Respek

Eko Novianto

Masih anak-anak, kehausan kelelahan, tampak miskin, tapi dia sanggup memikirkan lingkungannya.

Tangan kecilnya berkali-kali kembali memegangi ujung karungnya. Menjaga agar karungnya tetap rapat ke pahanya. Sambil mengenggam erat gelas es cincaunya. Dan menarik lagi ujung karungnya, terutama jika dia sadari ada orang yang berlalulalang di depannya. Terlihat sekali, dia tak ingin karungnya itu mengganggu lalu lalang jamaah sholat jumat Masjid Cut Meutia.

Siang itu, rasa haus menyergapnya. Setelah mengisi penuh karungnya dengan koran-koran bekas sajadah jamaah, dia ingin tenggorokannya dimanja es cincau. Duduk di sebelahku, mengurai uang kertas kumal, menghitung-hitungnya, lalu memutuskan memesan segelas pada si abang es cincau.

Masih muda, bahkan belia, tak berpunya, terlihat papa, dan tampak nyaris tersisih dari hiruk pikuk dunia, tetapi dia tak ingin karungnya menghalangi lalu lalang pengunjung pasar kaget yang sedang sibuk menimpali teriakan dan rayuan para pedagang.

Salut.

Sebuah oase di tengah keangkuhan Jakarta. Keangkuhan yang rajin dipertontonkannya. Diperlombakannya. Dijejalkannya rapat-rapat ke dalam jiwa. Sampai tercipta utopia dan menafikan kemuliaan budi. Padahal ada. Dan kadang ditunjukkan oleh seseorang yang tampak diremehkannya dan nyaris disisihkannya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *