Refleksi Penghafal (bagian 1)

Oleh : syahdan Arief

Pagi ini kuberselancar maya dengan ID “penghafal” muncul banyak berita memuliakan, dapat beasiswa, dapat umroh dan haji gratis serta seabreg penghargaan lainnya yang membuktikan bahwa seorang “penghafal” sesuai dengan firman-Nya dan sabda Rasulullah Saw untuk mendapatkan kedudukan termulia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Namun ada yang Allah Ta’aala langsung undang ke surgaNya, sebuah berita terupdate dari Afghanistan perayaan dari kelulusan wisuda Alquran yang diikuti sebanyak 150 wisudawan meninggal dunia karena serangan bom yang begitu tak berperikemanusiaan.

Memang mereka lebih pantas langsung utk tinggal dalam keridhaan di sisiNya daripada hidup di dunia yang penuh dengan kehinaan.

Lantas seperti apa “penghafal” yang dimaksud?
— penghafal yang menjadikan Alquran sebagai pedoman dan role mode kehidupan sehari-hari —

Sakitkah mendengarnya ketika ada istilah mantan “penghafal” ?
—Alquran saja tak bisa dijaga dan ditinggalkan begitu saja apalagi kamuh.. heheu. Tragis! —

Tak elak yuk kita simak pertanyaan jiwa di bawah ini yang kudapat dari salah satu chat teramai groupku dengan beberapa perubahan…
yang seolah hati dan pikiran ini dibawa untuk adem berpikir dan hangat dalam mengambil tindakan.. yuk sob!
Bagaimana kabar hafalanmu, umma? Masihkah dalam shalatmu kau baca surah pendek juz 30?
Walau kita semua faham betul keutamaan surah-surah itu.
Tapi, apakah kualitas hafalanmu tidak kau banggakan di hadapan Rabbmu?

Bagaimana kabar hafalanmu, sis? Ingatkah bagaimana perjuanganmu mendapatkan hafalan itu? Lantas, kenapa perjuanganmu dalam
muraja’ah (mengulang2 hafalan) tidak lebih besar?
Hafalan al-Qur’an itu lebih mudah hilang daripada seekor unta yang tidak diikat oleh tuannya.
Bukankah kau tahu hadits tersebut?

Bagaimana kabar hafalanmu, brother? Berapa juz yang bisa kau baca lancar tanpa harus melihat dulu sebelumnya?
Seberapa siapkah kau menjadi imam shalat tanpa ada persiapan surah apa yang akan dibaca?

Menghafal al-Qur’an tak lantas berhenti setelah kita menyelesaikan setoran akhir.
Bukankah impianmu adalah menjadi ahlul-Qur’an? Menjadi Ahlullah?
Maka, muraja’ah adalah pekerjaan seumur hidupmu.

Bagaimana kabar hafalanmu, sis? Seberapa intens interaksimu dengan al-Qur’an sekarang? Apakah tilawahmu bertambah? Atau malah berkurang? Apakah hari-harimu kau sibukkan dengan urusan dunia? Lantas bagaimana dengan muraja’ahmu?
Berapa halaman, berapa surah, berapa juz yang kau dapatkan per hari?

Bagaimana kabar hafalanmu, Saudaraku?
Bukankah kita ingin al-Qur’an menjadi penolong atau syafaat?
Tapi, jika usaha kita untuk muraja’ah hanya seadanya,
bagaimana jika al-Qur’an menuntut hafalan kita yang hilang?
Allah tidak akan bertanya kenapa kau lupa lagi lupa lagi.
Tapi yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya adalah
Bagaimana usahamu dalam me-muraja’ah hafalan?

Saudaraku, kita semua hafal betul bahwa seorang teman yang mengingatkan pada kebaikan bisa memberikan kita syafaat kelak di akhirat. Semoga dengan ini, jika kelak tidak kau dapatkan aku bersamamu di surga, carilah aku.
Bukan berarti aku yang berbicara lebih baik, kita sama-sama sedang memperbaiki diri menjadi insan yang diridhoi-Nya.

Sudahkah tergerak akan ini semua? Masih adakah semangat yang menggelora dalam jiwa utk Istiqomah dalam berbicara dan bertindak?

Jakarta, 19 April 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *