Ukhuwah Prokeristik

Oleh: Muhammad Syukri
@doktersyukrisyayma

Kapan hari lalu saya terima aduan dari seorang kawan. Dia bilang, adik-adiknya di lembaga dakwah kampus sedang berkonflik. Konflik antara pimpinan dengan bawahan. Pimpinan merasa anggotanya tak mau kerja, anggota merasa pimpinannya cuma nyuruh-nyuruh saja. Pimpinan menthung, bawahan mutung. Lama-lama mereka penthung-penthungan.

Saya ajak mereka bicara. Saya lihat pola interaksi di lembaganya. Ternyata seperti ini: ada instruksi dari pimpinan terkait proker yang harus diselesaikan, lalu bawahan mengerjakan. Kalau ada kesalahan, ditegurlah yang bersangkutan. Yg ditegur tak terima, yang menegur merasa tak dihargai. Jadilah mereka berputar-putar dengan masalah tegur-menegur itu.

Seakan-akan mereka ini sedang mengasah kejelian dalam mencari kambing paling hitam yang ada di tengah-tengah mereka. Seolah-olah mereka lebih suka beradu cepat menemukan si pembuat onar dibanding beradu cepat menemukan jalan keluar.

Jadi ekspresi mereka sepanjang hari adalah ekspresi kerja prokeristik. Ekspresi-ekspresi kerja dengan berbagai target dan tuntutan. Ekspresi-ekspresi kerja benar-salah. Bukan ekspresi iman. Bukan ekspresi ukhuwah.

Akhirnya konflik yang ada tak pernah berhasil terkonversi menjadi konflik yang produktif.

Padahal solusinya sederhana: ganti ekspresi.

Berhentilah berbicara proker. Sejenak saja. Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Dan kita berukhuwah bukan karena ada proker. Kita berukhuwah sejak pertama kali kita tahu ada saudara seiman di sisi kita.

Ukhuwah itu tentang rasa. Rasa yang muncul dari pertemuan antar ekspresi.
Maka ukhuwah tak bisa berhenti di level teori. Dia harus keluar dalam bentuk sebuah ekspresi. Ekspresi yang muncul tersebab sebuah aksi..

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat..” (H.R. Muslim)

_Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.._ (H.R. Muslim)

_Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.._ (H.R. Muslim)

_Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.._ (H.R. Tirmizi dan Abu Dzar).

_Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari._ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selama kita berkarir di lembaga, berapa orang yg sudah kita lapangkan urusannya? Berapa banyak yg sudah kita hutangi dan kita lunaskan utang-utangnya? Berapa orang yang telah kita tutupi aib-aibnya? Berapa orang yang kita kenyangkan perutnya? Berapa banyak orang yang pernah kita belikan pulsa? Berapa banyak yang kita jenguk saat sakitnya? Siapa saja yang menerima senyum kita hari ini? Berapa orang yang telah kita sapa sepanjang hari ini?

Itulah ekspresi ukhuwah yang diajarkan baginda Nabi. Ekspresi yang harusnya telah akrab kita geluti tanpa harus menunggu proker2 itu memaksa kita belajar lagi tentang arkanul ukhuwah. Ekspresi yang harusnya kita dahulukan sebelum teriakan-teriakan “Kok MMT nya blm jadi? Kok pembicaranya belum dihubungi? Kok hijabnya belum ditata? Kok konsumsinya cuma segini?”

Ekspresi yang akhirnya membuat kita tersadar, bahwa pilar paling penting dari ukhuwah adalah semangat untuk memberi, bukan permintaan untuk dilayani.

Beban-beban dakwah ini hanya bisa dibereskan dengan ukhuwah yang kokoh. Maka saat beban itu terasa sangat berat untuk dipikul, sangat rumit untuk dipecahkan, periksa kembali ukhuwah kita. Jangan-jangan kita memikul beban itu saat ukhuwah kita baru sampai di level ta’aruf. Atau mungkin kita sama sekali belum ber-ukhuwah?

Wallau’alam.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *