Refleksi Penghafal (Bagian 2)

Oleh : syahdan Arief

Lupa atau melupakan?
Kalau kita lupa ya gimana lagi ya?… Hehe
Lebih jauh dalam hal ini penjelasan terkait lupa adalah termasuk rahmat Allah dan kebaikan-Nya kepada para hambaNya.
bagaimana tidak? Jika seseorang lupa hafalannya, dia tentu akan menghafal kembali (muraja’ah). Jika dia murajaah bacaannya, dia akan mendapatkan hasil yang lebih utama daripada kalau dia dulu telah membaca Al-Quran, menghafalnya, dan tidak lupa. Karena jika Anda membaca, hafal dan tidak lupa sedikit pun, Anda tidak akan membaca Al-Quran walaupun pada saat Anda butuh. Namun selama Anda mengetahui bahwa Anda akan lupa, tentu Anda akan muraja’ah berkali-kali, demikian seterusnya.
Begitulah.

Secara hukum dia tidak berdosa karena lupa merupakan thobi’i (melekat sifat di setiap diri umat manusia) akan tetapi disyariatkan bagi seorang muslim untuk selalu menjaga dan memelihara hafalan Al-Quran agar tidak hilang dari ingatannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -,

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِيْ عَقْلِهَا

“Jagalah Al-Quran. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Al-Quran itu lebih mudah lepas daripada seekor unta yang lepas dari talinya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5033 dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, bab (22), dan diriwayatkan Muslim, no. 791 dalam kitab Shalat orang yang bepergian dan qashar, bab (23) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari z.)

So.. yang paling penting dari yang terpenting adalah mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Quran kemudian mengamalkannya. Karena barangsiapa yang mengamalkan Al-Quran, maka Al-Quran tersebut akan menjadi hujjah baginya (akan membelanya di hadapan Allah l). Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan Al-Quran, maka Al-Quran tersebut akan menjadi bumerang dia. Hal ini berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -.

وَ الٌُقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Dan Al-Quran itu bisa menjadi hujjah bagimu (membelamu) dan bisa menjadi hujjah atas kamu (mengancammu).” (Riwayat Muslim dari hadits Al-Harits Al-Asy’ari yang panjang.

Nah..
Kalo melupakan ini yang ngeri.. bisa jadi nanti pasti bakal dilupakan oleh sang pemilik Kalam.
Seperti kisah Dr. Thaha Husein yang dikenal sebagai Bapak Sastra Arab di Mesir. Ia sudah hafal Al-Quran sejak kecil, namun akhirnya ia tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu Allah SWT, nauzubillah mindzaalik..
Sampai merembet pada hal Aqidah dan begitu mahal Hidayah..
Subhanallah, maha suci Allah Ta’aala atas segala kebaikan dan kebenaran.

Sebelum ditutup refleksi ke 2 ini…
Yuk bisa kita simak kisah di bawah ini dengan baik, mungkin pernah terjadi pada kehidupan kita…

Seorang dosen Masyayikh.. mendengar curhatan mahasiswa tingkat akhir dan banyak yang mengadukan masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.

Lupa yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu tidak berdosa dan tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat manusia.
Dan lupa jenis kedua adalah termasuk dosa.
Dan bahaya sekali sehingga bakalan banyak ancaman serius bagi penghafal Alquran dg tipe seperti ini.

To be continued..

Jakarta, 20 April 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *