Reruntuhan Kota dan Instrospeksi Kita

@anugrah.roby

Cordoba adalah memori pahit bagi ummat. Ingatan akan kegemilangan peradaban pupus dimakan ambisi serta ketamakan. Luasnya kekuasaan dan jayanya aneka ragam pengetahuan tak jaminkan keselamatan.

Hadirnya Abul Hasan Ali ibn Nafi’ alias Ziryab kemudian mengawali pudarnya abad keemasan itu. Alunan musik yang melenakan telah mengalihkan perhatian orang dari ilmu kepada hiburan semata. Inilah awal mula sejarah kelam pembantaian saudara kita di Andalusia.

Demikian pula Baghdad. Hamparan kemegahan yang menjulang perkasa ambruk sekejap saja dihempas badai kekejian. Meski ada faktor luar, tak bisa dipungkiri unsur kelemahan internal juga mendominasi. Namanya saja yang khilafah, tapi model pengaturan negaranya, tutur Abul A’la Al Maududi adalah kerajaan. Judulnya memang masih Islam, tapi di istana juga kemaksiatan dan intrik politik bertaburan. Sampai akhirnya 80.000 kaum muslimin bersimbah darah dan koleksi kitab di Baytul Hikmah dibakar amarah Tartar hingga sungai Eufrat berubah jadi hitam dan merah.

Di Pasee, harmoni antara ulama dan umara berpaut pada puncaknya di bawah kepemimpinan Marah Silu atau lebih dikenal dengan nama Sultan Malikus Saleh. Marco Polo dan Ibnu Bathuta merekam kehebatan kerajaan di ujung Sumatera ini. Namun sayang, kegagalan kaderisasi pemimpin (karena lupakan Islam) jadi salah satu sebab kemundurannya. Maka benarlah Syakib Arselan yang menegaskan bahwa kegagalan umat ini disebabkan ulah kita yang meninggalkan pedoman Tuhan melalui agama.
.

Saat kejayaan, kemenangan, keunggulan adalah saat iman, dan saat keruntuhan, keterjajahan, keterpurukan, adalah saat hilangnya iman. Sebagaimana iman menciptakan keajaiban di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban di alam kenyataan. Gelora dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah. Dari rahim dan madrasah iman dalam sejarahnya telah berkali-kali melahirkan manusia besar, para pahlawan (banyak amal shalih dan pahalanya).” (Abu Hasan Ali Al Hasani An Nadwi)

1 reply
  1. Suci Widyasari
    Suci Widyasari says:

    Iya, memang terlebih dulu kita (umat Islam) ini sudah saatnya instrospeksi diri. Sebelum bertindak lebih jauh, untuk peradabat umat yang lebih baik, dalam fitrah Islam tentunya.

    Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *