Tak Sepenuhnya Membaca

Eko Novianto

(أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ)
[Surat Al-Mu’minun 68]
via @QuranAndroid

Mereka yang mengingkari, akan selalu berpaling dan ingkar atas dakwah. Padahal sejarah risalah telah menetapkan bahwa rasul-rasul datang berturut-turut kepada kaumnya masing-masing. Tetapi, mereka yang mengingkari selalu akan mengingkari karena kebencian mereka terhadap kebenaran dan karena hawa nafsu yang telah mengakar dan telah terlanjur mereka bangga-banggakan.

Benarlah Allah dengan firmanNya itu. Tidakkah mereka menghayati? Bukankah telah datang informasi istimewa? Mengapa berlalu begitu saja?

Itulah. Selalu saja berulang. Tak sepenuhnya terbaca.

Dilantunkan, iya. Bahkan dengan suara yang merdu. Dieja-eja dengan posisi lisan yang benar dan seharusnya, iya. Dibunyikan dengan memenuhi hak dan sifat-sifat hurufnya, memang iya. Diucap berulang-ulang, iya. Dihafal luar kepala, memang benar adanya. Tetapi tak sepenuhnya dibaca. Tak dimengerti maknanya, tak dihayati gunanya, dan tak didalami artinya. Cenderung berlalu begitu saja. Tak mengikis keangkuhan dan menciptakan rasa tenang dengan interaksi yang minimal sekali itu. Lalu merasa aman dan berbangga dengan yang minimal itu. Tak pernah terbaca sepenuhnya.

Tak heran jika kemudian, seperti air hujan yang terserap bumi tak berbekas. Sebatas tenggorokan saja. Berbangga dengan suara, nada, dan irama. Tapi miskin makna. Firman-firman itu menjadi bacaan-bacaan suci dengan pahala-pahala yang ditumpuk-tumpuk di dalam benak, tetapi lemah dalam penghayatan. Tak terbaca sepenuhnya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *