Tak Keras Lagi Dentingnya

Aku mengajarkan pada anak-anak dan mican agar banyak berdoa bagi alam di sekitarnya. Hewan. Tumbuhan. Batu. Jalanan. Gedung. Angin. Dan semuanya. Memintakan kebaikan baginya. Dan meminta mereka hanya menjadi kebaikan bagi diri kami.

‘Can, kalau melintas Cirebon, menengoklah ke arah Kuningan. Lalu berdoalah agar semua menjadi kebaikan bagi nak lanang…’, begitu. Misalnya. Juga lainnya.

Permintaan itu diperhatikannya baik-baik. Seperti ada lonceng yang berdenting setiap kali dia melintasi Cirebon. Jarang sekali dia terlelap saat keretanya melintas membawa hatinya itu.

Kini, laki-laki itu tak lagi di Kuningan.

‘Ngerti-ngerti sampe Purwokerto iki.. Pas Cirebon Prujakan koq gak denger pengumumannya ya? Nglintek iki. Bangun-bangun, pas Haurgelis.’, tulisnya di grup keluarga. Aku balas, ‘Sejak mas Zaim ga di Kuningan, alarm biologis mican sudah mati. Ga lagi berdering kalau lewat Cirebon..’. Dan kami tertawa-tawa.

Tapi bukan main-main.

Kami serius. Serius untuk selalu mendoakan semesta agar baik dan agar baik bagi kami.

Serius ini.

Eko Novianto

Serpong, 21 September 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *