Rumah Ukhuwah Ini Jangan Kau Rapuhkan

Sahabat mulia,
Di hari berlipat barakah ini, in syaa Allah dengan tulus kusampaikan terima kasihku kepada seekor binatang, laba-laba. “Syukran ayyatuha-l-‘ankabut”.

Ya, laba-laba!
Bersebab pelajaran penting darinya untuk memberi warna dan makna bagi kehidupanku, sahabat-sahabat mulia, dan kita semua.

Laba-laba atau disebut juga labah-labah, menurut para ahli adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Ia juga dikategori kan sebagai hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Sahabat kehidupan ini mampu menghasilkan benang sutera (yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat) dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya.

Jangan pernah tanya kekuatan benang dan jaring rumah Laba-laba ini. HarunYahya mengatakan, benang yang digunakan Laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. Benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh ribu kilogram per meter persegi. Jika seutas tali berdiameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat seratus lima puluh mobil.

Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuatan jaket anti peluru. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas, tapi lebih kuat dari baja, dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia.

Masalahnya, mengapa Al-Qur’an menyebut rumah Laba-laba sebagai “rumah terlemah”?.

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut/29:41)

Sahabat mulia,
Coba perhatikan seksama ! Allah melekatkan sifat “lemah” atau “rapuh” pada “rumah” Laba-laba, bukan pada benang sutera teramat kuat yang menjadi bahan dasar konstruksinya.
Ayat terbaca di atas memvisualisasi rapuh dan lemahnya dimensi spiritual, moral ataupun rekatan sosial pada “rumah Laba-laba” : para penghuninya, bukan bahan dasar konstruksi dan bangunannya!

Sebuah rumah yang hanya ditempati oleh sekumpulan bangkai yang saling memangsa dalam hidupnya! Seekor Laba-laba betina membunuh “pasangannya” dan mencampakkannya ke luar rumah, setelah ia berhasil melahirkan keturunannya. Pun pula di kemudian hari, anak-anak Laba-laba tersebut membunuh induk betinanya, lalu mencampak kannya seperti yang pertama! Subhanallaah !

Sebuah rumah yang kehilangan fungsi spiritual dan sosialnya. Tak ada pelukan hangat bagi anak-anak dari ibunya. Tak pula seorang ayah yang melindungi anak-anaknya. Apatah lagi seorang ibu yang “berhati ibu”. Tak pula kehangatan persaudaraan dalam suka.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *