majelis I’tibar

Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar adalah penopang utama dakwah rasulullah. Mereka adalah kader – kader inti dakwah yang telah teruji, selalu bersiaga menyambut seruan amal dan siap dimobilisasi untuk kemenangan dakwah. Namun jangan dikira kehidupan msreka senantiasa harmonis dan kompak. Sebaliknya, malah banyak friksi dan konflik dikalangan mereka, baik yang terlihat nyata maupun konflik batin.

Contohnya tentu saja sangat banyak. Tidak lama setelah dipersaudarakan oleh rasulullah, kaum munafik berhasil memprovokasi kaum Muhajirin dan kaum Anshar dengan seruan ashobiyah jahiliyah (membanggakan nenek moyang). Dari bercanda, jadi saling ejek dan akhirnya memicu pertengkaran hebat. Hampir saja menyulut terjadinya konflik terbuka yang bersifat komunal, andai tidak cepat – cepat ditangani secara serius.

Diantara sesama kaum Anshar sendiri, hampir terjadi perpecahan serius. Akibat saling tuding sebagai golongan munafik dan pengecut, antara Sa’ad bin Mu’adz (Pimpinan suku Aus) dengan Sa’ad bin ‘Ubadah (tokoh suku Khazraj). Peristiwanya terjadi saat kasus Haditsul Ifki, yang dihembuskan oleh kaum munafik. Mereka bertengkar hebat dan saling bersiap untuk mencabut pedang, padahal ada rasulullah ditengah – tengah majelis.

Saat peristiwa Sulhul Hudaibiyah, Umar bin Khathab ra melayangkan protes keras kepada rasulullah. Beliau menganggap isi perjanjian itu sangat merugikan umat islam. Saat protesnya tidak ditanggapi, Umar bin Khathab mendatangi Abu Abakar untuk meminta dukungan, namun Abu Bakar memilih bersikap pasif dan menyerahkan urusannya pada rasulullah. Diluar arena, para shahabat juga melakukan “pembangkangan” dengan tidak mau menuruti perintah rasulullah untuk bercukur. Mereka baru ikut bercukur saat melihat rasulullah bercukur.

Kaum Anshar merasa cemburu dan tersingkir saat pembagian ghanimah pada perang Hunain. Usai perang, rasulullah membagi – bagikan ghanimah kepada para tokoh Quraisy yang menjadi muallaf dan tidak menyisakan sedikitpun ghanimah untuk kaum Anshar. Padahal kaum Anshar adalah salah satu pilar utama yang menopang dakwah rasulullah, sejak rasulullah terusir dari Makkah hingga memikiki kedudukan yang mapan di Madinah. Kisah selanjutnya, tentu kita sama – sama sudah tahu.

Tidak cukup disitu, suasana kesukuan kembali tersaji sesaat setelah rasulullah wafat. Bukannya segera bergegas untuk menguburkan jenazah rasulullah, kaum Anshar malah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membahas masalah kepemimpinan pasca rasulullah. Kaum Muhajirin ikut menyusul. Isi percakapan dalam pertemuan itu, sedikit banyak memberikan gambaran kepada kita tentang kuatnya semangat kesukuan yang ada. Meskipun akhir dari pertemuan itu adalah lahirnya lembaga kekhalifahan dengan membai’at Abu Bakar sebagai “Khalifah Rasulullah” yang pertama.

Beberapa kisah ini hanyalah sedikit bukti bahwa kehidupan kaum Muhajirin dan kaum Anshar itu penuh friksi dan konflik. Hebatnya, mereka mampu melalui goncangan – goncangan ukhuwah dan tetap bisa bersatu untuk memenangkan dakwah islam. Bayangkan jika situasi yang pernah mereka hadapi terjadi dimasa sekarang ini. Entah bakal seperti apa jadinya. Faktanya, sebagian kita memang sangat sulit untuk bersatu. Bahkan banyak pula yang senang memperdebatkan tema – tema yang tidak terlalu penting seperti bentuk sorban dan bab kenajisan kucing.

Periode 10 tahun perjalanan dakwah di Madinah memang gilang gemilang. Rasulullah menjadi nabi dengan kisah dakwah paling sukses diantara nabi – nabi yang lainnya. Saat menyeru dibukit Shafa (mengawali periode dakwah jahriyah), beliau hanya seotang diri disana dengan kaum yang mendustakan seruannya. Pada saat Haji Wada’, beliau bersama dengan 130 ribu shahabat yang membenarkan seruan dakwahnya. Dan ternyata, beliau meraih itu semua bersama dengan para shahabat yang sarat intrik, friksi dan konflik. Luar biasa sekali manajemen konflik yang dilakukan oleh rasulullah.

Saat ini, kita melihat banyak intrik, friksi dan konflik diantara sesama ormas islam dan harakah islamiyah, diantara sesama aktivis dakwah, diantara dai dan ulama, diantara qiyadah dan jundiyah. Mungkin kita mampu mengurai secara detil dan rinci tentang manhaj dakwah nabi, tentang strategi dan perjuangannya, tentang rumusan konsep dan kunci suksesnya. Namun itu semua tidak banyak berarti jika tidak ada yang serius menangani masalah ukhuwah. Perjuangan merajut ukhuwah, mungkin itulah puzzle yang hilang dari dakwah islam di nusantara.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *