Sentuhan Fisik

Kebersamaan. Juga kepedulian. Melebur menjadi sebuah entitas baru. Penyubur kala cinta bersemi dan penguat saat badai menerpa. Mendegradasi keakuan, mengikis keegoan dan menumbuhkan jiwa yang gersang.

Kebersamaan adalah syarat. Syarat meniti kehidupan. Juga melewati ketidakpastian. Kebersamaan adalah harmoni. Harmoni yang mengelaborasi cinta dan membuahkan kerja. Juga merupakan representasi cinta. Sedangkan kebersamaan tanpa sentuhan fisik adalah penderitaan. Penderitaan yang memerihkan jiwa.

Seorang wanita bisa tahan saat kesulitan melanda. Walaupun tak dibenarkan membiarkan berlama-lama dalam kesulitan. Tapi seorang wanita tidak akan kuat bila biduk rumah tangganya hambar. Minim kepedulian atau keengganan menebar romantisme.

Pertemuan dua anak manusia adalah fitrah. Menguatkan juga menyeimbangkan. Tapi apa akibatnya jika dua insan yang telah bersatu itu terpisahkan?

Kegoncangan. Sebagaimana yang dialami oleh wanita yang ditinggal perang suaminya.

Berbulan-bulan. Hinggapan kerinduan itu menyergap. Syair-syair pengobat rindu dilantunkan sebagai penghibur rasa. Rintihan jiwa seolah menguatkan cabikan dirinya. Umar bin Khatab sedang melewati rumahnya, mendengar rintihannya. Umar gelisah mendengar bait-bait yang terlantun. Rasa bersalahnya membuat kegelisannya semakin membuncah. Ditanyalah pada anaknya tentang lamanya seorang wanita berpisah dengan suami. “ Wahai putriku, berapa lama seorang wanita tahan berpisah dengan suaminya?” tuturnya.

“Bisa sebulan, dua bulan atau tiga bulan. Setelah empat bulan ia tidak akan mampu lagi bersabar” ujarnya. Jawaban itu membuat sisi-sisi kemanusiaan itu hadir. Umar lalu membuat kebijakan mengenai batas lamanya seorang prajurit pergi perang.

Kebersamaan adalah sentuhan dan sentuhan itu menghidupkan. Juga menghangatkan. Lihatlah kisah Laila dan Qais. Kisah cinta yang menyiksa karena tembok egoisme. Apakah cinta bisa berkembang tanpa sentuhan fisik?

Qais contohnya. Ia akhirnya gila dengan kenyataan tidak bisa memiliki cinta fisiknya Laela. Juga dengan Laela yang mengalami penderitaan berkepanjangan. Lalu bagaimana dengan ungkapan cinta tak harus memiliki? Jika manusia diciptakan berpasangan, bukankah sentuhan fisik adalah ruh dari kebersamaan?

*Dhiyya Uddin*

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *