Syamsiyah dan Qamariyah

Model perhitungan kalender berbasis syamsiyah (peredaran bumi mengelilingi matahari) dan qamariyah (peredaran bulan mengelilingi bumi) sebenarnya sudah lama dikenal oleh umat manusia. Kedua model kalender ini sudah eksis sejak zaman kuno, jauh sebelum nabi Isa dan nabi Muhammad saw lahir. Misalnya, bangsa Arab sudah lama menggunakan kalender qamariyah, memberi nama – nama 12 bulan serta memberi penghormatan kepada bulan – bulan haram, jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Jika saat ini ada imej bahwa kalender syamsiyah (masehi) identik dengan kalender non muslim dan kalender qamariyah (hijriyah) identik dengan kalender umat islam, hal itu lebih disebabkan faktor – faktor kesejarahan yang menyertainya. Kalender syamsiyah dihitung dari hari kelahiran Yesus Kristus, yang oleh kaum nashrani diyakini terjadi pada tanggal 25 Desember. Artinya, Yesus Kristus lahir kedunia pada 2018 tahun yang lalu. Sedangkan kalender qamariyah dihitung dari peristiwa hijrah umat islam, dari Makkah ke Madinah. Artinya, peristiwa hijrah terjadi pada 1439 tahun yang lalu.

Diluar itu, ada juga kalender syamsiyah yang tidak identik dengan kalender Masehi, misalnya kalender bangsa China. Basis perhitungannya didasarkan pada kelahiran Konghucu, pada tahun 551 SM. Juga ada kalender qamariyah yang tidak selalu identik kalender hijriyah, misalnya kalender Jawa. Kalender Jawa yang merupakan konversi dari kalender Saka, dihitung dari kemenangan kaum Saka di India atas sebuah pertempuran, pada tahun 78 M.

Kalender Muslim
Sulit dipungkiri, umat Islam memiliki jalinan yang kuat dengan sistem perhitungan kalender berbasis qamariyah, ketimbang syamsiyah. Setidaknya karena beberapa alasan, diantaranya : (1) mendapatkan legitimasi dari Al Qur’an. Al Qur’an jelas menyebutkan tentang ramadhan dan bulan – bulan haram, sesuatu yang hanya ada pada sistem qamariyah. (2) menjadi dasar pelaksanaan ibadah. Ibadah puasa, Idhul Fitri, Wuquf, Haji, perhitungan haul harta zakat, perhitungan masa ‘iddah dll dihitung berdasarkan sistem kalender qamariyah. (3) momen – momen bersejarah yang mengikutinya. Momentum hijrah, perang badar, Nuzulul Qur’an, Isra Mi’raj dll dihitung dalam sistem kalender qamariyah.

Namun, kita juga tidak bisa menafikan sistem kalender berbasis syamsiyah begitu saja. Mengingat di Indonesia, kalender Masehi digunakan secara resmi sebagai basis perhitungan, dari momen – momen resmi kenegaraan, kalender pendidikan, tahun anggaran, akta kelahiran, SK Pegawai, pemberian gaji hingga jadwal pertandingan olahraga. Jadi, kita memiliki kerumitan yang cukup pelik jika ingin mengkonversi secara total sistem penanggalan Masehi ke Hijriyah. Maka jalan tengah yang diambil biasanya adalah menyandingkan atau menggabungkan beberapa jenis kalender dalam satu kertas kalender. Jadi, dalam 1 kalender memuat juga sistem kalender Masehi, Hijriyah, Jawa hingga China.

Dewasa ini, penggunaan sistem penanggalan juga berkembang menjadi syiar dan politik identitas. Kaum muslimin, khususnya dikalangan santri dan aktivis dakwah, mensyiarkan kalender hijriyah dalam banyak momentum. Sedangkaum kaum nasionalis mensyiarkan kalender masehi, khususnya pada momentum tahun baru. Selanjutnya, berkembang pula politik identitas yang mengiringinya. Baik yang mensyiarkan kalender masehi maupun hijriyah, pada akhirnya juga memiliki ciri – ciri komunal yang khas, unik dan berbeda satu sama lain. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi bagi mereka yang menggunakan kalender China maupun Jawa.

Mengisi Hari
Mau ganti pekan, ganti bulan, ganti tahun hingga ganti milenium, hakekatnya sama saja, yakni hari ini adalah anak hari kemarin. Maka yang lebih kita pentingkan adalah bagaimana cara kita mengisi hari – hari yang kita lalui. Ada sebagian pihak yang membiarkan hari – harinya berlalu begitu saja dengan perkara yang sia – sia dan mubazir. Namun dipihak lain, ada juga yang bersemangat menghiasi hari – harinya dengan perkara yang bermanfaat, baik untuk dunianya maupun akheratnya.

Jika mengawali tahun baru masehi ini dianggap sebagai sesuatu yang penting, maka kita bisa tetapkan beragam target untuk kita capai selama setahun kedepan. Bukan sekedar berapa gaji dan penghasilan yang ingin kita raih, tapi juga berapa buku yang harus dibaca, berapa dan apa saja kebiasaan baik yang harus dilaksanakan dll. Jangan lupa, ditulis, dibingkai dan ditempel didinding kamar. Agar kita selalu termotivasi untuk melakukan peningkatan dan pencapaian, dalam periode waktu tertentu. Selamat mencoba.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *