Pos

Ada Apa dengan Pembelajaran Sastra?

Oleh: Kartini Hanumdiani

Sastra merupakan rekaman jejak budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra memberikan wujud dan menggambarkan kehidupan dan realitas sosial yang ada di masyarakat. Seperti novel ‘Laskar Pelangi’, novel tersebut adalah cermin realitas yang sampai saat ini masih ada di negara kita. Tentang sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan, fasilitas yang jauh dari kata layak serta guru yang mau tidak mau harus bisa mengajarkan semua mata pelajaran dengan mengenyampingkan latar belakang pendidikannya. Dalam keterbatasan itu novel ‘Laskar Pelangi’ sangat kuat dengan pesan persahabatan dan motivasi.

Selain ‘Laskar Pelangi’, novel ‘12 Menit untuk Selamanya’ Karya Oka Aurora  pun menceritakan kisah nyata kehidupan anak-anak marching band di kota Bontang. Anak-anak marching band Bontang Pupuk Kaltim itu digambarkan berjuang dan berlatih keras selama ribuan jam untuk tampil hanya 12 menit di kejuaraan tingkat nasional. Mereka yakin bahwa hasil tak pernah menghianati proses.

Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat, maka pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang  besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam  masyarakat (Rahmanto, 1996:15).

Sastra membentuk pola pikiran dan respon pembaca terhadap apa yang dibacanya dengan aktivitas kesehariaanya yang saling berkaitan. Seperti novel ‘ Negeri 5 Menara’, dengan menceritakan sinopsis isi novel tersebut sedikit banyak siswa sering mengulang kata-kata sakti yang ada di novel tersebut, yaitu kata ‘Man jaddah wa jadah’ (Barang siapa yang bersungguh-sungguh dia yang dapat).

Pengajaran sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun dan sebagainya banyak ditemukan di dalam karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel maupun drama. Bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, sehingga mampu mengatasi krisis moral dan karya sastra sebagai objek keteladanan yang baik.

Pengajaran sastra diberbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh sebagian guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Bila ada teks puisi di buku, maka guru langsung menugasi siswa membaca satu per satu tanpa terlebih dahulu memberikan contoh. Contoh terkait  posisi pembaca puisi yang baik, cara memegang teks, sorot mata, gesture, cara menjiwai puisi. Ditambah lagi guru hanya memanfaatkan kelas untuk siswa membaca puisi.

Akan berbeda pengaruhnya bila guru langsung memberikan contoh pembacaan puisi yang baik dengan penampilan yang maksimal. Siswa akan terpukau dan menikmati penampilan guru tersebut. Siswa pun akan lebih percaya diri karena aura dari penampilan gurunya yang memikat. Pembacaan puisi akan lebih mengesankan bila ditampilkan di ruang kesenian atau aula. Tempat dan suasana sedikit banyak akan mempengaruhi semangat siswa saat membaca puisi.

Hakikat dari tujuan pengajaran sastra yaitu untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Keterampilan di sini meliputi tiga aspek, yaitu; menyimak pembacaan puisi atau cerpen, membaca berbagai karya sastra, dan yang tertinggi adalah menulis.

Bertrand Russel mengatakan,”Menulisah pertama kali dengan hatimu kemudian perbaikilah dengan pikiranmu”

Guru dapat menerapkan pendapat Bertrand ini. Beri kebebasan pada siswa untuk menulis apa saja yang terbersit di hatinya. Bila siswa masih bingung, guru dapat mengarahkan dengan memancing pengalaman yang kira-kira pernah dialami oleh siswa. Proses berlangsungnya pembelajaran menulis ini sebaiknya di ruang terbuka. Bisa di teras kelas, di koridor sekolah, di samping sekolah atau di halaman sekolah yang teduh.

Pengajaran sastra dapat digunakan untuk memperluas pengungkapan apa yang diterima oleh panca indera seperti indera penglihatan, indera pendengaran, indera pengecapan dan indera peraba. Seorang pengarang pada dasarnya seorang yang memiliki berbudi halus, peka dan mampu menyampaikan apa yang mereka hayati kepada pembaca. Dengan mengikuti tafsiran serta makna-makna yang mereka ungkapkan siswa akan diantar untuk membedakan hal satu dengan hal lain.

Sastra dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. Para pengarang modern telah banyak berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang tertindas, gagal, kalah, putus asa. Secara tidak langsung sastra memberikan kesadaran dengan membawa pesan untuk dipahami oleh pembacanya.

Dalam nilai pengajaran sastra terdapat dua tuntutan yang dapat diungkapkan sehubungan dengan pembentukkan watak. Pertama, pengajaran sastra hendaknya  mampu membina perasaan yang lebih tajam. Dibanding pelajaran-pelajaran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengenal rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti; kebahagian, kebebasan, kesetian, kebanggaan diri sampai kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian dan kematian. Seseorang yang mendalami sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal yang lebih bernilai dan tak bernilai. Selain itu, tuntunan yang kedua yaitu, dalam pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa yang antara lain meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian dan penciptaan. Sastra seperti yang kita ketahui, sanggup memuat berbagai medan pengalaman yang sangat luas.

Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menciptkan srategi jitu. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dari segi isi (materi) maupun kemasannya. Dalam konteks pembelajaran sastra, tentu saja guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan zaman.

Bahan pengajaran sastra sangat penting pada proses pembelajaran. Materi yang sesuai akan dapat membantu siswa lebih mudah utuk memahami karya sastra. Materi ajar yang rumit dan sulit akan membuat siswa merasa bosan untuk menikmati karya sastranya.

Idealnya guru bahasa Indonesia adalah pionir dalam dunia literasi yang dibuktikan dengan karya-karyanya. Karya guru memiliki nilai lebih di mata siswa, sesederhana apapun kemasannya. Pembelajaran sastra akan sukses bila guru dapat membimbing siswa memasuki sastra secara asyik, nikmat dan gembira.

Mengingat “Buku” di Hari Buku

membacaSeutas catatan jiwa…

Ini Hari Buku Sedunia; “Selamat Hari Buku, Sahabat!”. Demikian salah seorang sahabat yang bekerja di kantor berita terbesar dan bersejarah di Negeri ini berucap. Namun pada peringatan Hari Buku Sedunia ini, tak sekonyong-konyong membuat saya mengingat akan lemahnya minat baca para penduduk negeri ini yang dicatat melalui grafik-grafik yang terus menukik tajam, bukan pula soal lemahnya semangat menulis, sehingga buku-buku berkualitas makin surut di masa kekinian, bahkan saya juga tak secara otomatis memikirkan kenapa para pelajar lebih mencintai televisi dan gawai dari pada buku-buku pelajaran mereka.

Semuanya tak serta merta berkelebat dalam benak saya. Pun demikian dengan para penulis idola saya macam Raudal Tanjung Banua, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, hingga Paulo Coelho, atau Joni Ariadinata. Seolah lesap. Hilang tak berbekas tatkala saya mengingat “Buku” satu ini.

Apakah saya tidak memandang bahwa buku dan karya-karya mereka sebagai sesuatu yang penting? Apakah saya sudah menganggap bahwa lemahnya minat baca tidak menjadi concern saya? Tidak. Sama sekali tidak! Semuanya penting bagi saya. Atau setidaknya saya masih memiliki kepentingan terhadap buku-buku untuk menuntaskan studi saya, demikian juga dengan dunia kepenulisan yang saya tekuni, butuh referensi. Tentu saja, disitu saya harus mengatakan bahwa buku adalah hal yang penting buat saya.

Tetapi dari ucapan selamat Sahabat tadi, justru saya memikirkan buku yang lain. Buku yang mendadak membuat hati saya kecut. Buku yang sejatinya sedang saya, sahabat, serta kita semua isi dengan rangkaian perbuatan, perkataan, dan segenap detak hati pada tingkatan yang sangat tersembunyi sekalipun. Itulah buku yang akan kita terima kelak. Buku yang tak lain berisikan catatan amal perbuatan kita. Buku yang akan diberikan pada pengadilan terakhir dalam sejarah hidup manusia; Pengadilan Akhirat! Sesuatu yang sangat rahasia, dimana kita tidak tahu, akhir perjalanan setiap kita di neraka atau Jannah-Nya.

Sungguh saya bergetar mengingat bagaimana buku catatan amal akan saya terima. Kemana jalan hidup saya akan berakhir, dalam keridhoan Allah swt ataukah mendapat kehinaan dengan dicampakan ke dalam neraka. Na’udzubillah. Tentu ini bukan perkara yang main-main, Sahabat Rasulullah saw seperti Abu Bakar ra yang keimanannya lebih berat derajatnya bila dibanding keimanan seluruh umat ini saja masih berujar; “Wahai burung, sungguh beruntungnya engkau, engkau makan, minum dan terbang di antara pepohonan penuh kebebasan tanpa perasaan takut akan hari kiamat, andai Abu Bakar menjadi seperti engkau, wahai burung.”

Demikian kerisauan Sahabat mulia Abu Bakar ra. Kerisauan yang hadir atas kebersihan jiwa tatkala menyoal akumulasi catatan amal dan dosa yang akan diterima di akhirat kelak. Lalu bagaimana dengan saya? Rasanya kelalaian ini lebih sering menjadi bagian diri, sementara, buku catatan amal itu akan diterima suatu masa kelak. Begitulah janjiNya yang termaktub dalam kitab nan suci Al Qur’an Al Karim.

Ini tentang sebuah buku yang sedang kita persiapkan kini, buku catatan yang suatu saat kelak apakah akan kita terima dengan wajah berseri, atau sesal yang tiada terperi. Sebuah buku, yang catatannya masih bisa kita perbaiki sedari kini!

Selamat Hari Buku, Sahabat!