Rakaat-Rakaat Penantian

@anugrah.roby

Alif lam ra
Seorang musafir lusuh terhempas di tepian subuh
Wajah muramnya termangu dalam sepi yang membisu
Menginsyafi alpa diri perjalanan hidup sekian windu
Apakah masih tersisa segenggam ampun dari Rabb-ku?

Kaf, ha, ya, ain, shad
Si lelaki tengah berdiri di samudera Ramadhan nan bestari
Terpampang di matanya pintu surga menganga
Terlihat pula gerbang neraka yang tertutup rapat setelah digembok begitu tupa
Bahkan setan pun diam tak berdaya akibat tangannya diborgol hingga purna

Si musafir beranjak ke sebuah surau di sebelah madrasah
Diputarnya keran, dibasuhnya wajah dan anggota wudhu’ lainnya
Lalu ia tersungkur di sehampar sajadah
Mengingat kelam jahiliyah di masa silam
Memohonkan ampun atas dosa-dosa yang menggunung

Sebakda rakaat-rakaat penuh penantian
Disimpannya asa bertemu lailatul qadar
Demi takwa penghapus pedihnya luka

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *