Urusan Jodoh, Mintalah Selalu Do’a Mereka

|| Kotributor: Khansa Sayyidatina ||

Doa orangtua ibarat tak ada yang membatasi… insya Allah, akan sampai kepada sang Pengabul doa, Allah swt sebagaimana hadits di bawah ini.

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani.

Oleh karena hal tersebut, sebagai orangtua juga tak boleh sembarangan mengucapkan doa untuk anak-anaknya.

Saya belajar itu semua dari Ibu. Ibu yang telah menghidupi tiga anaknya setelah hampir 13 tahun lalu ditinggal Bapak. Ibu sering mengingatkan saya untuk berdoa baik-baik bagi suami dan anak saya. Terkadang, tanpa sadar di tengah emosi yang tak tertahan dengan mudah kita mengucapkan kata-kata yang tak pantas. Kemudian, ibu mengingatkan dengan lemah lembut, tak baik mengucapkan sesuatu buruk saat emosi, terutama untuk anak dan suami, beristighfarlah….

Dalam hal jodoh, selain kita juga berusaha dan berdoa janganlah pernah lupa meminta restu dan doa dari orangtua. Sebenarnya, tanpa diminta, orangtua pasti akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Akan tetapi, tak ada salahnya kita pun melibatkan orangtua dalam pencarian jodoh ini. Ungkapkan keinginan kita, kriteria seperti apa, dan visi misi ke depannya. Bertukar pikiran dengan orangtua soal jodoh akan menjadi diskusi menarik. Mungkin akan ada perbedaan pendapat, tapi justru saat itulah kita ungkapkan apa yang ingin kita lakukan.

Soal taaruf, perkenalan menuju pernikahan dan lain-lain mungkin merupakan hal yang awam bagi sebagian orangtua kita yang memahami pernikahan diawali dengan pacaran ataupun intensitas pertemuan yang cukup sering.

Oleh karena itu, pelan-pelan kita menjelaskan aturan yang ada dalam Islam dalam proses menuju jenjang pernikahan, selain tentunya kita juga memohon doa agar orangtua kita bisa memahami dengan baik.

Insya Allah, hati dan pikiran orangtua kita pun akan terbuka dan turut membantu mencarikan jodoh yang kita inginkan. Kalaupun belum bisa, insya Allah, ia senantiasa mendoakan kita.

Segala sesuatunya berproses hingga ketika tiba saatnya nanti kita mengajukan seseorang yang baru kita kenal dari sebuah biodata, orangtua kita tak lagi kaget.

Hal itulah yang saya lakukan selama penantian tujuh tahun berikhtiar. Bolak-balik biodata, sosok laki-laki datang langsung berkenalan untuk menuju pernikahan. Beberapa kali juga Ibu saya memberi pendapat.

Ibu juga tak pernah lelah menghibur ketika saya dirundung kekecewaan. Saya sadari ia begitu tulus dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia pun selalu saya jelaskan panjang lebar tentang sebuah proses menuju pernikahan walau itu tak umum di keluarga kecil maupun keluarga besar kami. Karena dengan segala jalan yang ditempuh, dari lubuk hati, saya sangat menginginkan proses pernikahan yang syari.

Hingga suatu hari, saya sodorkan sebuah foto, sosok laki-laki yang kemudian hadir ke rumah untuk taaruf dan khitbah. Laki-laki yang dengan serius ingin menikahi saya. Laki-laki yang langsung mendapatkan restu dari Ibu saya. Laki-laki yang secara paras lumayan menarik.

Terdengar sedikit obrolan ibu dan abang saya ketika sosok itu pamit, “Ibu doain apa jodohnya Khansa?”

“Laki-laki yang baik agamanya, bertanggung jawab plus ganteng”

Saya tertawa mendengarnya. Kriteria ganteng tak pernah saya masukkan dalam biodata saya, delalahnya ibu dengan polos meminta kepada-Nya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya.

Alhamdulillah, laki-laki itu telah menjadi suami saya setelah proses yang sedemikian lancar dan mudah. Dengan dukungan kedua belah pihak, persiapan kurang dari sebulan telah mempertemukan kami di pelaminan hingga saat ini menuju tahun ke-5 pernikahan kami. Moga kelak kami bisa menjadi partner dunia-akhirat bersama anak-anak kami, berguna bagi umat dan bangsa.

Dia insya Allah banyak membimbing saya dalam ilmu agama, menyayangi kami, bertanggung jawab dan Bonus ganteng, hehe

So, jangan pernah ragukan doa orangtuamu.

Mintalah dengan tulus… doanya tak dibatasi tabir karena ridha-Nya pun bergantung juga dengan ridha orangtua.

Salam,

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *